Jumat, 10 April 2009

Nyontreng di Negeri Orang

Gimana...gimanaaa.... Udah pada nyontreng? Saya sudaaah kemaren... Hehehe... Untuk PEMILU di Melbourne, pelaksanaannya di KJRI Melbourne, tempat kami biasa mengurus paspor, lapor datang dan segala macam. Nah, sebetulnya, saya ada kuliah sih di hari Kamis itu, jam 2 sampe jam 5. Sempet niat mau ke KJRI sore aja habis kuliah. Tapi karena Iin bareng M'Devi pada berangkat jam 11, dan mengingat Melbourne udah resmi memasuki autumn, saya pun dengan ikhlasnya berubah pikiran. Itung-itung, kan ga keburu tuh..Pasti bakal telat kuliah. Maka sebagai mahasiswa yang baik dan sopan, saya kirimlah imel ke dosen saya. Singkat, cuma bilang: "I'm going to be a little late to attend the class today. Today is Indonesia's legislative general election, so I am going to the General Consulate of Indonesia in the City today to vote. I do apologize for this". Lagian, untungnya untuk sesi kali ini yang ngajar itu Craig. Dan Craig, dosen saya yang satu ini is soooooo passionate about Indonesia. Kalo ga salah, dia pernah tinggal di Indonesia selama 20 tahun or something.
Berangkat bar
eng M'
Devi dari Bus loop di kampus, dan Iin nyusul kami naik bus yang sama dari stop-an depan rumah. Sampai disana, udah rameeeee banget. Walaupun entah kenapa, saya kok berasa lagi ada di kawinan ya? Habis, TPS nya itu berupa tenda-tenda putih gitu. Kayak tenda stand makanannya orang kawinan. jadi di KJRI itu TPSnya bukan cuma 1, tapi ada 22 kalo ga salah. Satu tenda untuk satu TPS. Anyway, dengan membawa surat undangan dari pihak penyelenggara, muncullah saya di TPS 20.



Setelah dikasih surat suara, masuklah saya ke dalam bilik itu, membuka surat suara, dan...bingung. Aduh, itu surat suara bisa dijadiin tiker buat piknik tuh... GEDEEE banget. Kayak peta dunia. Oh iya, FYI,pemilih di Melbourne memasukkan suara untuk Dapil DKI Jakarta II. Jangan tanya kenapa.
Saya menghabiskan waktu cukup lama di dalam bilik suara. Pertama, karena bingung. Kedua, membuka kertas suaranya udah cukup ribet, dan melipatnya kembali juga lebih ribet
lagi. Ketiga, saya sempat berfoto dengan si surat suara itu :D.


Selesai nyontreng, kami bertiga...makan.Ya dddoooooonggg.... Lagian, mumpung ada yang jualan makanan?? Kan kasian mereka kalo ga ada yang beli....
Setelah menunaikan kewajiban sebagai WNI yang baik, saya pun segera balik ke kampus, biar gimana, teteup mesti kuliah. Apalagi untuk mata kuliah yang satu ini, kehadiran dan partisipasi di kelas ikut dihitung dalam penilaian. Nah, nyampe kelas kan udah jam 3 tuh, Craig udah hampir selesai ngajar. Jadi, baru duduk 15 menit, kuliah yang bagian seminar udah kelar, tinggal presentasi kelompok, tapi break dulu 10 menit. Pas break itu, tanpa disangka, si Craig nanya ke saya: "Milih siapa?", dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sangat fasih. Kaget ditanya gitu, saya langsung jawab: "XXXX, Pak!" (Maaph, dirahasiakan ^_^ ). Craig langsung ketawa dan manggut-manggut: "Bagus...", katanya. Saya yang baru nyadar langsung panik, dan refleks ngomong gini ke dia: "Why did I tell you? It supposed to be a secret! I shouldn't have told you about it!!!". Dia tambah ketawa... Dooohh...susah memang ya kalo suka refleks sendiri. Dua temen sekelas saya yang sama-sama orang Indonesia, Mbak Alia dan Mas Febby pas break itu minta izin pulang ke Craig, buat nyontreng. Eh, kata M'Alia pas awal kelas juga, M'Febby dideketin sama Craig, dan Craig nanya ke M'Febby (sekali lagi, dalam bahasa Indonesia): "Udah nyoblos belum?". Eleuh, sekarang bukan nyoblos lagi pak, NYONTRENG !!! Gimana dengan Anda? Udah pada nyontreng???

Jumat, 03 April 2009

Because There is Something Called "Priority"

Dua hari ini saya lagi full of anger. To one of my "friend". Dooohhh...so much for the friendship... Jadi begini...si teman, anggaplah namanya X, sekitar akhir tahun 2007 (sekitar bulan Oktober kali ya...) menghubungi saya, cerita kalo keluarganya lagi perlu duit. Not that much, cuma perlu sekitar 1,3juta. Nah, karena namanya "teman", oke, saya bilang saya mungkin bisa bantu, tapi bukan pake uang saya. Jadi saya pinjam uang di koperasi atas nama saya, uangnya saya kasihkan si X sebagai pinjaman, dan untuk membayar hutang tersebut, gaji saya dipotong tiap bulan selama 10 bulan. Nah, teman saya bilang dia juga akan membayar ke saya dengan gaya cicilan tersebut. Oke, tiga bulan pertama masih lancar, tapi kemudian saya berangkat sekolah. Otomatis pembayaran dia terhenti. Pernah sih, dia SMS, nanya nomer rekening saya. But still, no progress. Sementara gaji saya masih terus dipotong untuk membayar hutang saya di koperasi (yang uangnya,ironisnya, bukan untuk saya).

Waktu saya pulang kemaren, dia sudah menikah. Waktu kami ketemuan, dia bercerita tentang betapa sulitnya mengatur keuangan setelah berumah tangga. Apalagi waktu itu suaminya belum punya kerjaan tetap. Hutang dia ke saya? Masih dalam tanda tanya besar. Dia berjanji akan segera melunasinya. Sampai saya kembali ke Melbourne, si hutang yang paling-paling tinggal sejuta lebih dikit iru masih ga jelas kapan akan selesai.

And a few weeks ago, the plot of this story got thicker. Temen saya berfesbuk ria, and she is, of course, on my list. I started to get a little bit strucked to read her status once :"Duh,kenapa nih E71-nya?????". Ow.. THAT E71 yang SmartPhone itu? yang 4jutaan itu? hmm..hape baru? bisa beli hape 4 jutaan tapi belum bayar utang? Okay... that's a bit weird..Statusnya beberapa hari kemudian, statusnya ganti lagi dong...jadi " sdg berpikir... Kira2 ke Thailand atau Singapore ya? :)"...Well, gimana kalo berpikir buat bayar utang dulu, mungkin??? But the "knock-out" status is..."X is using BlackBerry Curve Javalin 8900 :)"...Oh. My. God. Belum lagi begitu baca komen di bawahnya, yang nanyain E71nya dikemanain...jawabannya dooong... "E71 ada aja Bu, bwt no yg 1-nya :)", sama "BBnya pake Isat, E71nya pake TSel :) Tp kl ngenetnya lama pke modem HSDPA IM2 dr Isat jg :)"...Oh, pleaaaaseeeee..... Dia memang mengirim message kepada saya lewat fesbuk, bilang kalo dia sebenernya udah sempet pegang cash buat bayr utang ke saya, tapi kepake buat biaya nikahannya dia. Jadi dia janji mau balikin BULAN MEI. Atau kalo kepepet, habis dapat THR di bulan SEPTEMBER. Dengan pikiran baik bahwa dia beli E71 dan BB itu pake uang dia sendiri, saya lalu berpikir, dia sudah punya cukup uang untuk bayar utang yang tinggal 1 juta itu. Saya imel lah dia, bilang kalo perlu uangnya buat benerin lantai di rumah. Dua hari kemudian, dia bales, bilang, kalo boleh, bayarnya habis dia gajian bulan Mei ajah, karena dia lagi habis-habisan buat modal usaha. Jujur, saya udah emosi. Hellooooooooooo??? Dia udah pinjem uang itu lebih dari setahun yang lalu. Dan sungguh, beli gadget yang dia punya sekarang, sementara dia masih punya kewajiban kepada saya yang kalu diliat dari segi nilai, masih di bawaaaah banget dari harga gadget itu??? I just cannot see the logic. Maka saya pun membalas imel dia dengan emosi:
"X, sorry..masalahnya ini buat perbaikan rumah. As I've told you before, buat benerin lantai di rumah. My parents don't really asked for my help *in financial terms*, tapi masa sih aku ga ada kontribusinya sama sekali? And FYI... gajiku sekarang tunjangan fungsionalnya dicabut, gaji pokok (and for God's sake..aku masih dalam golongan IIIa) dipotong 50% selama aku kuliah disini, plus masih dipotong lagi 200rb perbulan untuk menutup potongan 50% yang belum diambil dari gaji Jan-Juli tahun 2008 lalu. Practically, gaji bulananku sekarang udah di bawah UMR. Dan selama 10 bulan di tahun lalu, gajiku sudah dipotong terus untuk melunasi pinjaman yang aku kasih ke kamu. So, please...this time, I really need it. PS: So, now you're using BlackBerry Curve Javelin 8900, huh? a sophisticated gadget...well, you've become such a busy career lady now...well done..."

Please sense the tone for the last part of my e-mail. And for God's sake...I'm not begging her to LEND me any money, I'm asking her to return MY money!!! And guess what I got in my inbox in the next 15 minutes?
"Mungkin besok aq transfer ke rek BNI km Mi. Masalahnya td ga da OB yg bs dimintai tolong. So don't worry deh. Oya,mmg aq pake BB ini jg pke BB. Kl mslh busy, u're absolutely right. Busyyyyyy banget. Ni aja baru pulang dari Batam. Oks deh,see you..."

DOOOOOOOOOOOHHHHHHHHHHHHHHHHH...... Oh, pleaaaseeee.... There is a thing called priority, you know?? She really sensed the tone, though, I must admit. Tapi teteup doongg...mesti dia yang bener. Heran deh, Temen-temen saya disini banyak yang bekerja di instansi yang sama dengan dia, orang pusat pula. dapet beasiswa pula untuk sekolah disini. But none of them yang pernah bersengak-sengak jaya kayak dia. I wonder, how busy is she that she's dying for not having those gadgets instead of paying her debts to me? And I know the estimated amount of her monthly salary, yang adalah sekitar 5 jutaan. And she lives with her husband in her parent's house in BANJARMASIN, bukan di kota metropolitan kayak Jakarta yang buat hidup sehari-hari aja ngajak miskin banget. And it takes more than 1 year for her to pay that debt, but only a few months to own those gadgets???

This is it. Saya sudah bener-bener muak dengan cara dia memperlakukan saya. It's not about the money. It's the irresponsible way that she does in making decision. It's the way she set up her mind about "priority".
I. Just. Can't. Find. The logic in her mind. I can't.

There is something called priority. And obviously, X does not have the same concept of priority with me.

Jumat, 10 April 2009

Nyontreng di Negeri Orang

Gimana...gimanaaa.... Udah pada nyontreng? Saya sudaaah kemaren... Hehehe... Untuk PEMILU di Melbourne, pelaksanaannya di KJRI Melbourne, tempat kami biasa mengurus paspor, lapor datang dan segala macam. Nah, sebetulnya, saya ada kuliah sih di hari Kamis itu, jam 2 sampe jam 5. Sempet niat mau ke KJRI sore aja habis kuliah. Tapi karena Iin bareng M'Devi pada berangkat jam 11, dan mengingat Melbourne udah resmi memasuki autumn, saya pun dengan ikhlasnya berubah pikiran. Itung-itung, kan ga keburu tuh..Pasti bakal telat kuliah. Maka sebagai mahasiswa yang baik dan sopan, saya kirimlah imel ke dosen saya. Singkat, cuma bilang: "I'm going to be a little late to attend the class today. Today is Indonesia's legislative general election, so I am going to the General Consulate of Indonesia in the City today to vote. I do apologize for this". Lagian, untungnya untuk sesi kali ini yang ngajar itu Craig. Dan Craig, dosen saya yang satu ini is soooooo passionate about Indonesia. Kalo ga salah, dia pernah tinggal di Indonesia selama 20 tahun or something.
Berangkat bar
eng M'
Devi dari Bus loop di kampus, dan Iin nyusul kami naik bus yang sama dari stop-an depan rumah. Sampai disana, udah rameeeee banget. Walaupun entah kenapa, saya kok berasa lagi ada di kawinan ya? Habis, TPS nya itu berupa tenda-tenda putih gitu. Kayak tenda stand makanannya orang kawinan. jadi di KJRI itu TPSnya bukan cuma 1, tapi ada 22 kalo ga salah. Satu tenda untuk satu TPS. Anyway, dengan membawa surat undangan dari pihak penyelenggara, muncullah saya di TPS 20.



Setelah dikasih surat suara, masuklah saya ke dalam bilik itu, membuka surat suara, dan...bingung. Aduh, itu surat suara bisa dijadiin tiker buat piknik tuh... GEDEEE banget. Kayak peta dunia. Oh iya, FYI,pemilih di Melbourne memasukkan suara untuk Dapil DKI Jakarta II. Jangan tanya kenapa.
Saya menghabiskan waktu cukup lama di dalam bilik suara. Pertama, karena bingung. Kedua, membuka kertas suaranya udah cukup ribet, dan melipatnya kembali juga lebih ribet
lagi. Ketiga, saya sempat berfoto dengan si surat suara itu :D.


Selesai nyontreng, kami bertiga...makan.Ya dddoooooonggg.... Lagian, mumpung ada yang jualan makanan?? Kan kasian mereka kalo ga ada yang beli....
Setelah menunaikan kewajiban sebagai WNI yang baik, saya pun segera balik ke kampus, biar gimana, teteup mesti kuliah. Apalagi untuk mata kuliah yang satu ini, kehadiran dan partisipasi di kelas ikut dihitung dalam penilaian. Nah, nyampe kelas kan udah jam 3 tuh, Craig udah hampir selesai ngajar. Jadi, baru duduk 15 menit, kuliah yang bagian seminar udah kelar, tinggal presentasi kelompok, tapi break dulu 10 menit. Pas break itu, tanpa disangka, si Craig nanya ke saya: "Milih siapa?", dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar serta sangat fasih. Kaget ditanya gitu, saya langsung jawab: "XXXX, Pak!" (Maaph, dirahasiakan ^_^ ). Craig langsung ketawa dan manggut-manggut: "Bagus...", katanya. Saya yang baru nyadar langsung panik, dan refleks ngomong gini ke dia: "Why did I tell you? It supposed to be a secret! I shouldn't have told you about it!!!". Dia tambah ketawa... Dooohh...susah memang ya kalo suka refleks sendiri. Dua temen sekelas saya yang sama-sama orang Indonesia, Mbak Alia dan Mas Febby pas break itu minta izin pulang ke Craig, buat nyontreng. Eh, kata M'Alia pas awal kelas juga, M'Febby dideketin sama Craig, dan Craig nanya ke M'Febby (sekali lagi, dalam bahasa Indonesia): "Udah nyoblos belum?". Eleuh, sekarang bukan nyoblos lagi pak, NYONTRENG !!! Gimana dengan Anda? Udah pada nyontreng???

Jumat, 03 April 2009

Because There is Something Called "Priority"

Dua hari ini saya lagi full of anger. To one of my "friend". Dooohhh...so much for the friendship... Jadi begini...si teman, anggaplah namanya X, sekitar akhir tahun 2007 (sekitar bulan Oktober kali ya...) menghubungi saya, cerita kalo keluarganya lagi perlu duit. Not that much, cuma perlu sekitar 1,3juta. Nah, karena namanya "teman", oke, saya bilang saya mungkin bisa bantu, tapi bukan pake uang saya. Jadi saya pinjam uang di koperasi atas nama saya, uangnya saya kasihkan si X sebagai pinjaman, dan untuk membayar hutang tersebut, gaji saya dipotong tiap bulan selama 10 bulan. Nah, teman saya bilang dia juga akan membayar ke saya dengan gaya cicilan tersebut. Oke, tiga bulan pertama masih lancar, tapi kemudian saya berangkat sekolah. Otomatis pembayaran dia terhenti. Pernah sih, dia SMS, nanya nomer rekening saya. But still, no progress. Sementara gaji saya masih terus dipotong untuk membayar hutang saya di koperasi (yang uangnya,ironisnya, bukan untuk saya).

Waktu saya pulang kemaren, dia sudah menikah. Waktu kami ketemuan, dia bercerita tentang betapa sulitnya mengatur keuangan setelah berumah tangga. Apalagi waktu itu suaminya belum punya kerjaan tetap. Hutang dia ke saya? Masih dalam tanda tanya besar. Dia berjanji akan segera melunasinya. Sampai saya kembali ke Melbourne, si hutang yang paling-paling tinggal sejuta lebih dikit iru masih ga jelas kapan akan selesai.

And a few weeks ago, the plot of this story got thicker. Temen saya berfesbuk ria, and she is, of course, on my list. I started to get a little bit strucked to read her status once :"Duh,kenapa nih E71-nya?????". Ow.. THAT E71 yang SmartPhone itu? yang 4jutaan itu? hmm..hape baru? bisa beli hape 4 jutaan tapi belum bayar utang? Okay... that's a bit weird..Statusnya beberapa hari kemudian, statusnya ganti lagi dong...jadi " sdg berpikir... Kira2 ke Thailand atau Singapore ya? :)"...Well, gimana kalo berpikir buat bayar utang dulu, mungkin??? But the "knock-out" status is..."X is using BlackBerry Curve Javalin 8900 :)"...Oh. My. God. Belum lagi begitu baca komen di bawahnya, yang nanyain E71nya dikemanain...jawabannya dooong... "E71 ada aja Bu, bwt no yg 1-nya :)", sama "BBnya pake Isat, E71nya pake TSel :) Tp kl ngenetnya lama pke modem HSDPA IM2 dr Isat jg :)"...Oh, pleaaaaseeeee..... Dia memang mengirim message kepada saya lewat fesbuk, bilang kalo dia sebenernya udah sempet pegang cash buat bayr utang ke saya, tapi kepake buat biaya nikahannya dia. Jadi dia janji mau balikin BULAN MEI. Atau kalo kepepet, habis dapat THR di bulan SEPTEMBER. Dengan pikiran baik bahwa dia beli E71 dan BB itu pake uang dia sendiri, saya lalu berpikir, dia sudah punya cukup uang untuk bayar utang yang tinggal 1 juta itu. Saya imel lah dia, bilang kalo perlu uangnya buat benerin lantai di rumah. Dua hari kemudian, dia bales, bilang, kalo boleh, bayarnya habis dia gajian bulan Mei ajah, karena dia lagi habis-habisan buat modal usaha. Jujur, saya udah emosi. Hellooooooooooo??? Dia udah pinjem uang itu lebih dari setahun yang lalu. Dan sungguh, beli gadget yang dia punya sekarang, sementara dia masih punya kewajiban kepada saya yang kalu diliat dari segi nilai, masih di bawaaaah banget dari harga gadget itu??? I just cannot see the logic. Maka saya pun membalas imel dia dengan emosi:
"X, sorry..masalahnya ini buat perbaikan rumah. As I've told you before, buat benerin lantai di rumah. My parents don't really asked for my help *in financial terms*, tapi masa sih aku ga ada kontribusinya sama sekali? And FYI... gajiku sekarang tunjangan fungsionalnya dicabut, gaji pokok (and for God's sake..aku masih dalam golongan IIIa) dipotong 50% selama aku kuliah disini, plus masih dipotong lagi 200rb perbulan untuk menutup potongan 50% yang belum diambil dari gaji Jan-Juli tahun 2008 lalu. Practically, gaji bulananku sekarang udah di bawah UMR. Dan selama 10 bulan di tahun lalu, gajiku sudah dipotong terus untuk melunasi pinjaman yang aku kasih ke kamu. So, please...this time, I really need it. PS: So, now you're using BlackBerry Curve Javelin 8900, huh? a sophisticated gadget...well, you've become such a busy career lady now...well done..."

Please sense the tone for the last part of my e-mail. And for God's sake...I'm not begging her to LEND me any money, I'm asking her to return MY money!!! And guess what I got in my inbox in the next 15 minutes?
"Mungkin besok aq transfer ke rek BNI km Mi. Masalahnya td ga da OB yg bs dimintai tolong. So don't worry deh. Oya,mmg aq pake BB ini jg pke BB. Kl mslh busy, u're absolutely right. Busyyyyyy banget. Ni aja baru pulang dari Batam. Oks deh,see you..."

DOOOOOOOOOOOHHHHHHHHHHHHHHHHH...... Oh, pleaaaseeee.... There is a thing called priority, you know?? She really sensed the tone, though, I must admit. Tapi teteup doongg...mesti dia yang bener. Heran deh, Temen-temen saya disini banyak yang bekerja di instansi yang sama dengan dia, orang pusat pula. dapet beasiswa pula untuk sekolah disini. But none of them yang pernah bersengak-sengak jaya kayak dia. I wonder, how busy is she that she's dying for not having those gadgets instead of paying her debts to me? And I know the estimated amount of her monthly salary, yang adalah sekitar 5 jutaan. And she lives with her husband in her parent's house in BANJARMASIN, bukan di kota metropolitan kayak Jakarta yang buat hidup sehari-hari aja ngajak miskin banget. And it takes more than 1 year for her to pay that debt, but only a few months to own those gadgets???

This is it. Saya sudah bener-bener muak dengan cara dia memperlakukan saya. It's not about the money. It's the irresponsible way that she does in making decision. It's the way she set up her mind about "priority".
I. Just. Can't. Find. The logic in her mind. I can't.

There is something called priority. And obviously, X does not have the same concept of priority with me.