Selasa, 16 April 2013

30 Day Challenge | Day 19


Day 19 - Name The Places that You Have Lived

Ahahahaha…. Jadi semacam bernostalgia gini ih temanya. Anyway, saya udah sempet tinggal di beberapa kota berbeda.

Banjarmasin


Kota tempat saya lahir. Tempat saya dibesarkan (berasa lirik lagu nasional gituuuu…hahahaha) sampe akhirnya lulus SMA. Banjarmasin ini… how should I describe it? 

Kota tua yang berusaha mengikuti zaman. And ended up dengan ribuan ruko disana-sini. Sering mati lampu. The public transport sucks.
Still, its my hometown. Kota dimana masih ada tukang jualan sayur yang bisa bergosip dengan para ibu-ibu. Masih ada tukang kredit keliling yang pembayarannya per hari. Yang dalam angkot tiba-tiba bisa ngobrol dengan sok akrabnya.It’s an old city anyway. An old city that will always be my hometown.

Not a perfect one, for sure. But it’s a place where I will always fond those familiar face with those familiar smiles, even from strangers on the street. Oh, and have I told you, bahwa yang namanya Soto Banjar itu adalah soto paling enak di antara berjenis-jenis soto se Nusantara?

Yogyakarta
 Lulus SMA, saya keterima PBUD di UGM. That’s one of my turning point in life: living in Yogyakarta. Satu yang paling saya suka dari Yogya: it’s a miniature of Indonesia. Begitu majemuk. Saya belajar banyak dari kota ini, terutama tentang perbedaan, tentang realitas hidup. Tentang persahabatan. Tentang gebetan.
Bagi saya, hidup selama di Yogya ini salah satu yang paling dominan dalam membentuk kepribadiannya saya.
Banyaaaak banget yang saya suka dari Yogya. Gampang nyari buku. Banyak acara musik. Banyak tontonan gratis. MURAH. Serius. Yogya itu, salah satu kota yang paling bersahabat dengan kantong.

Banjarbaru
Sempet tinggal disini, nge-kost, pas awal-awal nge-dosen. Secara rutenya waktu itu cuma Banjarmasin – kampus – kost – kampus –kost – Banjarmasin lagi, gak terlalu berasa aja tinggal disini. Ingetnya cuma seru-seruan bareng sama anak kost. Nyahahahaha….

Melbourne
Waktu S2 kemaren, I had this chance to live in this vibrant city. And I LOOOOVEEE this city. Great public transportation system. Dan seperti Jogja, I was amazed by how the city is so rich in cultural differences.


There’s something for everyone in the city. Di kota ini saya belajar banyak hal (di luar soal doing assignments for my study lho yaaa…). Dan salah satunya: respecting each other.

Oh, dan secara disini saya jadi Sekretaris MIIS, semacam organisasi untuk mahasiswa Indonesia di Monash, kampusnya saya, jadilah saya semakin banyak belajar tentang menghadapi berbagai macam orang yang berbeda-beda. Termasuk jadi ketua kelompengkargo alias pengiriman barang waktu kita pada balik ke Indonesia. Living in Jogja have  shaped my personality, I think that living in Mebourne added up some finishing touches on it =)

So, Day 19, FINISHED!

Rabu, 10 April 2013

Random Posts

Look. I am bored. So I just want to post about some random shallow thoughts of mine.

If you don’t find Adam Levine attractive, you’re doing it wrong.

He’s absolutely one of the hottest man alive on earth. Dan secara saya memang addicted to talent shows, him being one of the mentors for The Voice bener-bener perpaduan komplit. I squealed everytime he smiled or he laughed. And his banter with the other mentors is not helping me at all in this helpless obsession on him.

Taking on requests.
I’ve been writing football fics for about 4 months or so. And since about 3 weeks ago, saya memberanikan diri to take request. It’s a simple one, actually. Jadi bukan hanya menulis fic dengan tokoh salah seorang footballer, the footballer that I am writing about is not on my choice, but is based on people’s request. On one side, it’s a bit challenging. Apalagi kalo orang nge-requestnya adalah football player yang saya gak tau. Okay, one confession: I have no interest on Bundes Liga. At all. For one and some reasons, gak suka aja. Kekna Mesut Ozil dan Sami Kheidira doang pemain dari Jerman yang saya suka. And they’re not even playing in Bundes Liga. Jadi kebayang dong waktu ada yang request tentang pemain dari Liga Jerman yang saya ngucapin namanya aja susaaaah??? I find it easier to write on player from the club that I like. Karena chemistry-nya saya lebih dapet, dan saya seneng membuatnya agak-agak bernuansa domestic-fic gitu. But, despite the challenge, still, the positive feedbacks coming still give me those feelings :). The nice feeling of knowing that some people really do appreciate what I did. Say, like these kind of comments:

Still, I find this particular request is challenging. 

Saya sebenernya agak geli juga sih. The person insulted my club (which means, also an insult for ME). But on the other hand, she still respect my writings. Oh, and I managed to write a one-shot on Robin van Persie that the person asked me to.

Derby Manchester!

Pertandingannya disiarkan Selasa subuh. Dan dari Senin pagi, saya udah gak-karu-karuan rasanya. We were 15 points behind them. Pressures were mounting. And it’s an away game. To make things worse, Senin pagi itu saya bangun dalam keadaan sakit tenggorokan, dan hidung yang mulai tersumbat. And of course, as if it was not enough, sorenya, dokter gigi memutuskan bahwa solusi terbaik bagi gigi saya adalah dengan mencabutnya.
Selama si dokter gigi mengutak-atik gigi saya, saya cuma mikir: “Silva, Zabaleta, Kun, please don’t make this day be the worst day ever. Please win the game. Please please pretty please?”
And guess what?




WE WIN THE GAME! WE WIN THAT FREAKIN’ GAME OVER MANCHESTER UNITED!

Gigi oh gigi.
Saya udah pernah cerita kan betapa bencinya saya ke dokter gigi? Well, apa daya, saya harus ke dokter gigi lagi. Waktu kunjungan pertama, si dokter gigi mengambil kesimpulan bahwa ada dua opsi. Saraf gigi saya ada yang dimatikan, atau gigi saya dicabut sekalian. Pas kunjungan kedua, di awal dia bilang, “Oke. Kayaknya bisa kok cuma dirawat aja. Jadi giginya bisa kita pertahankan, gak usah dicabut. Eh, begitu saya duduk di kursi panas itu dan dia mulai bekerja, kok ya ujung-ujungnya dia menatap saya dengan prihatin sambil ngomong: “Bu, kayaknya sekarang pilihannya 50-50 ya. Giginya sebagian udah hancur. Kok kayaknya mending dicabut aja ya?”.
Saya baru tau kalo dokter gigi juga bisa PHP.
Kunjungan ketiga, si dokter gigi menyatakan: “Oke. Dicabut aja ya?”
SERAH DEH DOK. TERSERAH!

Saya mungkin satu-satunya pasien yang minta supaya bisa melewati proses eksekusi pencabutan itu sambil dengerin I-Pod. At least, suara bor yang intimidatif itu bisa sedikit teredam dengan suara musik. Akhirnya tercabutlah gigi sialan itu. Dan si gigi kekna belum rela untuk pergi, karena si dokter gigi harus membelah dirinya dulu untuk bisa dicabut dengan sukses. Saya sempat menghitung, ada 4 potongan gigi yang akhirnya tercabut.
Belum selesai di situ. Efek anestesi bikin saya selama berjam-jam gak bisa ngomong normal. Dan semalaman, karena perpaduan demam akibat flu, hidung tersumbat, gusi dan gigi yang berasa gak karu-karuan, plus rasa tegang karena derby Manchester, saya gak bisa tidur. Bolak-balik gak jelas selama 3 jam di tempat tidur itu bener-bener sangat tidak menyenangkan. Saya lho, saya! Yang biasanya menyentuh tempat rata aja udah bisa langsung pules.

Eyang Subur itu siapa sih?
Kayaknya sekarang gak gaul ya kalo gak tau sama Eyang Subur. Eh tapi saya masih gak ngerti aja kenapa sih dia sampe pengikutnya banyak gituuuu…. Haha. Penting abis.

Recent song on playlist
Secrets – One Republic
Suit and Tie – Justin Timberlake
Just Give Me  A Reason – Pink
Celebrate - Embrace
Gemilang – Andien
If I Lose Myself – One Republic
Weakness – The Wanted

Selasa, 16 April 2013

30 Day Challenge | Day 19


Day 19 - Name The Places that You Have Lived

Ahahahaha…. Jadi semacam bernostalgia gini ih temanya. Anyway, saya udah sempet tinggal di beberapa kota berbeda.

Banjarmasin


Kota tempat saya lahir. Tempat saya dibesarkan (berasa lirik lagu nasional gituuuu…hahahaha) sampe akhirnya lulus SMA. Banjarmasin ini… how should I describe it? 

Kota tua yang berusaha mengikuti zaman. And ended up dengan ribuan ruko disana-sini. Sering mati lampu. The public transport sucks.
Still, its my hometown. Kota dimana masih ada tukang jualan sayur yang bisa bergosip dengan para ibu-ibu. Masih ada tukang kredit keliling yang pembayarannya per hari. Yang dalam angkot tiba-tiba bisa ngobrol dengan sok akrabnya.It’s an old city anyway. An old city that will always be my hometown.

Not a perfect one, for sure. But it’s a place where I will always fond those familiar face with those familiar smiles, even from strangers on the street. Oh, and have I told you, bahwa yang namanya Soto Banjar itu adalah soto paling enak di antara berjenis-jenis soto se Nusantara?

Yogyakarta
 Lulus SMA, saya keterima PBUD di UGM. That’s one of my turning point in life: living in Yogyakarta. Satu yang paling saya suka dari Yogya: it’s a miniature of Indonesia. Begitu majemuk. Saya belajar banyak dari kota ini, terutama tentang perbedaan, tentang realitas hidup. Tentang persahabatan. Tentang gebetan.
Bagi saya, hidup selama di Yogya ini salah satu yang paling dominan dalam membentuk kepribadiannya saya.
Banyaaaak banget yang saya suka dari Yogya. Gampang nyari buku. Banyak acara musik. Banyak tontonan gratis. MURAH. Serius. Yogya itu, salah satu kota yang paling bersahabat dengan kantong.

Banjarbaru
Sempet tinggal disini, nge-kost, pas awal-awal nge-dosen. Secara rutenya waktu itu cuma Banjarmasin – kampus – kost – kampus –kost – Banjarmasin lagi, gak terlalu berasa aja tinggal disini. Ingetnya cuma seru-seruan bareng sama anak kost. Nyahahahaha….

Melbourne
Waktu S2 kemaren, I had this chance to live in this vibrant city. And I LOOOOVEEE this city. Great public transportation system. Dan seperti Jogja, I was amazed by how the city is so rich in cultural differences.


There’s something for everyone in the city. Di kota ini saya belajar banyak hal (di luar soal doing assignments for my study lho yaaa…). Dan salah satunya: respecting each other.

Oh, dan secara disini saya jadi Sekretaris MIIS, semacam organisasi untuk mahasiswa Indonesia di Monash, kampusnya saya, jadilah saya semakin banyak belajar tentang menghadapi berbagai macam orang yang berbeda-beda. Termasuk jadi ketua kelompengkargo alias pengiriman barang waktu kita pada balik ke Indonesia. Living in Jogja have  shaped my personality, I think that living in Mebourne added up some finishing touches on it =)

So, Day 19, FINISHED!

Rabu, 10 April 2013

Random Posts

Look. I am bored. So I just want to post about some random shallow thoughts of mine.

If you don’t find Adam Levine attractive, you’re doing it wrong.

He’s absolutely one of the hottest man alive on earth. Dan secara saya memang addicted to talent shows, him being one of the mentors for The Voice bener-bener perpaduan komplit. I squealed everytime he smiled or he laughed. And his banter with the other mentors is not helping me at all in this helpless obsession on him.

Taking on requests.
I’ve been writing football fics for about 4 months or so. And since about 3 weeks ago, saya memberanikan diri to take request. It’s a simple one, actually. Jadi bukan hanya menulis fic dengan tokoh salah seorang footballer, the footballer that I am writing about is not on my choice, but is based on people’s request. On one side, it’s a bit challenging. Apalagi kalo orang nge-requestnya adalah football player yang saya gak tau. Okay, one confession: I have no interest on Bundes Liga. At all. For one and some reasons, gak suka aja. Kekna Mesut Ozil dan Sami Kheidira doang pemain dari Jerman yang saya suka. And they’re not even playing in Bundes Liga. Jadi kebayang dong waktu ada yang request tentang pemain dari Liga Jerman yang saya ngucapin namanya aja susaaaah??? I find it easier to write on player from the club that I like. Karena chemistry-nya saya lebih dapet, dan saya seneng membuatnya agak-agak bernuansa domestic-fic gitu. But, despite the challenge, still, the positive feedbacks coming still give me those feelings :). The nice feeling of knowing that some people really do appreciate what I did. Say, like these kind of comments:

Still, I find this particular request is challenging. 

Saya sebenernya agak geli juga sih. The person insulted my club (which means, also an insult for ME). But on the other hand, she still respect my writings. Oh, and I managed to write a one-shot on Robin van Persie that the person asked me to.

Derby Manchester!

Pertandingannya disiarkan Selasa subuh. Dan dari Senin pagi, saya udah gak-karu-karuan rasanya. We were 15 points behind them. Pressures were mounting. And it’s an away game. To make things worse, Senin pagi itu saya bangun dalam keadaan sakit tenggorokan, dan hidung yang mulai tersumbat. And of course, as if it was not enough, sorenya, dokter gigi memutuskan bahwa solusi terbaik bagi gigi saya adalah dengan mencabutnya.
Selama si dokter gigi mengutak-atik gigi saya, saya cuma mikir: “Silva, Zabaleta, Kun, please don’t make this day be the worst day ever. Please win the game. Please please pretty please?”
And guess what?




WE WIN THE GAME! WE WIN THAT FREAKIN’ GAME OVER MANCHESTER UNITED!

Gigi oh gigi.
Saya udah pernah cerita kan betapa bencinya saya ke dokter gigi? Well, apa daya, saya harus ke dokter gigi lagi. Waktu kunjungan pertama, si dokter gigi mengambil kesimpulan bahwa ada dua opsi. Saraf gigi saya ada yang dimatikan, atau gigi saya dicabut sekalian. Pas kunjungan kedua, di awal dia bilang, “Oke. Kayaknya bisa kok cuma dirawat aja. Jadi giginya bisa kita pertahankan, gak usah dicabut. Eh, begitu saya duduk di kursi panas itu dan dia mulai bekerja, kok ya ujung-ujungnya dia menatap saya dengan prihatin sambil ngomong: “Bu, kayaknya sekarang pilihannya 50-50 ya. Giginya sebagian udah hancur. Kok kayaknya mending dicabut aja ya?”.
Saya baru tau kalo dokter gigi juga bisa PHP.
Kunjungan ketiga, si dokter gigi menyatakan: “Oke. Dicabut aja ya?”
SERAH DEH DOK. TERSERAH!

Saya mungkin satu-satunya pasien yang minta supaya bisa melewati proses eksekusi pencabutan itu sambil dengerin I-Pod. At least, suara bor yang intimidatif itu bisa sedikit teredam dengan suara musik. Akhirnya tercabutlah gigi sialan itu. Dan si gigi kekna belum rela untuk pergi, karena si dokter gigi harus membelah dirinya dulu untuk bisa dicabut dengan sukses. Saya sempat menghitung, ada 4 potongan gigi yang akhirnya tercabut.
Belum selesai di situ. Efek anestesi bikin saya selama berjam-jam gak bisa ngomong normal. Dan semalaman, karena perpaduan demam akibat flu, hidung tersumbat, gusi dan gigi yang berasa gak karu-karuan, plus rasa tegang karena derby Manchester, saya gak bisa tidur. Bolak-balik gak jelas selama 3 jam di tempat tidur itu bener-bener sangat tidak menyenangkan. Saya lho, saya! Yang biasanya menyentuh tempat rata aja udah bisa langsung pules.

Eyang Subur itu siapa sih?
Kayaknya sekarang gak gaul ya kalo gak tau sama Eyang Subur. Eh tapi saya masih gak ngerti aja kenapa sih dia sampe pengikutnya banyak gituuuu…. Haha. Penting abis.

Recent song on playlist
Secrets – One Republic
Suit and Tie – Justin Timberlake
Just Give Me  A Reason – Pink
Celebrate - Embrace
Gemilang – Andien
If I Lose Myself – One Republic
Weakness – The Wanted