Selasa, 14 Agustus 2007

Nostalgia Kla

(Originally written : 11 Agustus)

Dunia musik Indonesia memang lagi maju-majunya deh kayaknya. Banyaaaaak banget band baru yang muncul. Belum sempet aku hafal wajah salah satu personel band yang baru muncul, udah ada band lain yang punya hits yang happening banget, dan jadi airplay dimana-mana. Kayaknya sekarang jadi artis tuh gampang ya? Tapi satu yang kurang begitu aku suka adalah, rata-rata lalu band itu ga stabil. Cuma satu-dua hits, kadang-kadang tiga kalau beruntung (empat, kalo beruntung banget). Terus udah aja, setelah masa keemasan hits mereka (yang jumlahnya sangat ga banyak itu) hilang, say goodbye deh.

Memang sih, ada beberapa band yang memang udah mantap banget, model-model kayak Peterpan, Samsons, Ungu (Hmmm..frankly speaking, ada stori khusus yang bikin aku ngerasa gimana gitu ma band yang satu ini), Ada Band, Letto, Nidji (eh, ternyata lumayan banyak juga ya?). Mereka mah, hampir semua lagu yang ada di album mereka termasuk dalam kategori yang tidak berlalu begitu saja.

Well, mengingat umur aku yang udah masuk masa-masa keperakan alias di atas 25 tahun, aku seringkali lebih milih dengerin lagu-lagu yang jaman aku dulu happening banget. Bagi aku, salah satu band yang paling evergreen adalah : KLA Project. Aku suka sama Kla semenjak SMA kelas 1. Jadi inget, dulu aku sama Heru sempet yang saingan gitu ngumpulin kasetnya Kla (aku yang menang, ha!). Dan memang, they’re genious, who will doubt it?

Tentu saja, lagu Kla yang paling ’dalem’ buat aku adalah… Yogyakarta. Hiks…pas banget, di playlist Winampku lagi versi akustiknya lagu ini niiihhhh….!! Lagu yang sederhana, seperti Yogya. Lagu yang menginspirasi aku untuk kuliah disana (hmm…bukan untuk kuliah sih, untuk jalan-jalan). Lagu yang bikin aku pengen cepet-cepet balik lagi kalo lagi liburan di rumah. Lagu yang bikin aku pengen nangis kalo lagi kangen temen-temen dan masa kuliah dulu. Lagu yang selalu bikin aku terdiam sejenak, dan mengenang kembali saat-saat aku disana, menata cita-cita, dan sempat meniti cinta. Hm. Itu dia satu lagi makna lagu ini. Aku pengen berusaha berdamai dengan kenangan akan aku dan Bambang. Aku pengen tidak lagi merasakan kemarahan kalo ingat, semua itu sudah jadi sisa-sisa masa lalu.

Nggak cuma Yogyakarta sih, banyak banget lagu Kla yang kayaknya kok pas banget ya. Ga cuma lagu-lagu hits model-model Gerimis (album Klakustik itu emang keren banget!), terus Tak Bisa Ke Lain Hati (Kesannya megah), Terpuruk Ku Disini, sebutin aja deh semua.... Aku juga suka sejumlah lagu yang walaupun mungkin ga pernah masuk top hits di radio pada zamannya dulu. Aku suka Lara Melanda, Jarak Dua Kota (hala, kena banget sama aku), Bantu Aku, Bahagia Tanpamu.

Wah, kayaknya hari ini lagi mellow mood deh. List di Winampku isinya lagu-lagu Kla semua, plus lagu-lagunya Katon.....

”Joker”

Ini adalah posting pertama untuk tag baru disini, Recommended or Not. Tag itu untuk menandai posting aku yang isinya adalah pendapat aku mengenai buku yang baru aku baca, entah hasil beli ataupun pinjem. Pendapat lho ya, bukan resensi, apalagi bahasan. Resensi mah kesannya serius banget. Sebenernya dari dulu aku pengen bikin posting-posting semacam ini, karena aku sering berpengalaman buruk dalam hal memilih buku. Kayaknya sering deh aku beli buku, yang diakhiri dengan penyesalan tiada henti, diiringi rasa tertipu. Kenapa merasa tertipu? Karena ya itu… ringkasan cerita ataupun sekedar kalimat-kalimat pengantar mengenai isi buku di bagian belakang buku itu seringkali terlalu berlebihan, terlalu bersifat komersil. Yang disebutkan cuma bagian yang baik-baiknya, itupun kadang-kadang cuma ngarang. Kadang-kadang setelah selesai membaca bukunya dan membandingkannya dengan pengantar di bagian belakang, aku suka curiga, jangan-jangan yang nulis kalimat pengantar ini juga ga baca buku ini ya? Atau mungkin dia membaca buku yang salah? Atau kalimat pengantar yang dia bikin untuk buku lain tertukar? Kalaupun yang ada di bagian belakang buku itu bukan ringkasan, melainkan komentar-komentar dari sejumlah orang, baik yang masuk kategori terkenal maupun tidak, jangan terlalu dipercaya juga deh.

Demikian sekilas latar belakang tentang tag yang baru ini.

Jadi, hari Minggu barusan, aku beli buku baru, Judulnya : ”Joker : Ada Lelucon di Balik Setiap Duka”. Wah, kalau liat judulnya sih penasaran. Apalagi my tragedy in love bikin aku merasa perlu mempelajari apa sesungguhnya maksud becandaannya Tuhan di balik setiap takdir yang sudah Dia gariskan. Dan jujur saja, aku termasuk orang yang percaya, bahwa di balik setiap kejadian, setragis apapun, masih ada sisi-sisi yang bisa bikin kita senyum, walaupun mungkin senyumnya pait.

Deskripsi cerita di bagian awal lumayan, aku cukup suka sih pilihan kata-kata dan bagaimana si penulis menggambarkan suasana. Berkesan gelap, satir, tapi ga cengeng. Tapi ya itu... aku kok ga ketemu komedinya dimana ya...Aduh, apa aku yang salah yang berharap pengen mencari sesuatu yang ’lucu’, tapi helloooo.... ada kata-kata ’lelucon’ di judul buku gitu lho.... Yeah, at least sih, aku mengharapkan dalam buku ini bakal muncul sense of humor yang beda, entah dalam bentuk sinisme, sarkasme, atau apapun lah...pokoknya yang bikin kita ketawa garing gitu... Tapi kok ya ga muncul... Kalau judul bukunya Ada Lelucon di Balik Setiap Duka, aku kok jadi ga yakin, apakah aku sudah melihat di balik duka yang dimaksud dengan baik dan benar, karena aku masih ga nemu komedinya dimana. Hmm... yah, mari kita menganggap kegagalanku untuk menemukan ’sisi lelucon’ yang secara ajaib muncul di judul buku (tapi ga muncul dalam isi buku) adalah salah satu bentuk dari perbedaan selera humor aku dan penulis. Sekarang soal jalan cerita ya.... Wah, beda deh sama ringkasan yang ada di bagian belakang maupun komentar dari para selebritis (I’ve told you not to believe in them), aku sudah bisa menebak tentang inti cerita (yang seharusnya, menurut isi pengantar di belakang buku dan komentar para seleb itu, jadi surprise di akhir cerita) setelah aku baru menyelesaikan sepertiga bagian dari buku. Enggak sih, mungkin karena cerita tentang kepribadian ganda udah banyak kali ya...jadi ya itu tadi, ketebak. Kayaknya kata-kata ’akhir yang mengejutkan” tidak terlalu tepat juga jadinya, soalnya main topic bahwa si tokoh utama ternyata adalah orang yang berkepribadian ganda udah terdeteksi (kayaknya aku pake term yang salah deh), begitu tokoh Alia secara ajaib tiba-tiba ikutan nongol di radio tempat Brama bekerja. Dan ga tau akunya aja yang terlalu memperhatikan atau gimana, tapi di setiap adegan yang menyangkut tentang Alia, kayaknya ga pernah banget orang-orang memanggil atau menyebutkan nama dia.

Hmm... Yah, overall buku ini lumayanlah buat temen minum teh, tapi kayaknya kalo mau baca, mending pinjem aja daripada beli...sayang duitnya...


Selasa, 14 Agustus 2007

Nostalgia Kla

(Originally written : 11 Agustus)

Dunia musik Indonesia memang lagi maju-majunya deh kayaknya. Banyaaaaak banget band baru yang muncul. Belum sempet aku hafal wajah salah satu personel band yang baru muncul, udah ada band lain yang punya hits yang happening banget, dan jadi airplay dimana-mana. Kayaknya sekarang jadi artis tuh gampang ya? Tapi satu yang kurang begitu aku suka adalah, rata-rata lalu band itu ga stabil. Cuma satu-dua hits, kadang-kadang tiga kalau beruntung (empat, kalo beruntung banget). Terus udah aja, setelah masa keemasan hits mereka (yang jumlahnya sangat ga banyak itu) hilang, say goodbye deh.

Memang sih, ada beberapa band yang memang udah mantap banget, model-model kayak Peterpan, Samsons, Ungu (Hmmm..frankly speaking, ada stori khusus yang bikin aku ngerasa gimana gitu ma band yang satu ini), Ada Band, Letto, Nidji (eh, ternyata lumayan banyak juga ya?). Mereka mah, hampir semua lagu yang ada di album mereka termasuk dalam kategori yang tidak berlalu begitu saja.

Well, mengingat umur aku yang udah masuk masa-masa keperakan alias di atas 25 tahun, aku seringkali lebih milih dengerin lagu-lagu yang jaman aku dulu happening banget. Bagi aku, salah satu band yang paling evergreen adalah : KLA Project. Aku suka sama Kla semenjak SMA kelas 1. Jadi inget, dulu aku sama Heru sempet yang saingan gitu ngumpulin kasetnya Kla (aku yang menang, ha!). Dan memang, they’re genious, who will doubt it?

Tentu saja, lagu Kla yang paling ’dalem’ buat aku adalah… Yogyakarta. Hiks…pas banget, di playlist Winampku lagi versi akustiknya lagu ini niiihhhh….!! Lagu yang sederhana, seperti Yogya. Lagu yang menginspirasi aku untuk kuliah disana (hmm…bukan untuk kuliah sih, untuk jalan-jalan). Lagu yang bikin aku pengen cepet-cepet balik lagi kalo lagi liburan di rumah. Lagu yang bikin aku pengen nangis kalo lagi kangen temen-temen dan masa kuliah dulu. Lagu yang selalu bikin aku terdiam sejenak, dan mengenang kembali saat-saat aku disana, menata cita-cita, dan sempat meniti cinta. Hm. Itu dia satu lagi makna lagu ini. Aku pengen berusaha berdamai dengan kenangan akan aku dan Bambang. Aku pengen tidak lagi merasakan kemarahan kalo ingat, semua itu sudah jadi sisa-sisa masa lalu.

Nggak cuma Yogyakarta sih, banyak banget lagu Kla yang kayaknya kok pas banget ya. Ga cuma lagu-lagu hits model-model Gerimis (album Klakustik itu emang keren banget!), terus Tak Bisa Ke Lain Hati (Kesannya megah), Terpuruk Ku Disini, sebutin aja deh semua.... Aku juga suka sejumlah lagu yang walaupun mungkin ga pernah masuk top hits di radio pada zamannya dulu. Aku suka Lara Melanda, Jarak Dua Kota (hala, kena banget sama aku), Bantu Aku, Bahagia Tanpamu.

Wah, kayaknya hari ini lagi mellow mood deh. List di Winampku isinya lagu-lagu Kla semua, plus lagu-lagunya Katon.....

”Joker”

Ini adalah posting pertama untuk tag baru disini, Recommended or Not. Tag itu untuk menandai posting aku yang isinya adalah pendapat aku mengenai buku yang baru aku baca, entah hasil beli ataupun pinjem. Pendapat lho ya, bukan resensi, apalagi bahasan. Resensi mah kesannya serius banget. Sebenernya dari dulu aku pengen bikin posting-posting semacam ini, karena aku sering berpengalaman buruk dalam hal memilih buku. Kayaknya sering deh aku beli buku, yang diakhiri dengan penyesalan tiada henti, diiringi rasa tertipu. Kenapa merasa tertipu? Karena ya itu… ringkasan cerita ataupun sekedar kalimat-kalimat pengantar mengenai isi buku di bagian belakang buku itu seringkali terlalu berlebihan, terlalu bersifat komersil. Yang disebutkan cuma bagian yang baik-baiknya, itupun kadang-kadang cuma ngarang. Kadang-kadang setelah selesai membaca bukunya dan membandingkannya dengan pengantar di bagian belakang, aku suka curiga, jangan-jangan yang nulis kalimat pengantar ini juga ga baca buku ini ya? Atau mungkin dia membaca buku yang salah? Atau kalimat pengantar yang dia bikin untuk buku lain tertukar? Kalaupun yang ada di bagian belakang buku itu bukan ringkasan, melainkan komentar-komentar dari sejumlah orang, baik yang masuk kategori terkenal maupun tidak, jangan terlalu dipercaya juga deh.

Demikian sekilas latar belakang tentang tag yang baru ini.

Jadi, hari Minggu barusan, aku beli buku baru, Judulnya : ”Joker : Ada Lelucon di Balik Setiap Duka”. Wah, kalau liat judulnya sih penasaran. Apalagi my tragedy in love bikin aku merasa perlu mempelajari apa sesungguhnya maksud becandaannya Tuhan di balik setiap takdir yang sudah Dia gariskan. Dan jujur saja, aku termasuk orang yang percaya, bahwa di balik setiap kejadian, setragis apapun, masih ada sisi-sisi yang bisa bikin kita senyum, walaupun mungkin senyumnya pait.

Deskripsi cerita di bagian awal lumayan, aku cukup suka sih pilihan kata-kata dan bagaimana si penulis menggambarkan suasana. Berkesan gelap, satir, tapi ga cengeng. Tapi ya itu... aku kok ga ketemu komedinya dimana ya...Aduh, apa aku yang salah yang berharap pengen mencari sesuatu yang ’lucu’, tapi helloooo.... ada kata-kata ’lelucon’ di judul buku gitu lho.... Yeah, at least sih, aku mengharapkan dalam buku ini bakal muncul sense of humor yang beda, entah dalam bentuk sinisme, sarkasme, atau apapun lah...pokoknya yang bikin kita ketawa garing gitu... Tapi kok ya ga muncul... Kalau judul bukunya Ada Lelucon di Balik Setiap Duka, aku kok jadi ga yakin, apakah aku sudah melihat di balik duka yang dimaksud dengan baik dan benar, karena aku masih ga nemu komedinya dimana. Hmm... yah, mari kita menganggap kegagalanku untuk menemukan ’sisi lelucon’ yang secara ajaib muncul di judul buku (tapi ga muncul dalam isi buku) adalah salah satu bentuk dari perbedaan selera humor aku dan penulis. Sekarang soal jalan cerita ya.... Wah, beda deh sama ringkasan yang ada di bagian belakang maupun komentar dari para selebritis (I’ve told you not to believe in them), aku sudah bisa menebak tentang inti cerita (yang seharusnya, menurut isi pengantar di belakang buku dan komentar para seleb itu, jadi surprise di akhir cerita) setelah aku baru menyelesaikan sepertiga bagian dari buku. Enggak sih, mungkin karena cerita tentang kepribadian ganda udah banyak kali ya...jadi ya itu tadi, ketebak. Kayaknya kata-kata ’akhir yang mengejutkan” tidak terlalu tepat juga jadinya, soalnya main topic bahwa si tokoh utama ternyata adalah orang yang berkepribadian ganda udah terdeteksi (kayaknya aku pake term yang salah deh), begitu tokoh Alia secara ajaib tiba-tiba ikutan nongol di radio tempat Brama bekerja. Dan ga tau akunya aja yang terlalu memperhatikan atau gimana, tapi di setiap adegan yang menyangkut tentang Alia, kayaknya ga pernah banget orang-orang memanggil atau menyebutkan nama dia.

Hmm... Yah, overall buku ini lumayanlah buat temen minum teh, tapi kayaknya kalo mau baca, mending pinjem aja daripada beli...sayang duitnya...