Senin, 25 Januari 2010

Heaven on Earth…

Pernah denger istilah “content” ga? Kalo menurut istilah baku dari kamus Collins nya saya, definisinya adalah: “satisfied with things as they are”. Dengan kata lain, content itu mah bisa merasa berbahagia cukup dengan apa yang ada. Ga usah minta yang muluk-muluk. Ga usah yang aneh-aneh. Saya dan adek saya, misalnya, dengan rendah hatinya kami berdua merasa bahwa salah satu saat yang paling menyenangkan segalaksi raya adalah kalo bisa tidur siang dengan nyaman tanpa merasa dibebani dan dikejar-kejar kerjaan.

Pernah ga merhatiin bahwa anak kecil itu umumnya terlihat begitu damai dan bahagia*kalo dibandingkan kita para orang berumur banyak*? Karena mereka begitu mudah terpesona dengan hal-hal yang bagi kita sepele. Hal-hal kecil yang luput dari perhatian. Kapan terakhir kali kita kagum dengan rintik air hujan? Kapan terakhir kali kita heran kenapa kupu-kupu itu tidak bosen terbang? Kapan terakhir kali kita tertawa melihat kucing yang menguap di pinggir jalan?

Apalagi sekarang ini, berasa ga sih kok kayaknya hidup itu penuh dengan hal-hal yang ga beres? Kasus Century yang malah diselingi acara berantemnya si mantan artis sinetron Gerhana, soal pembobolan rekening yang bikin orang-orang jadi parno dan pada ngeganti PIN ATM, sampai soal rebonding dan foto pre-wedding yang katanya mau diharamkan *lah, itu fatwa soal rokok terus apa kabar ya, kok tiba-tiba udah pada ngurusin poto orang mau kawin?*…

Kayaknya susah banget mau ngerasa seneng…

Tapi, apa memang sesulit itu sih?

Saya bisa merasa senang saat bisa diam sejenak barang semenit untuk menikmati secangkir Nescafe/coffemis panas di pagi hari. Atau minum teh kotak dingin di dalam angkot pas lagi panas-panasnya. Saya berasa seneng kalo ponakan saya memeluk saya sambil menyodorkan pipinya. Saya merasa waktu-waktu saya minum teh panas di malam hari bersama Mama sambil mendengarkan curhatan beliau soal hari itu tak tergantikan oleh apapun. Bahkan, saya tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan waktu melihat foto seseorang yang dulu pernah saya sayangi segenap hati selama bertahun-tahun sedang tertawa bahagia bersama istrinya sambil menggendong anaknya *Tsaaahhh…disempet-sempetin curhat :D*.

Hari saya bisa berasa lebih ceria jaya kalo tiba-tiba lagu jaman dulu yang saya senengin muncul di TV ato di radio. Saya bisa nyengir seharian kalo ada temen yang mengomentari bahwa penampilan saya hari itu cantik. Saya bisa semangat kerja kalo angkot andalan saya langsung berangkat tanpa ngetem terlalu lama. Simple things. Dan itu semua bisa kita temui di setiap hari kita. Kita cuma sering lupa untuk menyadari bahwa hal-hal sederhana semacam itu bisa mengembalikan senyum kita di hari itu.

Our heaven on earth is not that difficult to find. We just need to open our eyes, our ear, and most of all, our heart, to feel that this world is full with things that can make us happier.

Jadi, apa yang membuat anda merasa senang di hari ini?

Rabu, 20 Januari 2010

Ternyata Dia Tidak Seterkenal Itu…

Jujur saja, saya termasuk salah satu dari sekian ribu orang yang tahun lalu memilih Pak Boediono untuk mendampingi SBY memimpin negara ini sampai dengan 5 tahun ke depan. Bahkan sampai saat ini pun, saya tidak mau langsung menuduh beliau paling bersalah lah lah dalam kasus Bank Century. Tapi tetep saja, waktu Pak Boediono datang mengunjungi Banjarmasin hari Sabtu tanggal 16 Januari kemaren, saya ngomel. Karena bagi saya, kedatangan beliau merepotkan. Jalan gede terdekat dari rumah saya ditutup demi kunjungan beliau ke SMKN 4 *yang jaraknya cuma sekitar 200 meter dari rumah saya*. Dan sebagai hasilnya, kalo dalam kondisi normal tentram sejahtera saya cuma jalan sekitar 150 meter udah dapet angkot, sekarang mesti jalan muter sampe SATU SETENGAH KILOMETER demi mendapatkan angkot kuning kebanggaan kota saya itu. Hilang deh usaha saya mencerahkan kulit wajah di hari itu, secara mentari bersinar ceria tralala trilili sementara saya sambil merutuk-rutuk berjalan di bawah payung hitam. Belum lagi jadi banyak tentara-tentara dan para polisi yang tiba-tiba bertebaran dengan selisih jarak 3 depa satu sama lain. Setelah sekitar 1,5 km, akhirnya bersua juga saya dengan angkot kuning terang itu. Selang sekitar 200 meter, ada tiga orang dari satu keluarga dengan perbedaan usia 3 generasi. Jadi ada si Nenek (mari kita sebut dia sebagai si Nini), ada anaknya (yang akan saya sebut sebagai si Acil) dan sang cucu perempuan yang masih ada dalam gendongan si Acil. Selisih 300 meter lagi, ada lagi nih dua orang ibu-ibu yang masuk (selanjutnya akan disebut sebagai Ibu I dan Ibu II). Maka terlibatlah para penumpang angkot ini dalam suatu percakapan berikut. Baidewei, dengan pertimbangan kemudahan membaca, dialog yang seharusnya berlangsung dalam bahasa Banjar yang sangat medok sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sehari-hari.

Ibu I : Banyak polisi ya kalo sudah jam segini

Si Nini: Iya, biasanya ga banyak, apalagi kalo Sabtu gini

Ibu II : Tapi saya seneng lho kalo banyak polisi begini. Rasanya jadi lebih aman.

Si Nini: Bener tuh, jadi maling ga ada yang berani.

Saya: Anu, ini Bu, lagi ada Boediono datang ke Banjar.

Ibu I dan Ibu II: O ya?

Si Nini: Oh, orang penting ya dia? Dia mentri ya?

Saya: *setelah terbatuk-batuk*. Enggak Ni. Pak Boediono itu wakil presiden kita.

Ibu I: Iya, wakilnya SBY

Si Nini: Lho? Jusuf Kalla itu sudah diganti toh?

Ibu II: Um. Iya Bu. Jusuf Kalla sudah ga jadi wakil lagi.

Si Nini: O ya? Sejak kapan? Terus si Boediono ini yang menggantikan Jusuf Kalla itu?

Ibu I: Iya

Saya:… *speechless… Mau ketawa tapi takut kualat sama orang tua*


Ternyata, menjadi RI II pun tidak menjamin popularitas seseorang…

Senin, 25 Januari 2010

Heaven on Earth…

Pernah denger istilah “content” ga? Kalo menurut istilah baku dari kamus Collins nya saya, definisinya adalah: “satisfied with things as they are”. Dengan kata lain, content itu mah bisa merasa berbahagia cukup dengan apa yang ada. Ga usah minta yang muluk-muluk. Ga usah yang aneh-aneh. Saya dan adek saya, misalnya, dengan rendah hatinya kami berdua merasa bahwa salah satu saat yang paling menyenangkan segalaksi raya adalah kalo bisa tidur siang dengan nyaman tanpa merasa dibebani dan dikejar-kejar kerjaan.

Pernah ga merhatiin bahwa anak kecil itu umumnya terlihat begitu damai dan bahagia*kalo dibandingkan kita para orang berumur banyak*? Karena mereka begitu mudah terpesona dengan hal-hal yang bagi kita sepele. Hal-hal kecil yang luput dari perhatian. Kapan terakhir kali kita kagum dengan rintik air hujan? Kapan terakhir kali kita heran kenapa kupu-kupu itu tidak bosen terbang? Kapan terakhir kali kita tertawa melihat kucing yang menguap di pinggir jalan?

Apalagi sekarang ini, berasa ga sih kok kayaknya hidup itu penuh dengan hal-hal yang ga beres? Kasus Century yang malah diselingi acara berantemnya si mantan artis sinetron Gerhana, soal pembobolan rekening yang bikin orang-orang jadi parno dan pada ngeganti PIN ATM, sampai soal rebonding dan foto pre-wedding yang katanya mau diharamkan *lah, itu fatwa soal rokok terus apa kabar ya, kok tiba-tiba udah pada ngurusin poto orang mau kawin?*…

Kayaknya susah banget mau ngerasa seneng…

Tapi, apa memang sesulit itu sih?

Saya bisa merasa senang saat bisa diam sejenak barang semenit untuk menikmati secangkir Nescafe/coffemis panas di pagi hari. Atau minum teh kotak dingin di dalam angkot pas lagi panas-panasnya. Saya berasa seneng kalo ponakan saya memeluk saya sambil menyodorkan pipinya. Saya merasa waktu-waktu saya minum teh panas di malam hari bersama Mama sambil mendengarkan curhatan beliau soal hari itu tak tergantikan oleh apapun. Bahkan, saya tersenyum dan ikut merasakan kebahagiaan waktu melihat foto seseorang yang dulu pernah saya sayangi segenap hati selama bertahun-tahun sedang tertawa bahagia bersama istrinya sambil menggendong anaknya *Tsaaahhh…disempet-sempetin curhat :D*.

Hari saya bisa berasa lebih ceria jaya kalo tiba-tiba lagu jaman dulu yang saya senengin muncul di TV ato di radio. Saya bisa nyengir seharian kalo ada temen yang mengomentari bahwa penampilan saya hari itu cantik. Saya bisa semangat kerja kalo angkot andalan saya langsung berangkat tanpa ngetem terlalu lama. Simple things. Dan itu semua bisa kita temui di setiap hari kita. Kita cuma sering lupa untuk menyadari bahwa hal-hal sederhana semacam itu bisa mengembalikan senyum kita di hari itu.

Our heaven on earth is not that difficult to find. We just need to open our eyes, our ear, and most of all, our heart, to feel that this world is full with things that can make us happier.

Jadi, apa yang membuat anda merasa senang di hari ini?

Rabu, 20 Januari 2010

Ternyata Dia Tidak Seterkenal Itu…

Jujur saja, saya termasuk salah satu dari sekian ribu orang yang tahun lalu memilih Pak Boediono untuk mendampingi SBY memimpin negara ini sampai dengan 5 tahun ke depan. Bahkan sampai saat ini pun, saya tidak mau langsung menuduh beliau paling bersalah lah lah dalam kasus Bank Century. Tapi tetep saja, waktu Pak Boediono datang mengunjungi Banjarmasin hari Sabtu tanggal 16 Januari kemaren, saya ngomel. Karena bagi saya, kedatangan beliau merepotkan. Jalan gede terdekat dari rumah saya ditutup demi kunjungan beliau ke SMKN 4 *yang jaraknya cuma sekitar 200 meter dari rumah saya*. Dan sebagai hasilnya, kalo dalam kondisi normal tentram sejahtera saya cuma jalan sekitar 150 meter udah dapet angkot, sekarang mesti jalan muter sampe SATU SETENGAH KILOMETER demi mendapatkan angkot kuning kebanggaan kota saya itu. Hilang deh usaha saya mencerahkan kulit wajah di hari itu, secara mentari bersinar ceria tralala trilili sementara saya sambil merutuk-rutuk berjalan di bawah payung hitam. Belum lagi jadi banyak tentara-tentara dan para polisi yang tiba-tiba bertebaran dengan selisih jarak 3 depa satu sama lain. Setelah sekitar 1,5 km, akhirnya bersua juga saya dengan angkot kuning terang itu. Selang sekitar 200 meter, ada tiga orang dari satu keluarga dengan perbedaan usia 3 generasi. Jadi ada si Nenek (mari kita sebut dia sebagai si Nini), ada anaknya (yang akan saya sebut sebagai si Acil) dan sang cucu perempuan yang masih ada dalam gendongan si Acil. Selisih 300 meter lagi, ada lagi nih dua orang ibu-ibu yang masuk (selanjutnya akan disebut sebagai Ibu I dan Ibu II). Maka terlibatlah para penumpang angkot ini dalam suatu percakapan berikut. Baidewei, dengan pertimbangan kemudahan membaca, dialog yang seharusnya berlangsung dalam bahasa Banjar yang sangat medok sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sehari-hari.

Ibu I : Banyak polisi ya kalo sudah jam segini

Si Nini: Iya, biasanya ga banyak, apalagi kalo Sabtu gini

Ibu II : Tapi saya seneng lho kalo banyak polisi begini. Rasanya jadi lebih aman.

Si Nini: Bener tuh, jadi maling ga ada yang berani.

Saya: Anu, ini Bu, lagi ada Boediono datang ke Banjar.

Ibu I dan Ibu II: O ya?

Si Nini: Oh, orang penting ya dia? Dia mentri ya?

Saya: *setelah terbatuk-batuk*. Enggak Ni. Pak Boediono itu wakil presiden kita.

Ibu I: Iya, wakilnya SBY

Si Nini: Lho? Jusuf Kalla itu sudah diganti toh?

Ibu II: Um. Iya Bu. Jusuf Kalla sudah ga jadi wakil lagi.

Si Nini: O ya? Sejak kapan? Terus si Boediono ini yang menggantikan Jusuf Kalla itu?

Ibu I: Iya

Saya:… *speechless… Mau ketawa tapi takut kualat sama orang tua*


Ternyata, menjadi RI II pun tidak menjamin popularitas seseorang…