Jumat, 28 Desember 2007
Hadiahnya Sunardi
Sabtu tanggal 24 November kemaren, Sunardi sms aku, nanyain aku pernah baca novel 5 cm apa belum, kalo belum, dia mau ngasih. Gua dengan teganya (mengingat sejarah PS Kimia yang lebih banyak diisi dengan adegan berantem mulut antara kami berdua) menuduh dia punya maksud tersembunyi untuk mengurus hal-hal di kampus…Hehehe…gua tega ya? Eh, ternyata dia tulus nian menghadiahkan buku itu…. Wah, jadi terharu euy… Dia bilang, waktu baca buku itu, dia langsung punya feeling kalo aku bakalan suka buku itu. Hm... feelingnya Sunardi suka agak meragukan sih sebenernya, tapi ya...let’s give it a try...
Hari Kamis, bukunya nyampe. Tapi karena daerah tempat tinggalku di list sebagai daerah yang harus gelap gulita di malam itu, ketunda deh bacanya…
Nah, gua baru baca buku itu mulai Jum’at malem, dan waktu aku nulis ini…udah selesai dibaca…
Well… gua sebenernya males mengatakan hal ini…tapi…feeling Sunardi bener! Hah…I really hate it when he’s right,, secara gua kan hobi mendebat diri dia untuk berbagai hal…
Sialan, Sunardi lewat bukunya itu sukses bikin gua nangiiiiiisss…. Bener-bener nangis sesenggukan pula… gua lupa, kapan terakhir kali gua nangis kayak gini karena baca buku. Di bagian-bagian awal sih, lucunya rada maksa, dan aku sempet curiga bahwa Sunardi ’mengira’ aku suka buku ini karena banyak ungkapan-ungkapannya yang sebenernya kalo menurut aku, lebih mirip dengan gaya (maunya) romantis-nya si Sunardi sendiri. Tapiii...pas udah bagian perjalanan mereka ke Mahameru...udah deh, I just couldn’t stop to keep on reading… Apalagi semangat nasionalisme yang muncul di buku itu, simpati dan empati terhadap para less fortunate people… Haduuh…gua jadi malu sendiri. Selama ini aku merasa bahwa aku punya nasionalisme yang cukup tinggi (perlu bukti? Aku selalu terharu denger lagu Indonesia Raya. Dimanapun. ). Tapi… buku itu membuat aku bertanya sendiri…kalo emang aku cinta negara ini, aku udah ngapain sih? Asli, banyak banget pelajaran dan quote yang bisa bikin kita merenung dari buku itu. Bahwa Tuhan itu Maha Bijaksana dengan segala keputusan-Nya, bahwa kita sudah dikasih kesempatan sama Dia untuk menjadi orang BAIK….
Bahkan secara ajaib, aku yang suka ribet dan lebih memilih duduk manis di rumah daripada harus hiking dan hal-hal semacam itu, tiba-tiba pengen ke Mahameru.
Aku sempet dengan geernya berpikir, bahwa Sunardi inget sama aku pas baca buku itu karena aku mirip dengan Riani…ternyata…”Kan banyak teks lagunya Mi…”. Gitu doang ternyata alasan dia. Hehehe… Anyway, Mas Sunardi, terima kasih banyak bukunya… I really appreciate it… Maaf meragukan ketulusanmu (Halah!)… Semoga IP-nya bagus!
Selasa, 02 Oktober 2007
Marriageable, by Riri Sardjono
Duhai mbak Riri yang udah nulis buku ini, maupun para pihak lain yang terlibat dalam penerbitannya...maafkan aku karena memiliki buku ini hanya karena sekedar dipinjemin oleh adikku. Tapi statement aku bahwa buku ini is one of must-read books tulus lhooo... bukan sekedar kalimat atas dasar rasa bersalah yang menyertai permintaan maaf di atas
Judulnya aja udah unik. Desain covernya beda dari buku-buku lain, tapi aku nangkepnya malah menggambarkan isi buku ya... sarkastis dengan sentuhan feminin dan maskulin *Halah*. Tema yang diangkat sebenernya udah banyak juga sih jadi ide cerita buku lain...tapi sudut penggambaran (apa point of view sih?) yang digunakan beda banget. Tentang wanita di usia lewat seperempat abad yang menolak untuk mengikuti ’rule of life’ yang baku di masyarakat bagi wanita. (Eh, ralat! Usia si Flory malah udah 32 euy...). Jadi ceritanya si Flory ini tipe yang sinis dengan kehidupan pernikahan, tapi tooohhh...teteup...akhirnya kawin juga dengan pasangan yang direkomendasikan (walah, kayak yang nyari kerja aja) ibunya. Plotnya juga sederhana: memandang cinta dan pernikahan dengan sinis - dijodohin ma orang tua - akhirnya kawin juga- proses saling mengenal yang makin dalam- lama-lama cinta beneran. That’s it. Tapi yang aku suka...cara penuturannya. Analogi-analogi yang disampaikan sarkastis dan kadang-kadang hiperbolis, tapi ngepas. Penokohannya juga, kalo aku bilang, menggambarkan variasi karakter yang memang ada di kehidupan nyata. Flory yang seperti itu, teman-temannya yang punya karakter ’ajaib’ masing-masing, Vadin yang ’laki’banget dengan rasa percaya diri yang maskulin, Mamz yang (selayaknya para ibu lain) suka meributkan nasib anak gadisnya... Kalimat-kalimatnya ngalir aja. Dan ga maksa supaya lucu. Dan ga klise.
Hmm... Sekali lagi, it’s one of must read books. Aku ga bilang must have books, karena status buku yang aku baca pun bukan punya aku…tapi punya si Ita…
Eh, tapi jadi mikir… seandainya akhirnya dibikin beda, kayaknya lucu juga….
Rabu, 15 Agustus 2007
“Prith@mori (Lemot juga Membawa Nikmat)”
Yang menyenangkan adalah, dari buku ini aku menemukan suatu kenyataan, bahwa aku bukan satu-satunya orang yang suka bolot and do silly things. Lagian mungkin karena bahasa penyampaiannya yang so girly, jadi baca buku ini berasa lagi denger curhatan temen sekost yang dengan hebohnya menceritakan kesialan dia di hari itu.
Part yang paling aku suka, adalah bagian waktu si Pritha gagal diterima jadi penyiar radio karena ketidakmampuannya membedakan ’kompilasi’ dengan ’komplikasi’. Jadi inget diriku sendiri, yang sampai sekitar dua tahun yang lalu masih dengan bodohnya berpikiran bahwa franchise = french fries = kentang goreng. Jadi kalo ada penawaran untuk membuka cabang dari suatu franchise, aku dengan polosnya akan berpikir :”Oh, cabang orang jualan kentang goreng...”.
Tapi mungkin sampulnya rada menyesatkan aku ya... Tadinya aku pikir gambar kartun ibu-ibu yang terlihat gendut itu (eh, apa mungkin maksudnya lagi hamil?) adalah penggambaran dari Pritha, sedangkan si anak kecil itu anaknya Pritha. Setelah aku baca cerita pertama, baru aku sadar bahwa aku dengan semena-mena telah melakukan kesalahan, secara justru si anak kecil itulah gambaran tokoh Pritha.
Overall, not bad lah kalo mau beli buku ini, lumayan buat dibaca sambil nunggu jemputan...
Selasa, 14 Agustus 2007
”Joker”
Demikian sekilas latar belakang tentang tag yang baru ini.
Jadi, hari Minggu barusan, aku beli buku baru, Judulnya : ”Joker : Ada Lelucon di Balik Setiap Duka”. Wah, kalau liat judulnya sih penasaran. Apalagi my tragedy in love bikin aku merasa perlu mempelajari apa sesungguhnya maksud becandaannya Tuhan di balik setiap takdir yang sudah Dia gariskan. Dan jujur saja, aku termasuk orang yang percaya, bahwa di balik setiap kejadian, setragis apapun, masih ada sisi-sisi yang bisa bikin kita senyum, walaupun mungkin senyumnya pait.
Deskripsi cerita di bagian awal lumayan, aku cukup suka sih pilihan kata-kata dan bagaimana si penulis menggambarkan suasana. Berkesan gelap, satir, tapi ga cengeng. Tapi ya itu... aku kok ga ketemu komedinya dimana ya...Aduh, apa aku yang salah yang berharap pengen mencari sesuatu yang ’lucu’, tapi helloooo.... ada kata-kata ’lelucon’ di judul buku gitu lho.... Yeah, at least sih, aku mengharapkan dalam buku ini bakal muncul sense of humor yang beda, entah dalam bentuk sinisme, sarkasme, atau apapun lah...pokoknya yang bikin kita ketawa garing gitu... Tapi kok ya ga muncul... Kalau judul bukunya Ada Lelucon di Balik Setiap Duka, aku kok jadi ga yakin, apakah aku sudah melihat di balik duka yang dimaksud dengan baik dan benar, karena aku masih ga nemu komedinya dimana. Hmm... yah, mari kita menganggap kegagalanku untuk menemukan ’sisi lelucon’ yang secara ajaib muncul di judul buku (tapi ga muncul dalam isi buku) adalah salah satu bentuk dari perbedaan selera humor aku dan penulis. Sekarang soal jalan cerita ya.... Wah, beda deh sama ringkasan yang ada di bagian belakang maupun komentar dari para selebritis (I’ve told you not to believe in them), aku sudah bisa menebak tentang inti cerita (yang seharusnya, menurut isi pengantar di belakang buku dan komentar para seleb itu, jadi surprise di akhir cerita) setelah aku baru menyelesaikan sepertiga bagian dari buku. Enggak sih, mungkin karena cerita tentang kepribadian ganda udah banyak kali ya...jadi ya itu tadi, ketebak. Kayaknya kata-kata ’akhir yang mengejutkan” tidak terlalu tepat juga jadinya, soalnya main topic bahwa si tokoh utama ternyata adalah orang yang berkepribadian ganda udah terdeteksi (kayaknya aku pake term yang salah deh), begitu tokoh Alia secara ajaib tiba-tiba ikutan nongol di radio tempat Brama bekerja. Dan ga tau akunya aja yang terlalu memperhatikan atau gimana, tapi di setiap adegan yang menyangkut tentang Alia, kayaknya ga pernah banget orang-orang memanggil atau menyebutkan nama dia.
Hmm... Yah, overall buku ini lumayanlah buat temen minum teh, tapi kayaknya kalo mau baca, mending pinjem aja daripada beli...sayang duitnya...
Jumat, 28 Desember 2007
Hadiahnya Sunardi
Sabtu tanggal 24 November kemaren, Sunardi sms aku, nanyain aku pernah baca novel 5 cm apa belum, kalo belum, dia mau ngasih. Gua dengan teganya (mengingat sejarah PS Kimia yang lebih banyak diisi dengan adegan berantem mulut antara kami berdua) menuduh dia punya maksud tersembunyi untuk mengurus hal-hal di kampus…Hehehe…gua tega ya? Eh, ternyata dia tulus nian menghadiahkan buku itu…. Wah, jadi terharu euy… Dia bilang, waktu baca buku itu, dia langsung punya feeling kalo aku bakalan suka buku itu. Hm... feelingnya Sunardi suka agak meragukan sih sebenernya, tapi ya...let’s give it a try...
Hari Kamis, bukunya nyampe. Tapi karena daerah tempat tinggalku di list sebagai daerah yang harus gelap gulita di malam itu, ketunda deh bacanya…
Nah, gua baru baca buku itu mulai Jum’at malem, dan waktu aku nulis ini…udah selesai dibaca…
Well… gua sebenernya males mengatakan hal ini…tapi…feeling Sunardi bener! Hah…I really hate it when he’s right,, secara gua kan hobi mendebat diri dia untuk berbagai hal…
Sialan, Sunardi lewat bukunya itu sukses bikin gua nangiiiiiisss…. Bener-bener nangis sesenggukan pula… gua lupa, kapan terakhir kali gua nangis kayak gini karena baca buku. Di bagian-bagian awal sih, lucunya rada maksa, dan aku sempet curiga bahwa Sunardi ’mengira’ aku suka buku ini karena banyak ungkapan-ungkapannya yang sebenernya kalo menurut aku, lebih mirip dengan gaya (maunya) romantis-nya si Sunardi sendiri. Tapiii...pas udah bagian perjalanan mereka ke Mahameru...udah deh, I just couldn’t stop to keep on reading… Apalagi semangat nasionalisme yang muncul di buku itu, simpati dan empati terhadap para less fortunate people… Haduuh…gua jadi malu sendiri. Selama ini aku merasa bahwa aku punya nasionalisme yang cukup tinggi (perlu bukti? Aku selalu terharu denger lagu Indonesia Raya. Dimanapun. ). Tapi… buku itu membuat aku bertanya sendiri…kalo emang aku cinta negara ini, aku udah ngapain sih? Asli, banyak banget pelajaran dan quote yang bisa bikin kita merenung dari buku itu. Bahwa Tuhan itu Maha Bijaksana dengan segala keputusan-Nya, bahwa kita sudah dikasih kesempatan sama Dia untuk menjadi orang BAIK….
Bahkan secara ajaib, aku yang suka ribet dan lebih memilih duduk manis di rumah daripada harus hiking dan hal-hal semacam itu, tiba-tiba pengen ke Mahameru.
Aku sempet dengan geernya berpikir, bahwa Sunardi inget sama aku pas baca buku itu karena aku mirip dengan Riani…ternyata…”Kan banyak teks lagunya Mi…”. Gitu doang ternyata alasan dia. Hehehe… Anyway, Mas Sunardi, terima kasih banyak bukunya… I really appreciate it… Maaf meragukan ketulusanmu (Halah!)… Semoga IP-nya bagus!
Selasa, 02 Oktober 2007
Marriageable, by Riri Sardjono
Duhai mbak Riri yang udah nulis buku ini, maupun para pihak lain yang terlibat dalam penerbitannya...maafkan aku karena memiliki buku ini hanya karena sekedar dipinjemin oleh adikku. Tapi statement aku bahwa buku ini is one of must-read books tulus lhooo... bukan sekedar kalimat atas dasar rasa bersalah yang menyertai permintaan maaf di atas
Judulnya aja udah unik. Desain covernya beda dari buku-buku lain, tapi aku nangkepnya malah menggambarkan isi buku ya... sarkastis dengan sentuhan feminin dan maskulin *Halah*. Tema yang diangkat sebenernya udah banyak juga sih jadi ide cerita buku lain...tapi sudut penggambaran (apa point of view sih?) yang digunakan beda banget. Tentang wanita di usia lewat seperempat abad yang menolak untuk mengikuti ’rule of life’ yang baku di masyarakat bagi wanita. (Eh, ralat! Usia si Flory malah udah 32 euy...). Jadi ceritanya si Flory ini tipe yang sinis dengan kehidupan pernikahan, tapi tooohhh...teteup...akhirnya kawin juga dengan pasangan yang direkomendasikan (walah, kayak yang nyari kerja aja) ibunya. Plotnya juga sederhana: memandang cinta dan pernikahan dengan sinis - dijodohin ma orang tua - akhirnya kawin juga- proses saling mengenal yang makin dalam- lama-lama cinta beneran. That’s it. Tapi yang aku suka...cara penuturannya. Analogi-analogi yang disampaikan sarkastis dan kadang-kadang hiperbolis, tapi ngepas. Penokohannya juga, kalo aku bilang, menggambarkan variasi karakter yang memang ada di kehidupan nyata. Flory yang seperti itu, teman-temannya yang punya karakter ’ajaib’ masing-masing, Vadin yang ’laki’banget dengan rasa percaya diri yang maskulin, Mamz yang (selayaknya para ibu lain) suka meributkan nasib anak gadisnya... Kalimat-kalimatnya ngalir aja. Dan ga maksa supaya lucu. Dan ga klise.
Hmm... Sekali lagi, it’s one of must read books. Aku ga bilang must have books, karena status buku yang aku baca pun bukan punya aku…tapi punya si Ita…
Eh, tapi jadi mikir… seandainya akhirnya dibikin beda, kayaknya lucu juga….
Rabu, 15 Agustus 2007
“Prith@mori (Lemot juga Membawa Nikmat)”
Yang menyenangkan adalah, dari buku ini aku menemukan suatu kenyataan, bahwa aku bukan satu-satunya orang yang suka bolot and do silly things. Lagian mungkin karena bahasa penyampaiannya yang so girly, jadi baca buku ini berasa lagi denger curhatan temen sekost yang dengan hebohnya menceritakan kesialan dia di hari itu.
Part yang paling aku suka, adalah bagian waktu si Pritha gagal diterima jadi penyiar radio karena ketidakmampuannya membedakan ’kompilasi’ dengan ’komplikasi’. Jadi inget diriku sendiri, yang sampai sekitar dua tahun yang lalu masih dengan bodohnya berpikiran bahwa franchise = french fries = kentang goreng. Jadi kalo ada penawaran untuk membuka cabang dari suatu franchise, aku dengan polosnya akan berpikir :”Oh, cabang orang jualan kentang goreng...”.
Tapi mungkin sampulnya rada menyesatkan aku ya... Tadinya aku pikir gambar kartun ibu-ibu yang terlihat gendut itu (eh, apa mungkin maksudnya lagi hamil?) adalah penggambaran dari Pritha, sedangkan si anak kecil itu anaknya Pritha. Setelah aku baca cerita pertama, baru aku sadar bahwa aku dengan semena-mena telah melakukan kesalahan, secara justru si anak kecil itulah gambaran tokoh Pritha.
Overall, not bad lah kalo mau beli buku ini, lumayan buat dibaca sambil nunggu jemputan...
Selasa, 14 Agustus 2007
”Joker”
Demikian sekilas latar belakang tentang tag yang baru ini.
Jadi, hari Minggu barusan, aku beli buku baru, Judulnya : ”Joker : Ada Lelucon di Balik Setiap Duka”. Wah, kalau liat judulnya sih penasaran. Apalagi my tragedy in love bikin aku merasa perlu mempelajari apa sesungguhnya maksud becandaannya Tuhan di balik setiap takdir yang sudah Dia gariskan. Dan jujur saja, aku termasuk orang yang percaya, bahwa di balik setiap kejadian, setragis apapun, masih ada sisi-sisi yang bisa bikin kita senyum, walaupun mungkin senyumnya pait.
Deskripsi cerita di bagian awal lumayan, aku cukup suka sih pilihan kata-kata dan bagaimana si penulis menggambarkan suasana. Berkesan gelap, satir, tapi ga cengeng. Tapi ya itu... aku kok ga ketemu komedinya dimana ya...Aduh, apa aku yang salah yang berharap pengen mencari sesuatu yang ’lucu’, tapi helloooo.... ada kata-kata ’lelucon’ di judul buku gitu lho.... Yeah, at least sih, aku mengharapkan dalam buku ini bakal muncul sense of humor yang beda, entah dalam bentuk sinisme, sarkasme, atau apapun lah...pokoknya yang bikin kita ketawa garing gitu... Tapi kok ya ga muncul... Kalau judul bukunya Ada Lelucon di Balik Setiap Duka, aku kok jadi ga yakin, apakah aku sudah melihat di balik duka yang dimaksud dengan baik dan benar, karena aku masih ga nemu komedinya dimana. Hmm... yah, mari kita menganggap kegagalanku untuk menemukan ’sisi lelucon’ yang secara ajaib muncul di judul buku (tapi ga muncul dalam isi buku) adalah salah satu bentuk dari perbedaan selera humor aku dan penulis. Sekarang soal jalan cerita ya.... Wah, beda deh sama ringkasan yang ada di bagian belakang maupun komentar dari para selebritis (I’ve told you not to believe in them), aku sudah bisa menebak tentang inti cerita (yang seharusnya, menurut isi pengantar di belakang buku dan komentar para seleb itu, jadi surprise di akhir cerita) setelah aku baru menyelesaikan sepertiga bagian dari buku. Enggak sih, mungkin karena cerita tentang kepribadian ganda udah banyak kali ya...jadi ya itu tadi, ketebak. Kayaknya kata-kata ’akhir yang mengejutkan” tidak terlalu tepat juga jadinya, soalnya main topic bahwa si tokoh utama ternyata adalah orang yang berkepribadian ganda udah terdeteksi (kayaknya aku pake term yang salah deh), begitu tokoh Alia secara ajaib tiba-tiba ikutan nongol di radio tempat Brama bekerja. Dan ga tau akunya aja yang terlalu memperhatikan atau gimana, tapi di setiap adegan yang menyangkut tentang Alia, kayaknya ga pernah banget orang-orang memanggil atau menyebutkan nama dia.
Hmm... Yah, overall buku ini lumayanlah buat temen minum teh, tapi kayaknya kalo mau baca, mending pinjem aja daripada beli...sayang duitnya...