Kamis, 08 April 2010

The Video - Detik (tuk Dikenang)



Sebelumnya, saya kagum pada diri saya sendiri. Karena berhasil juga memasukkan video dalam posting. Keren kali saya ini yak?

Anyway, ini mungkin adalah posting yang ketinggalan pesawat banget. Secara lagu ini ngetop udah sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi tetep ajah, saya cinta mati sama lagu ini. Pertama kali denger waktu saya sekolah kemaren, lewat streaming radio. Dan langsung jatuh cinta setengah mati sama lagu ini.

Pertama, lagunya enak banget buat didengerin. Tipe-tipe lagu yang menurut saya, paaaas banget. Ga mellow, rada nge-rock, tapi ga bikin sakit kepala. Ada yang bilang, rada mirip sama tipe-tipe lagu Japanese Rock gitu. Secara saya ga pernah dengerin lagu model gitu, I would say… whatev… Pokoknya saya suka. Dan suara vokalisnya keren banget.


Kedua, lagu ini dalem banget. Kalo diperhatiin liriknya, sebenernya ini hitungannya lagu sedih deh. Liat aja:


Detik (tuk Dikenang), by The Video

Lantunkan sebait rindumu untukku, penawar rindu
Tak perlu lagi kau sembunyi di kabut cinta yang semu
Ku pun takkan pernah meminta tuk kembali hati ini bersama
Ku tahu di lubuk hatimu, lentera takkan padam karena ku yang terbaik

Reff:
Sudahlah sayangku, jangan pernah sesali yang terjadi
Kini kita bertemu hanya tuk melepaskan rindu
Nikmati detik indah yang mungkin takkan pernah terulang
Semoga bagimu kan menjadi satu yang indah tuk dikenang

Lupakan cinta kita dulu yang kan membuka luka lama
Anggap saja tak pernah ada cerita cinta berdua
Ku pun takkan pernah meminta tuk kembali hati ini bersama
Ku tahu di lubuk hatimu, lentera takkan padam karena ku yang terbaik


Beuh. DALEM. Nancep banget di hati. Tipe lagu kayak gini nih yang saya suka banget. Lagu yang kesannya pahit, tapi ga cengeng. Kebayang dong, betapa saya dengan ekspresi bengong menerawang meresapi setiap makna lagu ini?


Next, saya lalu nyari videonya di YouTube. Begitu ketemu, tambah suka aja sama lagu ini. Konsep videonya menurut saya keren banget. Ga lepas dari makna lagu. Apalagi pada bagian dimana si model cowok dan cewek jalan, gandengan, tapi sambil menolak untuk saling menatap. Kerasa banget emosi lagu ini disitu.


Selain itu, beda sama band-band lain jaman sekarang yang penyanyinya belum apa-apa udah kebanyakan gaya banget. Semua personil band ini disorotnya ala kadarnya. Jarang banget ada personil yang disorot close-up dengan durasi waktu lama. Tapi malah jadinya keren abis. Padahal lho, dari sorotan yang ada, vokalisnya gayanya udah keren banget. Saya suka banget outfitnya dia. Selain itu, gestur dia waktu nyanyi juga WOW banget. Saya ga ngerti siapa yang bikin konsep vidklip ini, but I find that the person seems to have a good sense of humour. Perhatiin deh, selain para personel band dan model vidklip itu, ada alien yang kadang-kadang ikut muncul. Apalagi vidklipnya kan dibikin hitam putih gitu, sementara aliennya itu warna pink, dengan kostum kuning. Love it. I mean, I love the way the director plays with the scenes.


Oh, okay. Faktor lain yang juga bikin saya bisa memutar lagu ini sampai 17 kali dalam sehari: satu baris lirik yang menurut saya pas banget untuk menggambarkan perasaan saya sama sang mantan.

Ku tahu di lubuk hatimu, lentera takkan padam karena ku yang terbaik
With a strong emphasis on the words: ku yang terbaik
He’s not man enough for me. But I know for sure, for him, I am irreplaceable.
^_^

Jumat, 02 April 2010

Diagnosis Medis VS Traditional Way

Bulan Maret kemaren, yang paling menonjol adalah soal saya dan rumah sakit. Dalam sebulan, tiga kali bolak-balik masuk rumah sakit. Pingsan di kantor segala.
Beuh, pokoknya mah, it was HORRIBLE.

Sakit apa sih sebenernya coba? Jadi gini. Memang sudah 1-2 bulan terakhir saya suka merasa sakit di dada. Kadang-kadang nyesek, kadang-kadang nusuk banget, kalo lagi parah banget, saya sampe ga bisa ngapa-ngapain. Sampe-sampe nafas aja susah.
Jadi, oleh dokter keluarga kami *yang waktu kelas 2 SMA dulu sekelas sama adek saya !*, disuruhlah saya periksa EKG.

Oke, saya turuti.

Dan selama ngantri nunggu giliran di RS Ulin, saya setres jaya. Satu-satunya pasien yang berusia di bawah 50 tahun itu SAYA. Yang lainnya aki-aki nini-nini semua. Untungnya, hasil EKG-nya normal.

Next, disuruh foto torax, sama dokter spesialis parunya, disuruh sekalian periksa darah.
Hasil keluar, dokter bilang semua normal. Kecuali hasil lab: kolesterol saya tinggi. Iya,saya ga salah ketik. KOLESTEROL saya tinggi. Kalo normalnya sampe 200 mg/L, kolesterol saya 230 mg/L. Shock ga sih? Saya gitu, lho… SAYA! Yang pernah ketiup angin waktu extreme weather di Melbourne dulu. Saya yang sama temen sekelas saya dulu suka mau diiketin ke lidi, terus disambung dengan benang buat dijadikan layang-layang.

Saking shocknya, besoknya saya langsung makan sop buntut.


Nah, lalu sebenernya sakit apa? Kata doketr saya itu sih, karena EKG dan rontgen normal, kemungkinannya tinggal maag saya emang udah red alert.

Itu diagnosa medis.

Karena saya juga mencari diagnosis tradisional. Dan menurut semua orang-orang yang mendengar gejala-gejala ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa saya ini… MENYAMAK.


Sungguh nama penyakit yang aneh. Bukannya menyamak itu adalah sesuatu yang dilakukan dengan kulit binatang? Ya kan?


Tapi enggak, kalo dalam Bahasa Banjar, menyamak itu adalah nama suatu penyakit dimana ada suatu angin khusus yang bersarang secara permanen di salah satu bagian dalam tubuh. Penyembuhannya? Jalan satu-satunya adalah dengan cara mencabut angin tersebut.


Sementara saya bersikukuh bahwa toh hasil EKG saya baik-baik saja, Mama ribut menelfoni kerabat kami, untuk mencari tahu apakah ada kenalan mereka yang ahli mencabut angin. Dan akhirnya sopir keluarga kami menawarkan diri untuk membawakan seseorang yang menurut dia sudah terkenal jagoan mencabut angin. Denger-denger, sebelumnya pekerjaan si Bapak Pencabut Angin ini adalah petani biasa. Tapi saking sibuknya dia dengan bajir order untuk mencabut angin, ladangnya jadi ga keurus lagi.


Anyway, di hari Jum’at siang, datanglah sopir kami itu dengan Si Bapak Pencabut Angin. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, tetapi dengan membawa sebuah kantong plastik item berisi kapur (bukan kapur tulis tapi) dan seikat daun sirih. Daun sirihnya pun mesti khusus, harus yang urat daunnya saling bertemu.

Saya tadinya biasa-biasa aja, karena mikir paling prosesnya kayak diurut biasa kalo keseleo. Tapi saya mulai dag dig dug waktu si Bapak Pencabut Angin minta carikan sebatang jarum.

Lalu proses pencabutan angin pun dimulai. Si Bapak sempat berpesan pada saya, bahwa apapun yang terjadi, ini hanya sekedar ikhtiar kami untuk mencari kesembuhan. Dia ngingetin saya untuk tetap berdoa memohon kesembuhan kepada Alloh SWT semata. Dan sebelum mulai mengurut, saya sempet mendengar dia membaca Al Fatihah dan salawat.
Awalnya sih biasa saja, malah ga begitu kayak diurut kok rasanya. Tapi lama kelamaan… Ya Tuhaaaannn…
SUUUUUUUUAAAAAAAAAAAKKKKKKKIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT banget!


Padahal kata Mama si Bapak cuma sekedar menekan-nekankan jari-jarinya di punggung saya. Tapi yang saya rasakan, tulang saya serasa dicabut pake tang baja. Serius. Buat teriak kesakitan aja saya udah ga sanggup. Udah gitu, tiap beberapa kali tekanan, si Bapak bersendawa. Beuh. Bener-bener nih kayaknya anginnya dicabut, terus ditransfer ke Bapak Pencabut Angin. Beberapa kali saya merasakan ada sesuatu yang ditempelkan ke punggung saya, diiringi suara ‘pletak!’ kayak kayu patah. Kata Mama yang menyaksikan saya, yang ditempelkan si Bapak di punggung saya itu sebenernya cuma daun sirih. Tapi begitu ditempel, si daun sirih itu langsung layu, diiringi suara patah tadi.


Proses pencabutan angin tersebut kalau berdasarkan jam di dinding hanya berlangsung sekitar 20 menit *tapi bagi saya berasa kayak 5 jam!*. Setelah itu, anehnya, rasa sesak dan menusuk-nusuk di dada saya benar-benar HILANG. Dada saya terasa begitu lega, dibandingkan kondisi saya selama 2 bulan terakhir. Yang masih terasa sakit tinggal punggung saya, bekas-bekas usaha pencabutan tadi.

Beuh.

Ajaib deh pokoknya.


Begitu saya menanyakan apa sih sebenernya sumber penyakit ini, si tukang cabut angin itu cuma menjawab secara ambigu, bahwa salah satu kesulitan kita dengan adanya “dua alam”, (or in other words, keberadaan dunia lain) adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang diinginkan oleh alam yang satunya itu.

Saya langsung menyesal menanyakan hal itu. Entah kenapa, rasanya kok saya lebih tenang kalau ga tahu yaaa…

Anyway, sepertinya sekali ini saya mesti mengakui, bahwa diagnosis tradisional pun kadang-kadang harus diperhitungkan juga…


Kamis, 08 April 2010

The Video - Detik (tuk Dikenang)



Sebelumnya, saya kagum pada diri saya sendiri. Karena berhasil juga memasukkan video dalam posting. Keren kali saya ini yak?

Anyway, ini mungkin adalah posting yang ketinggalan pesawat banget. Secara lagu ini ngetop udah sekitar 2 tahun yang lalu. Tapi tetep ajah, saya cinta mati sama lagu ini. Pertama kali denger waktu saya sekolah kemaren, lewat streaming radio. Dan langsung jatuh cinta setengah mati sama lagu ini.

Pertama, lagunya enak banget buat didengerin. Tipe-tipe lagu yang menurut saya, paaaas banget. Ga mellow, rada nge-rock, tapi ga bikin sakit kepala. Ada yang bilang, rada mirip sama tipe-tipe lagu Japanese Rock gitu. Secara saya ga pernah dengerin lagu model gitu, I would say… whatev… Pokoknya saya suka. Dan suara vokalisnya keren banget.


Kedua, lagu ini dalem banget. Kalo diperhatiin liriknya, sebenernya ini hitungannya lagu sedih deh. Liat aja:


Detik (tuk Dikenang), by The Video

Lantunkan sebait rindumu untukku, penawar rindu
Tak perlu lagi kau sembunyi di kabut cinta yang semu
Ku pun takkan pernah meminta tuk kembali hati ini bersama
Ku tahu di lubuk hatimu, lentera takkan padam karena ku yang terbaik

Reff:
Sudahlah sayangku, jangan pernah sesali yang terjadi
Kini kita bertemu hanya tuk melepaskan rindu
Nikmati detik indah yang mungkin takkan pernah terulang
Semoga bagimu kan menjadi satu yang indah tuk dikenang

Lupakan cinta kita dulu yang kan membuka luka lama
Anggap saja tak pernah ada cerita cinta berdua
Ku pun takkan pernah meminta tuk kembali hati ini bersama
Ku tahu di lubuk hatimu, lentera takkan padam karena ku yang terbaik


Beuh. DALEM. Nancep banget di hati. Tipe lagu kayak gini nih yang saya suka banget. Lagu yang kesannya pahit, tapi ga cengeng. Kebayang dong, betapa saya dengan ekspresi bengong menerawang meresapi setiap makna lagu ini?


Next, saya lalu nyari videonya di YouTube. Begitu ketemu, tambah suka aja sama lagu ini. Konsep videonya menurut saya keren banget. Ga lepas dari makna lagu. Apalagi pada bagian dimana si model cowok dan cewek jalan, gandengan, tapi sambil menolak untuk saling menatap. Kerasa banget emosi lagu ini disitu.


Selain itu, beda sama band-band lain jaman sekarang yang penyanyinya belum apa-apa udah kebanyakan gaya banget. Semua personil band ini disorotnya ala kadarnya. Jarang banget ada personil yang disorot close-up dengan durasi waktu lama. Tapi malah jadinya keren abis. Padahal lho, dari sorotan yang ada, vokalisnya gayanya udah keren banget. Saya suka banget outfitnya dia. Selain itu, gestur dia waktu nyanyi juga WOW banget. Saya ga ngerti siapa yang bikin konsep vidklip ini, but I find that the person seems to have a good sense of humour. Perhatiin deh, selain para personel band dan model vidklip itu, ada alien yang kadang-kadang ikut muncul. Apalagi vidklipnya kan dibikin hitam putih gitu, sementara aliennya itu warna pink, dengan kostum kuning. Love it. I mean, I love the way the director plays with the scenes.


Oh, okay. Faktor lain yang juga bikin saya bisa memutar lagu ini sampai 17 kali dalam sehari: satu baris lirik yang menurut saya pas banget untuk menggambarkan perasaan saya sama sang mantan.

Ku tahu di lubuk hatimu, lentera takkan padam karena ku yang terbaik
With a strong emphasis on the words: ku yang terbaik
He’s not man enough for me. But I know for sure, for him, I am irreplaceable.
^_^

Jumat, 02 April 2010

Diagnosis Medis VS Traditional Way

Bulan Maret kemaren, yang paling menonjol adalah soal saya dan rumah sakit. Dalam sebulan, tiga kali bolak-balik masuk rumah sakit. Pingsan di kantor segala.
Beuh, pokoknya mah, it was HORRIBLE.

Sakit apa sih sebenernya coba? Jadi gini. Memang sudah 1-2 bulan terakhir saya suka merasa sakit di dada. Kadang-kadang nyesek, kadang-kadang nusuk banget, kalo lagi parah banget, saya sampe ga bisa ngapa-ngapain. Sampe-sampe nafas aja susah.
Jadi, oleh dokter keluarga kami *yang waktu kelas 2 SMA dulu sekelas sama adek saya !*, disuruhlah saya periksa EKG.

Oke, saya turuti.

Dan selama ngantri nunggu giliran di RS Ulin, saya setres jaya. Satu-satunya pasien yang berusia di bawah 50 tahun itu SAYA. Yang lainnya aki-aki nini-nini semua. Untungnya, hasil EKG-nya normal.

Next, disuruh foto torax, sama dokter spesialis parunya, disuruh sekalian periksa darah.
Hasil keluar, dokter bilang semua normal. Kecuali hasil lab: kolesterol saya tinggi. Iya,saya ga salah ketik. KOLESTEROL saya tinggi. Kalo normalnya sampe 200 mg/L, kolesterol saya 230 mg/L. Shock ga sih? Saya gitu, lho… SAYA! Yang pernah ketiup angin waktu extreme weather di Melbourne dulu. Saya yang sama temen sekelas saya dulu suka mau diiketin ke lidi, terus disambung dengan benang buat dijadikan layang-layang.

Saking shocknya, besoknya saya langsung makan sop buntut.


Nah, lalu sebenernya sakit apa? Kata doketr saya itu sih, karena EKG dan rontgen normal, kemungkinannya tinggal maag saya emang udah red alert.

Itu diagnosa medis.

Karena saya juga mencari diagnosis tradisional. Dan menurut semua orang-orang yang mendengar gejala-gejala ini, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa saya ini… MENYAMAK.


Sungguh nama penyakit yang aneh. Bukannya menyamak itu adalah sesuatu yang dilakukan dengan kulit binatang? Ya kan?


Tapi enggak, kalo dalam Bahasa Banjar, menyamak itu adalah nama suatu penyakit dimana ada suatu angin khusus yang bersarang secara permanen di salah satu bagian dalam tubuh. Penyembuhannya? Jalan satu-satunya adalah dengan cara mencabut angin tersebut.


Sementara saya bersikukuh bahwa toh hasil EKG saya baik-baik saja, Mama ribut menelfoni kerabat kami, untuk mencari tahu apakah ada kenalan mereka yang ahli mencabut angin. Dan akhirnya sopir keluarga kami menawarkan diri untuk membawakan seseorang yang menurut dia sudah terkenal jagoan mencabut angin. Denger-denger, sebelumnya pekerjaan si Bapak Pencabut Angin ini adalah petani biasa. Tapi saking sibuknya dia dengan bajir order untuk mencabut angin, ladangnya jadi ga keurus lagi.


Anyway, di hari Jum’at siang, datanglah sopir kami itu dengan Si Bapak Pencabut Angin. Mereka datang tidak dengan tangan kosong, tetapi dengan membawa sebuah kantong plastik item berisi kapur (bukan kapur tulis tapi) dan seikat daun sirih. Daun sirihnya pun mesti khusus, harus yang urat daunnya saling bertemu.

Saya tadinya biasa-biasa aja, karena mikir paling prosesnya kayak diurut biasa kalo keseleo. Tapi saya mulai dag dig dug waktu si Bapak Pencabut Angin minta carikan sebatang jarum.

Lalu proses pencabutan angin pun dimulai. Si Bapak sempat berpesan pada saya, bahwa apapun yang terjadi, ini hanya sekedar ikhtiar kami untuk mencari kesembuhan. Dia ngingetin saya untuk tetap berdoa memohon kesembuhan kepada Alloh SWT semata. Dan sebelum mulai mengurut, saya sempet mendengar dia membaca Al Fatihah dan salawat.
Awalnya sih biasa saja, malah ga begitu kayak diurut kok rasanya. Tapi lama kelamaan… Ya Tuhaaaannn…
SUUUUUUUUAAAAAAAAAAAKKKKKKKIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT banget!


Padahal kata Mama si Bapak cuma sekedar menekan-nekankan jari-jarinya di punggung saya. Tapi yang saya rasakan, tulang saya serasa dicabut pake tang baja. Serius. Buat teriak kesakitan aja saya udah ga sanggup. Udah gitu, tiap beberapa kali tekanan, si Bapak bersendawa. Beuh. Bener-bener nih kayaknya anginnya dicabut, terus ditransfer ke Bapak Pencabut Angin. Beberapa kali saya merasakan ada sesuatu yang ditempelkan ke punggung saya, diiringi suara ‘pletak!’ kayak kayu patah. Kata Mama yang menyaksikan saya, yang ditempelkan si Bapak di punggung saya itu sebenernya cuma daun sirih. Tapi begitu ditempel, si daun sirih itu langsung layu, diiringi suara patah tadi.


Proses pencabutan angin tersebut kalau berdasarkan jam di dinding hanya berlangsung sekitar 20 menit *tapi bagi saya berasa kayak 5 jam!*. Setelah itu, anehnya, rasa sesak dan menusuk-nusuk di dada saya benar-benar HILANG. Dada saya terasa begitu lega, dibandingkan kondisi saya selama 2 bulan terakhir. Yang masih terasa sakit tinggal punggung saya, bekas-bekas usaha pencabutan tadi.

Beuh.

Ajaib deh pokoknya.


Begitu saya menanyakan apa sih sebenernya sumber penyakit ini, si tukang cabut angin itu cuma menjawab secara ambigu, bahwa salah satu kesulitan kita dengan adanya “dua alam”, (or in other words, keberadaan dunia lain) adalah kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang diinginkan oleh alam yang satunya itu.

Saya langsung menyesal menanyakan hal itu. Entah kenapa, rasanya kok saya lebih tenang kalau ga tahu yaaa…

Anyway, sepertinya sekali ini saya mesti mengakui, bahwa diagnosis tradisional pun kadang-kadang harus diperhitungkan juga…