Rabu, 04 Juli 2007

How Those Koreans Had Make My Day

(Originally written : 28 Juni 2007)

Hari yang aneh. Pagi ini sendiri sebenarnya sudah dimulai dengan aneh. Sementara ke arah Utara langit pagi terlihat biru cerah, begitu aku menengok ke Selatan, langitnya biru tua keabu-abuan. Yah, apapun warnanya, warna langit pagi tadi bukan warna yang membangkitkan semangat untuk berangkat ke kampus dengan cerah ceria. Eniwei, karena pada dasarnya aku adalah PNS kebanggaan bangsa yang berdedikasi tinggi, tetaplah aku dengan gagah berani melangkah menuju medan perjuanganku di Banjarbaru. Jam 8 di pagi buta nyampe lab. Karena lab secara perlahan tapi pasti mulai penuh sesak dengan mahasiswa yang penelitian, maka salah satu kerjaan rutinku tiap pagi adalah langsung menyalakan mesin pembuat akuades. Kalo ga gitu, kayaknya bakal ada pertumpahan darah dalam rangka persaingan merebut akuades. Tapiiii…. Kok ya ada mahasiswa yang dengan isengnya membawa pulang kunci Ruang Asam!!! Bete banget. Kerjaan aku ketunda hampir 1 jam cuma gara-gara menunggu si mahasiswa Biologi itu dateng. Itupun dia muncul setelah di-sms K’Hasnah. Ha! Aku jadi merasa tidak perlu lagi mengomeli anak itu, karena yakin deh, sepatah dua patah kata dari K’Hasnah pasti udah cukup untuk membuatnya kapok membawa kunci.
Begitu tim humat-kitosan ku dateng, kita udah pada semangat mau kerja tuh. Eh, pas lewat depan Ruang Asam 1 (Atau Ruang Asam 3 sih? Aku ga pernah ngerti penomoran Lab), para rombongan mahasiswa Korea itu udah pada nongol. Tadinya aku mau lewat tanpa merasa perlu untuk peduli. Tapi K’Riza dengan wajah memelas (Ha! Bisa juga dia yang berwajah memelas...biasanya kan aku tuh...) minta tolong supaya aku ngajak ngobrol mereka. The problem is.... Aku ga ngerti Bahasa Korea SEDIKIT pun. And just to make it worse, ke-empat orang itu juga GA BISA Bahasa Inggris!!! Jadi usahaku untuk sekedar menanyai apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan lebih mirip monolog dari diriku. Kata-kata bahasa Inggris dari mereka cuma terbatas pada “No”, “Don’t understand”, “Don’t know”, “Sorry”. Huaaa.... Aku udah frustasi aja. Untunglah, tepat di saat aku udah mau ngelempar para orang itu dengan bangku saking keselnya melihat tatapan hampa dari mereka tiap kali aku nanya, rombongan lengkap mereka akhirnya datang. Ada profesornya mereka yang bisa Bahasa Inggris (Untunglah), dan ada staf Fakultas yang bisa Bahasa Korea (Thank God!!! Dari tadi kek...). Eh, ada si cowok-berkacamata-yang-cakep-tapi-menyebalkan itu juga ternyata. Tetap dengan gaya cool tapi ga ngerti apa-apanya. Huh. Menyebalkan. Eh, ternyata salah satu dari Profesor itu secara ajaib mengobrol denganku, and he gave me his name card!! Senangnya…. Yah, walaupun sebenarnya si Profesor (yang mengatakan dia tahu mana universitas-universitas yang bagus di dunia) membuatku sangat terpukul karena dia tidak tahu mengenai UGM (What???), it was very nice to talk with him. Such an honour.
Apakah pengalamanku dengan para orang Korea itu berakhir disitu? Hoho. TIDAK!! Ternyata entah habis salah makan apa, rombongan tiba-tiba saja terinspirasi untuk praktek analisis air di lab kami. Tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Gila aja, gimana para teknisi ga pada bete waktu mereka minta berbagai macam alat dan bahan secara mendadak. Dan masalah utama, tentu saja... BAHASA!!! Sebenernya dosen Kimia yang bisa bahasa Korea sih, P’Rodiansono. Tapi dia pas banget lagi ga ada. Jadi staf dosen Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam yang ngerti what those Korean are talking cuma dua, Idris dan Aditya. Forget Idris. Dia dari PS Matematika. Yang ada dia bengong kalo mereka minta ambilkan autoklaf. Adit masih mending, kan dia dari PS Biologi. Tapi tetep aja, secara aku berkeliaran di sana, and I can speak a little English, aku juga kelimpahan jadi translator dadakan. Dan aku sempat emosi jiwa, waktu berusaha memperjelas, mereka sebenarnya nyari labu takar, atau cuma tutupnya aja. K’Hasnah jadi ilfil waktu mereka secara tidak jelas mau make Spektrofotometer, tapi ga punya larutan standar. K’Riza jadi bete waktu aku berusaha mendorong-dorong dia untuk kenalan sama salah satu mahasiswa yang cewek (Lhoo..... siapa tau kan...). Dan aku? As usual, I have the tendency to embarass myself. Waktu berlari-lari mencarikan 36 (!!!!) erlenmeyer 250 mL (gila, mau dipake buat apa aja sih???), aku sempat terkilir 1 kali, dan terpeleset 2 kali.
It was such a chaotic situation. But when I think abut it again rite now, it was funny, actually. Waktu Adit berusaha menenangkan aku yang udah mau ngamuk karena mereka masih ga jelas mau minta sendok plastik atau sendok makan. Waktu aku menghina-dina mereka di hadapan mahasiswa, dan mereka hanya menatapku dengan hampa (Hahaha…sorry…tapi kayaknya kata “O’on” dan “Lelet” ga masuk di perbendaharaan kata Korea deh). Waktu K’Hasnah desperate, karena salah satu dari mereka tidak mengerti, apa yang harus dilakukan waktu absorbansi sampel punya dia pembacaannya over. Waktu K’Riza segitu nervous-nya, sampai salah mencet tombol dan malah menghapus data pembacaan (Ka, yakin ga mau minta nomer HP si cewek itu?). Waktu K’Rudi ngomel, karena alat-alat dia dipakai tanpa mengikuti prosedur peminjaman yang baku. K’Hasnah yang mondar-mandir dengan selembar kertas, mencatat alat-alat yang dipinjam. K’Riza yang dengan pasrahnya mengubek-ubek ruangannya demi erlenmeyer 50 mL. Adit yang berusaha menyabarkan aku. K’Rudi yang (TERPAKSA) merelakan pipet gondoknya pecah. Dan aku yang mencak-mencak karena akuades-ku mereka bawa begitu saja...
Fortunately, aku punya alasan untuk ga terus-terusan di lab. Dengan alasan rapat PS, ngaburlah daku jam 12.15 ke ruang PS (aku lama-lama kangen deh sama ruang dosen, sejak penelitian jadi jarang nongkrong disana). Di rapat PS pun ga kalah seru. Terutama adegan pertempuran penuh emosi antara aku dan Sunardi mengenai jatah pembagian jadwal ngajar PAT. Eeehhh... malah ternyata kita ngajarnya satu tim. Tapi tetep dapet jatah euy... Biokimia pula. Hhfff...
But, just like any other days...hari ini toh tetap sampai pada akhirnya.
Such an exhausting day. Hari yang aneh. Tapi tetap, it was fun… :)

Flowery (???) Me

(Originally written : 27 Juni 2007)

Pada dasarnya, aku suka kembang. Banget. Almost any kind, mawar, melati, anggrek, aster, dahlia, sebutin aja semua.... Yang jadi masalah adalah : it’s the flowers that don’t like me. Ga peduli secinta apapun aku ma kembang, tetep aja aku ga bisa nanam bunga, atau apapun yang berbatang, berdaun, dan memiliki klorofil. Waktu kuliah dulu, aku suka (berusaha) menanam bunga pot di kost. Aku bahkan beli buku self-help tentang serba-serbi merawat mawar. Nice book, with great photos of blooming colorful roses. But the fact is, mawar-mawar yang kelihatan berkembang di kost ku cuma ya yang ada dalam gambar di buku-buku tadi. Semua mawar dalam pot ku adalah penggemar Chairil Anwar, spesifically puisi si Chairil Anwar yang judulnya Diponegoro (Or is it “Aku”?, I kinda forget). Hanya saja mereka menterjemahkan bait “Sekali berarti, sudah itu mati” secara konkrit menjadi “Sekali berbunga, sudah itu mati”. That’s it. Bahkan dalam ke-desperate-an aku (hmm…such a strange noun), aku mencoba teori bahwa bunga juga punya perasaan. Jadi aja tiap pagi dan sore aku mengajak mereka (baca : kembang yang kutanam) mengobrol. Yeah, I know I looked like a freak, tapi paling enggak aku tidak merasa mendengar para tanaman itu balas menyahutiku. Dan obrolan pagi-sore itu hanya menyebabkan rata-rata umur tanamanku bertambah 3 hari (Yeah, as if I really do the counting). Memang sih, mawar termasuk tanaman yang rada ribet perawatannya. Jadi mungkin kegagalanku yang bertubi-tubi dan berulang kali dengan bunga mawar tidak bisa dijadikan patokan akan kebodohanku bercocok tanam. Tapiiii…. This is the embarassing fact: bahkan kaktus pun mati dalam perawatanku. Ya. Kaktus yang ga usah disiram. Yang ga usah diapa-apain juga tumbuh. Yang dibuang juga tetep tahan banting. Si kaktus yang gagah perkasa dan tahan segala macam bentuk siksaan itu ternyata menganggap bahwa tumbuh bersama diriku mrupakan pilihan yang terlalu menyedihkan, sehingga dia lebih memilih mati dan mengering saat tahu akulah yang sedang berusaha agar dia bisa tumbuh. Semenjak kematian kaktus dalam pot di depan kamar kostku, aku menghentikan usahaku sepanjang 2 tahun untuk bercocok tanam. Dan resmilah aku dihina-dina di kost sebagai orang-paling-tidak-bisa-menyentuh-tanaman.
Sebenernya fakta bahwa tanaman sangat enggan tumbuh kalo udah aku pegang, cukup menyakitkan hati, secara Abah (Yup! My own father, who had given me half of my DNAs) adalah salah satu orang yang paling bertangan dingin (atau bertangan hijau ya?). Liat aja taman di depan rumah. Di samping rumah. Nyaris tiap 2 minggu sekali, ada aja orang yang minta kembang sama Abah. Apalagi setelah resmi jadi pensiunan, semakin banyaklah Abah bercengkrama dengan tanaman-tanaman tercintanya.
Nah, masih ada hubungannya dengan kembang nih. Begitu melihat Bu Radna bawa-bawa Kamboja Jepang, yang aku tahu disukai sama Abah, aku langsung melihat peluang untuk berbakti kepada orang tua tercinta : apalagi kalo bukan dengan memberi Kamboja Jepang dalam pot sebagai hadiah untuk Abah tercinta? What a great idea from a genious like me!! Masalahnya, Bu Radna ternyata ga beli, dia minta sama K’Riza. Ga masalah. Menabah-nabahkan diri, aku coba minta dengan K’Riza. Dan terjadilah dialog ini di ruangan Kimia I, di sela-sela pengambilan akuades

Setting :
Ruangan Teknisi. Laboratorium Kimia I
Aku (A) : Ka Riza, kayaknya dirimu sudah berlaku tidak adil padaku deh
K’ Riza (Rz) : Hah?
A : Kok cuma Bu Radna yang dikasih kembang?
Rz : Emang kamu juga minta?
A : Enggak.
Rz : ...
B’Radna (Rd) : Ye... aku kan minta Mi, pake acara ngasih pot lagi ke Riza.
Rz : Tuh… Kamu sih ga pake acara minta.
A : Penting ya?
Rd : Naaaahhh…. Nanti dikira apa-apa lho…
Rz : Iya. Enak aja. Nanti dikira apaan aku ngasih-ngasih kembang ke kamu!!
(Oh, come on...kembang dalam pot gitu lhooo.... bukan setangkai mawar!! Gosip macam apa sih yang bisa muncuuuul!!!)
A : Oh, ya udah deh. Ka Riza, aku minta kembang.
Rz : ...
A : Eh, enggak ding. Abah ku yang minta
Rz : Lho?
A : Iya Ka. Aku kan bodoh kalo udah urusan nanem. Kaktus aja mati kok kalo aku
yang nanem
Rz : Mi, kaktus itu ga diapa-apain juga tumbuh
A : Iya, aku tau. Tapi dia lebih memilih mati kalo aku yang nanem
Rz : (Geleng-geleng kepala)
(Tuhan...kenapa ekspresi macam ini yang selalu aku dapet dari orang orang terhadapku????)
A : Atau gimana kalo kita barter aja? Di rumah banyak taneman kok. Kan Abah
jago nanem taneman...
Rz : Emang kamu punyanya apa?
A : Maunya yang berbunga atau yang hijau-hijau saja?
Rz : Yang berbunga dong...
A : Pepaya!!
Rz : Ketinggian.
A : Belimbing mungkin?
Rz : …
A : Atau Jambu?
Rz : ...
A : Hmm...gimana kalo mangga?
Rz : Mi. BerBUNGA.
A : Ah! Aku tau... teratai!!!


Yah, kayaknya adegan selanjutnya sangat mudah ditebak... aku nyengir pada dinding, karena K’Riza udah berlalu dari hadapanku. Dengan kesal. Karena kebodohanku untuk gagal membedakan buah dan bunga...hiks... Tapi kan pepaya juga ada bunganya sedikiiiiitttt!!!!! Dan teratai juga bunga kan??

Rabu, 04 Juli 2007

How Those Koreans Had Make My Day

(Originally written : 28 Juni 2007)

Hari yang aneh. Pagi ini sendiri sebenarnya sudah dimulai dengan aneh. Sementara ke arah Utara langit pagi terlihat biru cerah, begitu aku menengok ke Selatan, langitnya biru tua keabu-abuan. Yah, apapun warnanya, warna langit pagi tadi bukan warna yang membangkitkan semangat untuk berangkat ke kampus dengan cerah ceria. Eniwei, karena pada dasarnya aku adalah PNS kebanggaan bangsa yang berdedikasi tinggi, tetaplah aku dengan gagah berani melangkah menuju medan perjuanganku di Banjarbaru. Jam 8 di pagi buta nyampe lab. Karena lab secara perlahan tapi pasti mulai penuh sesak dengan mahasiswa yang penelitian, maka salah satu kerjaan rutinku tiap pagi adalah langsung menyalakan mesin pembuat akuades. Kalo ga gitu, kayaknya bakal ada pertumpahan darah dalam rangka persaingan merebut akuades. Tapiiii…. Kok ya ada mahasiswa yang dengan isengnya membawa pulang kunci Ruang Asam!!! Bete banget. Kerjaan aku ketunda hampir 1 jam cuma gara-gara menunggu si mahasiswa Biologi itu dateng. Itupun dia muncul setelah di-sms K’Hasnah. Ha! Aku jadi merasa tidak perlu lagi mengomeli anak itu, karena yakin deh, sepatah dua patah kata dari K’Hasnah pasti udah cukup untuk membuatnya kapok membawa kunci.
Begitu tim humat-kitosan ku dateng, kita udah pada semangat mau kerja tuh. Eh, pas lewat depan Ruang Asam 1 (Atau Ruang Asam 3 sih? Aku ga pernah ngerti penomoran Lab), para rombongan mahasiswa Korea itu udah pada nongol. Tadinya aku mau lewat tanpa merasa perlu untuk peduli. Tapi K’Riza dengan wajah memelas (Ha! Bisa juga dia yang berwajah memelas...biasanya kan aku tuh...) minta tolong supaya aku ngajak ngobrol mereka. The problem is.... Aku ga ngerti Bahasa Korea SEDIKIT pun. And just to make it worse, ke-empat orang itu juga GA BISA Bahasa Inggris!!! Jadi usahaku untuk sekedar menanyai apa yang sebenarnya ingin mereka lakukan lebih mirip monolog dari diriku. Kata-kata bahasa Inggris dari mereka cuma terbatas pada “No”, “Don’t understand”, “Don’t know”, “Sorry”. Huaaa.... Aku udah frustasi aja. Untunglah, tepat di saat aku udah mau ngelempar para orang itu dengan bangku saking keselnya melihat tatapan hampa dari mereka tiap kali aku nanya, rombongan lengkap mereka akhirnya datang. Ada profesornya mereka yang bisa Bahasa Inggris (Untunglah), dan ada staf Fakultas yang bisa Bahasa Korea (Thank God!!! Dari tadi kek...). Eh, ada si cowok-berkacamata-yang-cakep-tapi-menyebalkan itu juga ternyata. Tetap dengan gaya cool tapi ga ngerti apa-apanya. Huh. Menyebalkan. Eh, ternyata salah satu dari Profesor itu secara ajaib mengobrol denganku, and he gave me his name card!! Senangnya…. Yah, walaupun sebenarnya si Profesor (yang mengatakan dia tahu mana universitas-universitas yang bagus di dunia) membuatku sangat terpukul karena dia tidak tahu mengenai UGM (What???), it was very nice to talk with him. Such an honour.
Apakah pengalamanku dengan para orang Korea itu berakhir disitu? Hoho. TIDAK!! Ternyata entah habis salah makan apa, rombongan tiba-tiba saja terinspirasi untuk praktek analisis air di lab kami. Tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya. Gila aja, gimana para teknisi ga pada bete waktu mereka minta berbagai macam alat dan bahan secara mendadak. Dan masalah utama, tentu saja... BAHASA!!! Sebenernya dosen Kimia yang bisa bahasa Korea sih, P’Rodiansono. Tapi dia pas banget lagi ga ada. Jadi staf dosen Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam yang ngerti what those Korean are talking cuma dua, Idris dan Aditya. Forget Idris. Dia dari PS Matematika. Yang ada dia bengong kalo mereka minta ambilkan autoklaf. Adit masih mending, kan dia dari PS Biologi. Tapi tetep aja, secara aku berkeliaran di sana, and I can speak a little English, aku juga kelimpahan jadi translator dadakan. Dan aku sempat emosi jiwa, waktu berusaha memperjelas, mereka sebenarnya nyari labu takar, atau cuma tutupnya aja. K’Hasnah jadi ilfil waktu mereka secara tidak jelas mau make Spektrofotometer, tapi ga punya larutan standar. K’Riza jadi bete waktu aku berusaha mendorong-dorong dia untuk kenalan sama salah satu mahasiswa yang cewek (Lhoo..... siapa tau kan...). Dan aku? As usual, I have the tendency to embarass myself. Waktu berlari-lari mencarikan 36 (!!!!) erlenmeyer 250 mL (gila, mau dipake buat apa aja sih???), aku sempat terkilir 1 kali, dan terpeleset 2 kali.
It was such a chaotic situation. But when I think abut it again rite now, it was funny, actually. Waktu Adit berusaha menenangkan aku yang udah mau ngamuk karena mereka masih ga jelas mau minta sendok plastik atau sendok makan. Waktu aku menghina-dina mereka di hadapan mahasiswa, dan mereka hanya menatapku dengan hampa (Hahaha…sorry…tapi kayaknya kata “O’on” dan “Lelet” ga masuk di perbendaharaan kata Korea deh). Waktu K’Hasnah desperate, karena salah satu dari mereka tidak mengerti, apa yang harus dilakukan waktu absorbansi sampel punya dia pembacaannya over. Waktu K’Riza segitu nervous-nya, sampai salah mencet tombol dan malah menghapus data pembacaan (Ka, yakin ga mau minta nomer HP si cewek itu?). Waktu K’Rudi ngomel, karena alat-alat dia dipakai tanpa mengikuti prosedur peminjaman yang baku. K’Hasnah yang mondar-mandir dengan selembar kertas, mencatat alat-alat yang dipinjam. K’Riza yang dengan pasrahnya mengubek-ubek ruangannya demi erlenmeyer 50 mL. Adit yang berusaha menyabarkan aku. K’Rudi yang (TERPAKSA) merelakan pipet gondoknya pecah. Dan aku yang mencak-mencak karena akuades-ku mereka bawa begitu saja...
Fortunately, aku punya alasan untuk ga terus-terusan di lab. Dengan alasan rapat PS, ngaburlah daku jam 12.15 ke ruang PS (aku lama-lama kangen deh sama ruang dosen, sejak penelitian jadi jarang nongkrong disana). Di rapat PS pun ga kalah seru. Terutama adegan pertempuran penuh emosi antara aku dan Sunardi mengenai jatah pembagian jadwal ngajar PAT. Eeehhh... malah ternyata kita ngajarnya satu tim. Tapi tetep dapet jatah euy... Biokimia pula. Hhfff...
But, just like any other days...hari ini toh tetap sampai pada akhirnya.
Such an exhausting day. Hari yang aneh. Tapi tetap, it was fun… :)

Flowery (???) Me

(Originally written : 27 Juni 2007)

Pada dasarnya, aku suka kembang. Banget. Almost any kind, mawar, melati, anggrek, aster, dahlia, sebutin aja semua.... Yang jadi masalah adalah : it’s the flowers that don’t like me. Ga peduli secinta apapun aku ma kembang, tetep aja aku ga bisa nanam bunga, atau apapun yang berbatang, berdaun, dan memiliki klorofil. Waktu kuliah dulu, aku suka (berusaha) menanam bunga pot di kost. Aku bahkan beli buku self-help tentang serba-serbi merawat mawar. Nice book, with great photos of blooming colorful roses. But the fact is, mawar-mawar yang kelihatan berkembang di kost ku cuma ya yang ada dalam gambar di buku-buku tadi. Semua mawar dalam pot ku adalah penggemar Chairil Anwar, spesifically puisi si Chairil Anwar yang judulnya Diponegoro (Or is it “Aku”?, I kinda forget). Hanya saja mereka menterjemahkan bait “Sekali berarti, sudah itu mati” secara konkrit menjadi “Sekali berbunga, sudah itu mati”. That’s it. Bahkan dalam ke-desperate-an aku (hmm…such a strange noun), aku mencoba teori bahwa bunga juga punya perasaan. Jadi aja tiap pagi dan sore aku mengajak mereka (baca : kembang yang kutanam) mengobrol. Yeah, I know I looked like a freak, tapi paling enggak aku tidak merasa mendengar para tanaman itu balas menyahutiku. Dan obrolan pagi-sore itu hanya menyebabkan rata-rata umur tanamanku bertambah 3 hari (Yeah, as if I really do the counting). Memang sih, mawar termasuk tanaman yang rada ribet perawatannya. Jadi mungkin kegagalanku yang bertubi-tubi dan berulang kali dengan bunga mawar tidak bisa dijadikan patokan akan kebodohanku bercocok tanam. Tapiiii…. This is the embarassing fact: bahkan kaktus pun mati dalam perawatanku. Ya. Kaktus yang ga usah disiram. Yang ga usah diapa-apain juga tumbuh. Yang dibuang juga tetep tahan banting. Si kaktus yang gagah perkasa dan tahan segala macam bentuk siksaan itu ternyata menganggap bahwa tumbuh bersama diriku mrupakan pilihan yang terlalu menyedihkan, sehingga dia lebih memilih mati dan mengering saat tahu akulah yang sedang berusaha agar dia bisa tumbuh. Semenjak kematian kaktus dalam pot di depan kamar kostku, aku menghentikan usahaku sepanjang 2 tahun untuk bercocok tanam. Dan resmilah aku dihina-dina di kost sebagai orang-paling-tidak-bisa-menyentuh-tanaman.
Sebenernya fakta bahwa tanaman sangat enggan tumbuh kalo udah aku pegang, cukup menyakitkan hati, secara Abah (Yup! My own father, who had given me half of my DNAs) adalah salah satu orang yang paling bertangan dingin (atau bertangan hijau ya?). Liat aja taman di depan rumah. Di samping rumah. Nyaris tiap 2 minggu sekali, ada aja orang yang minta kembang sama Abah. Apalagi setelah resmi jadi pensiunan, semakin banyaklah Abah bercengkrama dengan tanaman-tanaman tercintanya.
Nah, masih ada hubungannya dengan kembang nih. Begitu melihat Bu Radna bawa-bawa Kamboja Jepang, yang aku tahu disukai sama Abah, aku langsung melihat peluang untuk berbakti kepada orang tua tercinta : apalagi kalo bukan dengan memberi Kamboja Jepang dalam pot sebagai hadiah untuk Abah tercinta? What a great idea from a genious like me!! Masalahnya, Bu Radna ternyata ga beli, dia minta sama K’Riza. Ga masalah. Menabah-nabahkan diri, aku coba minta dengan K’Riza. Dan terjadilah dialog ini di ruangan Kimia I, di sela-sela pengambilan akuades

Setting :
Ruangan Teknisi. Laboratorium Kimia I
Aku (A) : Ka Riza, kayaknya dirimu sudah berlaku tidak adil padaku deh
K’ Riza (Rz) : Hah?
A : Kok cuma Bu Radna yang dikasih kembang?
Rz : Emang kamu juga minta?
A : Enggak.
Rz : ...
B’Radna (Rd) : Ye... aku kan minta Mi, pake acara ngasih pot lagi ke Riza.
Rz : Tuh… Kamu sih ga pake acara minta.
A : Penting ya?
Rd : Naaaahhh…. Nanti dikira apa-apa lho…
Rz : Iya. Enak aja. Nanti dikira apaan aku ngasih-ngasih kembang ke kamu!!
(Oh, come on...kembang dalam pot gitu lhooo.... bukan setangkai mawar!! Gosip macam apa sih yang bisa muncuuuul!!!)
A : Oh, ya udah deh. Ka Riza, aku minta kembang.
Rz : ...
A : Eh, enggak ding. Abah ku yang minta
Rz : Lho?
A : Iya Ka. Aku kan bodoh kalo udah urusan nanem. Kaktus aja mati kok kalo aku
yang nanem
Rz : Mi, kaktus itu ga diapa-apain juga tumbuh
A : Iya, aku tau. Tapi dia lebih memilih mati kalo aku yang nanem
Rz : (Geleng-geleng kepala)
(Tuhan...kenapa ekspresi macam ini yang selalu aku dapet dari orang orang terhadapku????)
A : Atau gimana kalo kita barter aja? Di rumah banyak taneman kok. Kan Abah
jago nanem taneman...
Rz : Emang kamu punyanya apa?
A : Maunya yang berbunga atau yang hijau-hijau saja?
Rz : Yang berbunga dong...
A : Pepaya!!
Rz : Ketinggian.
A : Belimbing mungkin?
Rz : …
A : Atau Jambu?
Rz : ...
A : Hmm...gimana kalo mangga?
Rz : Mi. BerBUNGA.
A : Ah! Aku tau... teratai!!!


Yah, kayaknya adegan selanjutnya sangat mudah ditebak... aku nyengir pada dinding, karena K’Riza udah berlalu dari hadapanku. Dengan kesal. Karena kebodohanku untuk gagal membedakan buah dan bunga...hiks... Tapi kan pepaya juga ada bunganya sedikiiiiitttt!!!!! Dan teratai juga bunga kan??