Tampilkan postingan dengan label The Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Blog. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

30 Day Challenge - Day 20

Day 20 – Concerts You Have Attended

Aaaa… Jadi kangen jaman kuliah S1 duluuuu! Secara ya, di Jogja dulu saya suka nonton acara musik kampus gitu.Secara itu salah satu hiburan yang murah meriah adalah nonton acara musik kampus gitu. Istilah kita waktu itu sih, nonton band-band-an. Jadi pernah juga liat The Rain, Shakey, Es Nanas, dan beberapa band indie lain. Iya, awal sampe pertengahan 2000an kan jamannya band indie gitu, dan Jogja adalah salah satu surganya band indie. (OMG how I miss those golden times)
Anyway, kalo memang yang dianggap konser disini adalah konser yang serius gitu…Hmm…
Baiklah.

1. KLa Project
Konser pertama yang pernah saya tonton di Jogja. Waktu itu konsernya di Kridosono. Dan tiketnya berapa? 15.000 perak. Waktu itu tahun 99 sih. Tapi tetep aja, rasanya kok murah yaaaa…. Puas banget. Memang ya, Katon itu walaupun udah tua, kualitas vokalnya gak boong deh

2. Sheila on 7 & KLa Project.

Jadi ya sodara-sodara. Saya itu sejak SMP itu udah jadi KLaNis. Dan semenjak mereka pertama kali muncul pun saya udah ngefans abis sama Sheila On 7. Jadi kebayang dong gimana saya nangis histeris waktu tau mereka bakal konser bareng? Iya. KLa DAN Sheila On 7. Konsernya di GSP. Tiketnya 20.000 perak. Waktu itu nontonnya berempat, bareng sama anak-anak kos.
PUAS BANGET SERIUS. Sumpah ya…. Yang muncul duluan Kla, sekitar 1,5 jam gitu. Lalu Sheila On 7. Dan saya ingeeeet banget, itu pertama kali lagu Sephia diperdengarkan di depan umum. Sheila On 7 nya kalo gak salah hampir 2 jam gitu. Dan senengnya nonton mereka adalah, beda sama yang di kaseeeetttt… Ahahahaha…maksud saya, mereka pinter deh bikin improvisasinya. Pas pertama kali masuk panggung, yang mereka mainkan adalah intronya My Heart Will Go On, tau-tau jadi lagu “Kita” gituuu. ..

3. Dewa
Ini adalah konser yang saya paling ingetnya kenapa coba? Karena gak bayar. Kita ngedobrak. Nyahahahahaha…. Waktu itu kan album Bintang 5 baru keluar. Dan percaya deh, album itu best of the bestnya Dewa banget-bangetan. Satu album bagus semuaaaaa lagunya. Jadi waktu tau mereka mau konser, kita satu kost pada mau nonton. Masalahnya, kita terlalu kompak. Kebayang gak sih susahnya nyari 8 tiket sekaligus??? Tentu saja kita kehabisan tiket dimana-mana.
Nah, pas malam konsernya, saya, Widia, Eka dan Ifan pada berangkat aja nonton tanpa bawa tiket. Berharap bakal dapet dari calo. Eh, Emil juga pergi sih, tapi sama pacarnya. Tapi sialan ya….tiket yang harusnya cuma 15.000 mereka jualnya sampe 60-75 ribu gitu. Tolong ya. Jual tiket apa ngajak miskin sih Bang?
Dalam keadaan hopeless, kita keliling ngider GSP. Eh, kok tau-tau kita nyampe di pintu dimana ternyata para personil Dewa pada datang dan masuk ya? ITU SAYA SEMPET DEKET BANGET SAMA ONCE LHO. Bening abis dia itu. Trus, lama-kelamaan, itu kok orang yang numpuk makin banyak ya di pintu itu? Dan kita pun akhirnyaaaa….ikut rombongan manusia itu mendobrak pintuuuu! YEAAAAYYY! Jadilah kita ikut menyerbu masuk ke dalam.
Jadi sodara-sodara, sensasinya bukan cuma di nonton konsernya, tapi cara masuknya yang brutal. Huahahahahaha…

4. Element

Konsernya di UPN Veteran. Ini saya agak heran deh kenapa saya nonton. Secara ya gak ngefans-ngefans amat sama Element. Yang saya inget cuma karena salah satu panitianya mantan pacar temen saya, jadi saya dapat tiket gratis dan temen-temen sekost saya dapet diskon. Udah. Gitu doang. Nontonnya juga jadinya biasa aja.

5. Soundrenaline 2003.

Yang paling seru nih. Secara Soundrenaline la yaaaa…. Jadi yang konser kan borongan gitu. Waktu itu kalo gak salah ada Jikustik, sama siapa lagi ya? Ada Iwan Fals, Dewa ya kalo nggak salah? Sama…Naif. Trus ada TIC Band (itu drummernya saya masih inget, Rama, gantengnya gak nyante). Trus siapa lagi ya? Aduh, lupa. Serius. Yah, pokoknya mah banyaaaakkk…. Kita kesana dari jam 1 siang, sampe jam 11 malam. Konsernya kan di Alun-alun gitu. Saya nonton sama anak-anak kost, dalam keadaan ceking dan item habis KKN selama 2 bulan di desa terpencil. Dekil abis lah pokoknya :)). Ini salah satu kenangan paling berkesan selama di Jogja, dan terakhir kali saya nonton konser-konseran di jaman S1 saya yang penuh huru-hara itu :)).

6. Sidney Meyer Concert With Melbourne Symphony Orchestra
Ihiiiyyy… Kosner ‘berbudaya’. Setelah sekian lama gak nonton band-band-an, nonton konser lagiii…. Tahun 2009 nih. Tahun terakhir saya sekolah S2. Konsernya…gratisan. Ahahahaha… Mungkin itulah salah satu alasan utama kenapa kami nonton. Lagian ya sayang aja, mumpung masih di Melbourne waktu itu, masa gak pernah sekalipun nonton konser disanaaa?
It was nice :). Siapa bilang musik klasik itu membosankan?




Well, yeah. Sepertinya masih ada beberapa lagi kali ya yang pernah saya tonton. Apalagi waktu di Jogja, hiburan murah meriah ya nonton band-band gituuu :D. Tapi untuk saat ini mah ingetnya itu doang. So yeah.
Day 20, finished!!!

Sabtu, 08 Juni 2013

What Makes Us the Same?

Beberapa tahun yang lalu, waktu saya dapet beasiswa untuk studi S2, sebelum berangkat kan ikut kursus EAP dulu. EAP itu English for Academic Purposes. Durasinya tergantung nilai IELTS yang kita peroleh waktu seleksi dulu. Saya ikut EAP yang 6 minggu, dan sekelas dengan beberapa orang lain.
Ada salah satu hal yang saya ingat waktu zaman dulu itu. Salah satu teman sekelas pas EAP itu lulusan Psikologi UI. Dan dia pernah ngomong gini:
Sebenernya ya, meskipun dari luar keliatannya beda-beda, ada satu hal yang sama dari kita semua. Maksud gua, yang sama diantara para penerima beasiswa ini.
Waktu saya nanya, yang sama apanya, dia cuma ketawa aja. Dia bilang, “Ya, ntar lo pasti ngerasa dan bisa liat sendiri deh.”
Sampe sekarang, kata-kata dia somehow masih melekat di benak saya.

Kenapa? Apa sih yang bikin sama?

Apalagi waktu EAP dulu, kami kayaknya kok pribadinya beda-beda banget. Ada yang memang tipe serius. Ada yang laid back. Some were procrastinators (including me, to be honest). At that time, saya masih gak ngerti apa yang dia maksud.

Begitu saya berangkat S2 dan ketemu dengan sesama AusAid awardee lainnya pun, saya masih berusaha menebak-nebak, what do we have in common?

And now, thank God, I am awarded another scholarship.

Dan percayalah, waktu PDO kemaren, me the insecure sekali lagi ngerasa a bit lost among those great people. Berasa kek sebutir SiO2 di tengah lautan pasir gak sih waktu denger ada Mbak langsing berwajah jelita yang bakal ngelanjutin S2 di Harvard? Law pula. Belum lagi liat grantee yang lain, yang aktif di bidang edukasi, sosial, those kind of great things. Me?
You know me. The moody one. Yang nangis paling nggak 2 jam kalo City atau Madrid kalah. Yang mentally married with David Silva. Yang kerjaannya nulis-nulis fanfic gak jelas. Yang suka becanda garing kalo lagi gak ngajar.
Kadang saya ngerasa Tuhan sebenernya lagi becanda by putting me among these people. 
Dan kembali, kata-kata temen saya dulu itu kepikir lagi di benak saya. 

And maybe, maybe we do have something in common.
All of us are fighter.

Karena yang namanya getting a scholarship is not an easy path. 
Iya, kalo liat sekilas emang kayaknya enak ya, bisa dapet beasiswa ke luar negri. Tapi coba deh diliat lagi, di balik itu, prosesnya gak sebentar. Berbagai macam tes, mengisi formulir aplikasi, menulis essay, melengkapi berkas, mencari surat rekomendasi.

We fight for it.
Yes, we do dream of it, but we don’t end up just dreaming.
We fight for it.

Itu baru usahanya. Belum lagi kalo ternyata, kabar yang datang bukanlah yang diinginkan. Saya udah ngerasain ditolak DAAD, BLN Dikti, ADS, dan StuNed. 

But did I give up?
To be honest, almost.
Tapi enggak. I did not give up. I did not quit the fight. 
Because every time I fall, it only makes my chin stronger than before :).

Kemudian, beberapa hari yang lalu, satu obrolan di grup WhatsApp membuat saya menemukan lagi satu hal yang mungkin we do have in common.
Salah satu temen nyeletuk, bahwa beasiswa ini bener-bener proses satu tahun ya….
Iya juga sih. Saya inget, ngirim aplikasi tanggal 10 April 2012 (deadlinenya 15 April 2012). Wawancara 1 Agustus dan 19 Agustus. Tes iBT dan GRE di bulan september 2012. GRE subject pas November. Februari itu kalo gak salah submission plan. Dan sepanjang Februari-Maret-April menanti kabar universitas mana yang akhirnya rela menerima saya. Dari 5 universitas, satu menolak dengan ikhlas. Yah, say ajuga ikhlas ditolak sih :p. Secara mereka minta iBT minimal 98, dan iBT saya…99. NYAHAHAHAHA ya iyalah saya ditolak.

Universitas yang menerima saya adalah universitas di pilihan kedua. Pilihan yang sebenernya saya taruh cuma dari segi idealisme dan bukannya dari segi realistisnya. Secara pas lihat peringkatnya, kok kekna mimpi banget ya saya bisa kuliah disana.

Eh. Ternyata, Tuhan itu Maha Baik. Saya diterima disana, dan dapat tuition waiver sebesar 50%.

Eeeeniweeeiii… Kembali ke soal one-year process ini. Jadi menurut temen-temen, ada satu hal lagi yang seharusnya dimiliki para Fulbright grantee: persistence.
And of course, if you have the persistence, you’re a fighter :).
So, let end this post with the song that never fails to lift my spirit again.
The Fighter - Gym Class Heroes feat. Ryan Tedder

Minggu, 02 Juni 2013

Quick Recap of May

OMG. Itu kenapa tidak ada posting apapun di bulan Mei ya? Yeah. Lazy me being lazy. But, then again, to my defense, there were…things. That need to be done. Anyway, here’s what happened in May.

1. Admitted at The University.
Remember when I told you about me being a scholarship hunter throughout 2012? Well. So. Here’s the thing. I was admitted at one of the universities in Australia. I got the IPRS Scholarship to study there.
BUT.
I also got admitted at one of the university in the USA through the Fulbright programs.
Decision time. Moment of truth.
Saya gak tau, entah kenapa merasa betapa tidak bersyukurnya ya saya ini. Sementara orang ada yang bingung karena gak keterima di mana-mana, saya malah bingung karena keterima di dua tempat.
But yeah. A decision has to be made anyway.
I did cry after I clicked the “Decline” button on the scholarship offer.
I did cry a little when I sent the e-mail to the committee of the other scholarship, telling them that I accept the offer.
I did have doubt on myself about my own decision of choosing the more difficult path.
But I do not have doubt that God will still be with me.
Bismillah. Semoga ini memang keputusan terbaik :”).

2. PDO

Pre-Departure Orientation ini semacam pengarahan bagi para Fulbright grantee. A priceless experience. Considering these facts:
  • The inspiring and enlightening speech from Pak Anis Baswedan. About how we should share our experience. Because sometimes we just don’t realize that we do have a chance to be inspiring for other people. So yeah. I made a pledge to myself, I’ll write more on my upcoming journey =)
  • Making new friends! Awww… It’s just… fun. And nice. Meeting these wonderful people. Beberapa memang udah pernah ketemu waktu interview dan atau tes iBT dan GRE. Tapi ada beberapa yang sebelumnya cuma ketemu lewat grup di FB atau Twitter atau blog. Bahkan di tengah acara pun, kadang-kadang saya ngeliatin isi ruangan. Thinking, is this for real? Me, being a part of these great awesome people? And me being insecure, suka mikir. Oh, God This is not real. I am not that good. Not as good as them. Apalagi kalo dibandingkan sama yang keterima di Harvard itu. Beuh. Berasa saya ini cuma sebutir garam di lautan Atlantik. Still, it’s just so nice to make friends with these people, and I feel so blessed to have the chance to meet them.
  • Staying at a fancy hotel (Sheraton!). Dan entah kenapa, sementara yang lain satu kamar untuk berdua, saya sekamar sendiriiii…. Hiks. Antara seneng karena berasa mewah banget, tapi juga sebel karena sepi =(
  • Fotografer acaranya ganteng kuadrat.
I think I’ll write some more about this PDO thing

3. End of Season
Last season, jagoan saya menang semua. Manchester City juara BPL (dan menangnya itu drama abis! Awww….). Real Madrid juara La Liga. Chelsea juara Liga Champions.
Tahun ini?
City ends up at second position. And the bitter defeat at Wembley at the FA Cup (saya bad mood selama hampir seminggu). Not to mention our horrible performance at UCL. Real Madrid berminggu-minggu betah aja di posisi 3 (walopun akhirnya ends up at second juga sih). And of course, I still have this urge to cry tentang kekalahan di semifinal UCL. La Decima yang tadinya terasa begitu dekat pupus begitu saja.
Okay. Chelsea menang European League. Tapi tetep. Oh well, at least Juan Mata betul-betul bersinar di season ini.
Tapi toh, season ini bikin saya semakin sadar. Supporting a team does not only mean that you cheer for them when they’re winning. It’s about still have your head and chin up and say how proud you are with the team, even in the worst of the season.
And yeah.
I am still a loud, proud, and loyal supporter of Manchester City. Together we are City. City till I die!

And thanks to Tumblr, menyenangkan sekali menemukan sesama Citizen :”). Secara kekna susah banget nyari supporter Citizen di Indonesia, apalagi di Banjarmasin –“
Selain itu, one thing about being a Citizen, it’s not just about the game. It’s the supporter. After the defeat in Wembley, saya tracking posts tentang City. And guess what? 90% about the posts are showing their respect to Wigan, and admitting that we played not well enough to win it.
And of course, I am still a Madridista. White blood in my vein, pure football in my heart :).

Jadi semoga saja UCL season mendatang tidak lagi menempatkan City dan Madrid dalam satu grup -_-. Really, it broke my heart to see the game. Tapi tetep dong, unforgettable moment banget waktu leg pertama City vs Madrid di Santiago Bernabeu, pas David Silva subbed off and he walked out off the pitch, he got a standing ovation from the people in Bernabeu. Even until now I still got the shiver :)

4. Reading and Writing
I’ve told you that I am taking request in football fic. Dan seminggu saya bisa ngerjain antara 4-6 one-shot alias cerpen. Ada saat dimana saya ngerasa so happy to know that people who requested like the one-shot that I’ve written for them. Tapi juga sering kok saya baca punya orang dan tiba-tiba ngerasa frustrasi. Why the hell I'm doing this? I’m nothing compared to those people. Compared to them, my writings are crap (insecure me being insecure). But still, dengan insecurenya saya, tetep aja saya nulis. Ahahahahaha….
On the other hand, as I am doing the writing quite a lot, reading speed saya untuk baca buku jadi menurun –(Sampai minggu ini, saya baru selesai membaca sekitar 20 buku. Mulai hopeless baca Cloud Atlas, karena membosankan sekali. The last book that I finished was Will Grayson, Will Grayson by John Green and David Levithan. Dan nyesel. KENAPA SAYA BARU BACA JOHN GREEN SEKARANG SIH? *sobs*
He writes so beautifully. So beautifully that I cry and read some lines and then cry again and read the lines again.

5. Crush
I seriously start to have this hopeless crush on this man:
Juan Manuel Mata Garcia.
He’s perfect that it feels unfair that he exists and being just perfect.
I mean, he did a journalism degree when he was in Spain (he used to play for Valencia, along with Silva (!!!) and Villa). And now he’s doing a degree in business and advertising. He likes Murakami’s books. He likes Coldplay. His favorite actor is Woody Allen. And. He runs a blog where he writes about his thought regularly.
Oh. And of course. He has a perfect look.
People, this is just so unfair. A perfect person like him should not be alive as his perfection can kill.
Still, this person that has that stupid awkward smile and hair so fluffy is still the love of my life.
David Josue Jimenez Silva. 
Thank you so much for being my perfect life-ruiner.

Okay, so now that’s a (long) recap of May for me.
So, hello, June =)

Rabu, 10 April 2013

Random Posts

Look. I am bored. So I just want to post about some random shallow thoughts of mine.

If you don’t find Adam Levine attractive, you’re doing it wrong.

He’s absolutely one of the hottest man alive on earth. Dan secara saya memang addicted to talent shows, him being one of the mentors for The Voice bener-bener perpaduan komplit. I squealed everytime he smiled or he laughed. And his banter with the other mentors is not helping me at all in this helpless obsession on him.

Taking on requests.
I’ve been writing football fics for about 4 months or so. And since about 3 weeks ago, saya memberanikan diri to take request. It’s a simple one, actually. Jadi bukan hanya menulis fic dengan tokoh salah seorang footballer, the footballer that I am writing about is not on my choice, but is based on people’s request. On one side, it’s a bit challenging. Apalagi kalo orang nge-requestnya adalah football player yang saya gak tau. Okay, one confession: I have no interest on Bundes Liga. At all. For one and some reasons, gak suka aja. Kekna Mesut Ozil dan Sami Kheidira doang pemain dari Jerman yang saya suka. And they’re not even playing in Bundes Liga. Jadi kebayang dong waktu ada yang request tentang pemain dari Liga Jerman yang saya ngucapin namanya aja susaaaah??? I find it easier to write on player from the club that I like. Karena chemistry-nya saya lebih dapet, dan saya seneng membuatnya agak-agak bernuansa domestic-fic gitu. But, despite the challenge, still, the positive feedbacks coming still give me those feelings :). The nice feeling of knowing that some people really do appreciate what I did. Say, like these kind of comments:

Still, I find this particular request is challenging. 

Saya sebenernya agak geli juga sih. The person insulted my club (which means, also an insult for ME). But on the other hand, she still respect my writings. Oh, and I managed to write a one-shot on Robin van Persie that the person asked me to.

Derby Manchester!

Pertandingannya disiarkan Selasa subuh. Dan dari Senin pagi, saya udah gak-karu-karuan rasanya. We were 15 points behind them. Pressures were mounting. And it’s an away game. To make things worse, Senin pagi itu saya bangun dalam keadaan sakit tenggorokan, dan hidung yang mulai tersumbat. And of course, as if it was not enough, sorenya, dokter gigi memutuskan bahwa solusi terbaik bagi gigi saya adalah dengan mencabutnya.
Selama si dokter gigi mengutak-atik gigi saya, saya cuma mikir: “Silva, Zabaleta, Kun, please don’t make this day be the worst day ever. Please win the game. Please please pretty please?”
And guess what?




WE WIN THE GAME! WE WIN THAT FREAKIN’ GAME OVER MANCHESTER UNITED!

Gigi oh gigi.
Saya udah pernah cerita kan betapa bencinya saya ke dokter gigi? Well, apa daya, saya harus ke dokter gigi lagi. Waktu kunjungan pertama, si dokter gigi mengambil kesimpulan bahwa ada dua opsi. Saraf gigi saya ada yang dimatikan, atau gigi saya dicabut sekalian. Pas kunjungan kedua, di awal dia bilang, “Oke. Kayaknya bisa kok cuma dirawat aja. Jadi giginya bisa kita pertahankan, gak usah dicabut. Eh, begitu saya duduk di kursi panas itu dan dia mulai bekerja, kok ya ujung-ujungnya dia menatap saya dengan prihatin sambil ngomong: “Bu, kayaknya sekarang pilihannya 50-50 ya. Giginya sebagian udah hancur. Kok kayaknya mending dicabut aja ya?”.
Saya baru tau kalo dokter gigi juga bisa PHP.
Kunjungan ketiga, si dokter gigi menyatakan: “Oke. Dicabut aja ya?”
SERAH DEH DOK. TERSERAH!

Saya mungkin satu-satunya pasien yang minta supaya bisa melewati proses eksekusi pencabutan itu sambil dengerin I-Pod. At least, suara bor yang intimidatif itu bisa sedikit teredam dengan suara musik. Akhirnya tercabutlah gigi sialan itu. Dan si gigi kekna belum rela untuk pergi, karena si dokter gigi harus membelah dirinya dulu untuk bisa dicabut dengan sukses. Saya sempat menghitung, ada 4 potongan gigi yang akhirnya tercabut.
Belum selesai di situ. Efek anestesi bikin saya selama berjam-jam gak bisa ngomong normal. Dan semalaman, karena perpaduan demam akibat flu, hidung tersumbat, gusi dan gigi yang berasa gak karu-karuan, plus rasa tegang karena derby Manchester, saya gak bisa tidur. Bolak-balik gak jelas selama 3 jam di tempat tidur itu bener-bener sangat tidak menyenangkan. Saya lho, saya! Yang biasanya menyentuh tempat rata aja udah bisa langsung pules.

Eyang Subur itu siapa sih?
Kayaknya sekarang gak gaul ya kalo gak tau sama Eyang Subur. Eh tapi saya masih gak ngerti aja kenapa sih dia sampe pengikutnya banyak gituuuu…. Haha. Penting abis.

Recent song on playlist
Secrets – One Republic
Suit and Tie – Justin Timberlake
Just Give Me  A Reason – Pink
Celebrate - Embrace
Gemilang – Andien
If I Lose Myself – One Republic
Weakness – The Wanted

Senin, 01 April 2013

Momen "Indonesia" Saya

Minggu lalu, sebagai tante yang baik hati dan paling disayangi sama keponakan, saya nganterin Dian, ponakan saya itu untuk nonton. Filmnya judulnya Hasduk Berpola. Yang excited sih dia, secara dia adalah anggota regu Pramuka yang sangat mencintai acara-acara pramukanya itu. Sementara saya yang dari dulu emang gak suka dan gak bisa baris berbaris ini malah kepikirannya cuma ah-ntar-palingan-ketiduran. Eh, ternyata…filmnya baguuusss… Ahahahaha.. Pertama, tokoh utamanya bandel. Si Budi itu bukan tipe klise anak baik. Malah dia berantem mulu. Tapi tetap saja, saya nangis habis-habisan waktu dia naik ke gedung hotel Majapahit untuk mengibarkan bendera punya Mbah-nya. 
Dan salah satu dialog yang bikin saya tertampar, adalah waktu Mbah-nya Budi (yang diperankan oleh sang maestro biola Indonesia: Idris Sardi) mendengar berita tentang anggota dewan yang tidak hafal lagu Indonesia Raya.

"Ndak menghargai perjuangan, blas!” ujar beliau dengan nada kecewa.
Deg!
Berasa ditampar. 

Iya ih, saya mah gitu banget ya… Sekarang sih udah enak banget. Bangun gak usah mikir apakah bakal kejatuhan bom atau kena peluru tentara atau gimana. Saya sudah bener-bener tinggal menikmati apa yang dulu diperjuangkan para veteran itu dengan mengorbankan jiwa mereka.

I am one of those people, that becomes more and more sceptic everyday on how this country is being managed. Bahkan waktu Farhat Abbas mencalonkan diri jadi calon presiden, I was at the edge of thinking on changing my nationality. (somebody please please pleaaaseee tell me that him going for a candidate for president is nothing but a joke).

Iya. I complain about the government. I know that it’s not something easy to do, to govern this country. But at least would you please show us that you are seriouly trying your best to do it??
Ada saat-saat dimana saya merasa, it is hopeless to be a part of this country.

Tapi toh, banyak sekali momen-momen dimana saya ngerasa, ini Indonesia, dan saya bangga jadi orang Indonesia!

Salah satu momen “Indonesia” saya: kalau lihat para veteran perang.
Outside, mungkin kita cuma melihat mereka sebaga para aki yang sudah masuk kategori lansia. Tapi lihatlah mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Waktu bagi mereka, merdeka bukan hanya sekedar pilihan, tapi suatu harga mati.

Kemerdekaan Indonesia itu diperjuangkan. Oleh mereka. Di atas darah mereka. Di atas air mata yang tumpah akibat kepergian mereka.
Saya bangga atas perjuangan mereka. Saya bangga, bahwa Indonesia punya pahlawan: mereka. Melihat mereka, selalu membuat saya sadar, masih ada alasan bagi saya untuk terus berusaha dan mencintai negeri mereka. Tidak membiarkan perjuangan mereka hanya sekedar cerita sejarah belaka, adalah salah satu alasan tersebut.

Momen “Indonesia” saya yang lain: olahraga.

One key point of it: Barcelona, 1992.

It was like, yeaaarrrsss ago. Tapi saya masih inget. Minggu siang. Abah dengan wajah tegang duduk di depan TV. Saya yang belum terlalu ngerti juga ikut-ikutan deg-degan, dan gak bisa mengalihkan pandangan. Ikut teriak setiap kali smes Susi Susanti masuk. Ikut mengerang kalau ada bola yang lepas. Dan akhirnya… Akhirnya…
We won it. Our very first gold medal, in the Olympic.

Melihat air mata Susi Susanti, kumandang Indonesia Raya, Merah-Putih yang berkibar. 
Nothing. Nothing beats the feeling.
Atlanta, 1996. Setelah perjuangan tiga set yang menegangkan

Ricky Subagja- Rexy Mainaky. Gold Medal for Indonesia in Atlanta, 1996

Saya cukup beruntung, karena pernah menyaksikan masa-masa dimana Indonesia adalah penguasa dunia bulutangkis. 
Rexy Mainaky sebagai pembawa bendera. He will always, always be my all-time favorite player.  I remember once, he won the title, dan dia lari keliling lapangan dengan berjubahkan bendera merah-putih.
Bahkan sampai sekarang, saya masih emosional aja, masih teriak-teriak aja kalo Indonesia tanding bulutangkis. 

Iya, saya gak ngikutin liga sepak bolanya Indonesia. Apa yang terjadi di PSSI terlalu memusingkan untuk dipahami. Tapi tetap saja, kalo Timnas Indonesia main, saya menyempatkan diri untuk menonton. Walaupun jujur ya, saya mulai agak jengah melihat rasio pemain naturalisasi. I mean, come on!!!
Wah, apalagi kalo yang dilawan Malaysia. Secara nih ya, when it comes to against that country, it’s no longer just a game of sport. It’s about pride. 

Bukan cuma pertandingannya sih. Kalau Indonesia tanding, saya seneng liat para suporter :D. Mau dukung siapapun juga, begitu Timnas main, kita semua sama: merah putih. And it gives me hope. Bahwa mau segimanapun negara kita, tetap ada satu dan beberapa hal lain yang bisa membuat kita merasa sama sebagai bangsa Indonesia.

I know. There are too many absurdity in this country. Tapi masih, selalu masih ada momen-momen dimana saya merasa, ini negara saya, ini bangsa saya: INDONESIA.
Taufik Hidayat. Yep, I cried to see this picture.

And for reasons that me myself cannot really explain, I still stubbornly love this country.

Rabu, 27 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 17


Day 17 – What do you want to be when you get older?

Lah, sayanya udah berusia mapan dan matang begini gimanaaa dooooonggg?
Nyahahahaha… Ih, tapi mari berimprovisasi. Mari kita berbicara dengan topik apa saja yang pernah menjadi cita-cita saya.

When I was 3 years old, saya pengen jadi sopir truk.
Waktu SD, saya pengen jadi guru.
Kelas 2 SMP, jadi lebih spesifik, pengen jadi guru Bahasa Inggris.
Kelas 3 SMP, karena suka sama gurunya, pengen jadi guru Sejarah.
Kelas 1 SMA, pengen jadi guru Fisika. 
Masih di kelas 1 SMA, pas tau ada jurusan Kriminologi, tiba-tiba sempet kepengen masuk jurusan itu dan jadi…detektif.
Kelas 2 SMA, tiba-tiba saja menyadari bahwa yang namanya Fisika ada ilmu tentang elektronika. Langsung berasa suram. Pindah haluan dikit, pengen jadi guru Kimia.
Kelas 3 SMA, masih konsisten, pengen jadi guru Kimia.
Pas kuliah, udah bodo amat deh ntar jadi apa, yang penting lulus dalam keadaan hidup-hidup dan bebas dari jeratan Kimia Organik. (Iya. I really suck at those carbon compounds.)


Alhamdulillah, sekarang jadi Dosen. Di Prodi Kimia. 
Talk about having dreams come true, eh ;)?

Tapi toh, sampai sekarang masih ada beberapa yang saya kepengen.
cute little book store, picture from here

Pengen punya toko buku sendiri. Toko buku kecil aja, yang saya sebagai pemilik dan 2-3 orang pegawainya tahu buku apa saja yang kami  sediakan. Yang bisa diajak ngobrol soal buku dengan para pelanggan. Pengennya kayak toko buku Borders (yang udah almarhum itu), jadi di tengah-tengahnya ada café gitu. Eh, tapi saya mah pengennya di halaman depan atau sampingnya sih ada café gitu. 



picture from here
Pengen nulis buku. I never consider myself good in writing. But one thing for sure, I do enjoy it. Iya, emang bukan academic writing like my colleagues and my employer expect me to do (maafkan saya wahai Dekan, KaProdi dan para petinggi Depdiknas).  Selama ini, saya cuma menuliskan all those rants and ramblings that I have in mind. Occasionally I write some fics to. Every now and then, the thought crossed my mind, bahwa mungkin lucu juga kali ya kalo yang satu ini diseriusin. Ahahahaha… Yeah, maybe, one day, I will have my very own book being published. 


Pengen jadi WAG. Particularly for David Silva. Lupakan. Abaikan.

Pengen jadi part of a creative production.
Entah ikut terlibat dalam penulisan skenario, atau mengkonsep suatu performance, or anything. Not to say that I am a creative one. Tapi jujur saja, saya suka terkagum-kagum dengan bagaimana sebuah film atau drama atau pertunjukan bisa berlangsung, melalui kerja keras orang-orang di proses kreatifnya. Saya bukan tipe orang yang suka being under the spotlight. But really, I think I would enjoy to be someone behind the scene :).

Selasa, 26 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 16


Day 16 – If the world were to end tomorrow, what would you do with your remaining time on Earth?

Waduh. Serius ya topiknya. It’s not that I never really thought about the dooms day or something. Tapi saya sering kepikirannya sih, what would people think of me when I have died? What would they remember about me when I passed away?
Kok bukan itu aja sih yang ditanyain -_-

Anyway.

Kalau misalnya saya tau bahwa the world would end tomorrow (tiba-tiba ngerasa ada di film The Day After Tomorrow), emm… Saya cuma pengen menghabiskan waktu bersama keluarga saya. Sama orang tua dan adik saya. They have been the most important part of my life, the true love of my life, and the best part of life.

I would make a list of things that I really want to say to other people but I never have the chance to tell them. Dan entah dengan cara apapun, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal itu pada mereka. 

Saya bakal melihat-lihat kembali foto, catatan, any memorabilia about my life, dan mengingat kembali bahwa hidup saya begitu penuh dengan berkah.

Eh, nulis ginian jadi mikir deh. No matter how short or how long life would be, what really matter is actually the things that really leave their marks on our life. That really taught us a thing or two or more about life. 
And still, our life always, always worth enough to live in. God makes it that way, as He is the best director of all scenarios =).

Senin, 25 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 15

Day 15 – A Photo of someone you fancy at the moment

First of all, just A photo? Like, one, single photo? God, this is such a torture.

Gini ya, at the moment, someone that I fancy, is someone that I would refer as calon suami saya the love of my sad life, the light of my poor heart, tentu saja adalah…
David Josue Jimenez Silva

Protes? Silakan. I will still fancy him anyway.

Anyway, ini understatement banget nih disuruhnya cuma satu foto. I have one special folder titled “Silva” with 495 items in it (and each week, the number keep on increasing). Dan itu belum termasuk foto dia yang ikut keselip di folder MCFC dan Spain NT. I put a special link on my Tumblr on my posts about him. I made a series of posts on things that I love about him. Dan sekarang dimintanya cuma SATU foto?
Tolong ya.

Gimana caranya saya milih cuma SATU??? First world problem ini mah.

Atau gini aja.
SATU foto untuk satu tema tentang dirinya? Gimana?

Yeah, so once again, my blog will be spammed with his picture.


Silva’s shy smile
Silva’s genuine smile 

Silva in practice

Silva in City’s home jersey

  Silva in City’s away jersey

Silva in Spain NT”s jersey

Silva in suit

His stupid awkward face

His casual pose

Him not looking at the camera

Silva and his perfect fluffy hair

Silva celebrates his goal

Silva is angry

Silva with his magical action

Okay. Okay. I’ll stop. I try to stop at 14, as 14 is some kind of my lucky number. But really, it takes me quite a while just to pick which one is my favorite pictures of him for each theme.
How can one not love him!!!
*squealing*
Let’s end this post with…
A hug from David Silva!
ugh. That smile :")

Tampilkan postingan dengan label The Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label The Blog. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Juni 2013

30 Day Challenge - Day 20

Day 20 – Concerts You Have Attended

Aaaa… Jadi kangen jaman kuliah S1 duluuuu! Secara ya, di Jogja dulu saya suka nonton acara musik kampus gitu.Secara itu salah satu hiburan yang murah meriah adalah nonton acara musik kampus gitu. Istilah kita waktu itu sih, nonton band-band-an. Jadi pernah juga liat The Rain, Shakey, Es Nanas, dan beberapa band indie lain. Iya, awal sampe pertengahan 2000an kan jamannya band indie gitu, dan Jogja adalah salah satu surganya band indie. (OMG how I miss those golden times)
Anyway, kalo memang yang dianggap konser disini adalah konser yang serius gitu…Hmm…
Baiklah.

1. KLa Project
Konser pertama yang pernah saya tonton di Jogja. Waktu itu konsernya di Kridosono. Dan tiketnya berapa? 15.000 perak. Waktu itu tahun 99 sih. Tapi tetep aja, rasanya kok murah yaaaa…. Puas banget. Memang ya, Katon itu walaupun udah tua, kualitas vokalnya gak boong deh

2. Sheila on 7 & KLa Project.

Jadi ya sodara-sodara. Saya itu sejak SMP itu udah jadi KLaNis. Dan semenjak mereka pertama kali muncul pun saya udah ngefans abis sama Sheila On 7. Jadi kebayang dong gimana saya nangis histeris waktu tau mereka bakal konser bareng? Iya. KLa DAN Sheila On 7. Konsernya di GSP. Tiketnya 20.000 perak. Waktu itu nontonnya berempat, bareng sama anak-anak kos.
PUAS BANGET SERIUS. Sumpah ya…. Yang muncul duluan Kla, sekitar 1,5 jam gitu. Lalu Sheila On 7. Dan saya ingeeeet banget, itu pertama kali lagu Sephia diperdengarkan di depan umum. Sheila On 7 nya kalo gak salah hampir 2 jam gitu. Dan senengnya nonton mereka adalah, beda sama yang di kaseeeetttt… Ahahahaha…maksud saya, mereka pinter deh bikin improvisasinya. Pas pertama kali masuk panggung, yang mereka mainkan adalah intronya My Heart Will Go On, tau-tau jadi lagu “Kita” gituuu. ..

3. Dewa
Ini adalah konser yang saya paling ingetnya kenapa coba? Karena gak bayar. Kita ngedobrak. Nyahahahahaha…. Waktu itu kan album Bintang 5 baru keluar. Dan percaya deh, album itu best of the bestnya Dewa banget-bangetan. Satu album bagus semuaaaaa lagunya. Jadi waktu tau mereka mau konser, kita satu kost pada mau nonton. Masalahnya, kita terlalu kompak. Kebayang gak sih susahnya nyari 8 tiket sekaligus??? Tentu saja kita kehabisan tiket dimana-mana.
Nah, pas malam konsernya, saya, Widia, Eka dan Ifan pada berangkat aja nonton tanpa bawa tiket. Berharap bakal dapet dari calo. Eh, Emil juga pergi sih, tapi sama pacarnya. Tapi sialan ya….tiket yang harusnya cuma 15.000 mereka jualnya sampe 60-75 ribu gitu. Tolong ya. Jual tiket apa ngajak miskin sih Bang?
Dalam keadaan hopeless, kita keliling ngider GSP. Eh, kok tau-tau kita nyampe di pintu dimana ternyata para personil Dewa pada datang dan masuk ya? ITU SAYA SEMPET DEKET BANGET SAMA ONCE LHO. Bening abis dia itu. Trus, lama-kelamaan, itu kok orang yang numpuk makin banyak ya di pintu itu? Dan kita pun akhirnyaaaa….ikut rombongan manusia itu mendobrak pintuuuu! YEAAAAYYY! Jadilah kita ikut menyerbu masuk ke dalam.
Jadi sodara-sodara, sensasinya bukan cuma di nonton konsernya, tapi cara masuknya yang brutal. Huahahahahaha…

4. Element

Konsernya di UPN Veteran. Ini saya agak heran deh kenapa saya nonton. Secara ya gak ngefans-ngefans amat sama Element. Yang saya inget cuma karena salah satu panitianya mantan pacar temen saya, jadi saya dapat tiket gratis dan temen-temen sekost saya dapet diskon. Udah. Gitu doang. Nontonnya juga jadinya biasa aja.

5. Soundrenaline 2003.

Yang paling seru nih. Secara Soundrenaline la yaaaa…. Jadi yang konser kan borongan gitu. Waktu itu kalo gak salah ada Jikustik, sama siapa lagi ya? Ada Iwan Fals, Dewa ya kalo nggak salah? Sama…Naif. Trus ada TIC Band (itu drummernya saya masih inget, Rama, gantengnya gak nyante). Trus siapa lagi ya? Aduh, lupa. Serius. Yah, pokoknya mah banyaaaakkk…. Kita kesana dari jam 1 siang, sampe jam 11 malam. Konsernya kan di Alun-alun gitu. Saya nonton sama anak-anak kost, dalam keadaan ceking dan item habis KKN selama 2 bulan di desa terpencil. Dekil abis lah pokoknya :)). Ini salah satu kenangan paling berkesan selama di Jogja, dan terakhir kali saya nonton konser-konseran di jaman S1 saya yang penuh huru-hara itu :)).

6. Sidney Meyer Concert With Melbourne Symphony Orchestra
Ihiiiyyy… Kosner ‘berbudaya’. Setelah sekian lama gak nonton band-band-an, nonton konser lagiii…. Tahun 2009 nih. Tahun terakhir saya sekolah S2. Konsernya…gratisan. Ahahahaha… Mungkin itulah salah satu alasan utama kenapa kami nonton. Lagian ya sayang aja, mumpung masih di Melbourne waktu itu, masa gak pernah sekalipun nonton konser disanaaa?
It was nice :). Siapa bilang musik klasik itu membosankan?




Well, yeah. Sepertinya masih ada beberapa lagi kali ya yang pernah saya tonton. Apalagi waktu di Jogja, hiburan murah meriah ya nonton band-band gituuu :D. Tapi untuk saat ini mah ingetnya itu doang. So yeah.
Day 20, finished!!!

Sabtu, 08 Juni 2013

What Makes Us the Same?

Beberapa tahun yang lalu, waktu saya dapet beasiswa untuk studi S2, sebelum berangkat kan ikut kursus EAP dulu. EAP itu English for Academic Purposes. Durasinya tergantung nilai IELTS yang kita peroleh waktu seleksi dulu. Saya ikut EAP yang 6 minggu, dan sekelas dengan beberapa orang lain.
Ada salah satu hal yang saya ingat waktu zaman dulu itu. Salah satu teman sekelas pas EAP itu lulusan Psikologi UI. Dan dia pernah ngomong gini:
Sebenernya ya, meskipun dari luar keliatannya beda-beda, ada satu hal yang sama dari kita semua. Maksud gua, yang sama diantara para penerima beasiswa ini.
Waktu saya nanya, yang sama apanya, dia cuma ketawa aja. Dia bilang, “Ya, ntar lo pasti ngerasa dan bisa liat sendiri deh.”
Sampe sekarang, kata-kata dia somehow masih melekat di benak saya.

Kenapa? Apa sih yang bikin sama?

Apalagi waktu EAP dulu, kami kayaknya kok pribadinya beda-beda banget. Ada yang memang tipe serius. Ada yang laid back. Some were procrastinators (including me, to be honest). At that time, saya masih gak ngerti apa yang dia maksud.

Begitu saya berangkat S2 dan ketemu dengan sesama AusAid awardee lainnya pun, saya masih berusaha menebak-nebak, what do we have in common?

And now, thank God, I am awarded another scholarship.

Dan percayalah, waktu PDO kemaren, me the insecure sekali lagi ngerasa a bit lost among those great people. Berasa kek sebutir SiO2 di tengah lautan pasir gak sih waktu denger ada Mbak langsing berwajah jelita yang bakal ngelanjutin S2 di Harvard? Law pula. Belum lagi liat grantee yang lain, yang aktif di bidang edukasi, sosial, those kind of great things. Me?
You know me. The moody one. Yang nangis paling nggak 2 jam kalo City atau Madrid kalah. Yang mentally married with David Silva. Yang kerjaannya nulis-nulis fanfic gak jelas. Yang suka becanda garing kalo lagi gak ngajar.
Kadang saya ngerasa Tuhan sebenernya lagi becanda by putting me among these people. 
Dan kembali, kata-kata temen saya dulu itu kepikir lagi di benak saya. 

And maybe, maybe we do have something in common.
All of us are fighter.

Karena yang namanya getting a scholarship is not an easy path. 
Iya, kalo liat sekilas emang kayaknya enak ya, bisa dapet beasiswa ke luar negri. Tapi coba deh diliat lagi, di balik itu, prosesnya gak sebentar. Berbagai macam tes, mengisi formulir aplikasi, menulis essay, melengkapi berkas, mencari surat rekomendasi.

We fight for it.
Yes, we do dream of it, but we don’t end up just dreaming.
We fight for it.

Itu baru usahanya. Belum lagi kalo ternyata, kabar yang datang bukanlah yang diinginkan. Saya udah ngerasain ditolak DAAD, BLN Dikti, ADS, dan StuNed. 

But did I give up?
To be honest, almost.
Tapi enggak. I did not give up. I did not quit the fight. 
Because every time I fall, it only makes my chin stronger than before :).

Kemudian, beberapa hari yang lalu, satu obrolan di grup WhatsApp membuat saya menemukan lagi satu hal yang mungkin we do have in common.
Salah satu temen nyeletuk, bahwa beasiswa ini bener-bener proses satu tahun ya….
Iya juga sih. Saya inget, ngirim aplikasi tanggal 10 April 2012 (deadlinenya 15 April 2012). Wawancara 1 Agustus dan 19 Agustus. Tes iBT dan GRE di bulan september 2012. GRE subject pas November. Februari itu kalo gak salah submission plan. Dan sepanjang Februari-Maret-April menanti kabar universitas mana yang akhirnya rela menerima saya. Dari 5 universitas, satu menolak dengan ikhlas. Yah, say ajuga ikhlas ditolak sih :p. Secara mereka minta iBT minimal 98, dan iBT saya…99. NYAHAHAHAHA ya iyalah saya ditolak.

Universitas yang menerima saya adalah universitas di pilihan kedua. Pilihan yang sebenernya saya taruh cuma dari segi idealisme dan bukannya dari segi realistisnya. Secara pas lihat peringkatnya, kok kekna mimpi banget ya saya bisa kuliah disana.

Eh. Ternyata, Tuhan itu Maha Baik. Saya diterima disana, dan dapat tuition waiver sebesar 50%.

Eeeeniweeeiii… Kembali ke soal one-year process ini. Jadi menurut temen-temen, ada satu hal lagi yang seharusnya dimiliki para Fulbright grantee: persistence.
And of course, if you have the persistence, you’re a fighter :).
So, let end this post with the song that never fails to lift my spirit again.
The Fighter - Gym Class Heroes feat. Ryan Tedder

Minggu, 02 Juni 2013

Quick Recap of May

OMG. Itu kenapa tidak ada posting apapun di bulan Mei ya? Yeah. Lazy me being lazy. But, then again, to my defense, there were…things. That need to be done. Anyway, here’s what happened in May.

1. Admitted at The University.
Remember when I told you about me being a scholarship hunter throughout 2012? Well. So. Here’s the thing. I was admitted at one of the universities in Australia. I got the IPRS Scholarship to study there.
BUT.
I also got admitted at one of the university in the USA through the Fulbright programs.
Decision time. Moment of truth.
Saya gak tau, entah kenapa merasa betapa tidak bersyukurnya ya saya ini. Sementara orang ada yang bingung karena gak keterima di mana-mana, saya malah bingung karena keterima di dua tempat.
But yeah. A decision has to be made anyway.
I did cry after I clicked the “Decline” button on the scholarship offer.
I did cry a little when I sent the e-mail to the committee of the other scholarship, telling them that I accept the offer.
I did have doubt on myself about my own decision of choosing the more difficult path.
But I do not have doubt that God will still be with me.
Bismillah. Semoga ini memang keputusan terbaik :”).

2. PDO

Pre-Departure Orientation ini semacam pengarahan bagi para Fulbright grantee. A priceless experience. Considering these facts:
  • The inspiring and enlightening speech from Pak Anis Baswedan. About how we should share our experience. Because sometimes we just don’t realize that we do have a chance to be inspiring for other people. So yeah. I made a pledge to myself, I’ll write more on my upcoming journey =)
  • Making new friends! Awww… It’s just… fun. And nice. Meeting these wonderful people. Beberapa memang udah pernah ketemu waktu interview dan atau tes iBT dan GRE. Tapi ada beberapa yang sebelumnya cuma ketemu lewat grup di FB atau Twitter atau blog. Bahkan di tengah acara pun, kadang-kadang saya ngeliatin isi ruangan. Thinking, is this for real? Me, being a part of these great awesome people? And me being insecure, suka mikir. Oh, God This is not real. I am not that good. Not as good as them. Apalagi kalo dibandingkan sama yang keterima di Harvard itu. Beuh. Berasa saya ini cuma sebutir garam di lautan Atlantik. Still, it’s just so nice to make friends with these people, and I feel so blessed to have the chance to meet them.
  • Staying at a fancy hotel (Sheraton!). Dan entah kenapa, sementara yang lain satu kamar untuk berdua, saya sekamar sendiriiii…. Hiks. Antara seneng karena berasa mewah banget, tapi juga sebel karena sepi =(
  • Fotografer acaranya ganteng kuadrat.
I think I’ll write some more about this PDO thing

3. End of Season
Last season, jagoan saya menang semua. Manchester City juara BPL (dan menangnya itu drama abis! Awww….). Real Madrid juara La Liga. Chelsea juara Liga Champions.
Tahun ini?
City ends up at second position. And the bitter defeat at Wembley at the FA Cup (saya bad mood selama hampir seminggu). Not to mention our horrible performance at UCL. Real Madrid berminggu-minggu betah aja di posisi 3 (walopun akhirnya ends up at second juga sih). And of course, I still have this urge to cry tentang kekalahan di semifinal UCL. La Decima yang tadinya terasa begitu dekat pupus begitu saja.
Okay. Chelsea menang European League. Tapi tetep. Oh well, at least Juan Mata betul-betul bersinar di season ini.
Tapi toh, season ini bikin saya semakin sadar. Supporting a team does not only mean that you cheer for them when they’re winning. It’s about still have your head and chin up and say how proud you are with the team, even in the worst of the season.
And yeah.
I am still a loud, proud, and loyal supporter of Manchester City. Together we are City. City till I die!

And thanks to Tumblr, menyenangkan sekali menemukan sesama Citizen :”). Secara kekna susah banget nyari supporter Citizen di Indonesia, apalagi di Banjarmasin –“
Selain itu, one thing about being a Citizen, it’s not just about the game. It’s the supporter. After the defeat in Wembley, saya tracking posts tentang City. And guess what? 90% about the posts are showing their respect to Wigan, and admitting that we played not well enough to win it.
And of course, I am still a Madridista. White blood in my vein, pure football in my heart :).

Jadi semoga saja UCL season mendatang tidak lagi menempatkan City dan Madrid dalam satu grup -_-. Really, it broke my heart to see the game. Tapi tetep dong, unforgettable moment banget waktu leg pertama City vs Madrid di Santiago Bernabeu, pas David Silva subbed off and he walked out off the pitch, he got a standing ovation from the people in Bernabeu. Even until now I still got the shiver :)

4. Reading and Writing
I’ve told you that I am taking request in football fic. Dan seminggu saya bisa ngerjain antara 4-6 one-shot alias cerpen. Ada saat dimana saya ngerasa so happy to know that people who requested like the one-shot that I’ve written for them. Tapi juga sering kok saya baca punya orang dan tiba-tiba ngerasa frustrasi. Why the hell I'm doing this? I’m nothing compared to those people. Compared to them, my writings are crap (insecure me being insecure). But still, dengan insecurenya saya, tetep aja saya nulis. Ahahahahaha….
On the other hand, as I am doing the writing quite a lot, reading speed saya untuk baca buku jadi menurun –(Sampai minggu ini, saya baru selesai membaca sekitar 20 buku. Mulai hopeless baca Cloud Atlas, karena membosankan sekali. The last book that I finished was Will Grayson, Will Grayson by John Green and David Levithan. Dan nyesel. KENAPA SAYA BARU BACA JOHN GREEN SEKARANG SIH? *sobs*
He writes so beautifully. So beautifully that I cry and read some lines and then cry again and read the lines again.

5. Crush
I seriously start to have this hopeless crush on this man:
Juan Manuel Mata Garcia.
He’s perfect that it feels unfair that he exists and being just perfect.
I mean, he did a journalism degree when he was in Spain (he used to play for Valencia, along with Silva (!!!) and Villa). And now he’s doing a degree in business and advertising. He likes Murakami’s books. He likes Coldplay. His favorite actor is Woody Allen. And. He runs a blog where he writes about his thought regularly.
Oh. And of course. He has a perfect look.
People, this is just so unfair. A perfect person like him should not be alive as his perfection can kill.
Still, this person that has that stupid awkward smile and hair so fluffy is still the love of my life.
David Josue Jimenez Silva. 
Thank you so much for being my perfect life-ruiner.

Okay, so now that’s a (long) recap of May for me.
So, hello, June =)

Rabu, 10 April 2013

Random Posts

Look. I am bored. So I just want to post about some random shallow thoughts of mine.

If you don’t find Adam Levine attractive, you’re doing it wrong.

He’s absolutely one of the hottest man alive on earth. Dan secara saya memang addicted to talent shows, him being one of the mentors for The Voice bener-bener perpaduan komplit. I squealed everytime he smiled or he laughed. And his banter with the other mentors is not helping me at all in this helpless obsession on him.

Taking on requests.
I’ve been writing football fics for about 4 months or so. And since about 3 weeks ago, saya memberanikan diri to take request. It’s a simple one, actually. Jadi bukan hanya menulis fic dengan tokoh salah seorang footballer, the footballer that I am writing about is not on my choice, but is based on people’s request. On one side, it’s a bit challenging. Apalagi kalo orang nge-requestnya adalah football player yang saya gak tau. Okay, one confession: I have no interest on Bundes Liga. At all. For one and some reasons, gak suka aja. Kekna Mesut Ozil dan Sami Kheidira doang pemain dari Jerman yang saya suka. And they’re not even playing in Bundes Liga. Jadi kebayang dong waktu ada yang request tentang pemain dari Liga Jerman yang saya ngucapin namanya aja susaaaah??? I find it easier to write on player from the club that I like. Karena chemistry-nya saya lebih dapet, dan saya seneng membuatnya agak-agak bernuansa domestic-fic gitu. But, despite the challenge, still, the positive feedbacks coming still give me those feelings :). The nice feeling of knowing that some people really do appreciate what I did. Say, like these kind of comments:

Still, I find this particular request is challenging. 

Saya sebenernya agak geli juga sih. The person insulted my club (which means, also an insult for ME). But on the other hand, she still respect my writings. Oh, and I managed to write a one-shot on Robin van Persie that the person asked me to.

Derby Manchester!

Pertandingannya disiarkan Selasa subuh. Dan dari Senin pagi, saya udah gak-karu-karuan rasanya. We were 15 points behind them. Pressures were mounting. And it’s an away game. To make things worse, Senin pagi itu saya bangun dalam keadaan sakit tenggorokan, dan hidung yang mulai tersumbat. And of course, as if it was not enough, sorenya, dokter gigi memutuskan bahwa solusi terbaik bagi gigi saya adalah dengan mencabutnya.
Selama si dokter gigi mengutak-atik gigi saya, saya cuma mikir: “Silva, Zabaleta, Kun, please don’t make this day be the worst day ever. Please win the game. Please please pretty please?”
And guess what?




WE WIN THE GAME! WE WIN THAT FREAKIN’ GAME OVER MANCHESTER UNITED!

Gigi oh gigi.
Saya udah pernah cerita kan betapa bencinya saya ke dokter gigi? Well, apa daya, saya harus ke dokter gigi lagi. Waktu kunjungan pertama, si dokter gigi mengambil kesimpulan bahwa ada dua opsi. Saraf gigi saya ada yang dimatikan, atau gigi saya dicabut sekalian. Pas kunjungan kedua, di awal dia bilang, “Oke. Kayaknya bisa kok cuma dirawat aja. Jadi giginya bisa kita pertahankan, gak usah dicabut. Eh, begitu saya duduk di kursi panas itu dan dia mulai bekerja, kok ya ujung-ujungnya dia menatap saya dengan prihatin sambil ngomong: “Bu, kayaknya sekarang pilihannya 50-50 ya. Giginya sebagian udah hancur. Kok kayaknya mending dicabut aja ya?”.
Saya baru tau kalo dokter gigi juga bisa PHP.
Kunjungan ketiga, si dokter gigi menyatakan: “Oke. Dicabut aja ya?”
SERAH DEH DOK. TERSERAH!

Saya mungkin satu-satunya pasien yang minta supaya bisa melewati proses eksekusi pencabutan itu sambil dengerin I-Pod. At least, suara bor yang intimidatif itu bisa sedikit teredam dengan suara musik. Akhirnya tercabutlah gigi sialan itu. Dan si gigi kekna belum rela untuk pergi, karena si dokter gigi harus membelah dirinya dulu untuk bisa dicabut dengan sukses. Saya sempat menghitung, ada 4 potongan gigi yang akhirnya tercabut.
Belum selesai di situ. Efek anestesi bikin saya selama berjam-jam gak bisa ngomong normal. Dan semalaman, karena perpaduan demam akibat flu, hidung tersumbat, gusi dan gigi yang berasa gak karu-karuan, plus rasa tegang karena derby Manchester, saya gak bisa tidur. Bolak-balik gak jelas selama 3 jam di tempat tidur itu bener-bener sangat tidak menyenangkan. Saya lho, saya! Yang biasanya menyentuh tempat rata aja udah bisa langsung pules.

Eyang Subur itu siapa sih?
Kayaknya sekarang gak gaul ya kalo gak tau sama Eyang Subur. Eh tapi saya masih gak ngerti aja kenapa sih dia sampe pengikutnya banyak gituuuu…. Haha. Penting abis.

Recent song on playlist
Secrets – One Republic
Suit and Tie – Justin Timberlake
Just Give Me  A Reason – Pink
Celebrate - Embrace
Gemilang – Andien
If I Lose Myself – One Republic
Weakness – The Wanted

Senin, 01 April 2013

Momen "Indonesia" Saya

Minggu lalu, sebagai tante yang baik hati dan paling disayangi sama keponakan, saya nganterin Dian, ponakan saya itu untuk nonton. Filmnya judulnya Hasduk Berpola. Yang excited sih dia, secara dia adalah anggota regu Pramuka yang sangat mencintai acara-acara pramukanya itu. Sementara saya yang dari dulu emang gak suka dan gak bisa baris berbaris ini malah kepikirannya cuma ah-ntar-palingan-ketiduran. Eh, ternyata…filmnya baguuusss… Ahahahaha.. Pertama, tokoh utamanya bandel. Si Budi itu bukan tipe klise anak baik. Malah dia berantem mulu. Tapi tetap saja, saya nangis habis-habisan waktu dia naik ke gedung hotel Majapahit untuk mengibarkan bendera punya Mbah-nya. 
Dan salah satu dialog yang bikin saya tertampar, adalah waktu Mbah-nya Budi (yang diperankan oleh sang maestro biola Indonesia: Idris Sardi) mendengar berita tentang anggota dewan yang tidak hafal lagu Indonesia Raya.

"Ndak menghargai perjuangan, blas!” ujar beliau dengan nada kecewa.
Deg!
Berasa ditampar. 

Iya ih, saya mah gitu banget ya… Sekarang sih udah enak banget. Bangun gak usah mikir apakah bakal kejatuhan bom atau kena peluru tentara atau gimana. Saya sudah bener-bener tinggal menikmati apa yang dulu diperjuangkan para veteran itu dengan mengorbankan jiwa mereka.

I am one of those people, that becomes more and more sceptic everyday on how this country is being managed. Bahkan waktu Farhat Abbas mencalonkan diri jadi calon presiden, I was at the edge of thinking on changing my nationality. (somebody please please pleaaaseee tell me that him going for a candidate for president is nothing but a joke).

Iya. I complain about the government. I know that it’s not something easy to do, to govern this country. But at least would you please show us that you are seriouly trying your best to do it??
Ada saat-saat dimana saya merasa, it is hopeless to be a part of this country.

Tapi toh, banyak sekali momen-momen dimana saya ngerasa, ini Indonesia, dan saya bangga jadi orang Indonesia!

Salah satu momen “Indonesia” saya: kalau lihat para veteran perang.
Outside, mungkin kita cuma melihat mereka sebaga para aki yang sudah masuk kategori lansia. Tapi lihatlah mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Waktu bagi mereka, merdeka bukan hanya sekedar pilihan, tapi suatu harga mati.

Kemerdekaan Indonesia itu diperjuangkan. Oleh mereka. Di atas darah mereka. Di atas air mata yang tumpah akibat kepergian mereka.
Saya bangga atas perjuangan mereka. Saya bangga, bahwa Indonesia punya pahlawan: mereka. Melihat mereka, selalu membuat saya sadar, masih ada alasan bagi saya untuk terus berusaha dan mencintai negeri mereka. Tidak membiarkan perjuangan mereka hanya sekedar cerita sejarah belaka, adalah salah satu alasan tersebut.

Momen “Indonesia” saya yang lain: olahraga.

One key point of it: Barcelona, 1992.

It was like, yeaaarrrsss ago. Tapi saya masih inget. Minggu siang. Abah dengan wajah tegang duduk di depan TV. Saya yang belum terlalu ngerti juga ikut-ikutan deg-degan, dan gak bisa mengalihkan pandangan. Ikut teriak setiap kali smes Susi Susanti masuk. Ikut mengerang kalau ada bola yang lepas. Dan akhirnya… Akhirnya…
We won it. Our very first gold medal, in the Olympic.

Melihat air mata Susi Susanti, kumandang Indonesia Raya, Merah-Putih yang berkibar. 
Nothing. Nothing beats the feeling.
Atlanta, 1996. Setelah perjuangan tiga set yang menegangkan

Ricky Subagja- Rexy Mainaky. Gold Medal for Indonesia in Atlanta, 1996

Saya cukup beruntung, karena pernah menyaksikan masa-masa dimana Indonesia adalah penguasa dunia bulutangkis. 
Rexy Mainaky sebagai pembawa bendera. He will always, always be my all-time favorite player.  I remember once, he won the title, dan dia lari keliling lapangan dengan berjubahkan bendera merah-putih.
Bahkan sampai sekarang, saya masih emosional aja, masih teriak-teriak aja kalo Indonesia tanding bulutangkis. 

Iya, saya gak ngikutin liga sepak bolanya Indonesia. Apa yang terjadi di PSSI terlalu memusingkan untuk dipahami. Tapi tetap saja, kalo Timnas Indonesia main, saya menyempatkan diri untuk menonton. Walaupun jujur ya, saya mulai agak jengah melihat rasio pemain naturalisasi. I mean, come on!!!
Wah, apalagi kalo yang dilawan Malaysia. Secara nih ya, when it comes to against that country, it’s no longer just a game of sport. It’s about pride. 

Bukan cuma pertandingannya sih. Kalau Indonesia tanding, saya seneng liat para suporter :D. Mau dukung siapapun juga, begitu Timnas main, kita semua sama: merah putih. And it gives me hope. Bahwa mau segimanapun negara kita, tetap ada satu dan beberapa hal lain yang bisa membuat kita merasa sama sebagai bangsa Indonesia.

I know. There are too many absurdity in this country. Tapi masih, selalu masih ada momen-momen dimana saya merasa, ini negara saya, ini bangsa saya: INDONESIA.
Taufik Hidayat. Yep, I cried to see this picture.

And for reasons that me myself cannot really explain, I still stubbornly love this country.

Rabu, 27 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 17


Day 17 – What do you want to be when you get older?

Lah, sayanya udah berusia mapan dan matang begini gimanaaa dooooonggg?
Nyahahahaha… Ih, tapi mari berimprovisasi. Mari kita berbicara dengan topik apa saja yang pernah menjadi cita-cita saya.

When I was 3 years old, saya pengen jadi sopir truk.
Waktu SD, saya pengen jadi guru.
Kelas 2 SMP, jadi lebih spesifik, pengen jadi guru Bahasa Inggris.
Kelas 3 SMP, karena suka sama gurunya, pengen jadi guru Sejarah.
Kelas 1 SMA, pengen jadi guru Fisika. 
Masih di kelas 1 SMA, pas tau ada jurusan Kriminologi, tiba-tiba sempet kepengen masuk jurusan itu dan jadi…detektif.
Kelas 2 SMA, tiba-tiba saja menyadari bahwa yang namanya Fisika ada ilmu tentang elektronika. Langsung berasa suram. Pindah haluan dikit, pengen jadi guru Kimia.
Kelas 3 SMA, masih konsisten, pengen jadi guru Kimia.
Pas kuliah, udah bodo amat deh ntar jadi apa, yang penting lulus dalam keadaan hidup-hidup dan bebas dari jeratan Kimia Organik. (Iya. I really suck at those carbon compounds.)


Alhamdulillah, sekarang jadi Dosen. Di Prodi Kimia. 
Talk about having dreams come true, eh ;)?

Tapi toh, sampai sekarang masih ada beberapa yang saya kepengen.
cute little book store, picture from here

Pengen punya toko buku sendiri. Toko buku kecil aja, yang saya sebagai pemilik dan 2-3 orang pegawainya tahu buku apa saja yang kami  sediakan. Yang bisa diajak ngobrol soal buku dengan para pelanggan. Pengennya kayak toko buku Borders (yang udah almarhum itu), jadi di tengah-tengahnya ada café gitu. Eh, tapi saya mah pengennya di halaman depan atau sampingnya sih ada café gitu. 



picture from here
Pengen nulis buku. I never consider myself good in writing. But one thing for sure, I do enjoy it. Iya, emang bukan academic writing like my colleagues and my employer expect me to do (maafkan saya wahai Dekan, KaProdi dan para petinggi Depdiknas).  Selama ini, saya cuma menuliskan all those rants and ramblings that I have in mind. Occasionally I write some fics to. Every now and then, the thought crossed my mind, bahwa mungkin lucu juga kali ya kalo yang satu ini diseriusin. Ahahahaha… Yeah, maybe, one day, I will have my very own book being published. 


Pengen jadi WAG. Particularly for David Silva. Lupakan. Abaikan.

Pengen jadi part of a creative production.
Entah ikut terlibat dalam penulisan skenario, atau mengkonsep suatu performance, or anything. Not to say that I am a creative one. Tapi jujur saja, saya suka terkagum-kagum dengan bagaimana sebuah film atau drama atau pertunjukan bisa berlangsung, melalui kerja keras orang-orang di proses kreatifnya. Saya bukan tipe orang yang suka being under the spotlight. But really, I think I would enjoy to be someone behind the scene :).

Selasa, 26 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 16


Day 16 – If the world were to end tomorrow, what would you do with your remaining time on Earth?

Waduh. Serius ya topiknya. It’s not that I never really thought about the dooms day or something. Tapi saya sering kepikirannya sih, what would people think of me when I have died? What would they remember about me when I passed away?
Kok bukan itu aja sih yang ditanyain -_-

Anyway.

Kalau misalnya saya tau bahwa the world would end tomorrow (tiba-tiba ngerasa ada di film The Day After Tomorrow), emm… Saya cuma pengen menghabiskan waktu bersama keluarga saya. Sama orang tua dan adik saya. They have been the most important part of my life, the true love of my life, and the best part of life.

I would make a list of things that I really want to say to other people but I never have the chance to tell them. Dan entah dengan cara apapun, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal itu pada mereka. 

Saya bakal melihat-lihat kembali foto, catatan, any memorabilia about my life, dan mengingat kembali bahwa hidup saya begitu penuh dengan berkah.

Eh, nulis ginian jadi mikir deh. No matter how short or how long life would be, what really matter is actually the things that really leave their marks on our life. That really taught us a thing or two or more about life. 
And still, our life always, always worth enough to live in. God makes it that way, as He is the best director of all scenarios =).

Senin, 25 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 15

Day 15 – A Photo of someone you fancy at the moment

First of all, just A photo? Like, one, single photo? God, this is such a torture.

Gini ya, at the moment, someone that I fancy, is someone that I would refer as calon suami saya the love of my sad life, the light of my poor heart, tentu saja adalah…
David Josue Jimenez Silva

Protes? Silakan. I will still fancy him anyway.

Anyway, ini understatement banget nih disuruhnya cuma satu foto. I have one special folder titled “Silva” with 495 items in it (and each week, the number keep on increasing). Dan itu belum termasuk foto dia yang ikut keselip di folder MCFC dan Spain NT. I put a special link on my Tumblr on my posts about him. I made a series of posts on things that I love about him. Dan sekarang dimintanya cuma SATU foto?
Tolong ya.

Gimana caranya saya milih cuma SATU??? First world problem ini mah.

Atau gini aja.
SATU foto untuk satu tema tentang dirinya? Gimana?

Yeah, so once again, my blog will be spammed with his picture.


Silva’s shy smile
Silva’s genuine smile 

Silva in practice

Silva in City’s home jersey

  Silva in City’s away jersey

Silva in Spain NT”s jersey

Silva in suit

His stupid awkward face

His casual pose

Him not looking at the camera

Silva and his perfect fluffy hair

Silva celebrates his goal

Silva is angry

Silva with his magical action

Okay. Okay. I’ll stop. I try to stop at 14, as 14 is some kind of my lucky number. But really, it takes me quite a while just to pick which one is my favorite pictures of him for each theme.
How can one not love him!!!
*squealing*
Let’s end this post with…
A hug from David Silva!
ugh. That smile :")