Rabu, 14 April 2010

(Masih) soal My Personal Projects

Ini sebenernya posting lanjutan dari posting sebelumnya. Soalnya kalo dijadiin dalam satu posting, panjang banget ternyata…

Karena semangat dari adek-adek saya baik melalui Fansite IC L maupun melalui Facebook, saya lalu mencoba menulis cerita yang baru.

Sesuai jam biologis saya yang biasanya, saya baru menemukan ide untuk judul cerita ini jam 1.30 dini hari. Saya memutuskan memberinya judul : “I Love You, I Love You Not”. Sekitar 1-2 hari setelah cerita ini diposting, ada Twit yang menyebut cerita itu ILYILYN. Saya nyengir. Iya ya… bagus juga… Lucuuu…


Kalau JADOJC lebih mengikuti selera pasar, untuk ILYILYN ini saya jadi agak idealis. Walopun beberapa protes masuk, kenapa si ini ga dimasukin, kenapa si ini dipasangkan sama itu, kok si anu naksirnya malah sama si itu sih, kan lebih cocok sama si ini…


Beberapa malah bilang kalo belum dapet gregetnya, ga kayak JADOJC. Heheheh… ya gitu, sindrom setelah karya pertama kali yaa…


Apalagi, di JADOJC, bukannya GR, tapi saya berhasil mempopulerkan beberapa istilah untuk menyebut Ozy. Tadinya rata-rata komentar tentang Ozy adalah senyumnya manis, lucu, imut. You know, those standard terms. Tapi semenjak JADOJC beredar, dimana saya mulai memperkenalkan istilah senyuman yang bagaikan senyuman malaikat untuk mendeskripsikan senyuman Ozy, para Freenzy lalu menyebut senyuman Ozy sebagai… senyuman seorang malaikat.


HUAHAHAHAHA…

Belum lagi waktu saya menggunakan istilah macam : cowok-dengan-senyuman-yang-lebih-manis-daripada-5-liter-sirup. Tiba-tiba banyak yang menggunakan istilah itu waktu membicarakan Ozy.

That’s my dear, is something that I call the power of words ^_^


Sayangnya, dalam ILYILYN, saya belum berhasil menemukan istilah yang bisa “mengikat” pembaca sampai semacam itu.

Paling pol cuma sebutan “Bang Ozy” aja. Itupun banyak yang protes. Menggelikan, kata mereka.

Iya sih.


HUAHAHAHAHAHA…!!! Saya aja geli kok nulisnya.


Tapi, itu semua adalah masukan bagi saya. Saya tetep jalan. Sekali ini, saya ingin menguatkan karakter, jadi bukan cuma pasang nama adek-adek kontestan IC itu.


Alhamdulillah, sambutannya cukup positif. Terutama pas bagian Prolog. Pas masuk ceritanya sendiri, komennya naik turun. Yah, namanya juga ABG ya, jadi komentar yang masuk, kalo pas bagian Ozy-nya banyak, anak-anak Freenzy seneng, anak-anak Rise pada nyariin Rio. Kalo cerita lagi berfokus pada Rio, RISE langsung bilang ceritanya keren, yang Freenzy langsung nanya, Ozy-nya manaaa??


Huahahahaha…. Saya SUKA mengaduk-aduk emosi mereka ^_^

Sudah dua minggu saya menggarap ILYILYN. File yang saya beri nama PROYEK 4 *waktu itu belum dapet judul* berdasarkan info yang saya liat di lappy saya dibuat pas tanggal 1 April. Ceritanya sendiri baru diposting sekitar 4-5 terakhir ini.

Aslinya, saya sudah mengetik sampai 85 halaman, tapi yang dipublish di fansite baru sampai part 9. Dan itu belum taaamaaaattt!!! Duh. Saya aja sampai geleng-geleng kepala sendiri. Soalnya saya suka tiba-tiba punya ide untuk bikin scene tambahan.


Saya sempet agak ragu sih sama cerita ini, karena kalo di cerita sebelumnya Ozy itu diprofilkan sebagai cowok idola banget, disini dia malah saya bikin jadi anak yang “cacat” abis kelakuannya. Untunglah pembaca ga pada protes, malah pada seneng… Heuu…


ILYILYN ini juga saya lebih serius nulisnya. Saya sambil browsing tips-tips menulis. Googling tentang apa saja yang lagi ngetrend di kalangan anak muda. Saya sampai dengan penuh perhatian memperhatikan tipe-tipe mobil yang lewat di jalan dalam perjalanan pulang-pergi ke kantor hanya untuk mencari tipe mobil yang paling cocok untuk dipakai tokoh utama.
Bikin matriks tokoh, kayak yang disarankan Adhitya Mulya.

Dan kejadian itu terus berulang, saya berangkat tidur sambil membayangkan berbagai adegan yang menunggu untuk dinarasikan dalam ILYILYN.

ILYILYN memang berbeda dari JADOJC. Tapi ada satu kesamaan: pengerjaan kedua proyek ini membuat saya senang. Menjadi ekstasi baru bagi saya. Both of them successfully put a big grin on my face. Oh, okay. It's not just a big grin. It's a BIG SILLY GRIN. Sampai Sunardi, kolega saya, kesel sendiri, dan menulis gini di Fesbuk saya: "berhentilah menjadi seorang ABG berusia 29 tahun, masih banyak realita lain dalam hidup ini selain dodol-dodol itu"

HUAHAHAHAHA...
Ah, biarin ah... Bodo ;p. Saya hepi ini kok...

Ada yang penasaran sama JADOJC? Salah seorang adek saya dengan baik hatinya bikin link lengkap di blognya untuk bisa membaca cerita saya *Makasih ya Sakuraaa…^_^*.


Coba deh, liat di link yang dibikinin Sakura ini.



Link untuk cerpen saya yang Acha dan Sang Burung Kenari Kuning juga bisa diliat disitu. Proyek ILYILYN yang ditampilkan Sakura disitu adalah link untuk yang versi blog dalam fansite, jadi navigasinya jauh lebih gampang untuk baca dari satu part ke part lainnya. Tinggal klik Next Post atau Previous Post di bagian bawah posting.


Kalo sempet, please have a look. And I would really appreciate it kalau anda bersedia memberikan kritik dan masukan. Karena saya tidak ingin JADOJC menjadi satu-satunya tulisan saya.


My Personal Projects

Saya lagi punya proyek pribadi. JADOJC, yang sudah rampung, dan ILYILYN.
Singkatan di atas aneh ya? JADOJC, ILYLIYN. Apa sih dua kata aneh itu? They’re titles of my stories…

Sekitar sebulan yang lalu saya memulai proyek kecil-kecilan ini, membuat cerita bersambung, waktu itu saya udah posting soal itu disini. Nah, saking ga ada inspirasinya soal judul, saya buatlah judul seadanya: “Jika Acha dan Ozy Jatuh Cinta”, yang pada akhirnya disingkat jadi JADOJC.

Waktu itu, yang saya tahu adalah saya betul-betul menikmati menulis cerita itu. Apalagi saya bisa sambil cengengesan sendiri membayangkan adek-adek IC itu berperan dalam cerita saya.

Well, what I didn’t know was… the story went further that I’ve ever expected. In terms of people’s response, I mean.

Sebenarnya komentar-komentar di fansite saja sudah betul-betul menyemangati saya dengan pujian-pujian mereka. Tapi saya sangat tergelitik dengan komentar dari Nanda, yang meng-kopas cerita ini di Notes dia di Facebook. Dia bilang Notes dia udah full-tag, dan masih banyak yang (memaksa) minta di-tag.
Dengan penasaran, malam itu saya add dia di Facebook. Besoknya, dia approve. Dan saya lalu iseng ngecek akun dia, di kantor. Kesalahan besar. Karena saya jadi pengen nangis.

Komentar-komentar di Notes itu semua menyatakan betapa teman-teman Nanda sangat menyukai cerita ini. Dan Nanda ternyata tidak bohong waktu dia bilang banyak yang minta di-tag. Wall Nanda sampai penuh bukan dengan post yang isinya tentang Nanda sendiri, tapi dengan pertanyaan orang-orang mengenai JADOJC ini. Saya terharu melihat antusiasme mereka, apalagi waktu membaca komentar seseorang yang sampai mau mencari alamat imel RCTI untuk menyarankan agar Notes saya ini dijadiin sinetron. Halah. Tapi saya seneeeeng banget.


Sebelumnya saya hanya menggunakan nama pena saya: justami sebagai identitas penulis. Lama kelamaan, akhirnya saya me-reveal nama asli dan akun Facebook saya pada temen-temen fesbuknya Nanda. Dan tiba-tiba aja, banyaaaak sekali adek-adek yang meng-add saya. Gampang sekali bagi saya untuk mengenali bahwa mereka adalah pembaca JADOJC. Karena nama-nama mereka ditulis dengan gaya ABG, dan mereka tidak malu-malu untukmencantumkan identitas mereka sebagai Freenzy (fansnya Ozy), RISE (fansnya Rio) atau GFC (Gabriel fans Club).
Ketika akhirnya saya menamatkan cerita ini di Part 28, rasanya campur aduk. Seneng, lega, tapi juga sedih karena harus berpisah dengan cerita ini. Beberapa komentar di Facebook malah menyuruh saya untuk melanjutkan cerita ini. DOH. Emangnya sinetron striping??? Di fansite sendiri, jumlah komentar yang masuk memecahkan rekor…Huahahaha… Oh iya, saya udah pernah bilang kan bahwa sebenernya inspirasi utama dari cerita JADOJC ini adalah adek kecil yang senyumnya bagaikan malaikat ini?
OZY!

Jadi waktu Ozy tinggal kelas di Lima Besar, saya nangis darah sambil garuk-garuk tanah sampai sedalam 5 kilometer. Ga mood sampe berhari-hari. Posting cerita ogah-ogahan. Tapi justru karena rasa kehilangan yang amat sangat itu, saya jadi terinspirasi u
ntuk menulis satu cerita pendek. Jadilah cerita “Acha dan Sang Burung Kenari Kuning”. Saya posting deh cerpen itu di fansite. Ternyata, komentar yang masuk juga cukup mengagetkan saya. Rata-rata mengatakan cerpen saya itu sangat menyentuh. Mungkin karena terbawa perasaan kecewa juga kali ya karena Ozy tinggal kelas..hehehe… seperti biasa, humasnya saya di FB, si Nanda, memposting cerita ini di Notes-nya dia. Dan jumlah komentar yang masuk menyentuh angka 50an lebih.

Yang pasti, saya merasa menemukan banyak hal baru selama saya mengerjakan proyek ini.

After so long, I finally find that I really have the passion for writing.
Rasanya seneng banget pas tau bahwa yang saya tulis bisa menghibur mereka. It’s just so nice setiap kali ada post baru di wall saya
yang mengatakan that they love my story, dan menyemangati saya untuk menulis lagi.


PADAHAL lho yaa… saya bukan tipe pembaca TeenLit. SERIUS. Dunia remaja yang warna-warni seperti permen lolipop itu sepertinya sudah terlalu jauh dari dunia saya. Makanya, kalau saya baca sendiri JADOJC itu, saya suka garuk-garuk kepala sendiri. Kok bisaaaa saya nulis hal-hal kayak gini… Saya sampai geleng-geleng kepala sendiri. Karena menurut saya, JADOJC itu betul-betul, well, bukan tipe cerita yang saya suka. Penokohan karakternya kurang kuat. Pemilihan kata yang suka rada lebay. Adegan romantis ala drama Korea. Saya sampai suka heran sendiri, apa sih yang mereka suka dari cerita saya itu?
Enihooooowww… Tetep aja saya seneng kalau adek-adek saya itu pada suka.
Makanya salah satu alasan saya punya Twitter kemaren adalah karena saya menemukan bahwa JADOJC beberapa kali dibahas di Twit. HAHAHAHA… Ada yang ngetwit gini: “Mungkin Mbak Ami punya Twit? Mau minta lanjutin JADOJC”.


Memang sih, penulisan cerita ini membuat beberapa perubahan yang cukup signifikan dalam hidup saya. Saya jadi kurang konsen ke kerjaan saya. Sebagai contoh, berkas usulan kenaikan pangkat saya sampai tertunda 4 mingguan. Belum lagi koreksian mid itu. Masih untung tugas artikel mahasiswa itu berhasil saya koreksi dalam waktu hanya 2 hari. Rata-rata, saya baru tidur di atas jam satu malem, karena inspirasi saya ngalirnya ya setelah lewat jam 11 malem…
Ada yang jadi temennya saya di Facebook? Well, now you have a clearer idea kenapa wall saya jadi agak berhiaskan nama-nama ABG dan tulisan-tulisannya mereka. Si Ita aja, adek saya yang asli dan sebener-benernya, sampai ngakak jaya waktu nelfon saya dan menyatakan keheranannya atas isi wall saya akhir-akhir ini.
Saya sampai sempat merasa bahwa mungkin saya sudah memilih profesi yang salah. Pada waktu rekan-rekan kerja saya sibuk membahas proposal Hibah Strategis (or something sounds like that), yang saya pikirkan setengah mati adalah, gimana cara tokoh saya nembak cewek incerannya secara romantis, tapi ga terkesan cheesy, dan masih ada unsur lucunya? Makanya, saya sangat iri sekali pada teman SMA saya ini yang bisa menjadi penulis, udah bikin 3 novel lagi (atau 4 sih?) Hiks… *Duduk di pojokan sambil nangis*


Tapi, tetap saja, banyak sekali kesenangan yang saya peroleh lewat proyek kecil ini. Perasaan bahwa saya bisa menghasilkan sesuatu yang disukai orang lain, my GOD, it’s jus AWESOME! Dan saya jadi bertemu dengan banyaaaak teman-teman baru. Yang juga sama-sama lagi belajar menulis. Beneran deh, sebagian besar dari mereka memang berbakat. JeHA, seriously, saya SUKA banget sama tulisan kamu. Dan Ann, tentu saja, yang pilihan kata-katanya bener-bener bikin perasaan saya terbawa sesuai cerita *walopun saya masih ga terima Gabriel dibikin botak… TIDAAAKKK!!!*. Seneeeeng banget bisa share sama mereka-mereka.


Sekali lagi, saya jadi sering kali mendongak ke atas sambil berbisik, Terima kasih Ya Alloh.

Karena lewat semua ini, saya jadi semakin yakin dan menyadari, bahwa Dia memang selalu punya cara untuk membuat saya merasa bahagia. Saya sering mikir, waktu IC2 dulu juga saya suka nonton. Tapi entah kenapa, waktu IC3 ini baru saya punya feel untuk menulis cerita tentang mereka. Ya bagus sih, secara waktu IC2 tayang, kan saya lagi nulis tesis…huahahaha…
See, once again, Tuhan memang punya cara-Nya sendiri untuk membahagiakan umatNya. Termasuk saya…
PS: To Farah: You’re ABSOLUTELY right. Menulis itu memang SANGAT menyenangkan ^^

PS (lagi): Nanda bela-belain ngedit gambar ini untuk dipajang di Notes-nya, and I LOVE it! Thanks ya Nanda… *peyuk-p
eyuk*

Rabu, 14 April 2010

(Masih) soal My Personal Projects

Ini sebenernya posting lanjutan dari posting sebelumnya. Soalnya kalo dijadiin dalam satu posting, panjang banget ternyata…

Karena semangat dari adek-adek saya baik melalui Fansite IC L maupun melalui Facebook, saya lalu mencoba menulis cerita yang baru.

Sesuai jam biologis saya yang biasanya, saya baru menemukan ide untuk judul cerita ini jam 1.30 dini hari. Saya memutuskan memberinya judul : “I Love You, I Love You Not”. Sekitar 1-2 hari setelah cerita ini diposting, ada Twit yang menyebut cerita itu ILYILYN. Saya nyengir. Iya ya… bagus juga… Lucuuu…


Kalau JADOJC lebih mengikuti selera pasar, untuk ILYILYN ini saya jadi agak idealis. Walopun beberapa protes masuk, kenapa si ini ga dimasukin, kenapa si ini dipasangkan sama itu, kok si anu naksirnya malah sama si itu sih, kan lebih cocok sama si ini…


Beberapa malah bilang kalo belum dapet gregetnya, ga kayak JADOJC. Heheheh… ya gitu, sindrom setelah karya pertama kali yaa…


Apalagi, di JADOJC, bukannya GR, tapi saya berhasil mempopulerkan beberapa istilah untuk menyebut Ozy. Tadinya rata-rata komentar tentang Ozy adalah senyumnya manis, lucu, imut. You know, those standard terms. Tapi semenjak JADOJC beredar, dimana saya mulai memperkenalkan istilah senyuman yang bagaikan senyuman malaikat untuk mendeskripsikan senyuman Ozy, para Freenzy lalu menyebut senyuman Ozy sebagai… senyuman seorang malaikat.


HUAHAHAHAHA…

Belum lagi waktu saya menggunakan istilah macam : cowok-dengan-senyuman-yang-lebih-manis-daripada-5-liter-sirup. Tiba-tiba banyak yang menggunakan istilah itu waktu membicarakan Ozy.

That’s my dear, is something that I call the power of words ^_^


Sayangnya, dalam ILYILYN, saya belum berhasil menemukan istilah yang bisa “mengikat” pembaca sampai semacam itu.

Paling pol cuma sebutan “Bang Ozy” aja. Itupun banyak yang protes. Menggelikan, kata mereka.

Iya sih.


HUAHAHAHAHAHA…!!! Saya aja geli kok nulisnya.


Tapi, itu semua adalah masukan bagi saya. Saya tetep jalan. Sekali ini, saya ingin menguatkan karakter, jadi bukan cuma pasang nama adek-adek kontestan IC itu.


Alhamdulillah, sambutannya cukup positif. Terutama pas bagian Prolog. Pas masuk ceritanya sendiri, komennya naik turun. Yah, namanya juga ABG ya, jadi komentar yang masuk, kalo pas bagian Ozy-nya banyak, anak-anak Freenzy seneng, anak-anak Rise pada nyariin Rio. Kalo cerita lagi berfokus pada Rio, RISE langsung bilang ceritanya keren, yang Freenzy langsung nanya, Ozy-nya manaaa??


Huahahahaha…. Saya SUKA mengaduk-aduk emosi mereka ^_^

Sudah dua minggu saya menggarap ILYILYN. File yang saya beri nama PROYEK 4 *waktu itu belum dapet judul* berdasarkan info yang saya liat di lappy saya dibuat pas tanggal 1 April. Ceritanya sendiri baru diposting sekitar 4-5 terakhir ini.

Aslinya, saya sudah mengetik sampai 85 halaman, tapi yang dipublish di fansite baru sampai part 9. Dan itu belum taaamaaaattt!!! Duh. Saya aja sampai geleng-geleng kepala sendiri. Soalnya saya suka tiba-tiba punya ide untuk bikin scene tambahan.


Saya sempet agak ragu sih sama cerita ini, karena kalo di cerita sebelumnya Ozy itu diprofilkan sebagai cowok idola banget, disini dia malah saya bikin jadi anak yang “cacat” abis kelakuannya. Untunglah pembaca ga pada protes, malah pada seneng… Heuu…


ILYILYN ini juga saya lebih serius nulisnya. Saya sambil browsing tips-tips menulis. Googling tentang apa saja yang lagi ngetrend di kalangan anak muda. Saya sampai dengan penuh perhatian memperhatikan tipe-tipe mobil yang lewat di jalan dalam perjalanan pulang-pergi ke kantor hanya untuk mencari tipe mobil yang paling cocok untuk dipakai tokoh utama.
Bikin matriks tokoh, kayak yang disarankan Adhitya Mulya.

Dan kejadian itu terus berulang, saya berangkat tidur sambil membayangkan berbagai adegan yang menunggu untuk dinarasikan dalam ILYILYN.

ILYILYN memang berbeda dari JADOJC. Tapi ada satu kesamaan: pengerjaan kedua proyek ini membuat saya senang. Menjadi ekstasi baru bagi saya. Both of them successfully put a big grin on my face. Oh, okay. It's not just a big grin. It's a BIG SILLY GRIN. Sampai Sunardi, kolega saya, kesel sendiri, dan menulis gini di Fesbuk saya: "berhentilah menjadi seorang ABG berusia 29 tahun, masih banyak realita lain dalam hidup ini selain dodol-dodol itu"

HUAHAHAHAHA...
Ah, biarin ah... Bodo ;p. Saya hepi ini kok...

Ada yang penasaran sama JADOJC? Salah seorang adek saya dengan baik hatinya bikin link lengkap di blognya untuk bisa membaca cerita saya *Makasih ya Sakuraaa…^_^*.


Coba deh, liat di link yang dibikinin Sakura ini.



Link untuk cerpen saya yang Acha dan Sang Burung Kenari Kuning juga bisa diliat disitu. Proyek ILYILYN yang ditampilkan Sakura disitu adalah link untuk yang versi blog dalam fansite, jadi navigasinya jauh lebih gampang untuk baca dari satu part ke part lainnya. Tinggal klik Next Post atau Previous Post di bagian bawah posting.


Kalo sempet, please have a look. And I would really appreciate it kalau anda bersedia memberikan kritik dan masukan. Karena saya tidak ingin JADOJC menjadi satu-satunya tulisan saya.


My Personal Projects

Saya lagi punya proyek pribadi. JADOJC, yang sudah rampung, dan ILYILYN.
Singkatan di atas aneh ya? JADOJC, ILYLIYN. Apa sih dua kata aneh itu? They’re titles of my stories…

Sekitar sebulan yang lalu saya memulai proyek kecil-kecilan ini, membuat cerita bersambung, waktu itu saya udah posting soal itu disini. Nah, saking ga ada inspirasinya soal judul, saya buatlah judul seadanya: “Jika Acha dan Ozy Jatuh Cinta”, yang pada akhirnya disingkat jadi JADOJC.

Waktu itu, yang saya tahu adalah saya betul-betul menikmati menulis cerita itu. Apalagi saya bisa sambil cengengesan sendiri membayangkan adek-adek IC itu berperan dalam cerita saya.

Well, what I didn’t know was… the story went further that I’ve ever expected. In terms of people’s response, I mean.

Sebenarnya komentar-komentar di fansite saja sudah betul-betul menyemangati saya dengan pujian-pujian mereka. Tapi saya sangat tergelitik dengan komentar dari Nanda, yang meng-kopas cerita ini di Notes dia di Facebook. Dia bilang Notes dia udah full-tag, dan masih banyak yang (memaksa) minta di-tag.
Dengan penasaran, malam itu saya add dia di Facebook. Besoknya, dia approve. Dan saya lalu iseng ngecek akun dia, di kantor. Kesalahan besar. Karena saya jadi pengen nangis.

Komentar-komentar di Notes itu semua menyatakan betapa teman-teman Nanda sangat menyukai cerita ini. Dan Nanda ternyata tidak bohong waktu dia bilang banyak yang minta di-tag. Wall Nanda sampai penuh bukan dengan post yang isinya tentang Nanda sendiri, tapi dengan pertanyaan orang-orang mengenai JADOJC ini. Saya terharu melihat antusiasme mereka, apalagi waktu membaca komentar seseorang yang sampai mau mencari alamat imel RCTI untuk menyarankan agar Notes saya ini dijadiin sinetron. Halah. Tapi saya seneeeeng banget.


Sebelumnya saya hanya menggunakan nama pena saya: justami sebagai identitas penulis. Lama kelamaan, akhirnya saya me-reveal nama asli dan akun Facebook saya pada temen-temen fesbuknya Nanda. Dan tiba-tiba aja, banyaaaak sekali adek-adek yang meng-add saya. Gampang sekali bagi saya untuk mengenali bahwa mereka adalah pembaca JADOJC. Karena nama-nama mereka ditulis dengan gaya ABG, dan mereka tidak malu-malu untukmencantumkan identitas mereka sebagai Freenzy (fansnya Ozy), RISE (fansnya Rio) atau GFC (Gabriel fans Club).
Ketika akhirnya saya menamatkan cerita ini di Part 28, rasanya campur aduk. Seneng, lega, tapi juga sedih karena harus berpisah dengan cerita ini. Beberapa komentar di Facebook malah menyuruh saya untuk melanjutkan cerita ini. DOH. Emangnya sinetron striping??? Di fansite sendiri, jumlah komentar yang masuk memecahkan rekor…Huahahaha… Oh iya, saya udah pernah bilang kan bahwa sebenernya inspirasi utama dari cerita JADOJC ini adalah adek kecil yang senyumnya bagaikan malaikat ini?
OZY!

Jadi waktu Ozy tinggal kelas di Lima Besar, saya nangis darah sambil garuk-garuk tanah sampai sedalam 5 kilometer. Ga mood sampe berhari-hari. Posting cerita ogah-ogahan. Tapi justru karena rasa kehilangan yang amat sangat itu, saya jadi terinspirasi u
ntuk menulis satu cerita pendek. Jadilah cerita “Acha dan Sang Burung Kenari Kuning”. Saya posting deh cerpen itu di fansite. Ternyata, komentar yang masuk juga cukup mengagetkan saya. Rata-rata mengatakan cerpen saya itu sangat menyentuh. Mungkin karena terbawa perasaan kecewa juga kali ya karena Ozy tinggal kelas..hehehe… seperti biasa, humasnya saya di FB, si Nanda, memposting cerita ini di Notes-nya dia. Dan jumlah komentar yang masuk menyentuh angka 50an lebih.

Yang pasti, saya merasa menemukan banyak hal baru selama saya mengerjakan proyek ini.

After so long, I finally find that I really have the passion for writing.
Rasanya seneng banget pas tau bahwa yang saya tulis bisa menghibur mereka. It’s just so nice setiap kali ada post baru di wall saya
yang mengatakan that they love my story, dan menyemangati saya untuk menulis lagi.


PADAHAL lho yaa… saya bukan tipe pembaca TeenLit. SERIUS. Dunia remaja yang warna-warni seperti permen lolipop itu sepertinya sudah terlalu jauh dari dunia saya. Makanya, kalau saya baca sendiri JADOJC itu, saya suka garuk-garuk kepala sendiri. Kok bisaaaa saya nulis hal-hal kayak gini… Saya sampai geleng-geleng kepala sendiri. Karena menurut saya, JADOJC itu betul-betul, well, bukan tipe cerita yang saya suka. Penokohan karakternya kurang kuat. Pemilihan kata yang suka rada lebay. Adegan romantis ala drama Korea. Saya sampai suka heran sendiri, apa sih yang mereka suka dari cerita saya itu?
Enihooooowww… Tetep aja saya seneng kalau adek-adek saya itu pada suka.
Makanya salah satu alasan saya punya Twitter kemaren adalah karena saya menemukan bahwa JADOJC beberapa kali dibahas di Twit. HAHAHAHA… Ada yang ngetwit gini: “Mungkin Mbak Ami punya Twit? Mau minta lanjutin JADOJC”.


Memang sih, penulisan cerita ini membuat beberapa perubahan yang cukup signifikan dalam hidup saya. Saya jadi kurang konsen ke kerjaan saya. Sebagai contoh, berkas usulan kenaikan pangkat saya sampai tertunda 4 mingguan. Belum lagi koreksian mid itu. Masih untung tugas artikel mahasiswa itu berhasil saya koreksi dalam waktu hanya 2 hari. Rata-rata, saya baru tidur di atas jam satu malem, karena inspirasi saya ngalirnya ya setelah lewat jam 11 malem…
Ada yang jadi temennya saya di Facebook? Well, now you have a clearer idea kenapa wall saya jadi agak berhiaskan nama-nama ABG dan tulisan-tulisannya mereka. Si Ita aja, adek saya yang asli dan sebener-benernya, sampai ngakak jaya waktu nelfon saya dan menyatakan keheranannya atas isi wall saya akhir-akhir ini.
Saya sampai sempat merasa bahwa mungkin saya sudah memilih profesi yang salah. Pada waktu rekan-rekan kerja saya sibuk membahas proposal Hibah Strategis (or something sounds like that), yang saya pikirkan setengah mati adalah, gimana cara tokoh saya nembak cewek incerannya secara romantis, tapi ga terkesan cheesy, dan masih ada unsur lucunya? Makanya, saya sangat iri sekali pada teman SMA saya ini yang bisa menjadi penulis, udah bikin 3 novel lagi (atau 4 sih?) Hiks… *Duduk di pojokan sambil nangis*


Tapi, tetap saja, banyak sekali kesenangan yang saya peroleh lewat proyek kecil ini. Perasaan bahwa saya bisa menghasilkan sesuatu yang disukai orang lain, my GOD, it’s jus AWESOME! Dan saya jadi bertemu dengan banyaaaak teman-teman baru. Yang juga sama-sama lagi belajar menulis. Beneran deh, sebagian besar dari mereka memang berbakat. JeHA, seriously, saya SUKA banget sama tulisan kamu. Dan Ann, tentu saja, yang pilihan kata-katanya bener-bener bikin perasaan saya terbawa sesuai cerita *walopun saya masih ga terima Gabriel dibikin botak… TIDAAAKKK!!!*. Seneeeeng banget bisa share sama mereka-mereka.


Sekali lagi, saya jadi sering kali mendongak ke atas sambil berbisik, Terima kasih Ya Alloh.

Karena lewat semua ini, saya jadi semakin yakin dan menyadari, bahwa Dia memang selalu punya cara untuk membuat saya merasa bahagia. Saya sering mikir, waktu IC2 dulu juga saya suka nonton. Tapi entah kenapa, waktu IC3 ini baru saya punya feel untuk menulis cerita tentang mereka. Ya bagus sih, secara waktu IC2 tayang, kan saya lagi nulis tesis…huahahaha…
See, once again, Tuhan memang punya cara-Nya sendiri untuk membahagiakan umatNya. Termasuk saya…
PS: To Farah: You’re ABSOLUTELY right. Menulis itu memang SANGAT menyenangkan ^^

PS (lagi): Nanda bela-belain ngedit gambar ini untuk dipajang di Notes-nya, and I LOVE it! Thanks ya Nanda… *peyuk-p
eyuk*