Selasa, 09 Juni 2015

Saman at Purdue

Saya gak bisa nari. My body is as stiff as a (thin) board. Jadi sebetulnya, saya sendiri agak gak percaya dengan fakta bahwa beberapa minggu yang lalu, saya nari Saman.
Like, seriously, me???

Gini. Di Purdue kan ada yang namanya PERMIAS alias Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amereika Serikat. Kalo di Purdue sih resminya namanya jadi Indonesian Student Association. Nah, Permias ini tiap tahun punya acara Indonesian Cultural Festival. Tahun lalu partisipasi saya sekdar dateng, beli pempek (TOLONG YA saya nyaris nangis bahagia tiap kali bisa makan pempek di sini), nonton performance dari anak-anak Permias. Tahun lalu ya mereka nari Saman juga sih. Bagus.
Dan tahun ini saya ikutan nari dong.
Iya. Saya. Yang kerjaannya kalo jalan kesandung mulu. Yang koordinasi otot dan otaknya suka menyedihkan.
Entahlah.

Kayaknya diawali dengan kumpul-kumpulnya anak grad students (beserta keluarga bagi yang sudah membina rumah tangga). Pas lagi ngumpul gitu, kita baru tahu kalo si Afi dulu di SMA ikut ekskul Tari Saman dan pernah ngelatih gitu. Dan Mas Hery tiba-tiba aja ngusulin gimana kalo Afi yang ngelatih performance Saman untuk tahun ini.
Diiyain.
Dan nama saya masuk.
EH ASTAGA YA SAYA SETRES SENDIRI.

Tapi ya udah deh. Akhirnya terbentuklah Tim Purdue Saman 2015, dengan Afi yang bertugas rangkap sebagai pelatih. Trus ada saya, Mas Hery, Ana, Patrice, Wawan, dan Ghazi sebagi Syekh alias yang bertugas nyanyi. Selain kami para anak grad, ada juga anak-anak undergrad: Charlene, Hans, Sean, Dea, dan Sabrina.
Kita mulai latihan semenjak… kapan ya? Awal Februari mungkin. Latihan tiap Kamis jam 5.30 di FUSE, salah satu gedung apartemen yang oh-sungguh-fancy-sekali.
Afi dan Sabrina memang udah dari SMA nari Saman sih (oh, dan Afi juga aslinya orang Aceh. HAHA. Such a concidence). Trus Hans dan Charlene tahun lalu juga ikutan nari.
Dua bulan latihan, dan oh, man… it was hard. Ngafalin gerakan, ngafalin lagunya, dan duduk dengan kaki dilipat selama sejam lebih tiap kali latihan…. Untuk masalah duduk ini mungkin saya gak terlalu masalah sih. Hey, my hometown is Banjarmasin, yang mana tiap kali ada acara ya kita duduknya begitu. Tapi kasian aja sama Mas Hery dan lain-lain yang suka mengeluh kakinya sakit :( .

Semakin deket ke hari H, kita antara makin gugup, makin semangat juga. Lagian latihannya juga seru. Nyahahahahahaha…. Kekna gegara latihan Saman ini akhirnya Charlene ujung-ujungnya suka ikut nongkrong sama GengMo.
Nyobain kostuuummm :D
Dan akhirnya sodara-sodaraaa… The D-Day!! 11 April!
Malam sebelumnya kita udah gladi resik. Dan saya dengan noraknya pake acara gugup dan gak bisa tidur segala sampe jam 2 lewat. Padahal jam 8 sudah harus ngumpul lagi di St. Aquino, tempat acaranya diadain.
Dibanding tahun lalu, tahun ini Indonesian Festivalnya lebih baguuusss…Apalagi tahun ini anak grad banyak dilibatkan. Jadi ada drama, Vokal Grup, ada Fashion Show, dan tentu saja… Tari Saman!
Vokal grup, dengan special performance by si Avi yang imut ituuu
Fashion show. Jadi ceritanya dibikin pasang-pasangan dan Patrice yang pake baju bodo berpasangan dengan Andri dan menjadi sumber dramanya kita. Nyahahahaha.... Eh, Wawan pasangannya sama Dea yang-pacarnya-skaterboy dan ini juga dramaaaa.... XD XD XXd

Jeng jeeenggg….!!!
Well, judging form the applause that we got, I think we did it quite well :).
hei inhalaaa...
Hailaaaa otsa!!!
This is my favorite part of the dance.

Secara untuk latihan gerakan yang ini, saya sampe sempet desperate karena ngerasa gak bisa-bisa. Dan begitu part yang ini selese, senyum kita semua langsung cerah!!!
Anyway. Here’s the full video of our performance :)


Ihik, iyaaa…itu pas gerakan yang awal saya sempet saalaaaahhh… Padahal posisi saya pas di tengah deh. Tapi pas selanjut-selanjutnya udah bisa balik lagi. Trus ini syukur banget, Ghazi nyanyi ngambil nadanya gak ketinggian. Padahal selama latihan, kita selalu protes karena biasanya sejak awal banget Ghazi nyanyi udah ketinggian duluan nadanya, sampe kami akhirnya jadi ngos-ngosan dan gak bisa ikutan nyanyi.

Walopun pas awal-awal sempet yang gak pede, terus pas latihan juga berasa sakit semua badannya, selesai tampil tuh rasanya puaaasss banget. Dan jadi pengen lagi. NYAHAHAHAHA….  Well, let’s just see what will happen next year, then, shall we?

For now, Ami, over and out!
Tim Saman Purdue 2015
(left to right): Sean - Patrice - Afi - Charlene - Ana - Ami - Dea - Wawan  - Mas Hery- Hans - Ghazi - Shabrina


Senin, 08 Juni 2015

More Than Just A Sport

Kenapa saya bikin posting ini, berawal dari salah satu chat yang muncul di grup WA temen-temen SMA saya. Well, you know. That kind of broadcasting message. Yang diawali atau diakhiri dengan kata-kata ‘copas dari grup sebelah’. (Which I still find weird, as if grup-grup WA itu para tetangga yang tinggal dalam satu kompleks perumahan).

Anyway, inti dari chat itu adalah, kritik tentang kenapa rakyat Indonesia seakan-akan begitu bersemangat dengan SEA Games, begitu berharap memperoleh medali emas padahal emas di Indonesia sendiri habis dijarah kaum kapitalis.

I read it and can’t help but to think, dude, what is your problem?

It’s just so….irrelevant. Konteksnya beda banget. Kalo mengutip istilah Patrice, sama kek kita mengkritisi bahwa hari ini kita makan enak sementara masih banyak anak-anak di Afrika sana yang kelaparan.

Saya yang biasanya diem aja, sekali ini gak tahan untuk gak komentar. Entahlah. Mungkin karena sekali ini sudah menyinggung a topic that I am fond of.

Mereka pikir bisa bertanding di kancah internasional itu gampang? Mereka pikir bisa dapet medali emas itu gampang? Like, seriously, all those hardworks that the athletes have done, do they really want to take it for granted?

Saya gak ngerti abis, kok bisa-bisanya mereka nggak ikut bangga kalo merah putih berkibar, denger Indonesia Raya dikumandangkan.

Nasionalisme itu luas. Tiap orang bisa punya cara masing-masing untuk berusaha membanggakan Indonesia di mata dunia.
Dan para atlet profesional, ya cara mereka adalah dengan berusaha berprestasi sebaik-baiknya di di kancah dunia.

So, this is a scrap of the chat that I am talking about:
Ratusan atlet Indonesia. Jutaan pendukung kontingen Indonesia. Berharap Indonesia mendapat medali EMAS sebanyak-banyaknya di SEA Games.
Atas nama nasionalisme mereka dukung hingga mati demi segelintir emas.
Di sisi lain jutaan ton emasnya sendirri dibiarkan dirampok dan dihabisi oleh SEA PENJAJAH yang berkoalisi dengan Pemerintah atas nama pemnafaatan sumber daya energi.
Konyol memang sangat konyol. Ratusan atlet berebut bersaing hanya demi segelintir emas dengan dukungan dari rakyat Indonesia tapi emasnya yang begitu banyak tidak mereka pertahankan.
Apa yang mereka dapat hanya sebatas pengakuan dunia dengan ungkapan congratulation semata dan sekeping emas di dada.

I swear that that passage is like one of the most stupid, one of the most ridiculous thing I have ever read.
It’s a competition, for God’s sake. And no, we’re not just fighting for that thing you called- sekedar sekeping emas di dada. The gold medal is nothing but a symbol. Yang diperjuangkan oleh para atlet itu dan didukung oleh rakyat Indonesia (saya tadinya mau ngomong segenap tapi ternyata masih ada orang-orang picik kek gini), adalah nama Indonesia, untuk menunjukkan bahwa hey, we’re also good in something. No, we’re not just good, we can be the best.
Dan…'sekedar pengakuan dunia'. Seriously, doesn’t it mean nothing to you at all???

Sumpah saya gak ngerti abis maunya apa. Perwakilan Indonesia jadi juara, berhasil menunjukkan bahwa mereka bisa berpestasi, bisa menjadi yang terbaik, AND YOU STILL THINK IT’S NOTHING???

Look at this.
First Gold Medal for Indonesia in an Olympic Games
Susi Susanti. Barcelona, 1992. Medali emas pertama Indonesia di Olimpiade. If it means nothing to you, if it’s not something that makes you proud to have her as someone who fought in the name of Indonesia, then get out of my way.

Saya sumpah, jadi pengen nanya ke mereka. Oke, lalu kamu udah ngapain untuk menunjukkan nasionalisme kamu? Kamu udah pernah ngapain yang bisa bikin Indonesia bangga? Yang bisa membuat dunia tidak hanya sekedar memandang sebelah mata terhadap Indonesia?
Hendra Setiawan/M. Ahsan. Gold Medal. Asian Games 2014

Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Gold Medal. Asian Games 2014

Saya belum bisa membanggakan Indonesia. Saya masih jauh dari bisa melakukan sesuatu yang membuat Indonesia bangga. Tapi at least, at the very least, I cheer for my national team, for I know they are doing the best that they can do for my country, for our country.
For me, sport can be more than just sport.
It unites people.


And it’s more than just about nationality.
In football, you see a roller coaster of emotion. No, not just about the players. The fans, the atmosphere. You learn about hard work, persistence, loyalty, and even… a little bit of magic.  And since football, like a lot of other sport, unites people, it become one of the most effective ways to promote the campaign against cruel things like racism and others.

Some people might see it as just sport. But really, it’s more. It’s more than that.

Selasa, 09 Juni 2015

Saman at Purdue

Saya gak bisa nari. My body is as stiff as a (thin) board. Jadi sebetulnya, saya sendiri agak gak percaya dengan fakta bahwa beberapa minggu yang lalu, saya nari Saman.
Like, seriously, me???

Gini. Di Purdue kan ada yang namanya PERMIAS alias Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amereika Serikat. Kalo di Purdue sih resminya namanya jadi Indonesian Student Association. Nah, Permias ini tiap tahun punya acara Indonesian Cultural Festival. Tahun lalu partisipasi saya sekdar dateng, beli pempek (TOLONG YA saya nyaris nangis bahagia tiap kali bisa makan pempek di sini), nonton performance dari anak-anak Permias. Tahun lalu ya mereka nari Saman juga sih. Bagus.
Dan tahun ini saya ikutan nari dong.
Iya. Saya. Yang kerjaannya kalo jalan kesandung mulu. Yang koordinasi otot dan otaknya suka menyedihkan.
Entahlah.

Kayaknya diawali dengan kumpul-kumpulnya anak grad students (beserta keluarga bagi yang sudah membina rumah tangga). Pas lagi ngumpul gitu, kita baru tahu kalo si Afi dulu di SMA ikut ekskul Tari Saman dan pernah ngelatih gitu. Dan Mas Hery tiba-tiba aja ngusulin gimana kalo Afi yang ngelatih performance Saman untuk tahun ini.
Diiyain.
Dan nama saya masuk.
EH ASTAGA YA SAYA SETRES SENDIRI.

Tapi ya udah deh. Akhirnya terbentuklah Tim Purdue Saman 2015, dengan Afi yang bertugas rangkap sebagai pelatih. Trus ada saya, Mas Hery, Ana, Patrice, Wawan, dan Ghazi sebagi Syekh alias yang bertugas nyanyi. Selain kami para anak grad, ada juga anak-anak undergrad: Charlene, Hans, Sean, Dea, dan Sabrina.
Kita mulai latihan semenjak… kapan ya? Awal Februari mungkin. Latihan tiap Kamis jam 5.30 di FUSE, salah satu gedung apartemen yang oh-sungguh-fancy-sekali.
Afi dan Sabrina memang udah dari SMA nari Saman sih (oh, dan Afi juga aslinya orang Aceh. HAHA. Such a concidence). Trus Hans dan Charlene tahun lalu juga ikutan nari.
Dua bulan latihan, dan oh, man… it was hard. Ngafalin gerakan, ngafalin lagunya, dan duduk dengan kaki dilipat selama sejam lebih tiap kali latihan…. Untuk masalah duduk ini mungkin saya gak terlalu masalah sih. Hey, my hometown is Banjarmasin, yang mana tiap kali ada acara ya kita duduknya begitu. Tapi kasian aja sama Mas Hery dan lain-lain yang suka mengeluh kakinya sakit :( .

Semakin deket ke hari H, kita antara makin gugup, makin semangat juga. Lagian latihannya juga seru. Nyahahahahahaha…. Kekna gegara latihan Saman ini akhirnya Charlene ujung-ujungnya suka ikut nongkrong sama GengMo.
Nyobain kostuuummm :D
Dan akhirnya sodara-sodaraaa… The D-Day!! 11 April!
Malam sebelumnya kita udah gladi resik. Dan saya dengan noraknya pake acara gugup dan gak bisa tidur segala sampe jam 2 lewat. Padahal jam 8 sudah harus ngumpul lagi di St. Aquino, tempat acaranya diadain.
Dibanding tahun lalu, tahun ini Indonesian Festivalnya lebih baguuusss…Apalagi tahun ini anak grad banyak dilibatkan. Jadi ada drama, Vokal Grup, ada Fashion Show, dan tentu saja… Tari Saman!
Vokal grup, dengan special performance by si Avi yang imut ituuu
Fashion show. Jadi ceritanya dibikin pasang-pasangan dan Patrice yang pake baju bodo berpasangan dengan Andri dan menjadi sumber dramanya kita. Nyahahahaha.... Eh, Wawan pasangannya sama Dea yang-pacarnya-skaterboy dan ini juga dramaaaa.... XD XD XXd

Jeng jeeenggg….!!!
Well, judging form the applause that we got, I think we did it quite well :).
hei inhalaaa...
Hailaaaa otsa!!!
This is my favorite part of the dance.

Secara untuk latihan gerakan yang ini, saya sampe sempet desperate karena ngerasa gak bisa-bisa. Dan begitu part yang ini selese, senyum kita semua langsung cerah!!!
Anyway. Here’s the full video of our performance :)


Ihik, iyaaa…itu pas gerakan yang awal saya sempet saalaaaahhh… Padahal posisi saya pas di tengah deh. Tapi pas selanjut-selanjutnya udah bisa balik lagi. Trus ini syukur banget, Ghazi nyanyi ngambil nadanya gak ketinggian. Padahal selama latihan, kita selalu protes karena biasanya sejak awal banget Ghazi nyanyi udah ketinggian duluan nadanya, sampe kami akhirnya jadi ngos-ngosan dan gak bisa ikutan nyanyi.

Walopun pas awal-awal sempet yang gak pede, terus pas latihan juga berasa sakit semua badannya, selesai tampil tuh rasanya puaaasss banget. Dan jadi pengen lagi. NYAHAHAHAHA….  Well, let’s just see what will happen next year, then, shall we?

For now, Ami, over and out!
Tim Saman Purdue 2015
(left to right): Sean - Patrice - Afi - Charlene - Ana - Ami - Dea - Wawan  - Mas Hery- Hans - Ghazi - Shabrina


Senin, 08 Juni 2015

More Than Just A Sport

Kenapa saya bikin posting ini, berawal dari salah satu chat yang muncul di grup WA temen-temen SMA saya. Well, you know. That kind of broadcasting message. Yang diawali atau diakhiri dengan kata-kata ‘copas dari grup sebelah’. (Which I still find weird, as if grup-grup WA itu para tetangga yang tinggal dalam satu kompleks perumahan).

Anyway, inti dari chat itu adalah, kritik tentang kenapa rakyat Indonesia seakan-akan begitu bersemangat dengan SEA Games, begitu berharap memperoleh medali emas padahal emas di Indonesia sendiri habis dijarah kaum kapitalis.

I read it and can’t help but to think, dude, what is your problem?

It’s just so….irrelevant. Konteksnya beda banget. Kalo mengutip istilah Patrice, sama kek kita mengkritisi bahwa hari ini kita makan enak sementara masih banyak anak-anak di Afrika sana yang kelaparan.

Saya yang biasanya diem aja, sekali ini gak tahan untuk gak komentar. Entahlah. Mungkin karena sekali ini sudah menyinggung a topic that I am fond of.

Mereka pikir bisa bertanding di kancah internasional itu gampang? Mereka pikir bisa dapet medali emas itu gampang? Like, seriously, all those hardworks that the athletes have done, do they really want to take it for granted?

Saya gak ngerti abis, kok bisa-bisanya mereka nggak ikut bangga kalo merah putih berkibar, denger Indonesia Raya dikumandangkan.

Nasionalisme itu luas. Tiap orang bisa punya cara masing-masing untuk berusaha membanggakan Indonesia di mata dunia.
Dan para atlet profesional, ya cara mereka adalah dengan berusaha berprestasi sebaik-baiknya di di kancah dunia.

So, this is a scrap of the chat that I am talking about:
Ratusan atlet Indonesia. Jutaan pendukung kontingen Indonesia. Berharap Indonesia mendapat medali EMAS sebanyak-banyaknya di SEA Games.
Atas nama nasionalisme mereka dukung hingga mati demi segelintir emas.
Di sisi lain jutaan ton emasnya sendirri dibiarkan dirampok dan dihabisi oleh SEA PENJAJAH yang berkoalisi dengan Pemerintah atas nama pemnafaatan sumber daya energi.
Konyol memang sangat konyol. Ratusan atlet berebut bersaing hanya demi segelintir emas dengan dukungan dari rakyat Indonesia tapi emasnya yang begitu banyak tidak mereka pertahankan.
Apa yang mereka dapat hanya sebatas pengakuan dunia dengan ungkapan congratulation semata dan sekeping emas di dada.

I swear that that passage is like one of the most stupid, one of the most ridiculous thing I have ever read.
It’s a competition, for God’s sake. And no, we’re not just fighting for that thing you called- sekedar sekeping emas di dada. The gold medal is nothing but a symbol. Yang diperjuangkan oleh para atlet itu dan didukung oleh rakyat Indonesia (saya tadinya mau ngomong segenap tapi ternyata masih ada orang-orang picik kek gini), adalah nama Indonesia, untuk menunjukkan bahwa hey, we’re also good in something. No, we’re not just good, we can be the best.
Dan…'sekedar pengakuan dunia'. Seriously, doesn’t it mean nothing to you at all???

Sumpah saya gak ngerti abis maunya apa. Perwakilan Indonesia jadi juara, berhasil menunjukkan bahwa mereka bisa berpestasi, bisa menjadi yang terbaik, AND YOU STILL THINK IT’S NOTHING???

Look at this.
First Gold Medal for Indonesia in an Olympic Games
Susi Susanti. Barcelona, 1992. Medali emas pertama Indonesia di Olimpiade. If it means nothing to you, if it’s not something that makes you proud to have her as someone who fought in the name of Indonesia, then get out of my way.

Saya sumpah, jadi pengen nanya ke mereka. Oke, lalu kamu udah ngapain untuk menunjukkan nasionalisme kamu? Kamu udah pernah ngapain yang bisa bikin Indonesia bangga? Yang bisa membuat dunia tidak hanya sekedar memandang sebelah mata terhadap Indonesia?
Hendra Setiawan/M. Ahsan. Gold Medal. Asian Games 2014

Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, Gold Medal. Asian Games 2014

Saya belum bisa membanggakan Indonesia. Saya masih jauh dari bisa melakukan sesuatu yang membuat Indonesia bangga. Tapi at least, at the very least, I cheer for my national team, for I know they are doing the best that they can do for my country, for our country.
For me, sport can be more than just sport.
It unites people.


And it’s more than just about nationality.
In football, you see a roller coaster of emotion. No, not just about the players. The fans, the atmosphere. You learn about hard work, persistence, loyalty, and even… a little bit of magic.  And since football, like a lot of other sport, unites people, it become one of the most effective ways to promote the campaign against cruel things like racism and others.

Some people might see it as just sport. But really, it’s more. It’s more than that.