Tampilkan postingan dengan label What My Heart Feels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label What My Heart Feels. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

Momen "Indonesia" Saya

Minggu lalu, sebagai tante yang baik hati dan paling disayangi sama keponakan, saya nganterin Dian, ponakan saya itu untuk nonton. Filmnya judulnya Hasduk Berpola. Yang excited sih dia, secara dia adalah anggota regu Pramuka yang sangat mencintai acara-acara pramukanya itu. Sementara saya yang dari dulu emang gak suka dan gak bisa baris berbaris ini malah kepikirannya cuma ah-ntar-palingan-ketiduran. Eh, ternyata…filmnya baguuusss… Ahahahaha.. Pertama, tokoh utamanya bandel. Si Budi itu bukan tipe klise anak baik. Malah dia berantem mulu. Tapi tetap saja, saya nangis habis-habisan waktu dia naik ke gedung hotel Majapahit untuk mengibarkan bendera punya Mbah-nya. 
Dan salah satu dialog yang bikin saya tertampar, adalah waktu Mbah-nya Budi (yang diperankan oleh sang maestro biola Indonesia: Idris Sardi) mendengar berita tentang anggota dewan yang tidak hafal lagu Indonesia Raya.

"Ndak menghargai perjuangan, blas!” ujar beliau dengan nada kecewa.
Deg!
Berasa ditampar. 

Iya ih, saya mah gitu banget ya… Sekarang sih udah enak banget. Bangun gak usah mikir apakah bakal kejatuhan bom atau kena peluru tentara atau gimana. Saya sudah bener-bener tinggal menikmati apa yang dulu diperjuangkan para veteran itu dengan mengorbankan jiwa mereka.

I am one of those people, that becomes more and more sceptic everyday on how this country is being managed. Bahkan waktu Farhat Abbas mencalonkan diri jadi calon presiden, I was at the edge of thinking on changing my nationality. (somebody please please pleaaaseee tell me that him going for a candidate for president is nothing but a joke).

Iya. I complain about the government. I know that it’s not something easy to do, to govern this country. But at least would you please show us that you are seriouly trying your best to do it??
Ada saat-saat dimana saya merasa, it is hopeless to be a part of this country.

Tapi toh, banyak sekali momen-momen dimana saya ngerasa, ini Indonesia, dan saya bangga jadi orang Indonesia!

Salah satu momen “Indonesia” saya: kalau lihat para veteran perang.
Outside, mungkin kita cuma melihat mereka sebaga para aki yang sudah masuk kategori lansia. Tapi lihatlah mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Waktu bagi mereka, merdeka bukan hanya sekedar pilihan, tapi suatu harga mati.

Kemerdekaan Indonesia itu diperjuangkan. Oleh mereka. Di atas darah mereka. Di atas air mata yang tumpah akibat kepergian mereka.
Saya bangga atas perjuangan mereka. Saya bangga, bahwa Indonesia punya pahlawan: mereka. Melihat mereka, selalu membuat saya sadar, masih ada alasan bagi saya untuk terus berusaha dan mencintai negeri mereka. Tidak membiarkan perjuangan mereka hanya sekedar cerita sejarah belaka, adalah salah satu alasan tersebut.

Momen “Indonesia” saya yang lain: olahraga.

One key point of it: Barcelona, 1992.

It was like, yeaaarrrsss ago. Tapi saya masih inget. Minggu siang. Abah dengan wajah tegang duduk di depan TV. Saya yang belum terlalu ngerti juga ikut-ikutan deg-degan, dan gak bisa mengalihkan pandangan. Ikut teriak setiap kali smes Susi Susanti masuk. Ikut mengerang kalau ada bola yang lepas. Dan akhirnya… Akhirnya…
We won it. Our very first gold medal, in the Olympic.

Melihat air mata Susi Susanti, kumandang Indonesia Raya, Merah-Putih yang berkibar. 
Nothing. Nothing beats the feeling.
Atlanta, 1996. Setelah perjuangan tiga set yang menegangkan

Ricky Subagja- Rexy Mainaky. Gold Medal for Indonesia in Atlanta, 1996

Saya cukup beruntung, karena pernah menyaksikan masa-masa dimana Indonesia adalah penguasa dunia bulutangkis. 
Rexy Mainaky sebagai pembawa bendera. He will always, always be my all-time favorite player.  I remember once, he won the title, dan dia lari keliling lapangan dengan berjubahkan bendera merah-putih.
Bahkan sampai sekarang, saya masih emosional aja, masih teriak-teriak aja kalo Indonesia tanding bulutangkis. 

Iya, saya gak ngikutin liga sepak bolanya Indonesia. Apa yang terjadi di PSSI terlalu memusingkan untuk dipahami. Tapi tetap saja, kalo Timnas Indonesia main, saya menyempatkan diri untuk menonton. Walaupun jujur ya, saya mulai agak jengah melihat rasio pemain naturalisasi. I mean, come on!!!
Wah, apalagi kalo yang dilawan Malaysia. Secara nih ya, when it comes to against that country, it’s no longer just a game of sport. It’s about pride. 

Bukan cuma pertandingannya sih. Kalau Indonesia tanding, saya seneng liat para suporter :D. Mau dukung siapapun juga, begitu Timnas main, kita semua sama: merah putih. And it gives me hope. Bahwa mau segimanapun negara kita, tetap ada satu dan beberapa hal lain yang bisa membuat kita merasa sama sebagai bangsa Indonesia.

I know. There are too many absurdity in this country. Tapi masih, selalu masih ada momen-momen dimana saya merasa, ini negara saya, ini bangsa saya: INDONESIA.
Taufik Hidayat. Yep, I cried to see this picture.

And for reasons that me myself cannot really explain, I still stubbornly love this country.

Selasa, 26 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 16


Day 16 – If the world were to end tomorrow, what would you do with your remaining time on Earth?

Waduh. Serius ya topiknya. It’s not that I never really thought about the dooms day or something. Tapi saya sering kepikirannya sih, what would people think of me when I have died? What would they remember about me when I passed away?
Kok bukan itu aja sih yang ditanyain -_-

Anyway.

Kalau misalnya saya tau bahwa the world would end tomorrow (tiba-tiba ngerasa ada di film The Day After Tomorrow), emm… Saya cuma pengen menghabiskan waktu bersama keluarga saya. Sama orang tua dan adik saya. They have been the most important part of my life, the true love of my life, and the best part of life.

I would make a list of things that I really want to say to other people but I never have the chance to tell them. Dan entah dengan cara apapun, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal itu pada mereka. 

Saya bakal melihat-lihat kembali foto, catatan, any memorabilia about my life, dan mengingat kembali bahwa hidup saya begitu penuh dengan berkah.

Eh, nulis ginian jadi mikir deh. No matter how short or how long life would be, what really matter is actually the things that really leave their marks on our life. That really taught us a thing or two or more about life. 
And still, our life always, always worth enough to live in. God makes it that way, as He is the best director of all scenarios =).

Minggu, 17 Maret 2013

Things That Might Matter

Seperti yang sudah pernah saya tulis di sini, one of my pet-peeves is people who make other people feel bad about things that they like. Saya selalu percaya bahwa sudah seharusnya tiap orang punya hobi. Punya passion. Punya sesuatu yang mereka bener-bener suka. It could be anything. And by anything, I really mean anything. 

Sadly, ada orang-orang yang gak ngerti. 

Entah tuntutan sosial, entah something called norms or so whatever, ada orang yang gak bisa ngerti kenapa si ini seneng begini dan yang itu suka hal tertentu.

I love reading. I always love it. And I don’t find anything wrong about it (selain saldo tabungan yang gak nambah-nambah karena duitnya dipake beli buku terus). But some people just don’t get it why I can read some book over and over again, and still the books thrill me. Not many people can understand why I can really relate myself with some of fictional characters in the book (Leo Valdez!!!). Mind you, there are some fictional characters that I like much more than some people that I meet everyday in my real life.

When I started to do some writings, I try to keep a low voice on it. At first I try to hide it from my colleagues. But then, they happened to know. And what do you expect? Tentu saja saya diketawain. Yeah, by having a job as a lecturer, I am expected to write some scholarly and academic articles, not those cheesy romantic teen stories like the ones that I wrote.

My sister said that she could not understand with me crying over football. She said, “It’s just football.”.
Wrong. For her, it’s “just-football”. For me, for us, it’s more than that. It’s our pride. Our family. Our home. 
And now, writing combines with football? It’s a thing that I still a bit hesitant on telling it to others, except for those who really know me and don’t mind about it at all. 

Anyway, saya lalu mikir, mungkin itulah gunanya social media network. Sometimes you have these things that you want to share, but no one seems to understand nor even care.

Mungkin bagi kita, beberapa hal yang disukai orang lain sepertinya biasa aja. Cenderung sepele malah. But who knows, what we thinks as nothing important might be something really matters for them. 

Maybe it’s the reason for them to hang on.
Maybe it’s the things that they love and care the most.
Maybe it’s one of the things that really can make them smile and put some happiness in their heart.

Somehow, I find it heartless to mock people about those things that they like.

Because for me myself, I find it’s hard to have somebody says that to be absorbed in books are a waste of time. I find it hard when people say that there’s no need to cry over football. I know how difficult it is to tell people about the idea that’s been nagging in your head and you feel like you really have to write it down. 

Saya selama tiga hari masih gak bisa get over the fact of how Bartimaeus Trilogy end. (YOU CAN’T JUST DIE!!!).  Saya beneran nangis waktu akhirnya Percy dan Annabeth ketemu lagi. Saya ngecekin berita tiap sejam sekali waktu hari terakhir winter transfer season. Saya dua hari mati rasa kalau City kalah. Tahun lalu, malam waktu pertandingan terakhir City melawan QPR, saya udah sakit kepala dan mules sejak bangun di pagi harinya. I jumped out in joy, and felt like I was in cloud nine when Real Madrid won El Clasico, twice in a row, and followed with a win against United. Saya bisa bangun tengah malem dan nyalain laptop cuma karena I finally have that sentence to begin my one-shot with. 

Yes. I am emotionally involved with my passion.

Believe me, I know how it feels when it comes to emotions.

And that is why, it really irritates me when somebody makes fun of something that is important to other people. Intinya gini deh. Gak suka kan kalo sesuatu yang kita anggap penting malah dicela-cela? Sama. Orang juga gitu. Just, don’t do the things that we don’t want other people do to us. 

Sometimes it is strange how people can really get emotional about their hobbies or some other things. But that’s the way it is.

Saya aja gak ngerti soal K-Pop. But I try my best not to scowl at it. I find gardening and fishing as boring things to do. But I do understand that there are people who are really fond of it. There are some things that we just can’t understand. But surely, it does not simply mean that it’s bad. 

Someone once said to me that having a hobby is like running away from reality. You’re doing too much in your own world of hobby or whatever that is, because there’s something wrong with your real life.

Not necessarily that way.

I love my life. My real life. But I find that this other world that I create over my fondness on books, music, football and writing comes as a complement of my real life. They complete each other. There are things that I can only get from this other world.
I find new friends. I find that there are things that people really think I am good at (and being such an insecure person like me, it really means a lot).

So please. There are things that really means a lot to other people. Things that we might not understand. Things that might seem ridiculous for us, but on the other hand, those are the things that really matter, that keep them hanging on.

Why should we make people feel bad about things that mean a lot to them? How heartless we are to say mean things about what might be their source of happiness?

Maybe we cannot understand it. But leave it there. We have no right to destroy one’s happiness.

So please understand that I just don’t want to talk to anybody when my favorite character died/my team lose a game/the book that I am reading ends with a cliffhanger/my favorite player in the team is transferred to other team.

Cheers =) !
= Ami =

Rabu, 13 Februari 2008

Officially Getting Older

Valentine's Day. 14 Februari.
It means... Ulang tahunkuuuuu!!!!!! hahaha.... Betapa menyenangkannya lahir in this special day celebrated by so many people all around the world... Yang ga ngerayain, gapapa... You can celebrate my birthday then...hehehe...
A pretty different birthday than usual, for now I'm here all alone... Iya sih...I've had some new friends here, tapi tetep ajaa.... I really wish that my family were here... Huhuhu... Abah-Mama-Ita-Dian... Miss you sooooooo much......
Menit-menit terakhir berusia 26 dan detik-detik awal jadi 27 tahun, aku ngapain coba? have some chat (duhai orang2 cerdas yang menciptakan program Yahoo Messenger, terima kasih banyaaak...) with a good old friend, you know who...yang timbul tenggelam semau dia, tapi secara ajaib selalu ada menyemangati aku everytime I feel like I'm at the bottom of my curve. Dan untuk tahun ini, dialah orang pertama yang mengucapkan selamat ultah tepat di hari H (yah, walopun diwarnai sedikit paksaan). Iya sih, ada beberapa yang udah ngucapin selamat, bahkan salah satu student gua di SMA dengan polosnya mengucapkan selamat ultah dua minggu sebelumnya...Taibah, 2 jam sebelum hari H. Johan, satu jam sebelum hari H. Anak jelek itu, 26 menit sebelum hari H...dan 5 menit sesudah hari H. Hahaha.... Pake acara rada diancem dulu sih, baru dia dengan setengah ikhlas mengucapkan kembali 'selamat ulang tahun'... Kebayang deh gua ekspresinya seandainya dia ngomong langsung di depan gua... My ex? 2hari sebelumnya. Ga tau tuh... Males kali ya dia ngucapin pas harinya.
Kalo membandingkan nih ya...tahun lalu gua ultah di Banjar, dengan ucapan selamat dari keluarga, temen-temen di kampus dan para mahasiswaku (hiks...jadi kangen). Gua ultah dalam keadaan bahagia karena dapet beasiswa, masih punya pacar, serta sibuk dengan kerjaan (rasanya waktu itu aku nge-handle pelatihan calon asisten deh...). Sekarang? I'm all alone in a strange city, being single, and freezing because of the weather...Hahahaha.... It doesn't mean that I'm not happy... I'm happy with my life... Semakin gua mikir, semakin aku sadar betapa Tuhan tuh sayang banget sama aku, dengan segala yang udah Dia kasih ke aku... It's just that I really wish that I can be with my family...
Nggak ah, nggak mau sedih dan mellow... Lagian, aku disini berkat doa dan dukungan mereka. I'm here to make my parents and sister proud of me, karena aku juga bangga banget punya orang tua dan saudara seperti Abah, Mama dan Ita. Aku disini juga buat mahasiswaku... Walopun di depan mereka aku suka jutek, galak dan ngomel-ngomel ga jelas... I really miss them.. Gua seneng pernah menjadi salah satu bagian dari kehidupan mereka di kampus, and I really hope that they're happy to have me as their lecturer (halah, berasa ngegaya banget nulis 'lecturer'...)
So, I'll start my 27-year of age mulai hari ini dengan senyuman...for I know that God loves me...
Ya Allah... i know You know more than I do...aku yakin bahwa segala putusan Mu adalah yang terbaik. Maka lapangkanlah dadaku untuk selalu bersyukur kepadaMu, ringankanlah langkahku untuk menapak di jalanMu, dan bukakanlah mata dan telingaku untuk mencari cahaya Mu selalu...

Rabu, 09 Januari 2008

So Sweet, yet So Confusing

Aku ga ngerti mesti tersanjung, sebel apa gimana....
Last day in Banjarmasin, aku dan mantanku telfon-telfonan, and we were having fun in our conversation, just like we're good old friends each other...
Terus, last day in Indonesia, kok ya aku malah nangis saking sakit hatinya sama ucapan dia... And I feel like, Thank God I'm leaving....
Dan.... dia tau-tau kirim sms, mau ketemu sebelum aku berangkat. Oke, dia ada di Yogya, aku berangkat dari Jakarta. I thought he was just joking... Tapi ternyata.... lima belas menit sebelum aku nyampe Cengkareng, he sent me a message, bilang kalo dia udah ada di Terminal Keberangkatan Internasional.
And there he was...
He told me that even though he was hurt, he still loves me...
Hm...
Aduh...
Mesti merasa gimana cobaaa.....???? So sweet, actually, maksudku, he was so impulsive, just decided to go to Jakarta straight from Jogja, just to see me for the last time....
Tapi yaaa....aduh, I was feeling sooooo guilty, actually....
I never meant to hurt him, but what I really want is just the feeling to be loved..the feeling to be appreciated...
Sometimes I feel that both of us speak in different kind of language...
Aduh, jadi sedih euuuyyyyy.....
Karena jujur saja, kalo ditanya aku masih sayang nggak sama dia, ya bingung juga mau jawab apa...
Hiks.
Let it flow aja kali yaaa...

Rabu, 31 Oktober 2007

Memang Tidak Sempurna

Malem ini, pas lagi surfing gitu, iseng baca-baca blog orang, dan nemu beberapa hal yang bikin aku jadi mikir. Yang pertama adalah blog-nya Adhitya Mulya, yang entah kenapa keliatan lagi sentimen banget sama beberapa tokoh top politiknya Indonesia. Bukaaannn...bukan pandangan politiknya yang bikin aku tertarik (I try to keep away as far as possible from politics). Tapi salah satu ucapan dia, tentang gimana kita bisa membuat negara ini lebih baik. Aku lupa kalimat persisnya gimana, tapi intinya dia bilang, untuk bisa membuat negara ini lebih baik, ga usah sok-sok-an mau jadi presiden dan menjanjikan berbagai hal, kenapa sih ga nyoba untuk jadi warga negara yang baik dan membantu kerja presiden yang sekarang, instead of just criticize but do nothing? Bener banget. Kita suka komentar macem-macem, tapi suka ga kepikiran (ato males aja?) buat betul-betul melakukan sesuatu. Si Adhitya Mulya juga bilang, kalo mau perubahan, just do something. Hmm. Bener. Jadi mikir, apa ada yang telah aku lakukan untuk membuat suatu perubahan (at least bagi aku) ke arah yang lebih baik?
Satu lagi adalah blog temen SMA ku dulu, yang sekarang udah jadi penulis.. Dia cerita tentang kenangan masa kecil dia dulu, tentang cita-cita dia yang ga kesampaian untuk buka puasa bersama-sama keluarganya. Aku jadi pengen nangis, dan merasa bersyukur banget dengan keluarga yang aku miliki saat ini. Jangankan buka puasa waktu Ramadhan, waktu Abah-Mama puasa Syawal aja, dan aku kebetulan ga bisa ikut puasa, Mama tetep menyediakan menu buat buka untuk aku. Aduh, jadi malu merangkap terharu euy...Kami bukan keluarga yang kaya secara materi, hanya sekedar cukup untuk makan sederhana sehari-hari, dan at least, Abah-Mama berhasil membiayai kuliah kami sampai selesai di PTN. Tapi, aku merasa sangat kaya dengan keluarga ini. Walaupun aku dan Ita suka mendefinisikan keluarga kami sebagai keluarga yang aneh, dengan bentuk-bentuk pengungkapan kasih sayang yang tidak wajar dan suka hiperbolis, still, we love being in this family. Dan tiba-tiba aku sadar...betapa berharganya saat-saat kami makan bersama... Keluarga kami memang tidak sempurna, tapi toh, dalam ketidaksempurnaan itu, kami tetap berusaha untuk bersama-sama, even though we’re being separated by distance...

Senin, 29 Oktober 2007

Seperti yang Dulu

"Tiada guna kau kembali, mengisi ruang hati ini

Semuanya telah berlalu bersama lukaku...

Semua yang telah berakhir antara hatiku dan hatimu

Takkan ada cinta seperti yang dulu

Tiada guna kau berjanji untuk setia menemani hatiku yang tlah terluka karena dustamu

Semua yang telah berakhir antara diriku dan dirimu

Takkan ada rindu seperti yang dulu..."

('Seperti yang Dulu', Ungu)

Tau ga, aku pengen banget nyanyi lagu ini di depan mantan aku, yang beberapa malem yang lalu nelfon. Dia bilang, terserah aku mau nganggap dia sebagai apa (what if I consider him as the most pathetic guy I’ve ever met?), dia tetap menganggap aku sebagai pacar. Apaan!!! Bukannya kemaren dia yang minta putus duluan? Aduh, siapa yang ketok palu nih? Sebel. Gua udah ketawa garing aja dengernya. Apalagi waktu dia bilang, dia sempet naksir cewek lagi (so?), tapi ga dilanjutin karena dia merasa punya komitmen sama aku. Gimana gua gak takjub coba?

Hm... tambah satu lagu lagi deh, lagunya The Titans yang ”Bila” :

...

Jangan kau harap lagi rasa yang dulu telah terpuruk mati

Kucoba tuk temukan cinta sejati yang kurasa bukan hanya dalam mimpi

Walaupun terkadang sepi menghampiri diriku

Biarlah kusimpan sendiri rasa yang telah pergi...

...

Eh, kan siapa tau si Enigma itu yang ternyata adalah cinta sejatiku...wakakakak.... Mimpi banget sih?? Padahal kemaren pas ketemu dia senyumnya datar aja...


Senin, 15 Oktober 2007

Fitri Kembali

Selamat Idul Fitri 1428 H
Mohon maaf lahir dan batin


Buat yang kenal langsung dengan aku, maafkan semua prasangka, ucapan, tingkah laku, apapun deh dari aku yang menjengkelkan....
Buat yang sekedar baca-baca maupun singgah in this spot... maafkan kalo ada posting yang tidak berkenan…


Mudah-mudahan berkah Ramadhan tetap mengiringi kita...mudah-mudahan amal ibadah kita diterima...mudah-mudahan tahun depan pun masih diizinkan berjumpa kembali dengan Ramadhan

Selasa, 25 September 2007

Kenapa Dia yang Nelfooon!!!!

(aslinya ditulis tanggal 19 September)

Tuhan memang suka becanda yaaa…… Udah nyaris seminggu aku dan ‘seseorang’ (itu lhoooo..... My Enigma yang satu ituuuuu....) dengan alasan yang entah kenapa, memutuskan untuk saling cuek dan mendiamkan satu sama lain…Hiks… Sediiihhh… Tapi ya mau gimana lagi? Padahal kalo mau jujur… lagu-lagu yang mellow selalu bikin aku ngelamunin dia… Tapi ya itu,,,semakin hari semakin tidak jelas. Daaannnn….out of the blue, mantan gua dengan manisnya menelfon! Sebel. Iya, soalnya gayanya yang sok jadi orang penting yang sibuk gitu. Hm…masih dengan ‘penuh perhatian’ mengingatkan aku untuk jaga diri, istirahat yang cukup (Haha. Yeah, rite.). Tapi gua udah keburu ilfil niiiiiihhhhh…..!!!
Udah ah, ganti topik. Males gua. Dan sedih. Kenapa tidak ‘dia’ saja sih yang nelfooooonnnn????

Selasa, 18 September 2007

Naik Turun

Hidup, itu ada naik, ada turun. Dan sekarang, aku lagi ’turun’. Waduh, maafkan kalo akhir-akhir ini isi postingnya mellow abis. Sentimentil. I’m running down into the bottom of my curve. Arrrggghhh.... Ini kenapa aku benci banget kalo kerjaan mulai berkurang. Pikiran aku jadi suka kemana-mana!!!
Tapi, jadi sadar. Semenjak putus, something in me has changed. I almost losing my faith in true love. Serius gua. Yeah, true love is for anyone else but me. Waduh, desperado banget ya…. Ga tau, tadi kan ke Gramedia tuh, dan percaya ga…aku malah berasa eneg gimanaaaaa…gitu lho ngeliat novel-novel percintaan, apalgi model-model teenlit dengan romantisme remajanya itu… Hmm…secara aku sebenernya tipe anak yang sensitif dan gampang tersentuh banget, gejala kayak gini bahaya niiihhhh….
Tiba-tiba saja aku jadi sinis, dan skeptis. Ngerasa kalo pada kenyataannya, hidup memang ga pernah semanis cerita cinta di novel. Wah, beda banget ama jaman dulu tuhh... tau ga, salah satu kata-kata yang muncul di lembar persembahannya skripsiku apa coba? Salah satu penggalan lagunya Pet Shop Boys, ’Se A Vida E’ : ”So don’t search in the stars for signs of love... Look around your life you’ll find enough..”
I feel like I need help… Ya itulah... mood hari ini kayaknya masih sambungan mood aku semenjak 2-3 hari yang lalu... I never needed a friend like I do now…

To My Incognito…

What I thought wasn’t mine, in the light wasn’t one of a kind, a precious pearl
When I wanted to cry, I couldn’t ‘cause I wasn’t allowed

What I thought was alone, so innocent. Was it a delicate doll? A porcelain?
When I wanted to call you and ask you for help… I stopped myself

What I thought was a dream, I’m aroused
Was it real as it seems? A privillege
When I wanted to tell you, I made a mistake… I walked away…

Gomenasai… for everything
Gomenasai… I know I let you down
Gomenasai till the end… I never needed a friend, like I do now…

After so long, at least I feel that it has been so long, I find myself missing you…
I know that you’re far away… but I just miss you so bad… Maybe because I really feel that I need a friend. A friend like you…
Aku pengen cerita. Pengen ngomel. Pengen nangis. Pengen denger kamu ketawa. Pengen denger kamu mencela. Pengen denger kamu berkomentar. But most of all, I really need to have you, telling me that everything’s gonna be okay…
Aku pengen cerita tentang dia yang membuatku hanyut. Aku pengen cerita tentang lelahku. Aku pengen cerita tentang senyumku. Aku cuma pengen…ada kamu. Untuk dengerin aku.
Dan dengan noraknya, aku nangis lagi denger lagunya T.A.T.U.. I’m sorry for missing you…but I never needed a friend like I do now…. There’s so many times that I wanted to call you and ask you for help… tapi ga bisa…Because I know, since the day that you go away, things will never be the same anymore…

(Eh, ini bukan buat si mantan lhoooo!!!! Enak aja…. Ga usah ke-GR-an deehhh….)

Rabu, 12 September 2007

Nostalgia Cinta

(Written : 11 September)

Salah satu pekerjaan yang paling menyita waktu adalah beres-beres. Enggak sih, bukan masalah beres-beresnya yang lama. Tapi seringkali, kalo kita lagi ngeberesin tumpukan kertas, dokumen dan entah kenang-kenangan jaman dulu yang mulai berubah jadi barang prasejarah, biasanya bakal ketemu hal-hal yang bisa bikin kita mikir dan cengengesan ga jelas kalo keinget jaman dulu…
Malem ini, menyambung usahaku beberes kamar (the last time I did that was, saaayyyy… a year ago??), aku ngeberesin semua bentuk laci yang ada di kamar. Laci pertama sih ga terlalu seru, karena cuma dokumen-dokumen biasa…model-model ijazah, transkrip, SK dan Surat Tugas. Tapi pas mulai ngeberesin laci meja, baru aku mulai ga fokus, antara usaha bikin laciku jadi lebih layak untuk tempat penyimpanan daripada sekedar tempat penumpukan kertas-kertas tidak jelas, dengan keinginan untuk membuka-buka lagi kenangan jaman dulu. Ada foto-foto yang tertimbun, walopun sebagian besar dari foto itu tipe yang dibuang sayang, dipajang malu-maluin. Pantesan aja aku naruhnya di laci, dan bukannya di album, karena foto-foto tersebut sebagian besar menampilkan diriku dalam angle yang menurutku sangat tidak tepat untuk menampilkan diriku dalam kondisi terbaik. Ada kumpulan surat-surat, kartu-kartu ucapan, bahkan kartu ucapan dari Kai Nini untuk ultahku yang ke-12!
Tetep aja, yang paling seru adalah diary-ku. Aku kan mulai nulis diary sejak kelas 6 SD. Gila ya, kecerewetanku yang tidak cukup hanya tersalurkan lewat omongan udah mulai nampak sejak umur segitu, coba!!! Yang ketemu ada 2 buah, diaryku jaman kelas 2-3 SMP, sama yang kelas 3 SMA. Dan setelah kubandingkan... yang SMP menunjukkan saat-saat terberatku jadi ABG, sedangkan yang SMA isinya lebih lucu, ceria, norak, and jut soooo mee.... (Ya iya laaaahhhh...). Aku jadi cengengesan sendiri membaca betapa noraknya aku yang dulu naksir abis sama guru SMAku itu...yang entah apa kabarnya sekarang...
Hmmm....
First love never die....
Dan aku sadar, Bambang bukanlah cinta pertamaku, neither my true love.
The first time I was in love was at my last year at high school (Enggaaaaakk…. Bukan sama guru SMAku itu…. Itu mah cuma sekedar crush aja… sekarang aja gua malu kalo ingetnya).. With someone whom I prefer to call : “The Incognito”. And the feeling lasted for sooooo long. Sampai sekitar 2 tahun yang lalu, aku masih merasa melayang hanya untuk mengingat dirinya. Sekarang sih udah enggak…. I love him, still, but now I love him as the best friend I’ve ever had. Wah, jadi kalo diitung-itung, I hold on to the feeling for…SIX YEARS???!!! Hahaha…. Bahkan mulai dari awal aku pacaran sama Bambang, sampai aku serius sama dia…I still had him, somewhere in my heart. Aku juga ga ngerti kenapa aku bisa merubah perasaan itu. But hey, seperti Maroon 5 bilang : ”Nothing Last Forever”. Tiba-tiba saja, I finally get over the feeling, in a very beautiful way. I am totally happy for him, and I always remember the times we’ve ever spent together as the most wonderful moments in my life, without feeling hurt anymore. Everytime the memories cross my mind, it’s a smile that comes up on my face, without any tears of hurt rolling down my face anymore.
Kenapa coba aku bilang, that my ex-boyfriend pada akhirnya hanyalah sekedar kesalahan di masa lalu? Karena begitu menemukan foto-fotonya, tanpa mendapat pertimbangan lebih lanjut, foto-foto itu langsung masuk ke tumpukan : “DIBUANG”. Nasib yang sama terulang pada kumpulan surat-surat darinya. Hanya sekedar kubaca selintas, lalu langsung ditumpuk bersama kumpulan fotokopian tidak jelas lainnya. And I don’t feel anything. Datar dan lempeng aja… Aku jadi heran sendiri. Terus, selama tujuh taon kemaren kami pacaran, dapet apa dong? Yah, let’s take the good side. I don’t feel hurt. Itu sudah cukup. Sangat cukup.
Tapiiiii….beda banget waktu aku baca diary ku yang menceritakan masa-masa akhir SMA itu. Waktu aku mulai ragu, apakah memang benar, that I had fallen for ‘him’? Apalagi waktu aku baca hari-hari terakhir kami harus pisah… tiba-tiba saja, tanpa bisa aku cegah, aku nangis! I just suddenly feel the tears…. Bukan masalah ga kesampaiannya cintaku itu, tapi lebih karena merasa kehilangannya kali ya…
Here’s the part yang sukses banget bikin aku berlinang air mata kenangan:

”…Nggak tau kenapa, pas nutup telfon, aku ngerasa sedih banget.
Rasanya dia sudah begitu jauh...terlalu jauh...
And I realize, I’m losing him
Somehow I know, things will never be the same anymore. Dy, do you think he will miss me? Aku cuma bisa duduk terdiam, membiarkan air mata yang perlahan-lahan kembali menggenang dan jatuh satu-satu. When will we meet again? Dy, aku mencoba ikhlas melepas kepergiannya. It’s the best for him. Someday, I can get over this feeling. But…not now… Now, I miss him so much…”

Gimana gua ga nangis, coba… Apalagi aku inget banget, waktu itu pas purnama, aku duduk di kolam di samping rumah, sambil nangis…
Sampai saat ini, memang aku ga pernah punya keberanian to tell him straight to the point about what I felt for him. Tapi aku tau kok, kalo dia ngerti. I know that he knows.
Hiks. Aduuuhhhhh….jadi sentimentil euy…..
Yah, memang judulnya sih Kasih Tak Sampai. I finally can get over my feelings for him, but still, I will never stop to need him as my best friend. Walopun anak jelek yang satu itu seringkali hilang tidak jelas dari peredaran bumi dan peradaban dunia, tapi suka tiba-tiba tanpa rasa berdosa muncul kembali.

To The Incognito
I know that you know. Please, just keep it for yourself. And I will keep it for myself. I could never have you, the way I once wanted to. Tapi sekedar tetap menjadi bagian darimu, as ‘a good old friend’ of you, itu sudah cukup. For I now have you as a good old friend of mine…
Apa yang dulu aku rasakan, just leave it as it was… What matter is, you will always have me as your friend. For I know, that you’re always willing to be my friend… (Yah, walopun hilang-munculnya kamu itu suka bikin bete). Remember that night, when I was at the very bottom of my curve? You’re the one I called when I could do nothing but crying, and you did something only a best friend can do. You say that you’ll be there for me, and I can run to you. And what really matter is…you were not only saying it. You DID it. Thank you…
I was so lucky that I once know you, that I was once in love with you, and now that I love you as one of the best friend I’ve ever had…
You always have me and my prayers with you…Always… Termasuk untuk ‘rencana besar’mu di tahun 2008 nanti!! You truly have all my prayers with you…

Senin, 06 Agustus 2007

Antara Aku, Dia, dan Dia yang Satunya Lagi

Tau lagu Crossbottom ga? Judulnya Sembilan Tahun. Enggak, bukan sembilan bulan, itu masa kehamilan rata-rata. Nah, lagunya Crossbottom yang satu ituh, kalo aku bilang, pait banget. ”Sembilan tahun lamanya, tak kuduga, jadi sia-sia...Ku berjuang demi cinta, kini sudah tak ada artinya...”. Ya itu dia, yang terjadi sama aku. Sekita dua bulan yang lalu, laki-laki yang udah dengan susah payah (Percaya deh. Susah payah banget) aku dampingi selama 7 tahun (Iya, tujuh, heran kan?!!), akhirnya cuma ngomong :”Ya udah, kamu cari aja laki-laki lain”. Hah. Kayak dia ga inget aja betapa aku berdarah-darah mempertahankan semuanya. Aku aja kagum sama aku sendiri, kok bisa mempertahankan dan bersabar menghadapi laki-laki yang ternyata nih ya, ga cukup gentleman dan dewasa untuk mengatur hidupnya sendiri. Ya udah. Aku tidak bisa menyelamatkan kami berdua, jadi lebih baik aku menyelamatkan diriku sendiri. And let’s just see what happen with him, while I’m standing here, being a survivor without having to play tough. Bodo amat, kalo dia sendiri tidak ingin menolong dirinya sendiri, dan terus menerus mengasihani nasibnya, buat apa aku ikut-ikutan drowning in the dumps with him… Ya iya lah, gua juga ga bakal bohong kalo waktu malam itu, gua nangis. Tapi besoknya, gua bangun dengan perasaan lega…Fiuuuhhh…. I’m officially single and available! Setelah sekitar setengah bulan berlalu, gua lalu sadar, okelah gua putus secara status mungkin baru dua minggu, tapi kayaknya gua putus secara perasaan udah setahunan kali yaaa…..
Sekarang aku lagi dalam fase bengong setiap kali inget apa yang telah berlangsung selama 7 tahun ini…ya ampuuunnnn….kok ya aku tahan selama ini “dizalimi” sama dia yaa… kok aku bisa-bisanya selama tiga tahun ini jadi gadis bodoh yang percayaaa aja sama janji-janji ga jelas dari orang yang cuma bisa menyalahkan nasib dan hidup, serta mencari-cari alasan. He’s not a jerk, but he’s just sooooo PATHETIC. Bener banget tuh judul buku yang dibeli ita kemaren, Kalau Jodoh Nggak Akan Kemana, Kalau Bodoh Nggak Akan Kemana-mana. Kalau memang benang merah di kelingking aku ujungnya ada di kelingkingnya Bambang, ya…pada akhirnya kami nanti bisa bakal bareng lagi. Tapi kalau aku masih jadi orang bodoh yang tetap berkeras berada dalam lingkaran ga jelas ini, ya aku, dan kita, ga bakal kemana-mana, ga bakal maju-maju.
Hmmm… jadilah aku seorang lajang berusia 26 tahun. Wah, aku sih sebenernya juga kadang-kadang mengalami seperti yang jadi judul novelnya Primadonna Angela : A Quarter Life Fear. Huhuhu....iyalah..siapa sih yang ga kepengen settle, raise a family? Tapi semakin hari, aku semakin mensyukuri hidupku. Aku berusaha menjalani hidupku dengan damai. Kesibukanku di kampus, di laboratorium, berantem dan maen sama ponakanku, cengar-cengir ga jelas, kalau ada kejadian langka: meeting My Enigma....
Nah, ini lagi satu drama dalam hidupku. Kenapa sih orang yang satu ini bisa bikin duniaku jadi jungkir balik? Sebel. Jarang-jarang aku ketemu sama dia, begitu ketemu, yang ada aku cuma menunjukkan sisi-sisi konyol dari diriku (yang ternyata ada banyaaaaak banget). Aduh, tapi jangan lalu mikir, gara-gara ada dia inilah hubunganku sama si mantan jadi semrawut. Enggak. He’s just a person coming at a not-very-right-moment. Kayaknya, ada dia maupun ga ada, kami tetap bakal end up this way deeehh… Judul bukunya Tamara Geraldine memang pas banget untuk aku ucapkan di depan The Pathetic Guy (a.k.a. my ex-boyfriend), Kamu Sadar Kan Kalau Aku Punya Alasan Untuk Selingkuh, Sayang? (mohon maaf kalo salah dikit-dikit, aku ga pernah bisa hafal kalimat-kalimat panjang). Tapi enggak. Salah satu usahaku untuk mempertahankan hubungankami dulu adalah berusaha setia. Selama 7 tahun, dengan 3 tahun di antaranya dalam status long distance relationship. Walaupun sebenarnya, ngeliat gimana dianya...iya, aku punya banyak banget alasan untuk selingkuh, secara seharusnya aku pantes banget mendapatkan yang jauh lebih baik daripada dia. Hey, he’s just so pathetic, and in the other hand, I’m a good girl!
So, bukankah kita tadi sedang membicarakan tentang My Enigma? Iya. My Enigma. My Mysterious Guy. My Secret Admirer. Hehe... Dulu ding. Kayaknya sekarang gua deh yang jadi secret admirernya dia… Wakakak… The one who has heaven in his eyes, and makes me freeze and melt at the same time, just by a smile he gives me. Well, sebenernya, the main issue here adalah, aku ga pernah bener-bener tau apa sih yang sebenrnya ada di hatinya. Aku pernah curhat sampe mau nangis sama salah seorang teman, yang dengan polosnya jadi ikut penasaran juga… Seperti yang aku bilang sama temanku itu : “Iya, gua cuma pengen dia ngomong, “iya” apa “enggak”. Kalo “iya” kan artinya gua fokus ke dia aja, tapi kalo “enggak”, ya udah…gua mulai usaha menebar pesona ke yang lain aja, misalnya ke temen dia yang tinggi ikal itu lho…kan lucu juga, senyumnya manis pula…”. Wah, padahal waktu ngomong gitu sih, sebenrnya dalam hati nih ya, aku pengen dia ngomong :”Iya”. Halah. Kayak bisa milih aja gua.
Aduh, sebenernya aku males banget jadi kayak gini. Berasa kayak tokoh sinetron, tau ga siihhh… yang suka insomnia ga jelas tiap malam, yang senyum-senyum sendiri tiap kali inget hal-hal sekecil apapun tentang dia, yang jadi norak sendiri kalo ketemu… Tapi ya itu tadi. Seperti kata penyanyi luar negeri itu lho : “The trouble with love is…”, apa ya? Aku lupa lagunya. Ya, pokoknya love itu suka bikin trouble aja. Maya juga bilang, bahwa sebenernya jatuh cinta itu menyakitkan. Walaupun aku lebih setuju kata-katanya Taibah, “cinta itu membuat segala sesuatunya ada di titik ekstrim”. Kalo aku bilang sih ya…Kita ga pernah bisa milih, kapan rasa itu tiba-tiba kita sadari ada dan sudah membuat kita jadi orang yang berbeda. Dan kita tidak pernah bisa memilih, atau bahkan menebak, siapa yang membuat kita jadi memiliki perasaan itu, whether we like it or no, whether we want it or no.
Kalo aku boleh milih soundtrack buat episode hidupku sama My Enigma ini, ya lagunya Daniel Bedingfield, “I Can’t Read You”, yang lagi kuputer waktu aku ngetik ini.
I can’t read you…I wish I know what’s going through your mind. I cant touch you, your heart’s protected…I get left behind”.
Haduh. Desperado banget. Tapi siapa sih yang ga desperate kalo lagi pengen tau…ada ga sih kita di hatinya, sedikiiiiiiit aja…
Hmm…. Kayaknya habis ini aku mau nyetel lagunya Maliq n D’Essential deh, yang Untitled.
“…adakah ku singgah di hatimu...mungkinkah kau rindukan adaku…adakah ku sedikit di hatimu…bilakah ku mengganggu harimu…mungkinkah kau inginkan adaku…akankan ku sedikit di hatimu…”

Jumat, 27 Juli 2007

As Usual, As Always

Yesterday. I met him. He looked so gorgeous…as usual… I was speechless…as always…
Why he always have to be such a mystery for me?

Jumat, 06 Juli 2007

The Best Way

Terinspirasi dari bukunya Adhitya Mulya, "Gege Mengejar Cinta" (A must have book, i have to say), I find the best way to deal with him...
Keep it short. Keep it simple. And most important, keep it away...

Rabu, 04 Juli 2007

Tralala…Trilili…

(Originally written : 27 Juni 2007)

Kemarin, everything looked like pieces of puzzles that doesn’t fit each other. Tapi toh, like every other day, I finally get through it. Dan sepanjang perjalanan Banjarbaru-Banjarmasin yang penuh guncangan (entah udah berapa kali kepalaku kebentur dinding bus), gerimis perlahan. I didn’t care. I just look at the sky, just wishing that those raindrops falling from the sky will just wash and bring away my miseries…
Tapi malamnya, langit cerah dan cantik nian. Terang tersaput sedikit awan, dan ada bulan disana, ditemani gemintang. Indah. Membuatku tersebyum kembali, for I realize, that no matter how hard the rain was, the star will always be there, smiling back at me…
Ya! Itulah diriku dan sedikit romantisme yang ada padaku ini…. I don’t know what on my mind was, that I send him a message. I felt like I just want to share to someone. And he was the first one who crossed my mind at that time (Oke deh, gua ngaku… lots of times). Jadilah (dengan noraknya) aku menulis begini :
“Walaupun sore tdi hujan sepanjang bjbru-bjm,tp trnyata langit malam ini tuh baguuus banget. Ada bulan dn banyak bintang.Aq yg hri ni lg rada bad mood,berasa semangat lagi dh..Hopefully you’re feeling good too”.
Ekspektasi akan balasan darinya? Jujur, aku ga berharap apapun…Tapi lima menit kemudian…DIA BALES!!! Cihuuiiii….!!! Hehe. Seneng. Geer. Tapi cuma sebentar doang. Rasa senang melihat bahwa nama pengirim adalah dirinya langsung berubah jadi ekspresi bengong waktu baca balasannya : “Dingin2 gini, enaknya tidur!!! Malas bnget perhatikan bulan n bintang..”.
Sampai disitu saja aura romantisme malam tersebut…Hahaha…. Walaupun ada satu fakta menarik, bahwa aku dan dia sama-sama suka tidur. Howeverrrr….. Aku tetep seneng. Karena sms-sms ga penting semacam itulah yang selalu menghiburku… Bahwa karena itulah, dia ada bagi aku.
Daaaan….keesokan harinya menjadi hari yang riang gembira bagiku. Pagi yang berkabut? Ga masalah. Dioper dari taksi ke Banjarbaru? No problemo. Sarapan sendirian di lab? So what? I can always cope with that. Memang sih si kulit udang yang jadi objek penelitianku itu rada ngajak berantem, secara pH dia ga mau beranjak dari kisaran 11 – 13. Tapi dengan sedikit modifikasi yang diusulkan P’Urip (do you know something Sir, you ARE a REAL genious!!!)..ha-ha! Netral lah dirinya!!! Jelas aja bangga, mengingat selama hampir sebulan ini, K’Riza dan K’Rudi udah mulai bete ngeliat aku tanpa perasaan berdosa (Enggak kok. I DO feeling a little guilty inside) menghabiskan persediaan akuades selama 1 semester dalam waktu 2 minggu. Dengan penuh rasa sombong, kusaringlah si kitosan itu. Jadi aja sisa sepanjang hari ini aku lalui dengan tersenyum. Cengar-cengir ga jelas. Belarian kesana-kemari. The only thing that bother me tonight, cuma komentar from someone, that maybe My Enigma and I, we should try to be together. Hmm… Interestingly and absurd… Tapi jadi kepikiran….

That’s Why I Don’t Want To Be Alone

(Originally written : 23 Juni 2007)
Aku ga suka sendirian. It’s not the feeling of loneliness. I can always cope with that. What I hate about being alone, I can’t stop myself from thinking about you. You. YOU. Apa yang telah kamu lakukan. Apa yang sedang kamu lakukan. Apa yang akan kamu lakukan. And I hate to think about it. It hurts.
That’s why I don’t want to be alone. Because I don’t want to feel the pain. Of thinking about you.

Sabtu, 30 Juni 2007

Heaven in Your Eyes

(Originally Written : 13 Juni 2007)

People react differently kalo lagi (at least, ngerasa) jatuh cinta. Tapi reaksi yang paling umum ditemukan adalah… You become speechless everytime you are near the person you have a crush on. And when you finally say something, what you say is only silly things that you never thought you have ever discussed!!! Sejak kapan topik mengenai cuaca menjadi topik yang BETUL-BETUL menarik untuk dibahas? Please, everybody knows bahwa cuaca terasa panas karena tidak pernah hujan dan sudah masuk musim kemarau. Jadi, how come seseorang masih bisa manggut-manggut penuh pengertian, atau bahkan mengerutkan kening, as if we are talking about the relativity theory?
What happens to me everytime I stand side by side with him (yang mana him disini merujuk ke My Enigma ) is really typical. Not only the things we talked about yang menunjukkan how I turn to be a silly person, gesturku pun dengan sukses menunjukkan bahwa aku telah mengalami retardasi mental secara mendadak kalo harus ngobrol di depan dia. Instead of having eye contact, tiba-tiba saja aku lebih terinspirasi bahwa tiang kayu adalah sesuatu hal yang sangat sophisticated untuk diamati, dan perhatianku dari tiang kayu yang sangat menakjubkan itu hanya bisa dialihkan untuk memelototi kancing baju (which suddenly become invention of the year, for I find it to be more interesting to look at rather than his face).
Kok bisa sih…aku yang selalu punya kata untuk mengomentari segala hal, tiba-tiba saja mengangkat topik bahwa rumput jadi hijau saat musim hujan, dan berubah warna menjadi kekuningan kalo musim kemarau. Kenapa aku tiba-tiba saja jadi ga punya ide untuk mengangkat topik yang lebih cerdas dan berbobot? Saaayyyy…. Betapa harga minyak goreng yang jauh membumbung menyebabkan gorengan secara perlahan tapi pasti menghilang dari pasaran, misalnya (Interupsi! Can such thing considered to be a smart topic, anyway?).
Aaaanyway….mungkin a choice for not to look at him, hanya pilihan alam bawah sadarku untuk melindungi diri, for being even a sillier creature on earth. Entah kenapa, his eyes always make me feel lost in the sky, among the stars…
On my way home, hearing a very antique song (menyebutnya as an old song cuma mengingatkanku bahwa…I am old!!) dari Tommy Page (okay, I admit, I am old, for I growing up listen to his songs, and some from the NKOTB’s) membuat aku sadar. That it is his eyes that makes me freeze and melt at the same time…
…I see heaven in your eyes,
And it puts me in a trance
I loose perspective of who I am, it happens when I glance
I get defenseless from your world, and I don’t know what to do
When we’re together I feel like I can stay forever looking at you
It’s heaven in your eyes…

(Heaven in Your Eyes, Tommy Page)
Tampilkan postingan dengan label What My Heart Feels. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label What My Heart Feels. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 April 2013

Momen "Indonesia" Saya

Minggu lalu, sebagai tante yang baik hati dan paling disayangi sama keponakan, saya nganterin Dian, ponakan saya itu untuk nonton. Filmnya judulnya Hasduk Berpola. Yang excited sih dia, secara dia adalah anggota regu Pramuka yang sangat mencintai acara-acara pramukanya itu. Sementara saya yang dari dulu emang gak suka dan gak bisa baris berbaris ini malah kepikirannya cuma ah-ntar-palingan-ketiduran. Eh, ternyata…filmnya baguuusss… Ahahahaha.. Pertama, tokoh utamanya bandel. Si Budi itu bukan tipe klise anak baik. Malah dia berantem mulu. Tapi tetap saja, saya nangis habis-habisan waktu dia naik ke gedung hotel Majapahit untuk mengibarkan bendera punya Mbah-nya. 
Dan salah satu dialog yang bikin saya tertampar, adalah waktu Mbah-nya Budi (yang diperankan oleh sang maestro biola Indonesia: Idris Sardi) mendengar berita tentang anggota dewan yang tidak hafal lagu Indonesia Raya.

"Ndak menghargai perjuangan, blas!” ujar beliau dengan nada kecewa.
Deg!
Berasa ditampar. 

Iya ih, saya mah gitu banget ya… Sekarang sih udah enak banget. Bangun gak usah mikir apakah bakal kejatuhan bom atau kena peluru tentara atau gimana. Saya sudah bener-bener tinggal menikmati apa yang dulu diperjuangkan para veteran itu dengan mengorbankan jiwa mereka.

I am one of those people, that becomes more and more sceptic everyday on how this country is being managed. Bahkan waktu Farhat Abbas mencalonkan diri jadi calon presiden, I was at the edge of thinking on changing my nationality. (somebody please please pleaaaseee tell me that him going for a candidate for president is nothing but a joke).

Iya. I complain about the government. I know that it’s not something easy to do, to govern this country. But at least would you please show us that you are seriouly trying your best to do it??
Ada saat-saat dimana saya merasa, it is hopeless to be a part of this country.

Tapi toh, banyak sekali momen-momen dimana saya ngerasa, ini Indonesia, dan saya bangga jadi orang Indonesia!

Salah satu momen “Indonesia” saya: kalau lihat para veteran perang.
Outside, mungkin kita cuma melihat mereka sebaga para aki yang sudah masuk kategori lansia. Tapi lihatlah mereka berpuluh-puluh tahun yang lalu. Waktu bagi mereka, merdeka bukan hanya sekedar pilihan, tapi suatu harga mati.

Kemerdekaan Indonesia itu diperjuangkan. Oleh mereka. Di atas darah mereka. Di atas air mata yang tumpah akibat kepergian mereka.
Saya bangga atas perjuangan mereka. Saya bangga, bahwa Indonesia punya pahlawan: mereka. Melihat mereka, selalu membuat saya sadar, masih ada alasan bagi saya untuk terus berusaha dan mencintai negeri mereka. Tidak membiarkan perjuangan mereka hanya sekedar cerita sejarah belaka, adalah salah satu alasan tersebut.

Momen “Indonesia” saya yang lain: olahraga.

One key point of it: Barcelona, 1992.

It was like, yeaaarrrsss ago. Tapi saya masih inget. Minggu siang. Abah dengan wajah tegang duduk di depan TV. Saya yang belum terlalu ngerti juga ikut-ikutan deg-degan, dan gak bisa mengalihkan pandangan. Ikut teriak setiap kali smes Susi Susanti masuk. Ikut mengerang kalau ada bola yang lepas. Dan akhirnya… Akhirnya…
We won it. Our very first gold medal, in the Olympic.

Melihat air mata Susi Susanti, kumandang Indonesia Raya, Merah-Putih yang berkibar. 
Nothing. Nothing beats the feeling.
Atlanta, 1996. Setelah perjuangan tiga set yang menegangkan

Ricky Subagja- Rexy Mainaky. Gold Medal for Indonesia in Atlanta, 1996

Saya cukup beruntung, karena pernah menyaksikan masa-masa dimana Indonesia adalah penguasa dunia bulutangkis. 
Rexy Mainaky sebagai pembawa bendera. He will always, always be my all-time favorite player.  I remember once, he won the title, dan dia lari keliling lapangan dengan berjubahkan bendera merah-putih.
Bahkan sampai sekarang, saya masih emosional aja, masih teriak-teriak aja kalo Indonesia tanding bulutangkis. 

Iya, saya gak ngikutin liga sepak bolanya Indonesia. Apa yang terjadi di PSSI terlalu memusingkan untuk dipahami. Tapi tetap saja, kalo Timnas Indonesia main, saya menyempatkan diri untuk menonton. Walaupun jujur ya, saya mulai agak jengah melihat rasio pemain naturalisasi. I mean, come on!!!
Wah, apalagi kalo yang dilawan Malaysia. Secara nih ya, when it comes to against that country, it’s no longer just a game of sport. It’s about pride. 

Bukan cuma pertandingannya sih. Kalau Indonesia tanding, saya seneng liat para suporter :D. Mau dukung siapapun juga, begitu Timnas main, kita semua sama: merah putih. And it gives me hope. Bahwa mau segimanapun negara kita, tetap ada satu dan beberapa hal lain yang bisa membuat kita merasa sama sebagai bangsa Indonesia.

I know. There are too many absurdity in this country. Tapi masih, selalu masih ada momen-momen dimana saya merasa, ini negara saya, ini bangsa saya: INDONESIA.
Taufik Hidayat. Yep, I cried to see this picture.

And for reasons that me myself cannot really explain, I still stubbornly love this country.

Selasa, 26 Maret 2013

30 Day Challenge | Day 16


Day 16 – If the world were to end tomorrow, what would you do with your remaining time on Earth?

Waduh. Serius ya topiknya. It’s not that I never really thought about the dooms day or something. Tapi saya sering kepikirannya sih, what would people think of me when I have died? What would they remember about me when I passed away?
Kok bukan itu aja sih yang ditanyain -_-

Anyway.

Kalau misalnya saya tau bahwa the world would end tomorrow (tiba-tiba ngerasa ada di film The Day After Tomorrow), emm… Saya cuma pengen menghabiskan waktu bersama keluarga saya. Sama orang tua dan adik saya. They have been the most important part of my life, the true love of my life, and the best part of life.

I would make a list of things that I really want to say to other people but I never have the chance to tell them. Dan entah dengan cara apapun, saya akan mencoba menyampaikan hal-hal itu pada mereka. 

Saya bakal melihat-lihat kembali foto, catatan, any memorabilia about my life, dan mengingat kembali bahwa hidup saya begitu penuh dengan berkah.

Eh, nulis ginian jadi mikir deh. No matter how short or how long life would be, what really matter is actually the things that really leave their marks on our life. That really taught us a thing or two or more about life. 
And still, our life always, always worth enough to live in. God makes it that way, as He is the best director of all scenarios =).

Minggu, 17 Maret 2013

Things That Might Matter

Seperti yang sudah pernah saya tulis di sini, one of my pet-peeves is people who make other people feel bad about things that they like. Saya selalu percaya bahwa sudah seharusnya tiap orang punya hobi. Punya passion. Punya sesuatu yang mereka bener-bener suka. It could be anything. And by anything, I really mean anything. 

Sadly, ada orang-orang yang gak ngerti. 

Entah tuntutan sosial, entah something called norms or so whatever, ada orang yang gak bisa ngerti kenapa si ini seneng begini dan yang itu suka hal tertentu.

I love reading. I always love it. And I don’t find anything wrong about it (selain saldo tabungan yang gak nambah-nambah karena duitnya dipake beli buku terus). But some people just don’t get it why I can read some book over and over again, and still the books thrill me. Not many people can understand why I can really relate myself with some of fictional characters in the book (Leo Valdez!!!). Mind you, there are some fictional characters that I like much more than some people that I meet everyday in my real life.

When I started to do some writings, I try to keep a low voice on it. At first I try to hide it from my colleagues. But then, they happened to know. And what do you expect? Tentu saja saya diketawain. Yeah, by having a job as a lecturer, I am expected to write some scholarly and academic articles, not those cheesy romantic teen stories like the ones that I wrote.

My sister said that she could not understand with me crying over football. She said, “It’s just football.”.
Wrong. For her, it’s “just-football”. For me, for us, it’s more than that. It’s our pride. Our family. Our home. 
And now, writing combines with football? It’s a thing that I still a bit hesitant on telling it to others, except for those who really know me and don’t mind about it at all. 

Anyway, saya lalu mikir, mungkin itulah gunanya social media network. Sometimes you have these things that you want to share, but no one seems to understand nor even care.

Mungkin bagi kita, beberapa hal yang disukai orang lain sepertinya biasa aja. Cenderung sepele malah. But who knows, what we thinks as nothing important might be something really matters for them. 

Maybe it’s the reason for them to hang on.
Maybe it’s the things that they love and care the most.
Maybe it’s one of the things that really can make them smile and put some happiness in their heart.

Somehow, I find it heartless to mock people about those things that they like.

Because for me myself, I find it’s hard to have somebody says that to be absorbed in books are a waste of time. I find it hard when people say that there’s no need to cry over football. I know how difficult it is to tell people about the idea that’s been nagging in your head and you feel like you really have to write it down. 

Saya selama tiga hari masih gak bisa get over the fact of how Bartimaeus Trilogy end. (YOU CAN’T JUST DIE!!!).  Saya beneran nangis waktu akhirnya Percy dan Annabeth ketemu lagi. Saya ngecekin berita tiap sejam sekali waktu hari terakhir winter transfer season. Saya dua hari mati rasa kalau City kalah. Tahun lalu, malam waktu pertandingan terakhir City melawan QPR, saya udah sakit kepala dan mules sejak bangun di pagi harinya. I jumped out in joy, and felt like I was in cloud nine when Real Madrid won El Clasico, twice in a row, and followed with a win against United. Saya bisa bangun tengah malem dan nyalain laptop cuma karena I finally have that sentence to begin my one-shot with. 

Yes. I am emotionally involved with my passion.

Believe me, I know how it feels when it comes to emotions.

And that is why, it really irritates me when somebody makes fun of something that is important to other people. Intinya gini deh. Gak suka kan kalo sesuatu yang kita anggap penting malah dicela-cela? Sama. Orang juga gitu. Just, don’t do the things that we don’t want other people do to us. 

Sometimes it is strange how people can really get emotional about their hobbies or some other things. But that’s the way it is.

Saya aja gak ngerti soal K-Pop. But I try my best not to scowl at it. I find gardening and fishing as boring things to do. But I do understand that there are people who are really fond of it. There are some things that we just can’t understand. But surely, it does not simply mean that it’s bad. 

Someone once said to me that having a hobby is like running away from reality. You’re doing too much in your own world of hobby or whatever that is, because there’s something wrong with your real life.

Not necessarily that way.

I love my life. My real life. But I find that this other world that I create over my fondness on books, music, football and writing comes as a complement of my real life. They complete each other. There are things that I can only get from this other world.
I find new friends. I find that there are things that people really think I am good at (and being such an insecure person like me, it really means a lot).

So please. There are things that really means a lot to other people. Things that we might not understand. Things that might seem ridiculous for us, but on the other hand, those are the things that really matter, that keep them hanging on.

Why should we make people feel bad about things that mean a lot to them? How heartless we are to say mean things about what might be their source of happiness?

Maybe we cannot understand it. But leave it there. We have no right to destroy one’s happiness.

So please understand that I just don’t want to talk to anybody when my favorite character died/my team lose a game/the book that I am reading ends with a cliffhanger/my favorite player in the team is transferred to other team.

Cheers =) !
= Ami =

Rabu, 13 Februari 2008

Officially Getting Older

Valentine's Day. 14 Februari.
It means... Ulang tahunkuuuuu!!!!!! hahaha.... Betapa menyenangkannya lahir in this special day celebrated by so many people all around the world... Yang ga ngerayain, gapapa... You can celebrate my birthday then...hehehe...
A pretty different birthday than usual, for now I'm here all alone... Iya sih...I've had some new friends here, tapi tetep ajaa.... I really wish that my family were here... Huhuhu... Abah-Mama-Ita-Dian... Miss you sooooooo much......
Menit-menit terakhir berusia 26 dan detik-detik awal jadi 27 tahun, aku ngapain coba? have some chat (duhai orang2 cerdas yang menciptakan program Yahoo Messenger, terima kasih banyaaak...) with a good old friend, you know who...yang timbul tenggelam semau dia, tapi secara ajaib selalu ada menyemangati aku everytime I feel like I'm at the bottom of my curve. Dan untuk tahun ini, dialah orang pertama yang mengucapkan selamat ultah tepat di hari H (yah, walopun diwarnai sedikit paksaan). Iya sih, ada beberapa yang udah ngucapin selamat, bahkan salah satu student gua di SMA dengan polosnya mengucapkan selamat ultah dua minggu sebelumnya...Taibah, 2 jam sebelum hari H. Johan, satu jam sebelum hari H. Anak jelek itu, 26 menit sebelum hari H...dan 5 menit sesudah hari H. Hahaha.... Pake acara rada diancem dulu sih, baru dia dengan setengah ikhlas mengucapkan kembali 'selamat ulang tahun'... Kebayang deh gua ekspresinya seandainya dia ngomong langsung di depan gua... My ex? 2hari sebelumnya. Ga tau tuh... Males kali ya dia ngucapin pas harinya.
Kalo membandingkan nih ya...tahun lalu gua ultah di Banjar, dengan ucapan selamat dari keluarga, temen-temen di kampus dan para mahasiswaku (hiks...jadi kangen). Gua ultah dalam keadaan bahagia karena dapet beasiswa, masih punya pacar, serta sibuk dengan kerjaan (rasanya waktu itu aku nge-handle pelatihan calon asisten deh...). Sekarang? I'm all alone in a strange city, being single, and freezing because of the weather...Hahahaha.... It doesn't mean that I'm not happy... I'm happy with my life... Semakin gua mikir, semakin aku sadar betapa Tuhan tuh sayang banget sama aku, dengan segala yang udah Dia kasih ke aku... It's just that I really wish that I can be with my family...
Nggak ah, nggak mau sedih dan mellow... Lagian, aku disini berkat doa dan dukungan mereka. I'm here to make my parents and sister proud of me, karena aku juga bangga banget punya orang tua dan saudara seperti Abah, Mama dan Ita. Aku disini juga buat mahasiswaku... Walopun di depan mereka aku suka jutek, galak dan ngomel-ngomel ga jelas... I really miss them.. Gua seneng pernah menjadi salah satu bagian dari kehidupan mereka di kampus, and I really hope that they're happy to have me as their lecturer (halah, berasa ngegaya banget nulis 'lecturer'...)
So, I'll start my 27-year of age mulai hari ini dengan senyuman...for I know that God loves me...
Ya Allah... i know You know more than I do...aku yakin bahwa segala putusan Mu adalah yang terbaik. Maka lapangkanlah dadaku untuk selalu bersyukur kepadaMu, ringankanlah langkahku untuk menapak di jalanMu, dan bukakanlah mata dan telingaku untuk mencari cahaya Mu selalu...

Rabu, 09 Januari 2008

So Sweet, yet So Confusing

Aku ga ngerti mesti tersanjung, sebel apa gimana....
Last day in Banjarmasin, aku dan mantanku telfon-telfonan, and we were having fun in our conversation, just like we're good old friends each other...
Terus, last day in Indonesia, kok ya aku malah nangis saking sakit hatinya sama ucapan dia... And I feel like, Thank God I'm leaving....
Dan.... dia tau-tau kirim sms, mau ketemu sebelum aku berangkat. Oke, dia ada di Yogya, aku berangkat dari Jakarta. I thought he was just joking... Tapi ternyata.... lima belas menit sebelum aku nyampe Cengkareng, he sent me a message, bilang kalo dia udah ada di Terminal Keberangkatan Internasional.
And there he was...
He told me that even though he was hurt, he still loves me...
Hm...
Aduh...
Mesti merasa gimana cobaaa.....???? So sweet, actually, maksudku, he was so impulsive, just decided to go to Jakarta straight from Jogja, just to see me for the last time....
Tapi yaaa....aduh, I was feeling sooooo guilty, actually....
I never meant to hurt him, but what I really want is just the feeling to be loved..the feeling to be appreciated...
Sometimes I feel that both of us speak in different kind of language...
Aduh, jadi sedih euuuyyyyy.....
Karena jujur saja, kalo ditanya aku masih sayang nggak sama dia, ya bingung juga mau jawab apa...
Hiks.
Let it flow aja kali yaaa...

Rabu, 31 Oktober 2007

Memang Tidak Sempurna

Malem ini, pas lagi surfing gitu, iseng baca-baca blog orang, dan nemu beberapa hal yang bikin aku jadi mikir. Yang pertama adalah blog-nya Adhitya Mulya, yang entah kenapa keliatan lagi sentimen banget sama beberapa tokoh top politiknya Indonesia. Bukaaannn...bukan pandangan politiknya yang bikin aku tertarik (I try to keep away as far as possible from politics). Tapi salah satu ucapan dia, tentang gimana kita bisa membuat negara ini lebih baik. Aku lupa kalimat persisnya gimana, tapi intinya dia bilang, untuk bisa membuat negara ini lebih baik, ga usah sok-sok-an mau jadi presiden dan menjanjikan berbagai hal, kenapa sih ga nyoba untuk jadi warga negara yang baik dan membantu kerja presiden yang sekarang, instead of just criticize but do nothing? Bener banget. Kita suka komentar macem-macem, tapi suka ga kepikiran (ato males aja?) buat betul-betul melakukan sesuatu. Si Adhitya Mulya juga bilang, kalo mau perubahan, just do something. Hmm. Bener. Jadi mikir, apa ada yang telah aku lakukan untuk membuat suatu perubahan (at least bagi aku) ke arah yang lebih baik?
Satu lagi adalah blog temen SMA ku dulu, yang sekarang udah jadi penulis.. Dia cerita tentang kenangan masa kecil dia dulu, tentang cita-cita dia yang ga kesampaian untuk buka puasa bersama-sama keluarganya. Aku jadi pengen nangis, dan merasa bersyukur banget dengan keluarga yang aku miliki saat ini. Jangankan buka puasa waktu Ramadhan, waktu Abah-Mama puasa Syawal aja, dan aku kebetulan ga bisa ikut puasa, Mama tetep menyediakan menu buat buka untuk aku. Aduh, jadi malu merangkap terharu euy...Kami bukan keluarga yang kaya secara materi, hanya sekedar cukup untuk makan sederhana sehari-hari, dan at least, Abah-Mama berhasil membiayai kuliah kami sampai selesai di PTN. Tapi, aku merasa sangat kaya dengan keluarga ini. Walaupun aku dan Ita suka mendefinisikan keluarga kami sebagai keluarga yang aneh, dengan bentuk-bentuk pengungkapan kasih sayang yang tidak wajar dan suka hiperbolis, still, we love being in this family. Dan tiba-tiba aku sadar...betapa berharganya saat-saat kami makan bersama... Keluarga kami memang tidak sempurna, tapi toh, dalam ketidaksempurnaan itu, kami tetap berusaha untuk bersama-sama, even though we’re being separated by distance...

Senin, 29 Oktober 2007

Seperti yang Dulu

"Tiada guna kau kembali, mengisi ruang hati ini

Semuanya telah berlalu bersama lukaku...

Semua yang telah berakhir antara hatiku dan hatimu

Takkan ada cinta seperti yang dulu

Tiada guna kau berjanji untuk setia menemani hatiku yang tlah terluka karena dustamu

Semua yang telah berakhir antara diriku dan dirimu

Takkan ada rindu seperti yang dulu..."

('Seperti yang Dulu', Ungu)

Tau ga, aku pengen banget nyanyi lagu ini di depan mantan aku, yang beberapa malem yang lalu nelfon. Dia bilang, terserah aku mau nganggap dia sebagai apa (what if I consider him as the most pathetic guy I’ve ever met?), dia tetap menganggap aku sebagai pacar. Apaan!!! Bukannya kemaren dia yang minta putus duluan? Aduh, siapa yang ketok palu nih? Sebel. Gua udah ketawa garing aja dengernya. Apalagi waktu dia bilang, dia sempet naksir cewek lagi (so?), tapi ga dilanjutin karena dia merasa punya komitmen sama aku. Gimana gua gak takjub coba?

Hm... tambah satu lagu lagi deh, lagunya The Titans yang ”Bila” :

...

Jangan kau harap lagi rasa yang dulu telah terpuruk mati

Kucoba tuk temukan cinta sejati yang kurasa bukan hanya dalam mimpi

Walaupun terkadang sepi menghampiri diriku

Biarlah kusimpan sendiri rasa yang telah pergi...

...

Eh, kan siapa tau si Enigma itu yang ternyata adalah cinta sejatiku...wakakakak.... Mimpi banget sih?? Padahal kemaren pas ketemu dia senyumnya datar aja...


Senin, 15 Oktober 2007

Fitri Kembali

Selamat Idul Fitri 1428 H
Mohon maaf lahir dan batin


Buat yang kenal langsung dengan aku, maafkan semua prasangka, ucapan, tingkah laku, apapun deh dari aku yang menjengkelkan....
Buat yang sekedar baca-baca maupun singgah in this spot... maafkan kalo ada posting yang tidak berkenan…


Mudah-mudahan berkah Ramadhan tetap mengiringi kita...mudah-mudahan amal ibadah kita diterima...mudah-mudahan tahun depan pun masih diizinkan berjumpa kembali dengan Ramadhan

Selasa, 25 September 2007

Kenapa Dia yang Nelfooon!!!!

(aslinya ditulis tanggal 19 September)

Tuhan memang suka becanda yaaa…… Udah nyaris seminggu aku dan ‘seseorang’ (itu lhoooo..... My Enigma yang satu ituuuuu....) dengan alasan yang entah kenapa, memutuskan untuk saling cuek dan mendiamkan satu sama lain…Hiks… Sediiihhh… Tapi ya mau gimana lagi? Padahal kalo mau jujur… lagu-lagu yang mellow selalu bikin aku ngelamunin dia… Tapi ya itu,,,semakin hari semakin tidak jelas. Daaannnn….out of the blue, mantan gua dengan manisnya menelfon! Sebel. Iya, soalnya gayanya yang sok jadi orang penting yang sibuk gitu. Hm…masih dengan ‘penuh perhatian’ mengingatkan aku untuk jaga diri, istirahat yang cukup (Haha. Yeah, rite.). Tapi gua udah keburu ilfil niiiiiihhhhh…..!!!
Udah ah, ganti topik. Males gua. Dan sedih. Kenapa tidak ‘dia’ saja sih yang nelfooooonnnn????

Selasa, 18 September 2007

Naik Turun

Hidup, itu ada naik, ada turun. Dan sekarang, aku lagi ’turun’. Waduh, maafkan kalo akhir-akhir ini isi postingnya mellow abis. Sentimentil. I’m running down into the bottom of my curve. Arrrggghhh.... Ini kenapa aku benci banget kalo kerjaan mulai berkurang. Pikiran aku jadi suka kemana-mana!!!
Tapi, jadi sadar. Semenjak putus, something in me has changed. I almost losing my faith in true love. Serius gua. Yeah, true love is for anyone else but me. Waduh, desperado banget ya…. Ga tau, tadi kan ke Gramedia tuh, dan percaya ga…aku malah berasa eneg gimanaaaaa…gitu lho ngeliat novel-novel percintaan, apalgi model-model teenlit dengan romantisme remajanya itu… Hmm…secara aku sebenernya tipe anak yang sensitif dan gampang tersentuh banget, gejala kayak gini bahaya niiihhhh….
Tiba-tiba saja aku jadi sinis, dan skeptis. Ngerasa kalo pada kenyataannya, hidup memang ga pernah semanis cerita cinta di novel. Wah, beda banget ama jaman dulu tuhh... tau ga, salah satu kata-kata yang muncul di lembar persembahannya skripsiku apa coba? Salah satu penggalan lagunya Pet Shop Boys, ’Se A Vida E’ : ”So don’t search in the stars for signs of love... Look around your life you’ll find enough..”
I feel like I need help… Ya itulah... mood hari ini kayaknya masih sambungan mood aku semenjak 2-3 hari yang lalu... I never needed a friend like I do now…

To My Incognito…

What I thought wasn’t mine, in the light wasn’t one of a kind, a precious pearl
When I wanted to cry, I couldn’t ‘cause I wasn’t allowed

What I thought was alone, so innocent. Was it a delicate doll? A porcelain?
When I wanted to call you and ask you for help… I stopped myself

What I thought was a dream, I’m aroused
Was it real as it seems? A privillege
When I wanted to tell you, I made a mistake… I walked away…

Gomenasai… for everything
Gomenasai… I know I let you down
Gomenasai till the end… I never needed a friend, like I do now…

After so long, at least I feel that it has been so long, I find myself missing you…
I know that you’re far away… but I just miss you so bad… Maybe because I really feel that I need a friend. A friend like you…
Aku pengen cerita. Pengen ngomel. Pengen nangis. Pengen denger kamu ketawa. Pengen denger kamu mencela. Pengen denger kamu berkomentar. But most of all, I really need to have you, telling me that everything’s gonna be okay…
Aku pengen cerita tentang dia yang membuatku hanyut. Aku pengen cerita tentang lelahku. Aku pengen cerita tentang senyumku. Aku cuma pengen…ada kamu. Untuk dengerin aku.
Dan dengan noraknya, aku nangis lagi denger lagunya T.A.T.U.. I’m sorry for missing you…but I never needed a friend like I do now…. There’s so many times that I wanted to call you and ask you for help… tapi ga bisa…Because I know, since the day that you go away, things will never be the same anymore…

(Eh, ini bukan buat si mantan lhoooo!!!! Enak aja…. Ga usah ke-GR-an deehhh….)

Rabu, 12 September 2007

Nostalgia Cinta

(Written : 11 September)

Salah satu pekerjaan yang paling menyita waktu adalah beres-beres. Enggak sih, bukan masalah beres-beresnya yang lama. Tapi seringkali, kalo kita lagi ngeberesin tumpukan kertas, dokumen dan entah kenang-kenangan jaman dulu yang mulai berubah jadi barang prasejarah, biasanya bakal ketemu hal-hal yang bisa bikin kita mikir dan cengengesan ga jelas kalo keinget jaman dulu…
Malem ini, menyambung usahaku beberes kamar (the last time I did that was, saaayyyy… a year ago??), aku ngeberesin semua bentuk laci yang ada di kamar. Laci pertama sih ga terlalu seru, karena cuma dokumen-dokumen biasa…model-model ijazah, transkrip, SK dan Surat Tugas. Tapi pas mulai ngeberesin laci meja, baru aku mulai ga fokus, antara usaha bikin laciku jadi lebih layak untuk tempat penyimpanan daripada sekedar tempat penumpukan kertas-kertas tidak jelas, dengan keinginan untuk membuka-buka lagi kenangan jaman dulu. Ada foto-foto yang tertimbun, walopun sebagian besar dari foto itu tipe yang dibuang sayang, dipajang malu-maluin. Pantesan aja aku naruhnya di laci, dan bukannya di album, karena foto-foto tersebut sebagian besar menampilkan diriku dalam angle yang menurutku sangat tidak tepat untuk menampilkan diriku dalam kondisi terbaik. Ada kumpulan surat-surat, kartu-kartu ucapan, bahkan kartu ucapan dari Kai Nini untuk ultahku yang ke-12!
Tetep aja, yang paling seru adalah diary-ku. Aku kan mulai nulis diary sejak kelas 6 SD. Gila ya, kecerewetanku yang tidak cukup hanya tersalurkan lewat omongan udah mulai nampak sejak umur segitu, coba!!! Yang ketemu ada 2 buah, diaryku jaman kelas 2-3 SMP, sama yang kelas 3 SMA. Dan setelah kubandingkan... yang SMP menunjukkan saat-saat terberatku jadi ABG, sedangkan yang SMA isinya lebih lucu, ceria, norak, and jut soooo mee.... (Ya iya laaaahhhh...). Aku jadi cengengesan sendiri membaca betapa noraknya aku yang dulu naksir abis sama guru SMAku itu...yang entah apa kabarnya sekarang...
Hmmm....
First love never die....
Dan aku sadar, Bambang bukanlah cinta pertamaku, neither my true love.
The first time I was in love was at my last year at high school (Enggaaaaakk…. Bukan sama guru SMAku itu…. Itu mah cuma sekedar crush aja… sekarang aja gua malu kalo ingetnya).. With someone whom I prefer to call : “The Incognito”. And the feeling lasted for sooooo long. Sampai sekitar 2 tahun yang lalu, aku masih merasa melayang hanya untuk mengingat dirinya. Sekarang sih udah enggak…. I love him, still, but now I love him as the best friend I’ve ever had. Wah, jadi kalo diitung-itung, I hold on to the feeling for…SIX YEARS???!!! Hahaha…. Bahkan mulai dari awal aku pacaran sama Bambang, sampai aku serius sama dia…I still had him, somewhere in my heart. Aku juga ga ngerti kenapa aku bisa merubah perasaan itu. But hey, seperti Maroon 5 bilang : ”Nothing Last Forever”. Tiba-tiba saja, I finally get over the feeling, in a very beautiful way. I am totally happy for him, and I always remember the times we’ve ever spent together as the most wonderful moments in my life, without feeling hurt anymore. Everytime the memories cross my mind, it’s a smile that comes up on my face, without any tears of hurt rolling down my face anymore.
Kenapa coba aku bilang, that my ex-boyfriend pada akhirnya hanyalah sekedar kesalahan di masa lalu? Karena begitu menemukan foto-fotonya, tanpa mendapat pertimbangan lebih lanjut, foto-foto itu langsung masuk ke tumpukan : “DIBUANG”. Nasib yang sama terulang pada kumpulan surat-surat darinya. Hanya sekedar kubaca selintas, lalu langsung ditumpuk bersama kumpulan fotokopian tidak jelas lainnya. And I don’t feel anything. Datar dan lempeng aja… Aku jadi heran sendiri. Terus, selama tujuh taon kemaren kami pacaran, dapet apa dong? Yah, let’s take the good side. I don’t feel hurt. Itu sudah cukup. Sangat cukup.
Tapiiiii….beda banget waktu aku baca diary ku yang menceritakan masa-masa akhir SMA itu. Waktu aku mulai ragu, apakah memang benar, that I had fallen for ‘him’? Apalagi waktu aku baca hari-hari terakhir kami harus pisah… tiba-tiba saja, tanpa bisa aku cegah, aku nangis! I just suddenly feel the tears…. Bukan masalah ga kesampaiannya cintaku itu, tapi lebih karena merasa kehilangannya kali ya…
Here’s the part yang sukses banget bikin aku berlinang air mata kenangan:

”…Nggak tau kenapa, pas nutup telfon, aku ngerasa sedih banget.
Rasanya dia sudah begitu jauh...terlalu jauh...
And I realize, I’m losing him
Somehow I know, things will never be the same anymore. Dy, do you think he will miss me? Aku cuma bisa duduk terdiam, membiarkan air mata yang perlahan-lahan kembali menggenang dan jatuh satu-satu. When will we meet again? Dy, aku mencoba ikhlas melepas kepergiannya. It’s the best for him. Someday, I can get over this feeling. But…not now… Now, I miss him so much…”

Gimana gua ga nangis, coba… Apalagi aku inget banget, waktu itu pas purnama, aku duduk di kolam di samping rumah, sambil nangis…
Sampai saat ini, memang aku ga pernah punya keberanian to tell him straight to the point about what I felt for him. Tapi aku tau kok, kalo dia ngerti. I know that he knows.
Hiks. Aduuuhhhhh….jadi sentimentil euy…..
Yah, memang judulnya sih Kasih Tak Sampai. I finally can get over my feelings for him, but still, I will never stop to need him as my best friend. Walopun anak jelek yang satu itu seringkali hilang tidak jelas dari peredaran bumi dan peradaban dunia, tapi suka tiba-tiba tanpa rasa berdosa muncul kembali.

To The Incognito
I know that you know. Please, just keep it for yourself. And I will keep it for myself. I could never have you, the way I once wanted to. Tapi sekedar tetap menjadi bagian darimu, as ‘a good old friend’ of you, itu sudah cukup. For I now have you as a good old friend of mine…
Apa yang dulu aku rasakan, just leave it as it was… What matter is, you will always have me as your friend. For I know, that you’re always willing to be my friend… (Yah, walopun hilang-munculnya kamu itu suka bikin bete). Remember that night, when I was at the very bottom of my curve? You’re the one I called when I could do nothing but crying, and you did something only a best friend can do. You say that you’ll be there for me, and I can run to you. And what really matter is…you were not only saying it. You DID it. Thank you…
I was so lucky that I once know you, that I was once in love with you, and now that I love you as one of the best friend I’ve ever had…
You always have me and my prayers with you…Always… Termasuk untuk ‘rencana besar’mu di tahun 2008 nanti!! You truly have all my prayers with you…

Senin, 06 Agustus 2007

Antara Aku, Dia, dan Dia yang Satunya Lagi

Tau lagu Crossbottom ga? Judulnya Sembilan Tahun. Enggak, bukan sembilan bulan, itu masa kehamilan rata-rata. Nah, lagunya Crossbottom yang satu ituh, kalo aku bilang, pait banget. ”Sembilan tahun lamanya, tak kuduga, jadi sia-sia...Ku berjuang demi cinta, kini sudah tak ada artinya...”. Ya itu dia, yang terjadi sama aku. Sekita dua bulan yang lalu, laki-laki yang udah dengan susah payah (Percaya deh. Susah payah banget) aku dampingi selama 7 tahun (Iya, tujuh, heran kan?!!), akhirnya cuma ngomong :”Ya udah, kamu cari aja laki-laki lain”. Hah. Kayak dia ga inget aja betapa aku berdarah-darah mempertahankan semuanya. Aku aja kagum sama aku sendiri, kok bisa mempertahankan dan bersabar menghadapi laki-laki yang ternyata nih ya, ga cukup gentleman dan dewasa untuk mengatur hidupnya sendiri. Ya udah. Aku tidak bisa menyelamatkan kami berdua, jadi lebih baik aku menyelamatkan diriku sendiri. And let’s just see what happen with him, while I’m standing here, being a survivor without having to play tough. Bodo amat, kalo dia sendiri tidak ingin menolong dirinya sendiri, dan terus menerus mengasihani nasibnya, buat apa aku ikut-ikutan drowning in the dumps with him… Ya iya lah, gua juga ga bakal bohong kalo waktu malam itu, gua nangis. Tapi besoknya, gua bangun dengan perasaan lega…Fiuuuhhh…. I’m officially single and available! Setelah sekitar setengah bulan berlalu, gua lalu sadar, okelah gua putus secara status mungkin baru dua minggu, tapi kayaknya gua putus secara perasaan udah setahunan kali yaaa…..
Sekarang aku lagi dalam fase bengong setiap kali inget apa yang telah berlangsung selama 7 tahun ini…ya ampuuunnnn….kok ya aku tahan selama ini “dizalimi” sama dia yaa… kok aku bisa-bisanya selama tiga tahun ini jadi gadis bodoh yang percayaaa aja sama janji-janji ga jelas dari orang yang cuma bisa menyalahkan nasib dan hidup, serta mencari-cari alasan. He’s not a jerk, but he’s just sooooo PATHETIC. Bener banget tuh judul buku yang dibeli ita kemaren, Kalau Jodoh Nggak Akan Kemana, Kalau Bodoh Nggak Akan Kemana-mana. Kalau memang benang merah di kelingking aku ujungnya ada di kelingkingnya Bambang, ya…pada akhirnya kami nanti bisa bakal bareng lagi. Tapi kalau aku masih jadi orang bodoh yang tetap berkeras berada dalam lingkaran ga jelas ini, ya aku, dan kita, ga bakal kemana-mana, ga bakal maju-maju.
Hmmm… jadilah aku seorang lajang berusia 26 tahun. Wah, aku sih sebenernya juga kadang-kadang mengalami seperti yang jadi judul novelnya Primadonna Angela : A Quarter Life Fear. Huhuhu....iyalah..siapa sih yang ga kepengen settle, raise a family? Tapi semakin hari, aku semakin mensyukuri hidupku. Aku berusaha menjalani hidupku dengan damai. Kesibukanku di kampus, di laboratorium, berantem dan maen sama ponakanku, cengar-cengir ga jelas, kalau ada kejadian langka: meeting My Enigma....
Nah, ini lagi satu drama dalam hidupku. Kenapa sih orang yang satu ini bisa bikin duniaku jadi jungkir balik? Sebel. Jarang-jarang aku ketemu sama dia, begitu ketemu, yang ada aku cuma menunjukkan sisi-sisi konyol dari diriku (yang ternyata ada banyaaaaak banget). Aduh, tapi jangan lalu mikir, gara-gara ada dia inilah hubunganku sama si mantan jadi semrawut. Enggak. He’s just a person coming at a not-very-right-moment. Kayaknya, ada dia maupun ga ada, kami tetap bakal end up this way deeehh… Judul bukunya Tamara Geraldine memang pas banget untuk aku ucapkan di depan The Pathetic Guy (a.k.a. my ex-boyfriend), Kamu Sadar Kan Kalau Aku Punya Alasan Untuk Selingkuh, Sayang? (mohon maaf kalo salah dikit-dikit, aku ga pernah bisa hafal kalimat-kalimat panjang). Tapi enggak. Salah satu usahaku untuk mempertahankan hubungankami dulu adalah berusaha setia. Selama 7 tahun, dengan 3 tahun di antaranya dalam status long distance relationship. Walaupun sebenarnya, ngeliat gimana dianya...iya, aku punya banyak banget alasan untuk selingkuh, secara seharusnya aku pantes banget mendapatkan yang jauh lebih baik daripada dia. Hey, he’s just so pathetic, and in the other hand, I’m a good girl!
So, bukankah kita tadi sedang membicarakan tentang My Enigma? Iya. My Enigma. My Mysterious Guy. My Secret Admirer. Hehe... Dulu ding. Kayaknya sekarang gua deh yang jadi secret admirernya dia… Wakakak… The one who has heaven in his eyes, and makes me freeze and melt at the same time, just by a smile he gives me. Well, sebenernya, the main issue here adalah, aku ga pernah bener-bener tau apa sih yang sebenrnya ada di hatinya. Aku pernah curhat sampe mau nangis sama salah seorang teman, yang dengan polosnya jadi ikut penasaran juga… Seperti yang aku bilang sama temanku itu : “Iya, gua cuma pengen dia ngomong, “iya” apa “enggak”. Kalo “iya” kan artinya gua fokus ke dia aja, tapi kalo “enggak”, ya udah…gua mulai usaha menebar pesona ke yang lain aja, misalnya ke temen dia yang tinggi ikal itu lho…kan lucu juga, senyumnya manis pula…”. Wah, padahal waktu ngomong gitu sih, sebenrnya dalam hati nih ya, aku pengen dia ngomong :”Iya”. Halah. Kayak bisa milih aja gua.
Aduh, sebenernya aku males banget jadi kayak gini. Berasa kayak tokoh sinetron, tau ga siihhh… yang suka insomnia ga jelas tiap malam, yang senyum-senyum sendiri tiap kali inget hal-hal sekecil apapun tentang dia, yang jadi norak sendiri kalo ketemu… Tapi ya itu tadi. Seperti kata penyanyi luar negeri itu lho : “The trouble with love is…”, apa ya? Aku lupa lagunya. Ya, pokoknya love itu suka bikin trouble aja. Maya juga bilang, bahwa sebenernya jatuh cinta itu menyakitkan. Walaupun aku lebih setuju kata-katanya Taibah, “cinta itu membuat segala sesuatunya ada di titik ekstrim”. Kalo aku bilang sih ya…Kita ga pernah bisa milih, kapan rasa itu tiba-tiba kita sadari ada dan sudah membuat kita jadi orang yang berbeda. Dan kita tidak pernah bisa memilih, atau bahkan menebak, siapa yang membuat kita jadi memiliki perasaan itu, whether we like it or no, whether we want it or no.
Kalo aku boleh milih soundtrack buat episode hidupku sama My Enigma ini, ya lagunya Daniel Bedingfield, “I Can’t Read You”, yang lagi kuputer waktu aku ngetik ini.
I can’t read you…I wish I know what’s going through your mind. I cant touch you, your heart’s protected…I get left behind”.
Haduh. Desperado banget. Tapi siapa sih yang ga desperate kalo lagi pengen tau…ada ga sih kita di hatinya, sedikiiiiiiit aja…
Hmm…. Kayaknya habis ini aku mau nyetel lagunya Maliq n D’Essential deh, yang Untitled.
“…adakah ku singgah di hatimu...mungkinkah kau rindukan adaku…adakah ku sedikit di hatimu…bilakah ku mengganggu harimu…mungkinkah kau inginkan adaku…akankan ku sedikit di hatimu…”

Jumat, 27 Juli 2007

As Usual, As Always

Yesterday. I met him. He looked so gorgeous…as usual… I was speechless…as always…
Why he always have to be such a mystery for me?

Jumat, 06 Juli 2007

The Best Way

Terinspirasi dari bukunya Adhitya Mulya, "Gege Mengejar Cinta" (A must have book, i have to say), I find the best way to deal with him...
Keep it short. Keep it simple. And most important, keep it away...

Rabu, 04 Juli 2007

Tralala…Trilili…

(Originally written : 27 Juni 2007)

Kemarin, everything looked like pieces of puzzles that doesn’t fit each other. Tapi toh, like every other day, I finally get through it. Dan sepanjang perjalanan Banjarbaru-Banjarmasin yang penuh guncangan (entah udah berapa kali kepalaku kebentur dinding bus), gerimis perlahan. I didn’t care. I just look at the sky, just wishing that those raindrops falling from the sky will just wash and bring away my miseries…
Tapi malamnya, langit cerah dan cantik nian. Terang tersaput sedikit awan, dan ada bulan disana, ditemani gemintang. Indah. Membuatku tersebyum kembali, for I realize, that no matter how hard the rain was, the star will always be there, smiling back at me…
Ya! Itulah diriku dan sedikit romantisme yang ada padaku ini…. I don’t know what on my mind was, that I send him a message. I felt like I just want to share to someone. And he was the first one who crossed my mind at that time (Oke deh, gua ngaku… lots of times). Jadilah (dengan noraknya) aku menulis begini :
“Walaupun sore tdi hujan sepanjang bjbru-bjm,tp trnyata langit malam ini tuh baguuus banget. Ada bulan dn banyak bintang.Aq yg hri ni lg rada bad mood,berasa semangat lagi dh..Hopefully you’re feeling good too”.
Ekspektasi akan balasan darinya? Jujur, aku ga berharap apapun…Tapi lima menit kemudian…DIA BALES!!! Cihuuiiii….!!! Hehe. Seneng. Geer. Tapi cuma sebentar doang. Rasa senang melihat bahwa nama pengirim adalah dirinya langsung berubah jadi ekspresi bengong waktu baca balasannya : “Dingin2 gini, enaknya tidur!!! Malas bnget perhatikan bulan n bintang..”.
Sampai disitu saja aura romantisme malam tersebut…Hahaha…. Walaupun ada satu fakta menarik, bahwa aku dan dia sama-sama suka tidur. Howeverrrr….. Aku tetep seneng. Karena sms-sms ga penting semacam itulah yang selalu menghiburku… Bahwa karena itulah, dia ada bagi aku.
Daaaan….keesokan harinya menjadi hari yang riang gembira bagiku. Pagi yang berkabut? Ga masalah. Dioper dari taksi ke Banjarbaru? No problemo. Sarapan sendirian di lab? So what? I can always cope with that. Memang sih si kulit udang yang jadi objek penelitianku itu rada ngajak berantem, secara pH dia ga mau beranjak dari kisaran 11 – 13. Tapi dengan sedikit modifikasi yang diusulkan P’Urip (do you know something Sir, you ARE a REAL genious!!!)..ha-ha! Netral lah dirinya!!! Jelas aja bangga, mengingat selama hampir sebulan ini, K’Riza dan K’Rudi udah mulai bete ngeliat aku tanpa perasaan berdosa (Enggak kok. I DO feeling a little guilty inside) menghabiskan persediaan akuades selama 1 semester dalam waktu 2 minggu. Dengan penuh rasa sombong, kusaringlah si kitosan itu. Jadi aja sisa sepanjang hari ini aku lalui dengan tersenyum. Cengar-cengir ga jelas. Belarian kesana-kemari. The only thing that bother me tonight, cuma komentar from someone, that maybe My Enigma and I, we should try to be together. Hmm… Interestingly and absurd… Tapi jadi kepikiran….

That’s Why I Don’t Want To Be Alone

(Originally written : 23 Juni 2007)
Aku ga suka sendirian. It’s not the feeling of loneliness. I can always cope with that. What I hate about being alone, I can’t stop myself from thinking about you. You. YOU. Apa yang telah kamu lakukan. Apa yang sedang kamu lakukan. Apa yang akan kamu lakukan. And I hate to think about it. It hurts.
That’s why I don’t want to be alone. Because I don’t want to feel the pain. Of thinking about you.

Sabtu, 30 Juni 2007

Heaven in Your Eyes

(Originally Written : 13 Juni 2007)

People react differently kalo lagi (at least, ngerasa) jatuh cinta. Tapi reaksi yang paling umum ditemukan adalah… You become speechless everytime you are near the person you have a crush on. And when you finally say something, what you say is only silly things that you never thought you have ever discussed!!! Sejak kapan topik mengenai cuaca menjadi topik yang BETUL-BETUL menarik untuk dibahas? Please, everybody knows bahwa cuaca terasa panas karena tidak pernah hujan dan sudah masuk musim kemarau. Jadi, how come seseorang masih bisa manggut-manggut penuh pengertian, atau bahkan mengerutkan kening, as if we are talking about the relativity theory?
What happens to me everytime I stand side by side with him (yang mana him disini merujuk ke My Enigma ) is really typical. Not only the things we talked about yang menunjukkan how I turn to be a silly person, gesturku pun dengan sukses menunjukkan bahwa aku telah mengalami retardasi mental secara mendadak kalo harus ngobrol di depan dia. Instead of having eye contact, tiba-tiba saja aku lebih terinspirasi bahwa tiang kayu adalah sesuatu hal yang sangat sophisticated untuk diamati, dan perhatianku dari tiang kayu yang sangat menakjubkan itu hanya bisa dialihkan untuk memelototi kancing baju (which suddenly become invention of the year, for I find it to be more interesting to look at rather than his face).
Kok bisa sih…aku yang selalu punya kata untuk mengomentari segala hal, tiba-tiba saja mengangkat topik bahwa rumput jadi hijau saat musim hujan, dan berubah warna menjadi kekuningan kalo musim kemarau. Kenapa aku tiba-tiba saja jadi ga punya ide untuk mengangkat topik yang lebih cerdas dan berbobot? Saaayyyy…. Betapa harga minyak goreng yang jauh membumbung menyebabkan gorengan secara perlahan tapi pasti menghilang dari pasaran, misalnya (Interupsi! Can such thing considered to be a smart topic, anyway?).
Aaaanyway….mungkin a choice for not to look at him, hanya pilihan alam bawah sadarku untuk melindungi diri, for being even a sillier creature on earth. Entah kenapa, his eyes always make me feel lost in the sky, among the stars…
On my way home, hearing a very antique song (menyebutnya as an old song cuma mengingatkanku bahwa…I am old!!) dari Tommy Page (okay, I admit, I am old, for I growing up listen to his songs, and some from the NKOTB’s) membuat aku sadar. That it is his eyes that makes me freeze and melt at the same time…
…I see heaven in your eyes,
And it puts me in a trance
I loose perspective of who I am, it happens when I glance
I get defenseless from your world, and I don’t know what to do
When we’re together I feel like I can stay forever looking at you
It’s heaven in your eyes…

(Heaven in Your Eyes, Tommy Page)