Sabtu, 31 Desember 2011

2011: What I Remember, What I Learn

Yup. Last day of 2011. What more to say? Along this year, sooooo many things happened. And of course, due to my nature of being a drama queen, this year tends to be quite a hectic year for me.

Ups and downs. Laughter and tears. So many shades of so many colours. And still, I feel so grateful for having my life :).

Of course, salah satu yang paling membuat saya sibuk pada tahun 2011 ini adalah soal kerjaan. Apalagi sejak tahun 2011, saya dipercaya sama temen-temen untuk jadi Sekretaris PS. Iya, walopun judulnya Sekretaris, tapi kerjaannya gak cuma sekedar administratif doang. Sebenernya, malah Sekretaris itu semacam wakilnya Ketua Prodi. Jadilah tiba-tiba saya merasa, kayaknya kerjaan saya rapat melulu di Fakultas. Argh. Betapa menyebalkannya sampai di ruangan jam 8.30 pagi, dan mendapati di meja sudah ada undangan rapat untuk hari itu jam 9.30 pagi. Belum lagi tumpukan surat tugas yang saya sampe gak ngerti lagi sebenernya ini disuruh ngapaiiiin… Tapi toh, kalo cuma ngikutin stressnya aja, ya gak bakal kelar-kelar. I try to enjoy all the ups and downs of it. Lagipula, selama ini saya berusaha meniatkan bahwa yang namanya kerja, itu adalah ibadah. Semakin banyak hal yang bisa kita kerjakan, makin banyak kesempatan bagi kita untuk bisa berguna bagi orang lain.

Salah satu to-do-list ditahun 2011 ini, soal kerjaan saya, tentu saja: reakreditasi PS Kimia. Mulai dari mengisi borang, membuat laporan evaluasi diri, hingga akhirnya, visitasi. Nyiahahaha…. Somehow, saya ngerasa inilah tugas saya yang paling berat untuk tahun 2011 ini. Hasilnya? Entahlah. Saya sih tidak seoptimis reakreditasi tahun 2007 kemaren. Tapi at least, saya sudah berusaha semaksimal saya. And let the others see and decide abouth what I have done for it. Tapi kegiatan reakreditasi ini juga berasa drama banget. H-2 sebelum visitasi, I got the mental break down, dan kondisi saya drop. Tensi sempat turun ke angka 90/60. And as if it was not dramatic enough, saya jatuh pingsan di kampus. Kurang drama apalagi cobaaaa???? *geleng-geleng kepala*.

*saya dan temen-temen pas visitasi, menghadapi para asesor. tampang saya serius abis*

Tahun 2011 ini, saya mencoba ngajuin aplikasi beasiswa ke dua scholarship committee. Dan dua-duanya ditolak. Sedih sih, tapi justru kedua penolakan itu membuat saya semakin bersemangat untuk mencoba lagi. Yuk, mari memasukkan going back to school sebagai target di tahun 2012 =D.

Bulan Juni, saya iseng mendaftar untuk ikut regional seminar tentang sustainable water management di Yogyakarta. Sebenernya sih daftar cuma untuk jadi peserta. And guess what, ternyata malah saya diundang menjadi one of the speaker. Nyiahahahaha… Bukannya apa-apa. Pertama, ini seminar tingkat regional Asia Tenggara. Jadilah speakernya bukan cuma dari Indonesia, tapi juga dari Thailand, Filipina, dan Vietnam. Dan tentu saja, seminarnya harus pake bahasa Inggris. Oh, and the head of the organizing committee, was my supervisor when I did my bachelor degree. But no pressure, huh?. Anyway, it was quite an experience. As one of the speakers, biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung oleh panitia penyelenggara (yaitu UGM dan DAAD). Kita diinepkan di Hotel Garuda Inn, makan malam terjamin, dan setelah pelaksanaan seminar, kita city tour! Bisa liat Ramayana Ballet di Prambanan pas full moon, and it was beautiful.

Pas seminarnya sih, sempet setres jaya. Saya dapet giliran ketiga, dan dua speaker sebelumnya adalah doktor, satu dari Vietnam, satu dari Filipina. Betapa culunnya saya di antara mereka. Ehehehe -_-….


*Saya pas acara dinner, sama pembicara dari Riau, dan dari Ternate. Yang dua lagi, satu dari Thailand, satu dari Vietnam*

Terus di bulan September, saya dan beberapa temen lain ikut acaranya HKI: Training for Proposal Grant Writing. Sekali lagi, dapet akomodasi gratis di hotel bintang lima *yang membuat saya dan teman-teman saya jadi nyengir dengan noraknya* dan penggantian biaya transportasi. Mari mengucapkan Alhamdulillaaaaahhh… :D. Selama kegiatan, saya mungkin menjadi salah satu peserta paling cerewet, karena saya nanyaaa terus. Eh, mumpung ada kesempatan cari ilmu kaaaan??? Apalagi speakersnya 3 orang, bule semua, pinter-pinter semua. Tapi pas akhir acara, Drew, salah satu Organizing Committee dari CRDF USA malah bilang that she appreciated me for asking questions. Wah, jadi terharuuu… Selain soal nginep di hotel, dan dapet tambahan ilmu, yang bikin sneneg adalah, karena acaranya di Balikpapan, saya jadi sempet ketemu sama temen-temen sekost saya dulu di Jogjaaa!!! Ketemuan sama Emil-Septa (dan kedua anak mereka), sama Widia jugaaa :*. It’s always nice to see friends that you haven’t met for so long. I mean, the last time I met them was like, 6 years ago!

Masih di seputaran lingkungan kerjaan nih, di tahun 2011 ini…saya jadi juri untuk 3 kegiatan mahasiswa. Oke, gak tau kenapa, mahasiswa kok ya demen betul minta saya jadi juri untuk kegiatan mereka. Apa karena frekuensi kemunculan saya di kampus yang cukup tinggi ya? Saya jadi juri untuk lomba debat, terus juri untuk lomba tari *kenapa coba? Kenapaaa?*, dan yang terakhir, saya jadi juri borongan untuk acara HUT HIMAMIA Redoks. Well, terlepas dari alasan yang bagi saya sendiri masih sangat misterius, kenapa saya yang diminta jadi juri, toh I had so much fun.

Tahun ini juga, selain di MIPA, saya juga ngajar di salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris. Nggaaakkk… bukannya saya sudah jago banget bahasa Inggris apa gimana, tapi saya pikir, I need to keep practicing my English. Jadilah saya ngajar. Ahahahaha… Rata-rata sih, saya ngajar anak SMP dan SMA. Lewat ngajar inilah, saya bisa ketemu sama Gita, yang tadinya cuma kenal lewat twitter ajah. Trus, saya juga pernah ngajar kelas kontrak di PT POS. Jadi saya ngajar para karyawan di sana, adalah sekitar 20-25 orang gitu. Kalo bagi saya pribadi sih, lebih gampang ngajar anak SMA dan yang udah dewasa gitu. Pernah nih ya, saya disuruh gantiin kelasnya temen, ngajar kelas children. Astaga…itu selesai ngajar, saya kehabisan energi dan suaraaaa… Kekna saya memang gak berbakat jadi guru TK.

Kalau tahun lalu saya sempet nulis FF, tahun ini, mungkin karena frekuensi kesibukan itu, saya jadi sangat tidak produktif untuk nulis. Saya cuma sempet nulis 1 cerbung (17 part, kalo gak salah) dan 3 cerpen. Agak kecewa sih, Karena sebenernya, saya kangen nulis. Saya kangen menumpahkan ide, membayangkan adegan mewujud dalam kata, memainkan kalimat, menggambarkan emosi. Gak cuma FF sih, frekuensi saya nulis di blog ini juga sangat menyedihkan. *ngelap debu di blog*

But on the other hand, saya jadi lebih banyak membaca di tahun ini. Kalau tahun lalu saya cuma membaca 40 buku, tahun ini, sampai dengan malam terakhir di tahun 2011, saya berhasil menamatkan 102 buku, excluded beberapa buku yang saya re-read. Well, reading is a way for me to procrastinate, and also a way for me to keep my sanity. Soal membaca ini juga jadi “beda” dengan kebiasaan membaca saya yang lama, karena saya sekarang…punya akun di Goodreads. Iyaaa..saya tau kalo saya telat banget gabung di komunitas iniiii… Gak tau kenapa, ikutan Goodreads membuat saya lebih termotivasi untuk membaca. About these books that I have read, I’ll write about it in a different post.

Oh, and of course, the memorable thing about this year was, it was the year of me and celebrities. Bhuahahahahaha!!!

Tahun ini, saya ketemu dengan Raditya Dika, Vidi Aldiano, dan Agus MasterChef! Ketemu Raditya Dika pas dia jadi pembicara untuk Seminar Penulisan Kreatif di Fakultas Kedokteran. Many thanks for Ka Alfi yang udah nemenin dan jadi fotografer :D. Terus, si Vidi, ketemu waktu dia Meet & Greet di Duta Mall. Karena ketemu Vidi ini, saya jadi bisa ketemu juga sama salah satu temen di Twitter: si Tri :). Trus, kalo Agus, karena dia jadi juri di Lomba Masak di FMIPA. Waktu itu saya ikutan, dan Alhamdulillah, saya (surprisingly) jadi juara I.

Tahun lalu, sport event yang paling berkesan, tentu saja World Cup dan Thomas-Uber Cup. Tahun ini? Sea Games!!! Mulai dari the spectacular opening ceremony, dan tentu saja… prestasi Tim Indonesia. Indonesian athletes are this year’s heroes, I should say. They bring back the glory of Indonesia. Setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi menjadi juara umum (masuk 3 besar aja kekna udah gak pernah), tahun ini Indonesia berhasil merajai perolehan medali emas. Oh well, memang sedikit kecewa karena emas dari sepak bola jatuh ke tangan Malaysia. Tapi teteup, Indonesia berjayaaaa *keplok keplok*. Dan salah satu yang paling membanggakan, tentu sajaaaa… emas dari cabang bulu tangkis!!! Pertandingan beregu terutama yang paling menegangkan. Seruuuuu… Ahahahah… Agak sedih waktu Sea Games berakhir. Well, sampai jumpa lagi di Sea Games tahun 2013 :D!

Overall, it’s been another year. I wouldn’t say that it’s a bad year, nor a good year either. Karena bagi saya, apapun yang telah terjadi, tidak seharusnya disesali terus-terusan. Bagi saya, apapun yang telah terjadi di tahun ini, banyak yang membawa kenangan. Banyak yang bisa menjadi pelajaran bagi saya. Semua menggariskan warna tersendiri dalam kehidupan saya.

I met a lot of new people this year. I did a lot of things I’ve never done before. And I know, that God made me went through it so that I can learn from all of those people and all of those things. And for that, I feel so grateful.

Farewell, 2011! Thank you for everything! Let me keep you in my memories =).

Sabtu, 10 Desember 2011

Selamat Ulang Tahun, HIMAMIA!

Tahun lalu, saya jadi juri untuk acaranya himpunan mahasiswa di PS Kimia. Dan tahun ini, lagi-lagi saya diminta jadi juri borongan, untuk lomba tari, vokal grup, madihin, dan stand up comedy. Saya jadi bertanya-tanya sih sebenernya, ini anak-anak minta saya jadi juri dasarnya apa ya? Apa karena saya lah dosen yang paling sering berkeliaran di kampus?
Lomba-lomba ini sebenernya sih proker mereka, untuk merayakan ulang tahun Himpunan Mahasiswa Kimia. Ecieee… udah 10 tahun aja nih HIMAMIA ;).

Eeeeniweiii… Jadilah hari Sabtu, 10 Desember tadi, saya bersama si Dian Hasrie (mahasiswa angkatan 2007 yang secara menakjubkan adalah Duta Budaya KalSel) duduk manis di depan dengan posisi sebagai juri.

It was so much fun!

Tentu saja, yang paling bikin saya kagum, bangga (plus terkaget-kaget) adalah ngeliat mahasiswa saya yang biasanya mukanya rusuh dengan kuliah, praktikum, laporan dan proposal jadi bisa begitu kreatif di bidang seni.

Oh iya, selain lomba-lomba di atas, saya juga diminta jadi juri lomba puisi. Akhahahaha… ternyata mahasiswa Kimia banyak menyimpan potensi para penyair berbakat. Ada lho satu peserta yang ngirim puisi sampe 5 apa 6 buah puisi gitu. Duh, jadi malu saya. Dosennya aja kayaknya gak sekreatip dia.
Pas acara mulai, waktu si Adi, sang Ketuplak ngasih sambutan, kok ya sempet-sempetnyaaa hapenya bunyi gitu XD. Nyiahahahaha…. Terus kan mestinya ada sambutan dari Ka PS juga. Secara si Pak Budi ternyata gak bisa dateng, jadilah, seperti yang sudah bisa ditebak, saya yang manis dan malang ini yang harus mewakili beliau. Duh, semoga mahasiswanya gak pada bosen aja ngeliat saya yang kekna muncul terus aja tiap mereka bikin acara.


Performance pertama, pembacaan puisi oleh mahasiswa yang puisi ciptaannya terpilih (saya pilih, lebih tepatnya ;p) jadi Juara I. Majulah si Harmudzie alias Ozi. Wakakakakak… padahal puisinya cukup bernuansa galau, tapi secara tampang si Ozi flat alias datar dan rata begitu aja, kami malah ketawa mulu waktu dia baca puisinya.

Tadinya saya pikir, kalau di jadwal acara yang dikasih ke saya sih, mula-mula performancenya tari dulu, terus madihin, lalu vokal grup, baru stand up comedy. Ternyata, entah karena menyesuaikan sama kehadiran peserta atau gimana, tampilnya agak acak gitu. Jadi yang pertama tari dulu, habis itu madihin, pokoknya gak urut per performance gitu. Tapi lumayan sih, karena jadinya gak bosen. Yah, walopun dampak negatifnya adalah saya dan Dian jadi agak kalut menyiapkan berkas penilaian.
Peserta lombanya adalah wakil dari angkatan 2008, 2009, 2010, dan 2011. Cuma tari aja yang gak ada wakil dari 2011.

Oh. My. God.
They are GOOD!

Untuk tahun ini, angkatan 2010 lagi meraja *Tsaaahh… bahasakuuuu*. Madihin mereka keren aja, kalo biasanya Madihin cuma satu atau dua orang, mereka borongan, majunya berempat. Dan dua di antaranya, termasuk si pembaca syair, itu cewek! Keren! Dan kayaknya, logat Banjar Melayu nya yang paling pas ya Angkatan 2010 ini. Vokal Grup pun mereka kompak banget. Harmonisasi suaranya cantik sekaliiii… Mereka bawain lagu Cinta. (yang itu lho… Cintaaa… akan kuberikan, bagi hatimu yang damaaaai… Cintaku, gelora asmara, seindah lembayung senjaaaa….). Waktu tari kreasi juga, seneng deh liat mereka. Tariannya mungkin sederhana ya, tapi karena mereka bawainnya kayaknya enjoy banget, jadi ikutan menikmati juga :D. Jadilah mereka Juara I untuk lomba Tari, Vokal Grup dan Madihin. Great work, guys!!!


*Tari kreasi dari Angkatan 2010*

*Sinta, salah satu vokalis dari Angkatan 2010 waktu nyanyi solo. Suaranya beniiiiiing! And she's so pretty, isn't she =)*


*Vokal Grup Angkatan 2010. Liat si Ricky deh, gayanya bener-bener kayak Ketua RT XD*


*Madihin dari 2010. Regina yang mukul terbang, Niken dan Leo baca syair, sama Brian yang pukul terbang juga*


Vokal Grup Angkatan 2008 bawain lagu…. Itu Aku. Iyaaa… “Itu Aku” nya Sheila On 7. Gimana saya gak mau histeria jaya??? Untunglah saya tidak sempat khilaf menyangka si Abdi mirip sama Duta *Jauh Di… jauh bangeeeet X)*. Agak geli juga sih liat Abdi yang kayaknya penghayatannya pas nyanyi total banget. Tapi tetep aja mereka nyanyinya baguuussss…

*Vokal Grup Angkatan 2008, liat deh gaya Abdi yang sepenuh hati, jiwa dan raga ;p*


*Tari Kreasi dari Angkatan 2008. Keren!!!*

Angkatan 2011, para new comer, sepertinya juga bakal banyak menyumbangkan bakat baru deh. Vokal Grup mereka sebenernya harmonisasinya bagus, cuma kurang pede aja, jadi keliatan kurang kompak. Tapi kalo soal kualitas suara, they’re good!


*Vokal Grup Angkatan 2011, para new comer yang bakal banyak beprestasi nih kayaknya :)*

Stand Up comedy nya lumayan lucu-lucuuu… Ahahahaha… si Ozi *yang tampil untuk ketiga kalinya!* paling lucu malah pas minta perpanjang durasi. Ternyata dia suka nonton Stand Up yang di Metro TV sama Kompas TV jugaaa… No wonder beberapa materinya sound familiar. Yah, walopun Ozi dengan materinya sebetulnya membuat dirinya sendiri beresiko gak lulus Kimia Lingkungan nih Ziii… Yang juara I, si Firman, angkatan 2009. Dia stand up comedy pake bahasa Banjar. Eh astaga, saya sampe sakit perut aja denger dia ngelawak. Deuh, mana pas openingnya dia sempet bergombal-gombal ria samaaaaa…..si Ading… Nyiahahahahaha…

*Stand Up Comedian dari Angkatan 2009, dijamin lucu!*

Dari Angkatan 2011, stand up comediannya calon seleb baru nih. Sebenernya dia gak siap materi. Tapi gak tau kenapa, ngeliat ekspresi ajaib dia, kita udah ketawa aja. Mana kadar percaya dirinya agak over the limit pula.


*Hernawan, calon seleb baru Kimia dari Angkatan 2011*

TAAAPIIIII…
Klimaksnya adalah… Vokal Grup dari Angkatan 2009! Rombongan boy band gagal pentas ini mah XD!
Pas mereka pertama kali masuk, saya sama Dian udah sempet penasaran aja. Ada Daru, Adi, Risnu dan Firman, plus si Izul yang maen gitar. Lah, ceweknya mana ya?

*Boy band ala Angkatan 2009. Siap manggung kapanpun, dimanapun, dengan resiko apapun*

Dan begitu mereka mulai nyanyi “Inikah Cinta”… itu dari awal sampe akhir kita tuh gak brenti-brenti ketawaaaaa… Umaygat, itu si Firman gayanya udah bener-bener obral pesona bangeeetttt. Dan Daru, Daru gayanya keliatan paling…unyuuuu XD. Sampe-sampe si Adi kayaknya malu sendiri mesti bergabung sama mereka. Padahal lho, kalo menurut saya, perform mereka lah yang paling menghibur.

Overall, that day has been such a great day! I had so much fun watching the students being wonderfully creative.
Bangga deh punya mahasiswa kayak kalian :).

Last but not least, Happy Birthday, HIMAMIA Redoks! Teruslah berkarya dan menjadi kebanggaan PS Kimia \(^_^)/ !!!


Kamis, 10 November 2011

The Day I Met Failure

Senin 7 November kemaren., akhirnya saya mendapatkan apa yang selama ini saya tunggu: e-mail dari salah satu universitas di Jerman. Isinya singkat. "Your application has been reviewed, and we regret to say that you can not be accepted for this Master Programme, due to insufficient background that we expect…

Yap. Saya gagal. Melayang sudah harapan saya untuk menjadi salah satu awardee DAAD. Saya langsung blank. Dan saya…nangis selama setengah jam lebih. Saya merasa saya sudah ngecewain Mama, Abah, Ita, temen-temen di PS, Christian yang sudah ngasih recommendation letter…

Toh, setelah nangis itu, saya masih bisa pergi keluar sebentar untuk beli nasi goreng. Sambil nungguin si Mas masak pesenan saya, saya bengong sambil mikir. Banyak hal yang berkelebat di benak saya. Iya, saya gagal. Untuk kali ini. But still, it won’t stop me. Abah dan Mama begitu denger berita ini *dari saya yang cerita sambil terisak-isak* juga bilang mungkin memang belum waktunya bagi saya. Dian, yang bingung kenapa tantenya ini tiba-tiba nangis gitu aja, padahal gak ada yang sedih-sedih di TV, juga langsung memeluk saya. Adik saya juga menghibur saya.

They are right, of course =).

Tuhan bukannya tidak mendengar doa saya. Dia bukannya tidak mau mengabulkan harapan saya. Dia hanya ingin saya memperoleh sesuatu yang lebih baik dari ini. Tuhan cuma ingin mengajarkan, bahwa ada saatnya saya harus jatuh dulu untuk bisa bangkit kembali dan berlari lebih kencang lagi.

Saya pikir-pikir lagi, memang mungkin saya salah strategi juga. I applied for a master degree instead of for a Ph.D. The course that I aimed for was in the Faculty of Engineering and Hydraulic (or something like that) that expect their students to have a professional background in water management. I sent an ITP certificate while International TOEFL or iBT was actually preferred. *garuk kepala sendiri* *nyengir*


That day, I met failure. But it won’t stop me.

Toh sebelum ini, sudah begitu banyak karunia Alloh yang Dia limpahkan pada saya. Keterima di UGM lewat jalur PMDK. Ikut PIMNAS. Having this job. The scholarship from AusAid. Fabulous experience with amazing people. And of course, one of the best gifts that He gives me is my family, people who always be with me with their love and prayers.

Why should I complain for one single failure that I have?

Toh sebelumnya saya sudah pernah berkali-kali menghadapi kegagalan juga. Dapet E untuk Stereokimia Organik (huahahaha… memang ya, saya dan Kimia Organik gak pernah rukun XD), gagal jadi istrinya Duta (okeabaikanyangsatuini), keberangkatan yang tertunda karena medical problem. All of those troubles that once came my way. And look, I still survive =).

And then, the next day, I woke up and still can face the day with my smile.

My theme song? I Get Knocked Down, by Chumbawamba.

We’ll be singing, when we’re winning

We’ll be singing…

I get knocked down, but I get up again.

You ain’t never gonna kicked me down!

Every new day is a new opportunity for me to make my steps, reaching my dreams and make them come true =)

Jumat, 21 Oktober 2011

Currently Watching, Currently Listening


Akhir-akhir ini sepertinya frekuensi saya untuk memencet-mencet remote TV jadi lebih tinggi dibandingkan frekuensi memnadangi layar TV nya. Iya deh, secara acara TV sekarang oh-sungguh-begitu-amat sekali. Dari dulu sampai sekarang saya gak pernah suka nonton sinetron. Saya gak pernah habis pikir kenapa para tokoh baik polosnya kebangetan, dan yang jahat juga selalu mesti ngomong sendiri dengan suara keras kalau sedang memikirkan rencana jahatnya. Paling-paling acara TV yang saya tonton itu ya berita, kalo ada film yang bagus (dan ini amat sangat jarang sekali), pertandingan sepak bola, atau acara musik. Acara musik inipun biasanya saya jatuhnya lebih sering mengomentari penyanyinya. Ya bajunya lah saya bilang ribet, gayanya lah yang lebe jaya. Infotainment? Kadang-kadang. Kalo lagi penasaran sama kasus artis berantem. Tapi tetep aja infotainment lama kelamaan jadi nyebelin. Apalagi infotainment di stasiun TV ar-si-ti-ai. Kayaknya kok kalo di infotainmentnya mereka, artis di Indonesia tidak akan pernah jauh-jauh dari lingkaran KD dan suaminya yang pengusaha berwajah petinju itu, atau mantan suaminya KD yang sedang dimabuk asmara, atau kakaknya KD yang pacaran dengan Raffi Ahmad itu. Muternya di situ-situuuuu aja.

Anyway, beberapa minggu terakhir ini, saya jadi cerah ceria karena B-Channel mulai menyiarkan X Factor USA. Dari dulu saya memang suka talent show beginian sih. Apalagi… yang jadi jurinya, tentu saja, the one and only, Simon Cowell!



I always love his accent and his sarcasm. Sekarang sudah masuk di tahapan seleksi juri di rumah mereka masing-masing. Duh, itu rumahnya Simon di Paris pula. Kurang keren apa cobaaaa!!! Belum lagi, untuk yang mendampingi Nicole yang bakal jadi mentor untuk grup kontestan Over-30s, juri tamunya adalaaaahhh… Enrique Iglesias!!!




AAAAAA! *histeris dulu selama 15 menit*

Sejauh ini, jagoan saya si Drew. Waktu audisi, dia nyanyi Baby. You can check out her performance here. And I found her version was better than the original version by poni-lembar-boy. Waktu di rumah Simon juga, dia nyanyi It Must Have Been Love, and it was AWESOME!
Waktu audisi di rumah juri ini juga saya jadi suka sama Phillip Lomax, yang nyanyi Please Don’t Stop the Music. Jadinya rada nge-jazz gituuu… Liat aja disini. Keren lah pokoknya.

Selain The X Factor, acara TV penyelamat hidup saya juga di B-Channel: Junior MasterChef! Ahahaha… iya sih, yang tahun 2009. Bahkan adk saya dengan menyebalkannya udah ngasih tau siapa yang akhirnya jadi pemenang. Tapi teteup aja, saya suka terkagum-kagum melihat para anak kecil itu dengan jagoannya bikin berbagai macam hidangan. Kemaren waktu invention test disuruh bikin masakan dengan bahan dasar daging kambing, they came up with magnificent dishes. Saya terpana aja liatnya. Saya mah kambing cuma kepikir dibikin gule doang. Atau sate.

Another good show yang saya tunggu-tunggu setiap minggu: StandUp Show di Metro TV =D. Sungguh menyenangkan melihat acara komedi yang tidak mengandalkan kelucuan ala slapstick. Seriously, acara komedi dimana orang saling memukul dengan properti dari styrofoam itu gak ada lucu-lucunya sama sekali.

Oh, and I also like The Kitchen Musical yang sekarang juga diputer di Metro TV. Kemaren saya ketawa aja liat You Can’t Hurry Love dinyanyikan dengan nuansa India gitu, lengkap dengan acara nari rame-ramenya.

Anyway, selain acara TV yang saya omongin tadi, saya lagi pengen cerita soal playlist saya lagi didominasi beberapa lagu. Yaituuuu… lagu-lagunya Maroon 5 dari album mereka yang Hands All Over.
Semenjak mereka muncul pertama kali dengan single This Love, saya memang udah jatuh cinta sama band yang satu ini. Suara vokalisnya, Adam Levine, bener-bener khas. Dan lagu mereka semua keren-keren. Saking cintanya saya sama band ini, waktu mereka konser di Jakarta kemaren, saya jadi galau maksimal. Pengen banget nontoooooon!

Yang sekarang lagi sering saya putar, tentu saja, Moves Like Jagger, a song with a very uplifting beat. Cocok nih buat bikin semangat pagi-pagi.
Trus lagi sering muter Misery, mulai dari yang original version sama yang acoustic versionnya. Seneng sama lagu ini bukan cuma karena beatnya, tapi juga liriknya.

So scared of breaking it,
that you won't let it bend
And I wrote you hundred letters
I would never send
Why won’t you answer me?
This silence is slowly killing me..
It’s not that I didn’t care
It’s that I didn’t know
It’s not what I didn’t feel
It’s just I didn’t show

Strong lyrics sang by an intoxicating voice, wrapped in a great music. What more do you expect???

And lately, Just A Feeling sama Never Gonna Leave This Bed bener-bener terngiang terus di telinga saya. Apalagi lirik Just A Feeling itu.

And she cries
"This is more than good bye.
When I look into your eyes
You’re not even there"

To the jleb banget gak sih liriknyaaaa??? *galau mendadak*.

Anyway, acara-acara TV tadi paling tidak bisa bikin saya semangat. Sekarang hari Kamis aja saya udah seneng, karena inget bakal ada X Factor dan StandUp Show.
What about you, what show currently has become your favourite? What song that currently has been played over and over again?

Minggu, 09 Oktober 2011

Me and the Cooking Cup

To tell you the truth, cooking is not my thing. Yep, waktu sekolah dulu saya pernah memasak sendiri. Tapi begitu selesai sekolah dan pulang kembali ke tanah air, saya cuma tau makan aja. Jadi saya sendiri juga sebenernya nyaris tidakpercaya sama diri saya sendiri waktu saya ikut lomba memasak.
Silakan dibaca lagi kalimat di atas. Anda gak salah baca kok, saya ikut lomba memasak.

Jadi gini, dalam rangka Dekan Cup, salah satu lomba yang diadakan oleh BEM FMIPA *ye,p Fakultas MIPA, tempat saya mencari nafkah* adalah lomba memasak. Tadinya saya gak ada minat sama sekali untuk ikutan. Tapi akhirnya saya jadi tertarik karenaaa… satu, masaknya boleh di rumah, jadi di kampus udah tinggal nata-nata hidangannya aja. Kemudian, yang alasan selanjutnya yang membuat saya makin semangat untuk ikut adalaaah… Jurinya si Chef Agus! Iyaaa, yang jadi Runner Up Master Chef Indonesia ituuu! Eh, gini-gini saya penonton setia MCI lho, dan saya pendukung Chef Agus *selain karena dia jagoan, dia juga.. ganteng*.

Eeeniwei, tentu saja, sebagai seseorang yang menyadari kelemahan diri sendiri, langkah pertama yang saya lakukan adalah merayu Mama untuk membantu saya. Tadinya sih mama gak mau. Tapi setelah membaca selebaran tentang lomba itu yang saya bawakan, si Mama malah jadi semangat juga. Dia tau-tau udah mengajukan berbagai macam ide masakan, sementara saya cuma manggut-manggut aja. Lombanya hari Sabtu, dan Jum’at malem, begitu saya sampe rumah, si Mama udah selesai aja bikin semacam nugget gitu dari ikan haruan. Bentuknya lucu-lucu pula, dicetak Mama pake cetakan kue.


Sabtu paginya, sampe di kampus, seperti biasa saya pake acara panik dulu. Secara nih ya, saya agak-agak clueless membayangkan itu si nugget mau ditata seperti apa. Apalagi begitu melihat pserta lain yang oh-keren-sekali-masakannya. Peserta dari dosen totalnya ada lima orang. Kalo dari mahasiswa, akhirnya ada 11 apa 12 orang gitu. Saya dapet nomer peserta dua. Di sebelah saya, Bu Wati, staf bagian kepegawaian yang memang punya katering. Begitu melihat masakan dia yang ditata dengan begitu cantiknya di atas piring, serius saya pengen mundur aja. Apalagi melihat masakan punya Ipul, yang ditata ala chef profesional. Itu lhooo..yang sausnya dibentuk kayak garis abstrak gitu di atas piring. Untunglah para mahasiswa saya dengan baik hatinya ikut bantuin nata-nata si nugget itu.


*para mahasiswa yang bantuin ibu dosennya yang sedang panik*

Setelah berpikir selama…beberapa detik, akhirnya saya memutuskan untuk menamai nugget itu sebagai… Hau Good. Hau dari kata haruan, sementara Good karena mau nyaingin nugget So Good.


*tampilan si Hau Good*

Sekitar hampir jam 10an, Agus dateeeng. Ih ya ampun, dari deket dia ganteng bangeeeet. Senyumnya itu lho, mampu melumerkan es batu dalam segelas es teh manis.
Singkat cerita, dia mendatangi satu persatu meja peserta untuk mencicipi masakan yang dilombakan. Karena rasa gugup *biasalah, saya si drama queen harus selalu lebay* dan grogi karena berdekatan dengan si ganteng yang jago memasak, jadi aja saya mempresentasikan masakan saya dengan sungguh ala kadarnya.

Yang paling saya ingat dari komentar Agus nyicipin masakan saya? Waktu dia nyicipin sausnya: “Sausnya enak…” katanya sambil senyum.
“O ya? Alhamdulillah. Padahal itu mah cuma nyampurin semua yang tersisa di rak di dapur…” kata saya dengan polosnya. Lha wong kata Mama gitu kooook…

*saya sedang presentasi masakan di depan Agus. rasanya ngajar Kimia Unsur selama 2 x 50 menit jauh lebih gampang dibandingkan menjelaskan masakan ini selama lima menit*

Begitu Agus berpindah untuk mencicipi masakan Bu Wati, saya langsung mencicipi masakan saya sendiri. Eh, beneran, saya sendiri belum nyicipin lhoooo….

*cicipin dulu aaahh...*

Anyway, nugget HauGood saya tidak bertahan lama. Ada 12 potong yang saya bawa. Setengah potong dicicipin Agus (dan saya ngabisin yang sisa setengah potongnya ;p). Sebelum Agus selesai nyicipin semua masakan peserta, itu nugget udah tinggal setengahnya gara-gara dicicipin dosen dan mahasiswa. Trus, tau-tau, Agus belum selesai demo masak, semua nugget itu udah lenyap. Yang tersisa tinggal daun selada dan tomat yang jadi garnishnya aja.

Selesai melakukan penilaian, Agus lalu demo masak. Ih, canggih deh. Ternyata beneran ya dia kalo masak dengan gaya kalem gitu, tapi cepeeet banget. Rapi pula. Sempet sambil ngobrol pula. Canggih aja.

Dia bikin steak patin saus pandan, sama jus cempedak sasirangan. Wetsah! Keren yak?

*Chef Agus in action. Cuma satu jam, tau-tau udah jadi aja itu steak dan jus. Kereeen*

Akhirnya, pengumuman pemenaaang. Yang bacain Agus. Jujur, saya kalopun berharap menang, cuma ngincer juara III. Apalagi semua staf dan dosen di Fakultas memang sudah meramalkan bahwa yang bakal juara I itu Bu Wati. Waktu Agus membacakan kalo yang juara III itu Mbak Lina, dosen PS Fisika (nilainya 80), saya ikut tepuk tangan dengan gembira. Pas Juara II diumumkan, dengan nilai 81, saya sempet kaget. Lha, kok juara II nya… Bu Wati? Jadilah saya menduga juara I nya Pak Noer, Pembantu Dekan III kami yang juga ikut.

“Kemudian, untuk Juara I, dengan nilai 84,5…” kata Agus. Saya udah ngeliatin Ipul dan Pak Noer aja. Pilihannya kan tinggal mereka doang.

“Ya…kira-kira nomor peserta berapa yang jadi juara?” kata Agus.

Nggak tau mahasiswa, gak tau staf, ada yang teriak gini… “Nomer empaaat…”. Saya sih langsung keplok-keplok aja. Nomer empat itu nomer pesertanya Pak Noer.

Eh, si Agus manggut-manggut…

“Iya, nomer empat…” katanya. Saya senyum. Yah, paling nggak kan Pak Noer dosen Kimia juga.

Eh, tapi tau-tau Agus ngomong lagi. “Tapi empat kurang dua. Jadi juara I adalah nomer peserta dua, atas nama Utami Irawati.”

Saya bengong. Lalu tereak. “Whuaaa… Kimia menaaang!!”. Mahasiswa Kimia juga pada tepuk tangan dan tereak-tereak, sementara saya dengan noraknya loncat-loncat. Ahahaha… seneng bangeeeet.

Udah gitu, untuk kategori mahasiswa, Kimia dapet juara II! Weeeyyy… Keren banget kaaan =D!

Trus para pemenangnya disuruh maju untuk nerima piala. Eh, ternyata yang nyerahin pialanyaaaa… Bukan Agus -_-. Yang nyerahin piala Pembantu Rektor III. Mbak Lina udah bisik-bisik aja : “Yah, kok bukannya Agus aja ya?”. Saya langsung setuju. With all due respect ya Pak, ketemu sama PR III mah banyak kesempatannya. Tapi ketemu sama Agus?

*saya, Bu Wati yang Juara II, sama Mbak Lina yang Juara III*

Tapi tapi tapi… selesai foto bareng sama peserta…
...
...
...


*saya sama siapaaaa? Sama Aguuuus :D*

Iyaaa… saya foto sama Aguuuus! Ecieee... ini begitu dia ngerangkul saya gitu, saya langsung disorakin mahasiswa lho ;p.

Pas selesai pembagian hadiah, saya langsung ngabarin Abah-Mama. Mama tadinya sempet gak percaya, karena kata Mama bikin masakan itu tadi gampang banget. Tapi pas malemnya saya pulang dan ngasih liat pialanya, Mama baru percaya. Ahahaha…
Jadilah ini membuktikan, that I have the best Mom in the world. Masakan Mama memang adalah masakan paling enak seduniaaa.
I love you, Mom =*

*Chef paling jago di seluruh dunia :D*





Selasa, 27 September 2011

Balikpapan dan Tragedi Koper

Minggu lalu, saya dan beberapa orang temen ikut training di Balikpapan. Keren kan ya? Trainingnya pula, judulnya Training for Proposal Grant Writing. Wetsaaahhh… Acaranya diadain HKI, dan sponsornya CRDF, sebuah NGO dari USA. Secara nih ya, sponsornya dari luar, acara dan akomodasi di Hotel Grand Senyiur. Hotel berbintang banyak, dan satu kamar sendiri. Jadi aja saya dengan noraknya menikmati fasilitas hotel dengan wajah berbinar-binar =D.

Trainingnya sendiri cukup menarik, ada tiga pembicara, Charles, Joyce, dan Colin. Materi yang mereka sampaikan tentang bagaimana menulis proposal untuk mendapatkan grant penelitian dari luar negeri. Gak kayak kalo ikut pelatihan lain yang biasanya selalu ada adegan saya ketiduran, untuk training kali ini, dengan ajaibnya saya bisa mendengarkan, even do the note taking. Sebenernya sempet berasa ga enak, pas bagian sesi tanya jawab, saya cenderung menjadi salah satu orang yang sering bertanya. I mean, I don’t want to show off or something. But I really was curious. Lagipula, maksud saya, while I have the chance, I want to make the most of it. Maka meskipun dengan bahasa Inggris yang seadanya, saya nanya. Eh, tapi pas akhir sesi, Drew, panitia dari CRDF malah bilang terima kasih lhooo… She said that she appreciated people who asked questions, as it shows that people are really interested in the training.

Another nice thing about joining this kind of training is the chance to meet new people. Yang pasti sih, jadi ketemu sama Mbak Indah, dosen TL yang gantiin Rosy. Lalu juga ketemu dengan dosen dari Papua. Oh, dan ada Bapak dosen dari UnHalu yang baiiiik banget. Dia lulusan S3 dari Jerman *-*. Belajar beberapa hal menarik dari si Bapak Ahmad ini =D, terutama tentang menghargai hasil karya orang lain.


Oh, dan karena lokasi trainingnya di Balikpapan, akhirnya aku ketemu dengan temen lama yang sudah gak ketemu selama 6 tahun! Yeay! Finally ketemuan sama Emil – Septa (yang sudah punya dua anak kecil, Ata dan Bisma), sama Lina dan Widia. It was very nice to see them again =D.


Back to the title. Tragedinya di sebelah mana?


Jadi gini. Bulan Juni lalu, saya ikut seminar di Jogja. Dan waktu itu, saya ketemu dengan Pak Ali, dosen di Maluku. Nah, pas acara ini ya ketemu lagi. Gak sempet ngobrol banyak sih. Pas hari kita check out, sempet ketemu dia sebentar, dan dia minta nomer hape saya.


Kronologisnya sepertinya dimulai ketika saya turun dan keluar dari lift sambil membawa koper saya. Begitu pintu lift membuka, salah seorang staf hotel langsung mengambil alih koper saya. Saya mah ho’oh aja, secara saya mau ngurus check out, plus Emil dan Septa udah nungguin saya di lobby. Selesai check out, saya memperkenalkan Mb’Indah dan Sunardi sama Emil-Septa. Waktu itu Sunardi sama Mb’Indah udah di teras hotel, lengkap dengan tumpukan kper di samping mereka. Naiklah kita ke mobil. Pesawat saya dan Mb’Indah memang baru berangkat malemnya, tapi rencananya kita mau nganterin Sunardi dulu ke bandara, karena dia mau ke Berau dan pesawatnya dijadwalkan berangkat jam 12 siang. Kita sempet singgah dulu untuk beli oleh-oleh, dan sampe di bandara sekitar jam 11an. Ngedrop Pak Sunardi, dan menurunkan kper dia. Nah, pas Sunardi ngambil kopernya dari bagasi mobil, saya jadi curiga. Kok… ada satu koper lagi ya? Karena say ayakin, Mbak Indah gak bawa koper. Dia cuma bawa traveling bag. Pas saya nanya Sunardi, dia sama kagetnya dengan saya. Secara dia pikir koper item itu punya saya. Kita liat-liatan. Bengong. Lalu panik.


KOPER ITEM INI PUNYA SIAPA COBA YA?


Mbak Indah udah ketawa aja saking takjubnya.

Dalam keadaan panik, saya nelfon ke hotel untuk nanyain, ada gak tamu hotel yang lagi bingung karena kopernya hilang. Sementara itu, Sunardi dan Mbak Indah udah ngebongkar koper itu untuk nyari ID. Ketemu. Ternyata memang deh ya, si koper itu punya Pak Ali. Kayaknya karena kebetulan saya, Sunardi, Mbak Indah dan si Pak Ali ini turun untuk cehck out pada saat yang nyaris bersamaa, jadilah staf hotel yang di depan pintu lift itu dengan penuh percaya diri mengasumsikan bahwa kami satu rombongan. Jadi aja semua koper kami ditumpuk jadi satu. Lha, saya yang liat koper itu dimasukkan ke mobil kan mikirnya itu punya Sunardi. Dan Sunardi sama Mbak Indah, tentu saja berasumsi bahwa itu koper punya saya.

Nelfon hotel lagi, ternyata Pak Ali sudah check out. Parahnya lagi, kan hotel biasanya minta nomer hape tamunya ya. Lha kok pas si Pak Ali ini pihak hotel pas gak nanyain. Dengan asumsi bahwa Pak Ali pulang ke Maluku lewat Makassar, jadilah kita berkeliling counter agen penerbangan, untuk nanya, ada gak nama Pak Ali dalam daftar nama penumpang ke Makassar. Negatif. Semuanya bilang gak ada penumpang mereka atas nama itu.


Akhirnya, kami memutuskan untuk balik ke hotel. Berdoa semoga ada panitia pelatihan yang masih tersisa, dan punya nomer hapenya Pak Ali.


Alhamdulilah yah, sekitar 10 menit kami meninggalkan bandara, Pak Ali nelfon saya.


“Bu Utami dimana? Koper saya ada di Bu Utami ya?”


Iya Pak. Dan koper bapak sukses banget bikin kami panik.


Tadinya sih sempet janjian mau ninggalin koper dia di hotel aja. Tapi beberapa menit kemudian dia udah nelfon lagi, secara ternyata dia udah di jalan. Jadilah suatu pembicaraan aneh


Pak Ali: Lha, Bu Utami ini sudah sampe mana?

Saya: Saya udah hampir nyampe Plaza Balikpapan. Bapak dimana?
Pak Ali: Saya sudah sampai di..depan Bank Danamon

*saya pas lagi melongok ke jendela dan melihat gedung Bank Danamon menjulang di kanan saya*


Saya: Pak, BERHENTI Pak! Berhenti sekarang juga. STOP! *saya nyaris teriak lho ini*

Pak Ali: Ha? Jadi saya brenti disini?
Saya: IYA PAK! UDAH! Brenti disitu aja! Jangan kemana-mana lagi, biar kita samperin Bapak.

Akhirnya Septa berhasil nemu puteran jalan, dan happy ending dong. Si koper kembali ke pemilik aslinya. Dan akibat insiden itu, saya jadi laper.

Well, kalo ar-si-ti-ai terkenal dengan sinetron Putri Yang Ditukar, kami punya cerita tentang Koper yang Terbawa.


Rabu, 06 Juli 2011

Books I Grew up With

Beberapa hari yang lalu baru saja bikin akun di Goodreads. (iya, saya tau betapa telatnya sayaaaa….). Dan jadi keasyikan meng-add buku-buku di dhelf-nya saya, membaca review dan komentar orang tentang beberapa buku, menahan rasa ingin beli buku lagi melihat begitu banyak buku yang sepertinya seru banget…

Tapi yang pasti, saya jadi keinget beberapa buku yang dulu saya baca waktu saya masih kecil dan imut serta menggemaskan (yah, sampe sekarang juga masih sih ;p)

I am lucky enough that I have parents that love reading. Pertama kali bisa baca umur 3 tahun, dan mulai umur 5 tahun sudah baca buku sendiri. Jadi jujur saja, sampai sekarang saya masih suka agak heran kalau tahu ada orangyang tidak suka membaca.

Dulu, zaman Banjarmasin masih kota kecil, jumlah toko buku masih sangat sedikit. Yang saya ingat, dulu ada Sampaga. Dan saya masih ingat judul buku pertama yang saya pilih sendiri untuk dibelikan Abah disana: Sama’a sang penjaga Mata Air. I even still remember the cover. Terus ada juga Toko Buku Hasanu di deket Bundaran Air Mancur. Sayang sekali, semenjak ada Gramedia, toko-toko buku itu tidak bisa bertahan.
Terus, setiap kali Abah tugas ke Jakarta, saya pasti akan bikin daftar buku yang saya inginkan untuk dititipkan pada Abah.

Anyway, I grew up reading these kind of books

Lima Sekawan


Siapa sih yang gak pernah baca buku ini? Julian, Dick, George, Ann, dan tentu saja, Timmy! Yakin deh, yang baca buku ini waktu jaman kecil dulu pasti pernah berjhayal untuk berpetualang seperti mereka.

Seri Rumah Kecil di Padang Rumput


Baca ini pas kelas 1 SD gitu.Tapi yang Tahun-tahun Bahagia baca pas sudah kelas 4 SD gitu kali yaaa… Terhanyut banget dengan kehidupan sehari-hari Laura. Dan saya baru sadar belasan tahun kemudian, bahwa mungkin saya menyukai Laura di buku itu karena dia terasa begitu nyata, just like my reflection on the mirror. Sedikit nakal, selalu ingin tahu, diam-diam iri pada orang lain karen aberbagai alasan yang sebetulnya konyol. I even gave the name Charlotte to one of my dolls, just like Laura named her doll.

Taman Rahasia, Putri Mungil, Pangeran yang Hilang, Little Lord Fauntleroy



Semuanya karya Frances H. Burnett. Dan menurut saya, these books are evergreen classics.

Serial Malory Towers dan St. Clare




Aaaa…. Dulu ngoleksi buku ini tapi dipinjem kakak kelas dan gak balik :(. Jadi kemaren beli box setnya, dan maraton menghabiskan masing-masing 6 buku dalam serial ini. Saking sukanya sama serial ini, saya sama adek saya waktu kecil dulu suka berpura-pura menjadi tokoh dalam buku ini.

Serial Girl Talk, The Baby Sitter Club, Dear Diary


Yang ini waktu udah mulai ABG nih, pas kelas 5-6 SD, sama SMP gitu. Di Girl Talk,paling suka sama tokoh Allison. Pengen aja jadi kayak dia :D.

Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak)


Buku science-fiction pertama yang saya baca , bacanya waktu saya kelas 3 SD. Dan buku pertama dari serial ini saya baca sambil duduk di pojokan toko Gramedia di Bandung. Selesai dalam waktu dua jam. Ahahaha… waktu itu soalnya saya gak mau ikut belanja di toko lain sama Mama, jadi aja saya ditinggal sendirian di Gramedia selama hampir 4 jam. Yang masih tersisa di rak buku saya sekrang tinggal yang jilid 2 dan 3. Sebenernya agak kesel sama buku ini, karena nanggung. Di buku ketiga sih tulisannya bersambung ke buku keempat yang berjudul Lembah Api. Tapi sepertinya buku itu gak pernah terbit =(

Komik Mahabharata, Bratayudha, Ramayana
Aaaa…kangen sama komik wayang iniii! Saya dulu sampe hafal lho silsilah keluarga Pandawa dan Kurawa! Sayang ya model kayak ginian gak diterbitkan lagiii…


Sebenernya sih masih banyak lagi. Serial Pilih Sendiri Petualanganmu, Kelompok 2&1, Tro Detektif, whuaaa…kangen buku-buku jaman dulu ituuuu!

Komik terbitan Elex dulu jugaaa… Saya suka banget ngumpulin Serial Misteri. Apalagi kalo Yoko Matsumoto, pasti langsung beli. Sama yang Yu Asagiri. Bagus-baguuuus! Gambarnya bagus, ceritanya juga, mulai dari konyol (favorit saya Time Limit, Empat Sekawan, sama SOS), so sweet (Ring Memory, School, dll). Kalau komik jaman sekarang? Jujur, saya ngerasanya terlalu vulgar. Beda dengan cerita romantis di komik jaman dulu, yang plos tapi malah simply sweet and romantic.

Kalau dipikir-pikir, cerita jaman dulu itu karakternya sedikit beda dengan novel remaja zaman sekarang ya? Ceritanya lebih sederhana, bahasanya lebih lugas.
Makanya, seneng banget liat Taman Rahasia, A Little Princess dan beberapa buku klasik semacam itu dicetak ulang lagi :’).

Aaahh… Jadi kepengen membaca ulang kembali beberapa buku yang dulu menjadi penghias masa kecil saya :p

Jumat, 01 Juli 2011

The Lost Hero – Rick Riordan

I am a HUGE fans of the Percy Jackson series. Lagian semenjak kecil, I always have the soft spot for Greek Mythology. Makanya, begitu liat novel ini di Periplus Istana Plaza Bandung, tanpa mikir lagi saya langsung ngambil aja. Dan mendekapnya erat-erat di dada. Dengan wajah yang berbinar-binar dan mata berkaca-kaca. Tapi kalau dibandingkan betapa lebainya saya dalam adegan pembelian buku ini, anehnya buku ini baru saya baca sekitar dua minggu yang lalu.


Belinya sebenernya udah lama, Desember 2010 gitu. Dan saya selalu menunda-nunda membaca buku ini. Saya dengan absurdnya berpikir, nanti kalo saya baca, habis baca itu saya gak punya bacaan lagi dong? Dan tentu saja saya menutup mata pada kenyataan bahwa sampai saat ini ada lebih dari 15 novel yang segel plastiknya aja belum dibuka.

Aannnyway… Akhirnya saya baca juga… AND I LOVE IT :D!

Yes, The Heroes of Olympus series is the sequel from Percy Jackson series. Bagi yang ngikutin Percy Jackson, inget dong that the last book ended with a prophecy? Dan novel ini merupakan perwujudan dari ramalan itu.

Tokoh sentralnya sebenernya baru. Jason, Leo, dan Piper. Obviously, they are demigods. Beberapa tokoh lama juga sempet muncul disini, Annabeth, Thalia, Chiron… Well, Percy, in one way or another, was also mentioned in this book. Was mentioned, not showed up.

Mirip dengan seri pendahulunya, ketiga remaja ini tadinya gak nyadar kalo mereka adalah blasteran dewa-manusia. Sekali lagi, mirip dengan seri pendahulunya, mereka baru sadar that there is something way so unusual about them, karena mereka harus berantem dengan monster. Geez, kenapa sih gak bisa ya mereka tahu bahwa mereka itu half-bloods in a more conveninet way? Ya, misalnya pas lagi duduk-duduk minum teh, tau-tau ada yang dateng, terus bilang, “Nice weather, huh? And by the way, do you know that you’re the daughter of Aphrodite?”.

Ngeeeniweeeeii…

Salah satu hal yang sangat beda, adalah point of view yang dipake. Di novel ini, Riordan pake point of view orang ketiga. Dan KETIGA tokoh dipake. Jadi dua bab pertama adalah POV Jason, trus dua bab selanjutnya dari POV Piper, trus dua bab lagi POV Leo. Dan gitu lagi. Not bad. Dan saya ngerasa, karakter tokoh jadi muncul banget disini. Oh, oke, yang Jason mungkin gak begitu ya… Tapi si Leo ini, asli, saya langsung jatuh cinta sama Leo. I mean, he’s funny, tapi di sisi lain, he has a soft spot too. Apalagi tentang betapa sayangnya dia sama ibunya, dan betapa dia merasa bersalah terhadap apa yang menimpa ibunya. Lagipula, si Leo ini yang paling lucuuuu. Komentar-komentarnya suka ajaib aja. Apalagi waktu dia naksir sama Ratu Es itu…

Another different thing, is the age. Buku pertama Percy Jackson waktu dia berusia 12 tahun. Nah, seri ini dimulai waktu tokohnya sudah remaja semua. Jadi ya… pergolakan batinnya model-model galaunya anak remaja gitu. Terutama antara Jason dan Piper -_-“. Toh, setiap tokoh punya konflik batin masing-masing.

Kemudian temanya juga..agak sedikit…beda. Inti utamanya masih sama, peperangan antar dewa gitu. Cuma di buku ini, tidak hanya mitologi Yunani, tapi juga ada mitologi Romawi. Kalau dipikir-pikir, memang sebagian besar dewa-dewi dari kedua mitologi itu sama sih. Cuma namanya aja yang beda-beda. You know, Aphrodite in the Greek myths, Venus in the Roman. Greek people call him as Ares, and Roman people know him as Mars. Kemudian mitologi yang ada di buku ini juga diceritakan lebih detail. Misalnya aja, soal kelahiran Aphrodite. Eh, tapi saya sempet agak bingung soal Medea deh… Saya sampe sempet brenti baca sebentar cuma untuk googling tentang siapa itu Medea ._.

As usual, Riordan punya cara sendiri untuk membuat pembaca terhanyut. Apalagi cerita sudah diawali dengan suatu misteri, Jason yang tiba-tiba saja sudah lupa tentang identitasnya sendiri. Dan tentu saja, the thing that I always find fascinating about Riordan’s writing, cara dia membuat tokoh-tokoh mitologi itu hidup kembali dengan latar dekade ini. Favorit saya? Aeolous, the master of winds, yang malah menjadi anchor untuk berita ramalan cuaca.

However, ada beberapa hal yang di bawah ekspektasi saya. First of all, it’s such a damn thick book! Hampir 600 halamaaaaan…. Dan itu karena there are so many things happened in the book. So.many.things. Kemudian, gak tau kenapa, saya suka berasa datar aja kalo pas POV nya Jason. Walaupun sepertinya dia yang jadi leader dari ketiga remaja ini, bagi saya dia jadi terasa…membosankan. Beda dengan bab dimana POV yang dipakai adalah POV nya Leo. Joke-nya selalu bikin saya ketawa. Ikut berasa nyesek waktu akhirnya dia ketemu sama ayahnya yang dewa. Pengen nangis waktu dia, untuk kesekian kalinya, merindukan ibunya dan merasa bersalah atas kematian ibunya. And somehow, the feeling that Leo was trying to hide. That he actually often feels like a square peg in a round hole. That he belongs nowhere. That he’s the odd one out. A very familiar feeling.

And one thing that I found a bit weird, kok jaraknya berasa terlalu singkat ya antara kejadian dimana seri ini dimulai dengan kejadian dimana Percy Jackson series berakhir? Saya malah merasanya kenapa para dewa-dewi itu tidak betah hidup damai???

Novel The Lost Hero ini adalah buku pertama dari seri The Heroes of Olympus, yang akan menjadi tetralogi. And guess what? Setiap buku akan diterbitkan tiap tahun. The Lost Hero was published in October 2010. The next one, The Son of Neptune, will be released in October 2011. KENAPA COBA YA MESTI SELAMA ITU???

Anyway, I give 4.5 out of 5 for this book =).

Selasa, 28 Juni 2011

Random Siang Hari

Okay. So this is near the end of June. Yang artinya paruh pertama 2011 tau-tau udah lewat ajaaa? Gue kemana ajaaaa????

Procrastinating, of course.

Jadi suka pengen getok kepala sendiri kalo inget betapa banyak hal yang sebenernya bisa dari kapan itu selesai, tapi malah saya tunda-tunda.

1. Form aplikasi beasiswa masih tergeletak tanpa ada coretan apapun sedikitpun. Shame on me. Ngapain minta reference ke Christian kalo akhirnya gak dipake?

2. Naskah iseng-aja-pengen-nyoba-nulis itu masih tergeletak di rak paling bawah lemari. So far from being sent to anyone.

3. Tabungan bukannya menggemuk, malah makin kurus aja -_-. Etapi kan dipake buat bikin dapur di RSS gue sendiri ding. Hahahaha... Ngelesnya yang ini lumayan deh.

Anyway, setelah bikin posting ini, semoga semakin termotivasi untuk mulai melengkapi berkas. All that I need to do sebenernya tinggal melegalisir beberapa dokumen, ngisi form. Udah. Somethingthat I can actually do in 2 days. Tuhaaaannn... maafkanlah hambaMu yang kebangetan ini :(

Bismillah... Semoga niat ini terus menyala :)

Selasa, 14 Juni 2011

Me, and… VIDI ALDIANO!

Maap. Dari judulnya aja udah keliatan histeris ya? Yah, begitulah… Saya kan udah pernah bilang di posting yang ini, kalo sampai sejauh ini, ada 3 orang yang bisa bikin saya lupa umur dan lupa profesi saking histerisnya. And Vidi is one of them :).

Pas kapan itu, saya lewat perempatan, dan langsung cengo liat ada baliho gede yang intinya, Vidi mau konser di Banjarmasin! Eh, demi deh, seriusan ini??? Tapi begitu liat pelaksanaannya, saya langsung hopeless. Pertama, shownya mulai jam 9 malam. Dan saya yakin, paling Vidi baru muncul di panggung jam sepuluh lewat. Deuh. Kedua, acaranya di salah satu pub di kota ini. For one and some reasons, saya menghindari datang ke tempat-tempat semacam itu.

Jadi sebenernya nih ya, hari Sabtu tanggal 11 itu dimulai dengan sedikit kelabu. Saya sih memang udah minta izin di tempat saya ngajar les, kalo sore itu saya gak bisa masuk. Karena rencananya, malam itu saya mau begadang buat nyelesain slide saya untuk presentasi hari Selasa nanti. Eh, mungkin karena Tuhan tau kalo saya ngepens sama mahluk ciptaanNya yang satu itu, jadi entah kenapa, hari Sabtu itu di kampus sepi, dan saya gak ada kerjaan. Jadi aja jam setengah dua belas saya udah bisa pulang. Pas lagi di jalan, pas OL twitter..dapet info kalo… ADA MEET AND GREET VIDI DI DUTA MALL! Astaga, itu sopir angkot sampe mau saya kalungin kembang tau gak sih saking senengnya.

Yo wis, dengan penuh semangat membara menyala-nyala seperti api unggun pramuka, langsung aja saya ngeloyor ke sana. Singgah sebentar di Gramedia, trus naik ke atas, ke food court tempat MnG nya nanti. Tadinya sih sepi, walopun panggungnya udah disiapin. Baru ada sekitar 8 orang yang udah pake baju Vidies duduk di tempat duduk khusus deket panggung situ. Atuh saya mah BERUSAHA terlihat kalem dan santai (padahal dalam hati deg-degan), jadi dengan manisnya, saya pesen pempek dulu. Laper. Habis bayar, dan mau balik ke tempat yang rada deket sama panggung, lah, kenapa jadi mulai penuh gitu? Sialan. Untung masih dapet kursi deket situ. Berapa lama ya saya sempet nungguin gitu? Yah, sekitar hampir 45 menit sih, trus, lama-kelamaan, makin banyak crew yang dateng, meeka mondar-mandir sambil ngomong lewat HT gitu. Melihat perkembangan semacam ini, berdirilah saya, dan mulai bergeser mendekat ke arah panggung. Untuk kesekian kalinya, saya bersyukuuur banget punya badan yang mungil begini. Jadi gak banyak orang yang sadar, apalagi protes, kalo saya udah deket sama panggung. Daaannn…


VIDI DATENG! YOI JEEEKKK… VIDI ALDIANO DATENG!


Begitu liat Vidi, gak tau kenapa, saya tereak. Tereaknya sambil bengong gitu… Astaga, dia lewat cuma sekitar 1 meter dari tempat saya. Pake kaos biasa gitu. Untungnya bukan cuma saya yang tereak. Trus, langsung foto session gitu. Saya dong dengan penuh semangat langsung merangsek maju ke depan. Jadi aja saya berfoto di kloter pertama, berempat gitu. Nah, sebenernya sama si crew kita disuruh berdiri di bawah panggung, Vidi di atas. Tapi Vidi bilang, “Eh, gak enak banget deh gue di atas gini. Gue di bawah aja ya?”.

Lalu dia turun.

Dan berdiri.
Di SAMPING SAYA.

IYA SODARA-SODARA! PAS DISEBELAH SAYA! Yakin dah, saya dicolek dikit aja sama Vidi udah pingsan sambil cengar-cengir.


Habis foto, kita salaman. Had a short dialogue with him:


“Makasih ya Vid…”


“Iya, sama-sama…”


“Semoga kuliahnya cepet lulus ya Vid…”


“Amin… Makasih ya…”


“Semoga cepet skripsi ya Vid…”


“AMIIINN …AMIIINNN!! Makasih yaaa…”


Oke, dari sekian banyak orang yang datang, kekna cuma saya yang kepikiran untuk ngomong gitu., Maap, naluri dosen. Sebenrnya mau saya tambahin, “Saya bersedia kok jadi dosen pembimbing kamu…”


Anyway, bodohnya saya adalah…

SAYA GAK FOTO PAKE KAMERA SENDIRI. *gali aspal*


Ya gimanaaaa??? Saya pikir mah, itu kan crew pada memotret kami dengan kamera canggih gitu, saya pikir pas habis acara bakal dijual gitu. You know lah, kayak acara seminar atau apaaa gitu kan suka ada tukang foto dadakan gitu. E sialan ya, ternyata enggaaaak!


Saya mah udah lemes aja. Eh, tapi pas saya lagi bingung gitu, ada kru yang kayaknya gak tega ngeliat betapa nelangsanya penderitaan yang tergambar di wajah saya.
“Ya udah Mbak, foto lagi, biar saya fotoin…”

JADI YA UDAH SAYA FOTO LAGI DAN SEKARANG CUMA BERDUA SAMA VIDI!
*loncat-loncat* *terbang melintasi samudra*

Yah, hasilnya blur sih. Bodo. Yang penting saya foto sama Pidi =D.

Eh, Vidi itu asli baik banget deh… ada tuh dia yang dikerubuti banget, tapi asli, dia mah teteeeeep aja senyuuuum terus. Dan senyumnya memang asli manis banget. Selesai sesi foto, sempet ada sesi tanya jawab gitu. Saya angkat tangan dooong :D. Eh, beneran, sama host mikrofonnya dikasih ke saya. Bukannya nanya, kata-kata pembuka saya adalah.. “Vidi, kalo gak salah, single yang Nuansa Bening itu kan tahun 2009 ya? Saya cuma mau bilang makasih aja. Soalnya single itu yang menemani saya selama saya mengerjakan tesis sampai akhirnya lulus.” Dia langsung ketawa, dan orang-orang langsung pada tepuk tangan. Well, setengah jam kemudian saya baru nyadar, saya ngomong gitu mah artinya saya ngebuka aib soal umur ya? Bodo ah. Emang bener kok, dulu kan pas lagi ngerjain literature review di tesis, lagunya Vidi itu mulu yang bolak-balik saya puter. Sampai-sampai pas farewell party Monashindosummer juga itu yang saya request buat dinyanyiin. Trus saya nanya lagi soal kapan dia mulai pengen jadi penyanyi, sama yang jadi inspirasi dia.Ternyata sodara-sodara, Vidi itu dulu sebenernya mau jadi dokter anak! Aww… how sweet…

Trus pas mau udahan, ada sesi foto lagiiii…. Tadinya sih saya mau foto lagi, maksudnya biar dapet gambar yang lebih jelas lagi. Tapi..ah, masa sih sampe tiga kali. Ya udah, akhirnya saya minta tanda tangan doang. Tanda tangannya dimana coba? Di novel sayaaa… ahahahaha….


Eh, Vidi mah kalo di TV keliatan cakep ya? Salah. Aslinya mah dia itu CAKEP BANGET. Astaga… Dan emang bener deh ya, dia itu ramaaah banget. Pas akhir-akhir itu, malah crew yang rada ribut nyuruh udahan, Vidi nya aja yang nyempetin tanda tangan dan foto bareng gitu. Trus dia sempet nyanyi dikit. Man, his voice is AMAZING. Asli, emang suaranya bening banget!!! See?

Ah, intinya mah saya seneng. Seneeeeng banget. Akhirnya bisa liat salah satu idola saya dari deket. Dekeeet banget. Bisa salaman, foto bareng, dapet tanda tangan. Dan sempet ngasih tau betapa secara tidak langsung, his song helped me going through those this-thesis-is-killing-me days.
Thanks Vidi :).

Oh iyaaa… Karena Meet and Greet Vidi ini jiuga akhirnya saya bisa ketemu sama salah satu temen saya yang tadinya cuma kenal di twitter dan facebook. Si Tri! Hahahaha… Tri…maap yaaa…gak sempet ngobrol banyaaak. Dan saya lupa buat jaga imej di depan kamu. Hahahaha… Saking excitednya, jadi aja saya malah cengar-cengir gaje mulu di depan Tri. Saya kok mikir dia jadi meragukan status saya sebagai dosen ya? Eh, Tri kenapa gak mau diajakin foto bareng Vidiii? Kan sayaaang :(. Kapan-kapan ketemuan lagi ya Tri :).

Last words to say: I’m proudl to be a Vidies =D!

Selasa, 31 Mei 2011

Kambing Jantan Is In The House!

Gak, saya bukannya lagi jadi juragan kambing. Ini posting soal seseorang yang jadi sangat terkenal karena Kambing. Siapaaa? Tukang sate? Pak Kumis yang jualan soto kambing? Bukaaan… Tapii… Raditya Dika :).

I bet that this name is familiar for you. Yep. Raditya Dika yang populer dengan buku-buku komedinya. Pieces of writing that he calls as observational comedy.


Kemaren, Alhamdulillah saya bisa ikut Seminar Me
nulis Kreatif dengan Raditya Dika sebagai pembicara. Yang ngadain mahasiswa Fakultas Kedokteran, jadi acaranya tanggal 29 Mei kemaren di Gedung Utama Fakultas Kedokteran. Begitu liat selebaran soal acara ini, saya langsung memutuskan untuk ikut. Secara salah satu temen saya, si Ka Alfi adalah dosen FK, ya udahlah saya SMS dia untuk nanyain soal acara ini. Dan balesan SMS nya merupakan bukti bahwa Ka Alfi suka males ngeliatin pengumuman. Lha, dianya sendiri baru tahu acara itu dari saya kok -_-. Anyway… Akhirnya saya daftar juga lewat dia sih.

Jadi pas hari Minggu itu, saya nonton acara bareng
sama Ka Alfi, Rina, dan.. Adi. Hahaha… si Adi ini, udah dari kapan kami temenan, kampus cuma beda dua tarikan nafas, eh baru ketemu kemaren. Padahal kalo di virtual world saya udah sebegitu sok akrab sok kenalnya sama Adi. Pas baru dateng, Ka Alfi dan Rina udah bawa kantong plastik yang isinya makanan. Tinggal kurang tiker aja nih, kami udah bisa ngegelar acara piknik indoor. Dika baru muncul jam 16.45. Dan begitu liat tampangnya, pikiran pertama saya adalah: “Pendek ya orangnya…”. Disusul pikirankedua: “Kayaknya Dika masih ngantuk deh…”. Secara ekspresi dia kayak orang yang dibangunin jam 2 subuh untuk ujian Kalkulus II secara mendadak.

So he talked. Bercerita sih, lebih tepatnya. Secara nih ya, niat mulia saya yang sungguh m
embuat saya sendiri terharu adalah untuk belajar menulis, here are some interesting things that he talked about.

It’s not about what you say, but how you say it.

Kata Dika, banyak yang beranggapan bahwa untuk menulis komedi, seseora
ng harus sering mengalami sendiri berbagai kejadian lucu. The truth is, it does not work that way. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mencari sudut pandang yang menarik dari sesuatu hal yang biasa saja. Apa yang sepertinya terlihat sebagai sesuatu yang tidak menarik saking biasanya, bisa saja menjadi sesuatu yang berbeda, hanya karena cara pandang kita unik.

Menulislah tentang sesuatu yang membuat kita merasa nyaman.

Ini adalah inti dari jawaban Dika waktu ada yang nanya, dia berminat gak nulis genre lain. Horor misalnya. Sebenarnya yang paling penting dalam menulis itu kan adalah kita menuliskan tentang hal-hal yang kita ketahui, hal-hal yang memang menarik dan cocok bagi kita. Jangan deh menulis cum
a karena ikut-ikutan trend.

Tulisan pertama itu memang nasibnya jelek kok.

First draft is always the worst one. Dan menurut Dika, suatu tulisan itu baru akan jadi bagus kalo sudah melewati redrafting berkali-kali. And it happens for everyone. Bahkan para penulis terkenal pun selalu melewati proses redrafting ini. Let’s put it this way, the process of writing would be: Step one, write. Two, read. Three, rewrite the draft. Four, reread the rewritten draft. Five, go back to number three. Dan be
rulang terus :)

Know your characters.

Ini pertanyaan dari saya. Saya selalu k
esulitan untuk membuat karakter yang ada dalam tulisan saya memiliki kepribadian yang ‘muncul’. So I asked him about this. Dika bilang, the easiest way adalah menggunakan tokoh-tokoh yang memang nyata, yang memang kita kenal dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi kalau kita menciptakan sendiri suatu tokoh, we’ve got to know the character. Kita mesti tahu apa warna kesukaan dia. Apa makanan yang dia gak suka. Kamarnya seperti apa. Gimana dia bersikap kalo mesti ketemu orang yang tidak dia suka. We have to know all those little details about our character, dan karakter itu bakal jadi tiga dimensi.

Menulislah dengan jujur

Salah seorang audiens menyata
kan kekagumannya tentang tulisan Dika yang membuatnya terhanyut, dan nanya gimana caranya bisa nulis seperti itu. Jawaban Dika sederhana sih sebenernya, tapi justru ngena. Kata Dika, tulisan yang dimaksud itu justru adalah salah satu tulisan dia yang bener-bener dari hati.

Those are some of interesting things that I learned from him. Sebenernya masih banyaaak lagi yang pengen saya tanyain soal menulis. Tapi apa daya, waktu jua yang memisahkan kita *berasa kayak MC acara TVRI ya?*.

To be
honest, I’m not a big fan of Raditya Dika. Dari sekian banyak bukunya, yang saya baca cuma satu, dan itupun saya udah lupa yang mana. But I do respect him as a writer. He’s one of the most popular one in Indonesia rite now, and apparently, he has become one of the most inspiring and influential person for a lot of Indonesian youngsters. Dan karena rasa respek saya itulah lalu saya dengan penuh semangat datang ke acara ini. I mean, kapan lagi punya kesempatan dateng ke talkshow seorang penulis best-seller?

And yes. I learned from him. A lot. Thanks for that, Dika =).


However, walaupun judul acaranya adalah seminar menulis kreatif, sepertinya sebagian besar peserta datang bukan karena temanya, tapi karena Raditya Dika-nya. I mean. They’re HUGE fans of him. I mean, mungkin karena bagi mereka Dika bukan (hanya sekedar) penulis, tapi lebih ke seorang public figure. Bahkan waktu sesi tanya jawab, banyak pertanyaan yang bukan soal tulis-menulis, tapi m
alah ke arah pribadi gitu. Masa ada yang nanya gimana rasanya waktu Dika putus dari mantannya? Saya sampe mau ngecek, si penanya punya kartu pengenal sebagai wartawan infotainment kali ya… Bahkan sampai ada yang konsultasi soal masalah dia sama pacarnya. Kalo saya bilang sih, sayang banget. Padahal Dika sendiri kayaknya excited kalo dia ditanyain soal menulis. Norak mungkin, tapi saya seneeeeeng banget waktu pas sesi tanya jawab, Dika nunjuk saya sebagai salah satu penanya. Eh, saya gemeteran lhoooo… *ya saya tahu betapa noraknya saya ini*.

*Saya kayak lagi nanya mahasiswa pas sidang skirpsi ya ;p? Dika kayak ketakutan gitu*

Trus, pas saya bertanya soal permasalahan saya dalam menulis tadi, Dika malah nanya ke saya gini:
“Emang kamu maujadi penulis ya?”
Saya diem, bengong selama sedetik, lalu MENGANGGUK.
“Insya Alloh, kalo ada jalannya…”
Astaga. What the hell was on my mind sampai saya dengan percaya dirinya menjawab seperti ituuuu??? *getok kepala sendiri*

Si Dika lagi, jawabnya gini: “Jangan. Nanti saya banyak saingan…” (Yes, I know that he was kidding).


Sampai sekarang saya masih heran aja kenapa saya bisa jawab seperti itu. But one thing that I know for sure, I do enjoy writing =).


Pas selesai sesi tanya jawab, Dika ngajak yang nanya tadi maju ke depan untuk foto bareng. Wuuhuuu… Secara saya duduk di barisan paling depan, saya yang paling cepet maju lagi, saya jadinya pas di sebelah Dikaaa!

*itu saya lagi ketawa ngeliat pose Dika yang sok jadi anak alay -_-*

Well, it’s definitely some of the things that I would never forget. Makasih banyak buat Ka Alfi yang udah ngedaftarin dan nemenin nonton, juga buat Rina dan Adi yang jadi temen nonton jugaaa :D. And here it is..Me and Raditya Dika :D!

Sabtu, 31 Desember 2011

2011: What I Remember, What I Learn

Yup. Last day of 2011. What more to say? Along this year, sooooo many things happened. And of course, due to my nature of being a drama queen, this year tends to be quite a hectic year for me.

Ups and downs. Laughter and tears. So many shades of so many colours. And still, I feel so grateful for having my life :).

Of course, salah satu yang paling membuat saya sibuk pada tahun 2011 ini adalah soal kerjaan. Apalagi sejak tahun 2011, saya dipercaya sama temen-temen untuk jadi Sekretaris PS. Iya, walopun judulnya Sekretaris, tapi kerjaannya gak cuma sekedar administratif doang. Sebenernya, malah Sekretaris itu semacam wakilnya Ketua Prodi. Jadilah tiba-tiba saya merasa, kayaknya kerjaan saya rapat melulu di Fakultas. Argh. Betapa menyebalkannya sampai di ruangan jam 8.30 pagi, dan mendapati di meja sudah ada undangan rapat untuk hari itu jam 9.30 pagi. Belum lagi tumpukan surat tugas yang saya sampe gak ngerti lagi sebenernya ini disuruh ngapaiiiin… Tapi toh, kalo cuma ngikutin stressnya aja, ya gak bakal kelar-kelar. I try to enjoy all the ups and downs of it. Lagipula, selama ini saya berusaha meniatkan bahwa yang namanya kerja, itu adalah ibadah. Semakin banyak hal yang bisa kita kerjakan, makin banyak kesempatan bagi kita untuk bisa berguna bagi orang lain.

Salah satu to-do-list ditahun 2011 ini, soal kerjaan saya, tentu saja: reakreditasi PS Kimia. Mulai dari mengisi borang, membuat laporan evaluasi diri, hingga akhirnya, visitasi. Nyiahahaha…. Somehow, saya ngerasa inilah tugas saya yang paling berat untuk tahun 2011 ini. Hasilnya? Entahlah. Saya sih tidak seoptimis reakreditasi tahun 2007 kemaren. Tapi at least, saya sudah berusaha semaksimal saya. And let the others see and decide abouth what I have done for it. Tapi kegiatan reakreditasi ini juga berasa drama banget. H-2 sebelum visitasi, I got the mental break down, dan kondisi saya drop. Tensi sempat turun ke angka 90/60. And as if it was not dramatic enough, saya jatuh pingsan di kampus. Kurang drama apalagi cobaaaa???? *geleng-geleng kepala*.

*saya dan temen-temen pas visitasi, menghadapi para asesor. tampang saya serius abis*

Tahun 2011 ini, saya mencoba ngajuin aplikasi beasiswa ke dua scholarship committee. Dan dua-duanya ditolak. Sedih sih, tapi justru kedua penolakan itu membuat saya semakin bersemangat untuk mencoba lagi. Yuk, mari memasukkan going back to school sebagai target di tahun 2012 =D.

Bulan Juni, saya iseng mendaftar untuk ikut regional seminar tentang sustainable water management di Yogyakarta. Sebenernya sih daftar cuma untuk jadi peserta. And guess what, ternyata malah saya diundang menjadi one of the speaker. Nyiahahahaha… Bukannya apa-apa. Pertama, ini seminar tingkat regional Asia Tenggara. Jadilah speakernya bukan cuma dari Indonesia, tapi juga dari Thailand, Filipina, dan Vietnam. Dan tentu saja, seminarnya harus pake bahasa Inggris. Oh, and the head of the organizing committee, was my supervisor when I did my bachelor degree. But no pressure, huh?. Anyway, it was quite an experience. As one of the speakers, biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung oleh panitia penyelenggara (yaitu UGM dan DAAD). Kita diinepkan di Hotel Garuda Inn, makan malam terjamin, dan setelah pelaksanaan seminar, kita city tour! Bisa liat Ramayana Ballet di Prambanan pas full moon, and it was beautiful.

Pas seminarnya sih, sempet setres jaya. Saya dapet giliran ketiga, dan dua speaker sebelumnya adalah doktor, satu dari Vietnam, satu dari Filipina. Betapa culunnya saya di antara mereka. Ehehehe -_-….


*Saya pas acara dinner, sama pembicara dari Riau, dan dari Ternate. Yang dua lagi, satu dari Thailand, satu dari Vietnam*

Terus di bulan September, saya dan beberapa temen lain ikut acaranya HKI: Training for Proposal Grant Writing. Sekali lagi, dapet akomodasi gratis di hotel bintang lima *yang membuat saya dan teman-teman saya jadi nyengir dengan noraknya* dan penggantian biaya transportasi. Mari mengucapkan Alhamdulillaaaaahhh… :D. Selama kegiatan, saya mungkin menjadi salah satu peserta paling cerewet, karena saya nanyaaa terus. Eh, mumpung ada kesempatan cari ilmu kaaaan??? Apalagi speakersnya 3 orang, bule semua, pinter-pinter semua. Tapi pas akhir acara, Drew, salah satu Organizing Committee dari CRDF USA malah bilang that she appreciated me for asking questions. Wah, jadi terharuuu… Selain soal nginep di hotel, dan dapet tambahan ilmu, yang bikin sneneg adalah, karena acaranya di Balikpapan, saya jadi sempet ketemu sama temen-temen sekost saya dulu di Jogjaaa!!! Ketemuan sama Emil-Septa (dan kedua anak mereka), sama Widia jugaaa :*. It’s always nice to see friends that you haven’t met for so long. I mean, the last time I met them was like, 6 years ago!

Masih di seputaran lingkungan kerjaan nih, di tahun 2011 ini…saya jadi juri untuk 3 kegiatan mahasiswa. Oke, gak tau kenapa, mahasiswa kok ya demen betul minta saya jadi juri untuk kegiatan mereka. Apa karena frekuensi kemunculan saya di kampus yang cukup tinggi ya? Saya jadi juri untuk lomba debat, terus juri untuk lomba tari *kenapa coba? Kenapaaa?*, dan yang terakhir, saya jadi juri borongan untuk acara HUT HIMAMIA Redoks. Well, terlepas dari alasan yang bagi saya sendiri masih sangat misterius, kenapa saya yang diminta jadi juri, toh I had so much fun.

Tahun ini juga, selain di MIPA, saya juga ngajar di salah satu lembaga kursus Bahasa Inggris. Nggaaakkk… bukannya saya sudah jago banget bahasa Inggris apa gimana, tapi saya pikir, I need to keep practicing my English. Jadilah saya ngajar. Ahahahaha… Rata-rata sih, saya ngajar anak SMP dan SMA. Lewat ngajar inilah, saya bisa ketemu sama Gita, yang tadinya cuma kenal lewat twitter ajah. Trus, saya juga pernah ngajar kelas kontrak di PT POS. Jadi saya ngajar para karyawan di sana, adalah sekitar 20-25 orang gitu. Kalo bagi saya pribadi sih, lebih gampang ngajar anak SMA dan yang udah dewasa gitu. Pernah nih ya, saya disuruh gantiin kelasnya temen, ngajar kelas children. Astaga…itu selesai ngajar, saya kehabisan energi dan suaraaaa… Kekna saya memang gak berbakat jadi guru TK.

Kalau tahun lalu saya sempet nulis FF, tahun ini, mungkin karena frekuensi kesibukan itu, saya jadi sangat tidak produktif untuk nulis. Saya cuma sempet nulis 1 cerbung (17 part, kalo gak salah) dan 3 cerpen. Agak kecewa sih, Karena sebenernya, saya kangen nulis. Saya kangen menumpahkan ide, membayangkan adegan mewujud dalam kata, memainkan kalimat, menggambarkan emosi. Gak cuma FF sih, frekuensi saya nulis di blog ini juga sangat menyedihkan. *ngelap debu di blog*

But on the other hand, saya jadi lebih banyak membaca di tahun ini. Kalau tahun lalu saya cuma membaca 40 buku, tahun ini, sampai dengan malam terakhir di tahun 2011, saya berhasil menamatkan 102 buku, excluded beberapa buku yang saya re-read. Well, reading is a way for me to procrastinate, and also a way for me to keep my sanity. Soal membaca ini juga jadi “beda” dengan kebiasaan membaca saya yang lama, karena saya sekarang…punya akun di Goodreads. Iyaaa..saya tau kalo saya telat banget gabung di komunitas iniiii… Gak tau kenapa, ikutan Goodreads membuat saya lebih termotivasi untuk membaca. About these books that I have read, I’ll write about it in a different post.

Oh, and of course, the memorable thing about this year was, it was the year of me and celebrities. Bhuahahahahaha!!!

Tahun ini, saya ketemu dengan Raditya Dika, Vidi Aldiano, dan Agus MasterChef! Ketemu Raditya Dika pas dia jadi pembicara untuk Seminar Penulisan Kreatif di Fakultas Kedokteran. Many thanks for Ka Alfi yang udah nemenin dan jadi fotografer :D. Terus, si Vidi, ketemu waktu dia Meet & Greet di Duta Mall. Karena ketemu Vidi ini, saya jadi bisa ketemu juga sama salah satu temen di Twitter: si Tri :). Trus, kalo Agus, karena dia jadi juri di Lomba Masak di FMIPA. Waktu itu saya ikutan, dan Alhamdulillah, saya (surprisingly) jadi juara I.

Tahun lalu, sport event yang paling berkesan, tentu saja World Cup dan Thomas-Uber Cup. Tahun ini? Sea Games!!! Mulai dari the spectacular opening ceremony, dan tentu saja… prestasi Tim Indonesia. Indonesian athletes are this year’s heroes, I should say. They bring back the glory of Indonesia. Setelah bertahun-tahun tidak pernah lagi menjadi juara umum (masuk 3 besar aja kekna udah gak pernah), tahun ini Indonesia berhasil merajai perolehan medali emas. Oh well, memang sedikit kecewa karena emas dari sepak bola jatuh ke tangan Malaysia. Tapi teteup, Indonesia berjayaaaa *keplok keplok*. Dan salah satu yang paling membanggakan, tentu sajaaaa… emas dari cabang bulu tangkis!!! Pertandingan beregu terutama yang paling menegangkan. Seruuuuu… Ahahahah… Agak sedih waktu Sea Games berakhir. Well, sampai jumpa lagi di Sea Games tahun 2013 :D!

Overall, it’s been another year. I wouldn’t say that it’s a bad year, nor a good year either. Karena bagi saya, apapun yang telah terjadi, tidak seharusnya disesali terus-terusan. Bagi saya, apapun yang telah terjadi di tahun ini, banyak yang membawa kenangan. Banyak yang bisa menjadi pelajaran bagi saya. Semua menggariskan warna tersendiri dalam kehidupan saya.

I met a lot of new people this year. I did a lot of things I’ve never done before. And I know, that God made me went through it so that I can learn from all of those people and all of those things. And for that, I feel so grateful.

Farewell, 2011! Thank you for everything! Let me keep you in my memories =).

Sabtu, 10 Desember 2011

Selamat Ulang Tahun, HIMAMIA!

Tahun lalu, saya jadi juri untuk acaranya himpunan mahasiswa di PS Kimia. Dan tahun ini, lagi-lagi saya diminta jadi juri borongan, untuk lomba tari, vokal grup, madihin, dan stand up comedy. Saya jadi bertanya-tanya sih sebenernya, ini anak-anak minta saya jadi juri dasarnya apa ya? Apa karena saya lah dosen yang paling sering berkeliaran di kampus?
Lomba-lomba ini sebenernya sih proker mereka, untuk merayakan ulang tahun Himpunan Mahasiswa Kimia. Ecieee… udah 10 tahun aja nih HIMAMIA ;).

Eeeeniweiii… Jadilah hari Sabtu, 10 Desember tadi, saya bersama si Dian Hasrie (mahasiswa angkatan 2007 yang secara menakjubkan adalah Duta Budaya KalSel) duduk manis di depan dengan posisi sebagai juri.

It was so much fun!

Tentu saja, yang paling bikin saya kagum, bangga (plus terkaget-kaget) adalah ngeliat mahasiswa saya yang biasanya mukanya rusuh dengan kuliah, praktikum, laporan dan proposal jadi bisa begitu kreatif di bidang seni.

Oh iya, selain lomba-lomba di atas, saya juga diminta jadi juri lomba puisi. Akhahahaha… ternyata mahasiswa Kimia banyak menyimpan potensi para penyair berbakat. Ada lho satu peserta yang ngirim puisi sampe 5 apa 6 buah puisi gitu. Duh, jadi malu saya. Dosennya aja kayaknya gak sekreatip dia.
Pas acara mulai, waktu si Adi, sang Ketuplak ngasih sambutan, kok ya sempet-sempetnyaaa hapenya bunyi gitu XD. Nyiahahahaha…. Terus kan mestinya ada sambutan dari Ka PS juga. Secara si Pak Budi ternyata gak bisa dateng, jadilah, seperti yang sudah bisa ditebak, saya yang manis dan malang ini yang harus mewakili beliau. Duh, semoga mahasiswanya gak pada bosen aja ngeliat saya yang kekna muncul terus aja tiap mereka bikin acara.


Performance pertama, pembacaan puisi oleh mahasiswa yang puisi ciptaannya terpilih (saya pilih, lebih tepatnya ;p) jadi Juara I. Majulah si Harmudzie alias Ozi. Wakakakakak… padahal puisinya cukup bernuansa galau, tapi secara tampang si Ozi flat alias datar dan rata begitu aja, kami malah ketawa mulu waktu dia baca puisinya.

Tadinya saya pikir, kalau di jadwal acara yang dikasih ke saya sih, mula-mula performancenya tari dulu, terus madihin, lalu vokal grup, baru stand up comedy. Ternyata, entah karena menyesuaikan sama kehadiran peserta atau gimana, tampilnya agak acak gitu. Jadi yang pertama tari dulu, habis itu madihin, pokoknya gak urut per performance gitu. Tapi lumayan sih, karena jadinya gak bosen. Yah, walopun dampak negatifnya adalah saya dan Dian jadi agak kalut menyiapkan berkas penilaian.
Peserta lombanya adalah wakil dari angkatan 2008, 2009, 2010, dan 2011. Cuma tari aja yang gak ada wakil dari 2011.

Oh. My. God.
They are GOOD!

Untuk tahun ini, angkatan 2010 lagi meraja *Tsaaahh… bahasakuuuu*. Madihin mereka keren aja, kalo biasanya Madihin cuma satu atau dua orang, mereka borongan, majunya berempat. Dan dua di antaranya, termasuk si pembaca syair, itu cewek! Keren! Dan kayaknya, logat Banjar Melayu nya yang paling pas ya Angkatan 2010 ini. Vokal Grup pun mereka kompak banget. Harmonisasi suaranya cantik sekaliiii… Mereka bawain lagu Cinta. (yang itu lho… Cintaaa… akan kuberikan, bagi hatimu yang damaaaai… Cintaku, gelora asmara, seindah lembayung senjaaaa….). Waktu tari kreasi juga, seneng deh liat mereka. Tariannya mungkin sederhana ya, tapi karena mereka bawainnya kayaknya enjoy banget, jadi ikutan menikmati juga :D. Jadilah mereka Juara I untuk lomba Tari, Vokal Grup dan Madihin. Great work, guys!!!


*Tari kreasi dari Angkatan 2010*

*Sinta, salah satu vokalis dari Angkatan 2010 waktu nyanyi solo. Suaranya beniiiiiing! And she's so pretty, isn't she =)*


*Vokal Grup Angkatan 2010. Liat si Ricky deh, gayanya bener-bener kayak Ketua RT XD*


*Madihin dari 2010. Regina yang mukul terbang, Niken dan Leo baca syair, sama Brian yang pukul terbang juga*


Vokal Grup Angkatan 2008 bawain lagu…. Itu Aku. Iyaaa… “Itu Aku” nya Sheila On 7. Gimana saya gak mau histeria jaya??? Untunglah saya tidak sempat khilaf menyangka si Abdi mirip sama Duta *Jauh Di… jauh bangeeeet X)*. Agak geli juga sih liat Abdi yang kayaknya penghayatannya pas nyanyi total banget. Tapi tetep aja mereka nyanyinya baguuussss…

*Vokal Grup Angkatan 2008, liat deh gaya Abdi yang sepenuh hati, jiwa dan raga ;p*


*Tari Kreasi dari Angkatan 2008. Keren!!!*

Angkatan 2011, para new comer, sepertinya juga bakal banyak menyumbangkan bakat baru deh. Vokal Grup mereka sebenernya harmonisasinya bagus, cuma kurang pede aja, jadi keliatan kurang kompak. Tapi kalo soal kualitas suara, they’re good!


*Vokal Grup Angkatan 2011, para new comer yang bakal banyak beprestasi nih kayaknya :)*

Stand Up comedy nya lumayan lucu-lucuuu… Ahahahaha… si Ozi *yang tampil untuk ketiga kalinya!* paling lucu malah pas minta perpanjang durasi. Ternyata dia suka nonton Stand Up yang di Metro TV sama Kompas TV jugaaa… No wonder beberapa materinya sound familiar. Yah, walopun Ozi dengan materinya sebetulnya membuat dirinya sendiri beresiko gak lulus Kimia Lingkungan nih Ziii… Yang juara I, si Firman, angkatan 2009. Dia stand up comedy pake bahasa Banjar. Eh astaga, saya sampe sakit perut aja denger dia ngelawak. Deuh, mana pas openingnya dia sempet bergombal-gombal ria samaaaaa…..si Ading… Nyiahahahahaha…

*Stand Up Comedian dari Angkatan 2009, dijamin lucu!*

Dari Angkatan 2011, stand up comediannya calon seleb baru nih. Sebenernya dia gak siap materi. Tapi gak tau kenapa, ngeliat ekspresi ajaib dia, kita udah ketawa aja. Mana kadar percaya dirinya agak over the limit pula.


*Hernawan, calon seleb baru Kimia dari Angkatan 2011*

TAAAPIIIII…
Klimaksnya adalah… Vokal Grup dari Angkatan 2009! Rombongan boy band gagal pentas ini mah XD!
Pas mereka pertama kali masuk, saya sama Dian udah sempet penasaran aja. Ada Daru, Adi, Risnu dan Firman, plus si Izul yang maen gitar. Lah, ceweknya mana ya?

*Boy band ala Angkatan 2009. Siap manggung kapanpun, dimanapun, dengan resiko apapun*

Dan begitu mereka mulai nyanyi “Inikah Cinta”… itu dari awal sampe akhir kita tuh gak brenti-brenti ketawaaaaa… Umaygat, itu si Firman gayanya udah bener-bener obral pesona bangeeetttt. Dan Daru, Daru gayanya keliatan paling…unyuuuu XD. Sampe-sampe si Adi kayaknya malu sendiri mesti bergabung sama mereka. Padahal lho, kalo menurut saya, perform mereka lah yang paling menghibur.

Overall, that day has been such a great day! I had so much fun watching the students being wonderfully creative.
Bangga deh punya mahasiswa kayak kalian :).

Last but not least, Happy Birthday, HIMAMIA Redoks! Teruslah berkarya dan menjadi kebanggaan PS Kimia \(^_^)/ !!!


Kamis, 10 November 2011

The Day I Met Failure

Senin 7 November kemaren., akhirnya saya mendapatkan apa yang selama ini saya tunggu: e-mail dari salah satu universitas di Jerman. Isinya singkat. "Your application has been reviewed, and we regret to say that you can not be accepted for this Master Programme, due to insufficient background that we expect…

Yap. Saya gagal. Melayang sudah harapan saya untuk menjadi salah satu awardee DAAD. Saya langsung blank. Dan saya…nangis selama setengah jam lebih. Saya merasa saya sudah ngecewain Mama, Abah, Ita, temen-temen di PS, Christian yang sudah ngasih recommendation letter…

Toh, setelah nangis itu, saya masih bisa pergi keluar sebentar untuk beli nasi goreng. Sambil nungguin si Mas masak pesenan saya, saya bengong sambil mikir. Banyak hal yang berkelebat di benak saya. Iya, saya gagal. Untuk kali ini. But still, it won’t stop me. Abah dan Mama begitu denger berita ini *dari saya yang cerita sambil terisak-isak* juga bilang mungkin memang belum waktunya bagi saya. Dian, yang bingung kenapa tantenya ini tiba-tiba nangis gitu aja, padahal gak ada yang sedih-sedih di TV, juga langsung memeluk saya. Adik saya juga menghibur saya.

They are right, of course =).

Tuhan bukannya tidak mendengar doa saya. Dia bukannya tidak mau mengabulkan harapan saya. Dia hanya ingin saya memperoleh sesuatu yang lebih baik dari ini. Tuhan cuma ingin mengajarkan, bahwa ada saatnya saya harus jatuh dulu untuk bisa bangkit kembali dan berlari lebih kencang lagi.

Saya pikir-pikir lagi, memang mungkin saya salah strategi juga. I applied for a master degree instead of for a Ph.D. The course that I aimed for was in the Faculty of Engineering and Hydraulic (or something like that) that expect their students to have a professional background in water management. I sent an ITP certificate while International TOEFL or iBT was actually preferred. *garuk kepala sendiri* *nyengir*


That day, I met failure. But it won’t stop me.

Toh sebelum ini, sudah begitu banyak karunia Alloh yang Dia limpahkan pada saya. Keterima di UGM lewat jalur PMDK. Ikut PIMNAS. Having this job. The scholarship from AusAid. Fabulous experience with amazing people. And of course, one of the best gifts that He gives me is my family, people who always be with me with their love and prayers.

Why should I complain for one single failure that I have?

Toh sebelumnya saya sudah pernah berkali-kali menghadapi kegagalan juga. Dapet E untuk Stereokimia Organik (huahahaha… memang ya, saya dan Kimia Organik gak pernah rukun XD), gagal jadi istrinya Duta (okeabaikanyangsatuini), keberangkatan yang tertunda karena medical problem. All of those troubles that once came my way. And look, I still survive =).

And then, the next day, I woke up and still can face the day with my smile.

My theme song? I Get Knocked Down, by Chumbawamba.

We’ll be singing, when we’re winning

We’ll be singing…

I get knocked down, but I get up again.

You ain’t never gonna kicked me down!

Every new day is a new opportunity for me to make my steps, reaching my dreams and make them come true =)

Jumat, 21 Oktober 2011

Currently Watching, Currently Listening


Akhir-akhir ini sepertinya frekuensi saya untuk memencet-mencet remote TV jadi lebih tinggi dibandingkan frekuensi memnadangi layar TV nya. Iya deh, secara acara TV sekarang oh-sungguh-begitu-amat sekali. Dari dulu sampai sekarang saya gak pernah suka nonton sinetron. Saya gak pernah habis pikir kenapa para tokoh baik polosnya kebangetan, dan yang jahat juga selalu mesti ngomong sendiri dengan suara keras kalau sedang memikirkan rencana jahatnya. Paling-paling acara TV yang saya tonton itu ya berita, kalo ada film yang bagus (dan ini amat sangat jarang sekali), pertandingan sepak bola, atau acara musik. Acara musik inipun biasanya saya jatuhnya lebih sering mengomentari penyanyinya. Ya bajunya lah saya bilang ribet, gayanya lah yang lebe jaya. Infotainment? Kadang-kadang. Kalo lagi penasaran sama kasus artis berantem. Tapi tetep aja infotainment lama kelamaan jadi nyebelin. Apalagi infotainment di stasiun TV ar-si-ti-ai. Kayaknya kok kalo di infotainmentnya mereka, artis di Indonesia tidak akan pernah jauh-jauh dari lingkaran KD dan suaminya yang pengusaha berwajah petinju itu, atau mantan suaminya KD yang sedang dimabuk asmara, atau kakaknya KD yang pacaran dengan Raffi Ahmad itu. Muternya di situ-situuuuu aja.

Anyway, beberapa minggu terakhir ini, saya jadi cerah ceria karena B-Channel mulai menyiarkan X Factor USA. Dari dulu saya memang suka talent show beginian sih. Apalagi… yang jadi jurinya, tentu saja, the one and only, Simon Cowell!



I always love his accent and his sarcasm. Sekarang sudah masuk di tahapan seleksi juri di rumah mereka masing-masing. Duh, itu rumahnya Simon di Paris pula. Kurang keren apa cobaaaa!!! Belum lagi, untuk yang mendampingi Nicole yang bakal jadi mentor untuk grup kontestan Over-30s, juri tamunya adalaaaahhh… Enrique Iglesias!!!




AAAAAA! *histeris dulu selama 15 menit*

Sejauh ini, jagoan saya si Drew. Waktu audisi, dia nyanyi Baby. You can check out her performance here. And I found her version was better than the original version by poni-lembar-boy. Waktu di rumah Simon juga, dia nyanyi It Must Have Been Love, and it was AWESOME!
Waktu audisi di rumah juri ini juga saya jadi suka sama Phillip Lomax, yang nyanyi Please Don’t Stop the Music. Jadinya rada nge-jazz gituuu… Liat aja disini. Keren lah pokoknya.

Selain The X Factor, acara TV penyelamat hidup saya juga di B-Channel: Junior MasterChef! Ahahaha… iya sih, yang tahun 2009. Bahkan adk saya dengan menyebalkannya udah ngasih tau siapa yang akhirnya jadi pemenang. Tapi teteup aja, saya suka terkagum-kagum melihat para anak kecil itu dengan jagoannya bikin berbagai macam hidangan. Kemaren waktu invention test disuruh bikin masakan dengan bahan dasar daging kambing, they came up with magnificent dishes. Saya terpana aja liatnya. Saya mah kambing cuma kepikir dibikin gule doang. Atau sate.

Another good show yang saya tunggu-tunggu setiap minggu: StandUp Show di Metro TV =D. Sungguh menyenangkan melihat acara komedi yang tidak mengandalkan kelucuan ala slapstick. Seriously, acara komedi dimana orang saling memukul dengan properti dari styrofoam itu gak ada lucu-lucunya sama sekali.

Oh, and I also like The Kitchen Musical yang sekarang juga diputer di Metro TV. Kemaren saya ketawa aja liat You Can’t Hurry Love dinyanyikan dengan nuansa India gitu, lengkap dengan acara nari rame-ramenya.

Anyway, selain acara TV yang saya omongin tadi, saya lagi pengen cerita soal playlist saya lagi didominasi beberapa lagu. Yaituuuu… lagu-lagunya Maroon 5 dari album mereka yang Hands All Over.
Semenjak mereka muncul pertama kali dengan single This Love, saya memang udah jatuh cinta sama band yang satu ini. Suara vokalisnya, Adam Levine, bener-bener khas. Dan lagu mereka semua keren-keren. Saking cintanya saya sama band ini, waktu mereka konser di Jakarta kemaren, saya jadi galau maksimal. Pengen banget nontoooooon!

Yang sekarang lagi sering saya putar, tentu saja, Moves Like Jagger, a song with a very uplifting beat. Cocok nih buat bikin semangat pagi-pagi.
Trus lagi sering muter Misery, mulai dari yang original version sama yang acoustic versionnya. Seneng sama lagu ini bukan cuma karena beatnya, tapi juga liriknya.

So scared of breaking it,
that you won't let it bend
And I wrote you hundred letters
I would never send
Why won’t you answer me?
This silence is slowly killing me..
It’s not that I didn’t care
It’s that I didn’t know
It’s not what I didn’t feel
It’s just I didn’t show

Strong lyrics sang by an intoxicating voice, wrapped in a great music. What more do you expect???

And lately, Just A Feeling sama Never Gonna Leave This Bed bener-bener terngiang terus di telinga saya. Apalagi lirik Just A Feeling itu.

And she cries
"This is more than good bye.
When I look into your eyes
You’re not even there"

To the jleb banget gak sih liriknyaaaa??? *galau mendadak*.

Anyway, acara-acara TV tadi paling tidak bisa bikin saya semangat. Sekarang hari Kamis aja saya udah seneng, karena inget bakal ada X Factor dan StandUp Show.
What about you, what show currently has become your favourite? What song that currently has been played over and over again?

Minggu, 09 Oktober 2011

Me and the Cooking Cup

To tell you the truth, cooking is not my thing. Yep, waktu sekolah dulu saya pernah memasak sendiri. Tapi begitu selesai sekolah dan pulang kembali ke tanah air, saya cuma tau makan aja. Jadi saya sendiri juga sebenernya nyaris tidakpercaya sama diri saya sendiri waktu saya ikut lomba memasak.
Silakan dibaca lagi kalimat di atas. Anda gak salah baca kok, saya ikut lomba memasak.

Jadi gini, dalam rangka Dekan Cup, salah satu lomba yang diadakan oleh BEM FMIPA *ye,p Fakultas MIPA, tempat saya mencari nafkah* adalah lomba memasak. Tadinya saya gak ada minat sama sekali untuk ikutan. Tapi akhirnya saya jadi tertarik karenaaa… satu, masaknya boleh di rumah, jadi di kampus udah tinggal nata-nata hidangannya aja. Kemudian, yang alasan selanjutnya yang membuat saya makin semangat untuk ikut adalaaah… Jurinya si Chef Agus! Iyaaa, yang jadi Runner Up Master Chef Indonesia ituuu! Eh, gini-gini saya penonton setia MCI lho, dan saya pendukung Chef Agus *selain karena dia jagoan, dia juga.. ganteng*.

Eeeniwei, tentu saja, sebagai seseorang yang menyadari kelemahan diri sendiri, langkah pertama yang saya lakukan adalah merayu Mama untuk membantu saya. Tadinya sih mama gak mau. Tapi setelah membaca selebaran tentang lomba itu yang saya bawakan, si Mama malah jadi semangat juga. Dia tau-tau udah mengajukan berbagai macam ide masakan, sementara saya cuma manggut-manggut aja. Lombanya hari Sabtu, dan Jum’at malem, begitu saya sampe rumah, si Mama udah selesai aja bikin semacam nugget gitu dari ikan haruan. Bentuknya lucu-lucu pula, dicetak Mama pake cetakan kue.


Sabtu paginya, sampe di kampus, seperti biasa saya pake acara panik dulu. Secara nih ya, saya agak-agak clueless membayangkan itu si nugget mau ditata seperti apa. Apalagi begitu melihat pserta lain yang oh-keren-sekali-masakannya. Peserta dari dosen totalnya ada lima orang. Kalo dari mahasiswa, akhirnya ada 11 apa 12 orang gitu. Saya dapet nomer peserta dua. Di sebelah saya, Bu Wati, staf bagian kepegawaian yang memang punya katering. Begitu melihat masakan dia yang ditata dengan begitu cantiknya di atas piring, serius saya pengen mundur aja. Apalagi melihat masakan punya Ipul, yang ditata ala chef profesional. Itu lhooo..yang sausnya dibentuk kayak garis abstrak gitu di atas piring. Untunglah para mahasiswa saya dengan baik hatinya ikut bantuin nata-nata si nugget itu.


*para mahasiswa yang bantuin ibu dosennya yang sedang panik*

Setelah berpikir selama…beberapa detik, akhirnya saya memutuskan untuk menamai nugget itu sebagai… Hau Good. Hau dari kata haruan, sementara Good karena mau nyaingin nugget So Good.


*tampilan si Hau Good*

Sekitar hampir jam 10an, Agus dateeeng. Ih ya ampun, dari deket dia ganteng bangeeeet. Senyumnya itu lho, mampu melumerkan es batu dalam segelas es teh manis.
Singkat cerita, dia mendatangi satu persatu meja peserta untuk mencicipi masakan yang dilombakan. Karena rasa gugup *biasalah, saya si drama queen harus selalu lebay* dan grogi karena berdekatan dengan si ganteng yang jago memasak, jadi aja saya mempresentasikan masakan saya dengan sungguh ala kadarnya.

Yang paling saya ingat dari komentar Agus nyicipin masakan saya? Waktu dia nyicipin sausnya: “Sausnya enak…” katanya sambil senyum.
“O ya? Alhamdulillah. Padahal itu mah cuma nyampurin semua yang tersisa di rak di dapur…” kata saya dengan polosnya. Lha wong kata Mama gitu kooook…

*saya sedang presentasi masakan di depan Agus. rasanya ngajar Kimia Unsur selama 2 x 50 menit jauh lebih gampang dibandingkan menjelaskan masakan ini selama lima menit*

Begitu Agus berpindah untuk mencicipi masakan Bu Wati, saya langsung mencicipi masakan saya sendiri. Eh, beneran, saya sendiri belum nyicipin lhoooo….

*cicipin dulu aaahh...*

Anyway, nugget HauGood saya tidak bertahan lama. Ada 12 potong yang saya bawa. Setengah potong dicicipin Agus (dan saya ngabisin yang sisa setengah potongnya ;p). Sebelum Agus selesai nyicipin semua masakan peserta, itu nugget udah tinggal setengahnya gara-gara dicicipin dosen dan mahasiswa. Trus, tau-tau, Agus belum selesai demo masak, semua nugget itu udah lenyap. Yang tersisa tinggal daun selada dan tomat yang jadi garnishnya aja.

Selesai melakukan penilaian, Agus lalu demo masak. Ih, canggih deh. Ternyata beneran ya dia kalo masak dengan gaya kalem gitu, tapi cepeeet banget. Rapi pula. Sempet sambil ngobrol pula. Canggih aja.

Dia bikin steak patin saus pandan, sama jus cempedak sasirangan. Wetsah! Keren yak?

*Chef Agus in action. Cuma satu jam, tau-tau udah jadi aja itu steak dan jus. Kereeen*

Akhirnya, pengumuman pemenaaang. Yang bacain Agus. Jujur, saya kalopun berharap menang, cuma ngincer juara III. Apalagi semua staf dan dosen di Fakultas memang sudah meramalkan bahwa yang bakal juara I itu Bu Wati. Waktu Agus membacakan kalo yang juara III itu Mbak Lina, dosen PS Fisika (nilainya 80), saya ikut tepuk tangan dengan gembira. Pas Juara II diumumkan, dengan nilai 81, saya sempet kaget. Lha, kok juara II nya… Bu Wati? Jadilah saya menduga juara I nya Pak Noer, Pembantu Dekan III kami yang juga ikut.

“Kemudian, untuk Juara I, dengan nilai 84,5…” kata Agus. Saya udah ngeliatin Ipul dan Pak Noer aja. Pilihannya kan tinggal mereka doang.

“Ya…kira-kira nomor peserta berapa yang jadi juara?” kata Agus.

Nggak tau mahasiswa, gak tau staf, ada yang teriak gini… “Nomer empaaat…”. Saya sih langsung keplok-keplok aja. Nomer empat itu nomer pesertanya Pak Noer.

Eh, si Agus manggut-manggut…

“Iya, nomer empat…” katanya. Saya senyum. Yah, paling nggak kan Pak Noer dosen Kimia juga.

Eh, tapi tau-tau Agus ngomong lagi. “Tapi empat kurang dua. Jadi juara I adalah nomer peserta dua, atas nama Utami Irawati.”

Saya bengong. Lalu tereak. “Whuaaa… Kimia menaaang!!”. Mahasiswa Kimia juga pada tepuk tangan dan tereak-tereak, sementara saya dengan noraknya loncat-loncat. Ahahaha… seneng bangeeeet.

Udah gitu, untuk kategori mahasiswa, Kimia dapet juara II! Weeeyyy… Keren banget kaaan =D!

Trus para pemenangnya disuruh maju untuk nerima piala. Eh, ternyata yang nyerahin pialanyaaaa… Bukan Agus -_-. Yang nyerahin piala Pembantu Rektor III. Mbak Lina udah bisik-bisik aja : “Yah, kok bukannya Agus aja ya?”. Saya langsung setuju. With all due respect ya Pak, ketemu sama PR III mah banyak kesempatannya. Tapi ketemu sama Agus?

*saya, Bu Wati yang Juara II, sama Mbak Lina yang Juara III*

Tapi tapi tapi… selesai foto bareng sama peserta…
...
...
...


*saya sama siapaaaa? Sama Aguuuus :D*

Iyaaa… saya foto sama Aguuuus! Ecieee... ini begitu dia ngerangkul saya gitu, saya langsung disorakin mahasiswa lho ;p.

Pas selesai pembagian hadiah, saya langsung ngabarin Abah-Mama. Mama tadinya sempet gak percaya, karena kata Mama bikin masakan itu tadi gampang banget. Tapi pas malemnya saya pulang dan ngasih liat pialanya, Mama baru percaya. Ahahaha…
Jadilah ini membuktikan, that I have the best Mom in the world. Masakan Mama memang adalah masakan paling enak seduniaaa.
I love you, Mom =*

*Chef paling jago di seluruh dunia :D*





Selasa, 27 September 2011

Balikpapan dan Tragedi Koper

Minggu lalu, saya dan beberapa orang temen ikut training di Balikpapan. Keren kan ya? Trainingnya pula, judulnya Training for Proposal Grant Writing. Wetsaaahhh… Acaranya diadain HKI, dan sponsornya CRDF, sebuah NGO dari USA. Secara nih ya, sponsornya dari luar, acara dan akomodasi di Hotel Grand Senyiur. Hotel berbintang banyak, dan satu kamar sendiri. Jadi aja saya dengan noraknya menikmati fasilitas hotel dengan wajah berbinar-binar =D.

Trainingnya sendiri cukup menarik, ada tiga pembicara, Charles, Joyce, dan Colin. Materi yang mereka sampaikan tentang bagaimana menulis proposal untuk mendapatkan grant penelitian dari luar negeri. Gak kayak kalo ikut pelatihan lain yang biasanya selalu ada adegan saya ketiduran, untuk training kali ini, dengan ajaibnya saya bisa mendengarkan, even do the note taking. Sebenernya sempet berasa ga enak, pas bagian sesi tanya jawab, saya cenderung menjadi salah satu orang yang sering bertanya. I mean, I don’t want to show off or something. But I really was curious. Lagipula, maksud saya, while I have the chance, I want to make the most of it. Maka meskipun dengan bahasa Inggris yang seadanya, saya nanya. Eh, tapi pas akhir sesi, Drew, panitia dari CRDF malah bilang terima kasih lhooo… She said that she appreciated people who asked questions, as it shows that people are really interested in the training.

Another nice thing about joining this kind of training is the chance to meet new people. Yang pasti sih, jadi ketemu sama Mbak Indah, dosen TL yang gantiin Rosy. Lalu juga ketemu dengan dosen dari Papua. Oh, dan ada Bapak dosen dari UnHalu yang baiiiik banget. Dia lulusan S3 dari Jerman *-*. Belajar beberapa hal menarik dari si Bapak Ahmad ini =D, terutama tentang menghargai hasil karya orang lain.


Oh, dan karena lokasi trainingnya di Balikpapan, akhirnya aku ketemu dengan temen lama yang sudah gak ketemu selama 6 tahun! Yeay! Finally ketemuan sama Emil – Septa (yang sudah punya dua anak kecil, Ata dan Bisma), sama Lina dan Widia. It was very nice to see them again =D.


Back to the title. Tragedinya di sebelah mana?


Jadi gini. Bulan Juni lalu, saya ikut seminar di Jogja. Dan waktu itu, saya ketemu dengan Pak Ali, dosen di Maluku. Nah, pas acara ini ya ketemu lagi. Gak sempet ngobrol banyak sih. Pas hari kita check out, sempet ketemu dia sebentar, dan dia minta nomer hape saya.


Kronologisnya sepertinya dimulai ketika saya turun dan keluar dari lift sambil membawa koper saya. Begitu pintu lift membuka, salah seorang staf hotel langsung mengambil alih koper saya. Saya mah ho’oh aja, secara saya mau ngurus check out, plus Emil dan Septa udah nungguin saya di lobby. Selesai check out, saya memperkenalkan Mb’Indah dan Sunardi sama Emil-Septa. Waktu itu Sunardi sama Mb’Indah udah di teras hotel, lengkap dengan tumpukan kper di samping mereka. Naiklah kita ke mobil. Pesawat saya dan Mb’Indah memang baru berangkat malemnya, tapi rencananya kita mau nganterin Sunardi dulu ke bandara, karena dia mau ke Berau dan pesawatnya dijadwalkan berangkat jam 12 siang. Kita sempet singgah dulu untuk beli oleh-oleh, dan sampe di bandara sekitar jam 11an. Ngedrop Pak Sunardi, dan menurunkan kper dia. Nah, pas Sunardi ngambil kopernya dari bagasi mobil, saya jadi curiga. Kok… ada satu koper lagi ya? Karena say ayakin, Mbak Indah gak bawa koper. Dia cuma bawa traveling bag. Pas saya nanya Sunardi, dia sama kagetnya dengan saya. Secara dia pikir koper item itu punya saya. Kita liat-liatan. Bengong. Lalu panik.


KOPER ITEM INI PUNYA SIAPA COBA YA?


Mbak Indah udah ketawa aja saking takjubnya.

Dalam keadaan panik, saya nelfon ke hotel untuk nanyain, ada gak tamu hotel yang lagi bingung karena kopernya hilang. Sementara itu, Sunardi dan Mbak Indah udah ngebongkar koper itu untuk nyari ID. Ketemu. Ternyata memang deh ya, si koper itu punya Pak Ali. Kayaknya karena kebetulan saya, Sunardi, Mbak Indah dan si Pak Ali ini turun untuk cehck out pada saat yang nyaris bersamaa, jadilah staf hotel yang di depan pintu lift itu dengan penuh percaya diri mengasumsikan bahwa kami satu rombongan. Jadi aja semua koper kami ditumpuk jadi satu. Lha, saya yang liat koper itu dimasukkan ke mobil kan mikirnya itu punya Sunardi. Dan Sunardi sama Mbak Indah, tentu saja berasumsi bahwa itu koper punya saya.

Nelfon hotel lagi, ternyata Pak Ali sudah check out. Parahnya lagi, kan hotel biasanya minta nomer hape tamunya ya. Lha kok pas si Pak Ali ini pihak hotel pas gak nanyain. Dengan asumsi bahwa Pak Ali pulang ke Maluku lewat Makassar, jadilah kita berkeliling counter agen penerbangan, untuk nanya, ada gak nama Pak Ali dalam daftar nama penumpang ke Makassar. Negatif. Semuanya bilang gak ada penumpang mereka atas nama itu.


Akhirnya, kami memutuskan untuk balik ke hotel. Berdoa semoga ada panitia pelatihan yang masih tersisa, dan punya nomer hapenya Pak Ali.


Alhamdulilah yah, sekitar 10 menit kami meninggalkan bandara, Pak Ali nelfon saya.


“Bu Utami dimana? Koper saya ada di Bu Utami ya?”


Iya Pak. Dan koper bapak sukses banget bikin kami panik.


Tadinya sih sempet janjian mau ninggalin koper dia di hotel aja. Tapi beberapa menit kemudian dia udah nelfon lagi, secara ternyata dia udah di jalan. Jadilah suatu pembicaraan aneh


Pak Ali: Lha, Bu Utami ini sudah sampe mana?

Saya: Saya udah hampir nyampe Plaza Balikpapan. Bapak dimana?
Pak Ali: Saya sudah sampai di..depan Bank Danamon

*saya pas lagi melongok ke jendela dan melihat gedung Bank Danamon menjulang di kanan saya*


Saya: Pak, BERHENTI Pak! Berhenti sekarang juga. STOP! *saya nyaris teriak lho ini*

Pak Ali: Ha? Jadi saya brenti disini?
Saya: IYA PAK! UDAH! Brenti disitu aja! Jangan kemana-mana lagi, biar kita samperin Bapak.

Akhirnya Septa berhasil nemu puteran jalan, dan happy ending dong. Si koper kembali ke pemilik aslinya. Dan akibat insiden itu, saya jadi laper.

Well, kalo ar-si-ti-ai terkenal dengan sinetron Putri Yang Ditukar, kami punya cerita tentang Koper yang Terbawa.


Rabu, 06 Juli 2011

Books I Grew up With

Beberapa hari yang lalu baru saja bikin akun di Goodreads. (iya, saya tau betapa telatnya sayaaaa….). Dan jadi keasyikan meng-add buku-buku di dhelf-nya saya, membaca review dan komentar orang tentang beberapa buku, menahan rasa ingin beli buku lagi melihat begitu banyak buku yang sepertinya seru banget…

Tapi yang pasti, saya jadi keinget beberapa buku yang dulu saya baca waktu saya masih kecil dan imut serta menggemaskan (yah, sampe sekarang juga masih sih ;p)

I am lucky enough that I have parents that love reading. Pertama kali bisa baca umur 3 tahun, dan mulai umur 5 tahun sudah baca buku sendiri. Jadi jujur saja, sampai sekarang saya masih suka agak heran kalau tahu ada orangyang tidak suka membaca.

Dulu, zaman Banjarmasin masih kota kecil, jumlah toko buku masih sangat sedikit. Yang saya ingat, dulu ada Sampaga. Dan saya masih ingat judul buku pertama yang saya pilih sendiri untuk dibelikan Abah disana: Sama’a sang penjaga Mata Air. I even still remember the cover. Terus ada juga Toko Buku Hasanu di deket Bundaran Air Mancur. Sayang sekali, semenjak ada Gramedia, toko-toko buku itu tidak bisa bertahan.
Terus, setiap kali Abah tugas ke Jakarta, saya pasti akan bikin daftar buku yang saya inginkan untuk dititipkan pada Abah.

Anyway, I grew up reading these kind of books

Lima Sekawan


Siapa sih yang gak pernah baca buku ini? Julian, Dick, George, Ann, dan tentu saja, Timmy! Yakin deh, yang baca buku ini waktu jaman kecil dulu pasti pernah berjhayal untuk berpetualang seperti mereka.

Seri Rumah Kecil di Padang Rumput


Baca ini pas kelas 1 SD gitu.Tapi yang Tahun-tahun Bahagia baca pas sudah kelas 4 SD gitu kali yaaa… Terhanyut banget dengan kehidupan sehari-hari Laura. Dan saya baru sadar belasan tahun kemudian, bahwa mungkin saya menyukai Laura di buku itu karena dia terasa begitu nyata, just like my reflection on the mirror. Sedikit nakal, selalu ingin tahu, diam-diam iri pada orang lain karen aberbagai alasan yang sebetulnya konyol. I even gave the name Charlotte to one of my dolls, just like Laura named her doll.

Taman Rahasia, Putri Mungil, Pangeran yang Hilang, Little Lord Fauntleroy



Semuanya karya Frances H. Burnett. Dan menurut saya, these books are evergreen classics.

Serial Malory Towers dan St. Clare




Aaaa…. Dulu ngoleksi buku ini tapi dipinjem kakak kelas dan gak balik :(. Jadi kemaren beli box setnya, dan maraton menghabiskan masing-masing 6 buku dalam serial ini. Saking sukanya sama serial ini, saya sama adek saya waktu kecil dulu suka berpura-pura menjadi tokoh dalam buku ini.

Serial Girl Talk, The Baby Sitter Club, Dear Diary


Yang ini waktu udah mulai ABG nih, pas kelas 5-6 SD, sama SMP gitu. Di Girl Talk,paling suka sama tokoh Allison. Pengen aja jadi kayak dia :D.

Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak)


Buku science-fiction pertama yang saya baca , bacanya waktu saya kelas 3 SD. Dan buku pertama dari serial ini saya baca sambil duduk di pojokan toko Gramedia di Bandung. Selesai dalam waktu dua jam. Ahahaha… waktu itu soalnya saya gak mau ikut belanja di toko lain sama Mama, jadi aja saya ditinggal sendirian di Gramedia selama hampir 4 jam. Yang masih tersisa di rak buku saya sekrang tinggal yang jilid 2 dan 3. Sebenernya agak kesel sama buku ini, karena nanggung. Di buku ketiga sih tulisannya bersambung ke buku keempat yang berjudul Lembah Api. Tapi sepertinya buku itu gak pernah terbit =(

Komik Mahabharata, Bratayudha, Ramayana
Aaaa…kangen sama komik wayang iniii! Saya dulu sampe hafal lho silsilah keluarga Pandawa dan Kurawa! Sayang ya model kayak ginian gak diterbitkan lagiii…


Sebenernya sih masih banyak lagi. Serial Pilih Sendiri Petualanganmu, Kelompok 2&1, Tro Detektif, whuaaa…kangen buku-buku jaman dulu ituuuu!

Komik terbitan Elex dulu jugaaa… Saya suka banget ngumpulin Serial Misteri. Apalagi kalo Yoko Matsumoto, pasti langsung beli. Sama yang Yu Asagiri. Bagus-baguuuus! Gambarnya bagus, ceritanya juga, mulai dari konyol (favorit saya Time Limit, Empat Sekawan, sama SOS), so sweet (Ring Memory, School, dll). Kalau komik jaman sekarang? Jujur, saya ngerasanya terlalu vulgar. Beda dengan cerita romantis di komik jaman dulu, yang plos tapi malah simply sweet and romantic.

Kalau dipikir-pikir, cerita jaman dulu itu karakternya sedikit beda dengan novel remaja zaman sekarang ya? Ceritanya lebih sederhana, bahasanya lebih lugas.
Makanya, seneng banget liat Taman Rahasia, A Little Princess dan beberapa buku klasik semacam itu dicetak ulang lagi :’).

Aaahh… Jadi kepengen membaca ulang kembali beberapa buku yang dulu menjadi penghias masa kecil saya :p

Jumat, 01 Juli 2011

The Lost Hero – Rick Riordan

I am a HUGE fans of the Percy Jackson series. Lagian semenjak kecil, I always have the soft spot for Greek Mythology. Makanya, begitu liat novel ini di Periplus Istana Plaza Bandung, tanpa mikir lagi saya langsung ngambil aja. Dan mendekapnya erat-erat di dada. Dengan wajah yang berbinar-binar dan mata berkaca-kaca. Tapi kalau dibandingkan betapa lebainya saya dalam adegan pembelian buku ini, anehnya buku ini baru saya baca sekitar dua minggu yang lalu.


Belinya sebenernya udah lama, Desember 2010 gitu. Dan saya selalu menunda-nunda membaca buku ini. Saya dengan absurdnya berpikir, nanti kalo saya baca, habis baca itu saya gak punya bacaan lagi dong? Dan tentu saja saya menutup mata pada kenyataan bahwa sampai saat ini ada lebih dari 15 novel yang segel plastiknya aja belum dibuka.

Aannnyway… Akhirnya saya baca juga… AND I LOVE IT :D!

Yes, The Heroes of Olympus series is the sequel from Percy Jackson series. Bagi yang ngikutin Percy Jackson, inget dong that the last book ended with a prophecy? Dan novel ini merupakan perwujudan dari ramalan itu.

Tokoh sentralnya sebenernya baru. Jason, Leo, dan Piper. Obviously, they are demigods. Beberapa tokoh lama juga sempet muncul disini, Annabeth, Thalia, Chiron… Well, Percy, in one way or another, was also mentioned in this book. Was mentioned, not showed up.

Mirip dengan seri pendahulunya, ketiga remaja ini tadinya gak nyadar kalo mereka adalah blasteran dewa-manusia. Sekali lagi, mirip dengan seri pendahulunya, mereka baru sadar that there is something way so unusual about them, karena mereka harus berantem dengan monster. Geez, kenapa sih gak bisa ya mereka tahu bahwa mereka itu half-bloods in a more conveninet way? Ya, misalnya pas lagi duduk-duduk minum teh, tau-tau ada yang dateng, terus bilang, “Nice weather, huh? And by the way, do you know that you’re the daughter of Aphrodite?”.

Ngeeeniweeeeii…

Salah satu hal yang sangat beda, adalah point of view yang dipake. Di novel ini, Riordan pake point of view orang ketiga. Dan KETIGA tokoh dipake. Jadi dua bab pertama adalah POV Jason, trus dua bab selanjutnya dari POV Piper, trus dua bab lagi POV Leo. Dan gitu lagi. Not bad. Dan saya ngerasa, karakter tokoh jadi muncul banget disini. Oh, oke, yang Jason mungkin gak begitu ya… Tapi si Leo ini, asli, saya langsung jatuh cinta sama Leo. I mean, he’s funny, tapi di sisi lain, he has a soft spot too. Apalagi tentang betapa sayangnya dia sama ibunya, dan betapa dia merasa bersalah terhadap apa yang menimpa ibunya. Lagipula, si Leo ini yang paling lucuuuu. Komentar-komentarnya suka ajaib aja. Apalagi waktu dia naksir sama Ratu Es itu…

Another different thing, is the age. Buku pertama Percy Jackson waktu dia berusia 12 tahun. Nah, seri ini dimulai waktu tokohnya sudah remaja semua. Jadi ya… pergolakan batinnya model-model galaunya anak remaja gitu. Terutama antara Jason dan Piper -_-“. Toh, setiap tokoh punya konflik batin masing-masing.

Kemudian temanya juga..agak sedikit…beda. Inti utamanya masih sama, peperangan antar dewa gitu. Cuma di buku ini, tidak hanya mitologi Yunani, tapi juga ada mitologi Romawi. Kalau dipikir-pikir, memang sebagian besar dewa-dewi dari kedua mitologi itu sama sih. Cuma namanya aja yang beda-beda. You know, Aphrodite in the Greek myths, Venus in the Roman. Greek people call him as Ares, and Roman people know him as Mars. Kemudian mitologi yang ada di buku ini juga diceritakan lebih detail. Misalnya aja, soal kelahiran Aphrodite. Eh, tapi saya sempet agak bingung soal Medea deh… Saya sampe sempet brenti baca sebentar cuma untuk googling tentang siapa itu Medea ._.

As usual, Riordan punya cara sendiri untuk membuat pembaca terhanyut. Apalagi cerita sudah diawali dengan suatu misteri, Jason yang tiba-tiba saja sudah lupa tentang identitasnya sendiri. Dan tentu saja, the thing that I always find fascinating about Riordan’s writing, cara dia membuat tokoh-tokoh mitologi itu hidup kembali dengan latar dekade ini. Favorit saya? Aeolous, the master of winds, yang malah menjadi anchor untuk berita ramalan cuaca.

However, ada beberapa hal yang di bawah ekspektasi saya. First of all, it’s such a damn thick book! Hampir 600 halamaaaaan…. Dan itu karena there are so many things happened in the book. So.many.things. Kemudian, gak tau kenapa, saya suka berasa datar aja kalo pas POV nya Jason. Walaupun sepertinya dia yang jadi leader dari ketiga remaja ini, bagi saya dia jadi terasa…membosankan. Beda dengan bab dimana POV yang dipakai adalah POV nya Leo. Joke-nya selalu bikin saya ketawa. Ikut berasa nyesek waktu akhirnya dia ketemu sama ayahnya yang dewa. Pengen nangis waktu dia, untuk kesekian kalinya, merindukan ibunya dan merasa bersalah atas kematian ibunya. And somehow, the feeling that Leo was trying to hide. That he actually often feels like a square peg in a round hole. That he belongs nowhere. That he’s the odd one out. A very familiar feeling.

And one thing that I found a bit weird, kok jaraknya berasa terlalu singkat ya antara kejadian dimana seri ini dimulai dengan kejadian dimana Percy Jackson series berakhir? Saya malah merasanya kenapa para dewa-dewi itu tidak betah hidup damai???

Novel The Lost Hero ini adalah buku pertama dari seri The Heroes of Olympus, yang akan menjadi tetralogi. And guess what? Setiap buku akan diterbitkan tiap tahun. The Lost Hero was published in October 2010. The next one, The Son of Neptune, will be released in October 2011. KENAPA COBA YA MESTI SELAMA ITU???

Anyway, I give 4.5 out of 5 for this book =).

Selasa, 28 Juni 2011

Random Siang Hari

Okay. So this is near the end of June. Yang artinya paruh pertama 2011 tau-tau udah lewat ajaaa? Gue kemana ajaaaa????

Procrastinating, of course.

Jadi suka pengen getok kepala sendiri kalo inget betapa banyak hal yang sebenernya bisa dari kapan itu selesai, tapi malah saya tunda-tunda.

1. Form aplikasi beasiswa masih tergeletak tanpa ada coretan apapun sedikitpun. Shame on me. Ngapain minta reference ke Christian kalo akhirnya gak dipake?

2. Naskah iseng-aja-pengen-nyoba-nulis itu masih tergeletak di rak paling bawah lemari. So far from being sent to anyone.

3. Tabungan bukannya menggemuk, malah makin kurus aja -_-. Etapi kan dipake buat bikin dapur di RSS gue sendiri ding. Hahahaha... Ngelesnya yang ini lumayan deh.

Anyway, setelah bikin posting ini, semoga semakin termotivasi untuk mulai melengkapi berkas. All that I need to do sebenernya tinggal melegalisir beberapa dokumen, ngisi form. Udah. Somethingthat I can actually do in 2 days. Tuhaaaannn... maafkanlah hambaMu yang kebangetan ini :(

Bismillah... Semoga niat ini terus menyala :)

Selasa, 14 Juni 2011

Me, and… VIDI ALDIANO!

Maap. Dari judulnya aja udah keliatan histeris ya? Yah, begitulah… Saya kan udah pernah bilang di posting yang ini, kalo sampai sejauh ini, ada 3 orang yang bisa bikin saya lupa umur dan lupa profesi saking histerisnya. And Vidi is one of them :).

Pas kapan itu, saya lewat perempatan, dan langsung cengo liat ada baliho gede yang intinya, Vidi mau konser di Banjarmasin! Eh, demi deh, seriusan ini??? Tapi begitu liat pelaksanaannya, saya langsung hopeless. Pertama, shownya mulai jam 9 malam. Dan saya yakin, paling Vidi baru muncul di panggung jam sepuluh lewat. Deuh. Kedua, acaranya di salah satu pub di kota ini. For one and some reasons, saya menghindari datang ke tempat-tempat semacam itu.

Jadi sebenernya nih ya, hari Sabtu tanggal 11 itu dimulai dengan sedikit kelabu. Saya sih memang udah minta izin di tempat saya ngajar les, kalo sore itu saya gak bisa masuk. Karena rencananya, malam itu saya mau begadang buat nyelesain slide saya untuk presentasi hari Selasa nanti. Eh, mungkin karena Tuhan tau kalo saya ngepens sama mahluk ciptaanNya yang satu itu, jadi entah kenapa, hari Sabtu itu di kampus sepi, dan saya gak ada kerjaan. Jadi aja jam setengah dua belas saya udah bisa pulang. Pas lagi di jalan, pas OL twitter..dapet info kalo… ADA MEET AND GREET VIDI DI DUTA MALL! Astaga, itu sopir angkot sampe mau saya kalungin kembang tau gak sih saking senengnya.

Yo wis, dengan penuh semangat membara menyala-nyala seperti api unggun pramuka, langsung aja saya ngeloyor ke sana. Singgah sebentar di Gramedia, trus naik ke atas, ke food court tempat MnG nya nanti. Tadinya sih sepi, walopun panggungnya udah disiapin. Baru ada sekitar 8 orang yang udah pake baju Vidies duduk di tempat duduk khusus deket panggung situ. Atuh saya mah BERUSAHA terlihat kalem dan santai (padahal dalam hati deg-degan), jadi dengan manisnya, saya pesen pempek dulu. Laper. Habis bayar, dan mau balik ke tempat yang rada deket sama panggung, lah, kenapa jadi mulai penuh gitu? Sialan. Untung masih dapet kursi deket situ. Berapa lama ya saya sempet nungguin gitu? Yah, sekitar hampir 45 menit sih, trus, lama-kelamaan, makin banyak crew yang dateng, meeka mondar-mandir sambil ngomong lewat HT gitu. Melihat perkembangan semacam ini, berdirilah saya, dan mulai bergeser mendekat ke arah panggung. Untuk kesekian kalinya, saya bersyukuuur banget punya badan yang mungil begini. Jadi gak banyak orang yang sadar, apalagi protes, kalo saya udah deket sama panggung. Daaannn…


VIDI DATENG! YOI JEEEKKK… VIDI ALDIANO DATENG!


Begitu liat Vidi, gak tau kenapa, saya tereak. Tereaknya sambil bengong gitu… Astaga, dia lewat cuma sekitar 1 meter dari tempat saya. Pake kaos biasa gitu. Untungnya bukan cuma saya yang tereak. Trus, langsung foto session gitu. Saya dong dengan penuh semangat langsung merangsek maju ke depan. Jadi aja saya berfoto di kloter pertama, berempat gitu. Nah, sebenernya sama si crew kita disuruh berdiri di bawah panggung, Vidi di atas. Tapi Vidi bilang, “Eh, gak enak banget deh gue di atas gini. Gue di bawah aja ya?”.

Lalu dia turun.

Dan berdiri.
Di SAMPING SAYA.

IYA SODARA-SODARA! PAS DISEBELAH SAYA! Yakin dah, saya dicolek dikit aja sama Vidi udah pingsan sambil cengar-cengir.


Habis foto, kita salaman. Had a short dialogue with him:


“Makasih ya Vid…”


“Iya, sama-sama…”


“Semoga kuliahnya cepet lulus ya Vid…”


“Amin… Makasih ya…”


“Semoga cepet skripsi ya Vid…”


“AMIIINN …AMIIINNN!! Makasih yaaa…”


Oke, dari sekian banyak orang yang datang, kekna cuma saya yang kepikiran untuk ngomong gitu., Maap, naluri dosen. Sebenrnya mau saya tambahin, “Saya bersedia kok jadi dosen pembimbing kamu…”


Anyway, bodohnya saya adalah…

SAYA GAK FOTO PAKE KAMERA SENDIRI. *gali aspal*


Ya gimanaaaa??? Saya pikir mah, itu kan crew pada memotret kami dengan kamera canggih gitu, saya pikir pas habis acara bakal dijual gitu. You know lah, kayak acara seminar atau apaaa gitu kan suka ada tukang foto dadakan gitu. E sialan ya, ternyata enggaaaak!


Saya mah udah lemes aja. Eh, tapi pas saya lagi bingung gitu, ada kru yang kayaknya gak tega ngeliat betapa nelangsanya penderitaan yang tergambar di wajah saya.
“Ya udah Mbak, foto lagi, biar saya fotoin…”

JADI YA UDAH SAYA FOTO LAGI DAN SEKARANG CUMA BERDUA SAMA VIDI!
*loncat-loncat* *terbang melintasi samudra*

Yah, hasilnya blur sih. Bodo. Yang penting saya foto sama Pidi =D.

Eh, Vidi itu asli baik banget deh… ada tuh dia yang dikerubuti banget, tapi asli, dia mah teteeeeep aja senyuuuum terus. Dan senyumnya memang asli manis banget. Selesai sesi foto, sempet ada sesi tanya jawab gitu. Saya angkat tangan dooong :D. Eh, beneran, sama host mikrofonnya dikasih ke saya. Bukannya nanya, kata-kata pembuka saya adalah.. “Vidi, kalo gak salah, single yang Nuansa Bening itu kan tahun 2009 ya? Saya cuma mau bilang makasih aja. Soalnya single itu yang menemani saya selama saya mengerjakan tesis sampai akhirnya lulus.” Dia langsung ketawa, dan orang-orang langsung pada tepuk tangan. Well, setengah jam kemudian saya baru nyadar, saya ngomong gitu mah artinya saya ngebuka aib soal umur ya? Bodo ah. Emang bener kok, dulu kan pas lagi ngerjain literature review di tesis, lagunya Vidi itu mulu yang bolak-balik saya puter. Sampai-sampai pas farewell party Monashindosummer juga itu yang saya request buat dinyanyiin. Trus saya nanya lagi soal kapan dia mulai pengen jadi penyanyi, sama yang jadi inspirasi dia.Ternyata sodara-sodara, Vidi itu dulu sebenernya mau jadi dokter anak! Aww… how sweet…

Trus pas mau udahan, ada sesi foto lagiiii…. Tadinya sih saya mau foto lagi, maksudnya biar dapet gambar yang lebih jelas lagi. Tapi..ah, masa sih sampe tiga kali. Ya udah, akhirnya saya minta tanda tangan doang. Tanda tangannya dimana coba? Di novel sayaaa… ahahahaha….


Eh, Vidi mah kalo di TV keliatan cakep ya? Salah. Aslinya mah dia itu CAKEP BANGET. Astaga… Dan emang bener deh ya, dia itu ramaaah banget. Pas akhir-akhir itu, malah crew yang rada ribut nyuruh udahan, Vidi nya aja yang nyempetin tanda tangan dan foto bareng gitu. Trus dia sempet nyanyi dikit. Man, his voice is AMAZING. Asli, emang suaranya bening banget!!! See?

Ah, intinya mah saya seneng. Seneeeeng banget. Akhirnya bisa liat salah satu idola saya dari deket. Dekeeet banget. Bisa salaman, foto bareng, dapet tanda tangan. Dan sempet ngasih tau betapa secara tidak langsung, his song helped me going through those this-thesis-is-killing-me days.
Thanks Vidi :).

Oh iyaaa… Karena Meet and Greet Vidi ini jiuga akhirnya saya bisa ketemu sama salah satu temen saya yang tadinya cuma kenal di twitter dan facebook. Si Tri! Hahahaha… Tri…maap yaaa…gak sempet ngobrol banyaaak. Dan saya lupa buat jaga imej di depan kamu. Hahahaha… Saking excitednya, jadi aja saya malah cengar-cengir gaje mulu di depan Tri. Saya kok mikir dia jadi meragukan status saya sebagai dosen ya? Eh, Tri kenapa gak mau diajakin foto bareng Vidiii? Kan sayaaang :(. Kapan-kapan ketemuan lagi ya Tri :).

Last words to say: I’m proudl to be a Vidies =D!

Selasa, 31 Mei 2011

Kambing Jantan Is In The House!

Gak, saya bukannya lagi jadi juragan kambing. Ini posting soal seseorang yang jadi sangat terkenal karena Kambing. Siapaaa? Tukang sate? Pak Kumis yang jualan soto kambing? Bukaaan… Tapii… Raditya Dika :).

I bet that this name is familiar for you. Yep. Raditya Dika yang populer dengan buku-buku komedinya. Pieces of writing that he calls as observational comedy.


Kemaren, Alhamdulillah saya bisa ikut Seminar Me
nulis Kreatif dengan Raditya Dika sebagai pembicara. Yang ngadain mahasiswa Fakultas Kedokteran, jadi acaranya tanggal 29 Mei kemaren di Gedung Utama Fakultas Kedokteran. Begitu liat selebaran soal acara ini, saya langsung memutuskan untuk ikut. Secara salah satu temen saya, si Ka Alfi adalah dosen FK, ya udahlah saya SMS dia untuk nanyain soal acara ini. Dan balesan SMS nya merupakan bukti bahwa Ka Alfi suka males ngeliatin pengumuman. Lha, dianya sendiri baru tahu acara itu dari saya kok -_-. Anyway… Akhirnya saya daftar juga lewat dia sih.

Jadi pas hari Minggu itu, saya nonton acara bareng
sama Ka Alfi, Rina, dan.. Adi. Hahaha… si Adi ini, udah dari kapan kami temenan, kampus cuma beda dua tarikan nafas, eh baru ketemu kemaren. Padahal kalo di virtual world saya udah sebegitu sok akrab sok kenalnya sama Adi. Pas baru dateng, Ka Alfi dan Rina udah bawa kantong plastik yang isinya makanan. Tinggal kurang tiker aja nih, kami udah bisa ngegelar acara piknik indoor. Dika baru muncul jam 16.45. Dan begitu liat tampangnya, pikiran pertama saya adalah: “Pendek ya orangnya…”. Disusul pikirankedua: “Kayaknya Dika masih ngantuk deh…”. Secara ekspresi dia kayak orang yang dibangunin jam 2 subuh untuk ujian Kalkulus II secara mendadak.

So he talked. Bercerita sih, lebih tepatnya. Secara nih ya, niat mulia saya yang sungguh m
embuat saya sendiri terharu adalah untuk belajar menulis, here are some interesting things that he talked about.

It’s not about what you say, but how you say it.

Kata Dika, banyak yang beranggapan bahwa untuk menulis komedi, seseora
ng harus sering mengalami sendiri berbagai kejadian lucu. The truth is, it does not work that way. Yang penting sebenarnya adalah bagaimana kita mencari sudut pandang yang menarik dari sesuatu hal yang biasa saja. Apa yang sepertinya terlihat sebagai sesuatu yang tidak menarik saking biasanya, bisa saja menjadi sesuatu yang berbeda, hanya karena cara pandang kita unik.

Menulislah tentang sesuatu yang membuat kita merasa nyaman.

Ini adalah inti dari jawaban Dika waktu ada yang nanya, dia berminat gak nulis genre lain. Horor misalnya. Sebenarnya yang paling penting dalam menulis itu kan adalah kita menuliskan tentang hal-hal yang kita ketahui, hal-hal yang memang menarik dan cocok bagi kita. Jangan deh menulis cum
a karena ikut-ikutan trend.

Tulisan pertama itu memang nasibnya jelek kok.

First draft is always the worst one. Dan menurut Dika, suatu tulisan itu baru akan jadi bagus kalo sudah melewati redrafting berkali-kali. And it happens for everyone. Bahkan para penulis terkenal pun selalu melewati proses redrafting ini. Let’s put it this way, the process of writing would be: Step one, write. Two, read. Three, rewrite the draft. Four, reread the rewritten draft. Five, go back to number three. Dan be
rulang terus :)

Know your characters.

Ini pertanyaan dari saya. Saya selalu k
esulitan untuk membuat karakter yang ada dalam tulisan saya memiliki kepribadian yang ‘muncul’. So I asked him about this. Dika bilang, the easiest way adalah menggunakan tokoh-tokoh yang memang nyata, yang memang kita kenal dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi kalau kita menciptakan sendiri suatu tokoh, we’ve got to know the character. Kita mesti tahu apa warna kesukaan dia. Apa makanan yang dia gak suka. Kamarnya seperti apa. Gimana dia bersikap kalo mesti ketemu orang yang tidak dia suka. We have to know all those little details about our character, dan karakter itu bakal jadi tiga dimensi.

Menulislah dengan jujur

Salah seorang audiens menyata
kan kekagumannya tentang tulisan Dika yang membuatnya terhanyut, dan nanya gimana caranya bisa nulis seperti itu. Jawaban Dika sederhana sih sebenernya, tapi justru ngena. Kata Dika, tulisan yang dimaksud itu justru adalah salah satu tulisan dia yang bener-bener dari hati.

Those are some of interesting things that I learned from him. Sebenernya masih banyaaak lagi yang pengen saya tanyain soal menulis. Tapi apa daya, waktu jua yang memisahkan kita *berasa kayak MC acara TVRI ya?*.

To be
honest, I’m not a big fan of Raditya Dika. Dari sekian banyak bukunya, yang saya baca cuma satu, dan itupun saya udah lupa yang mana. But I do respect him as a writer. He’s one of the most popular one in Indonesia rite now, and apparently, he has become one of the most inspiring and influential person for a lot of Indonesian youngsters. Dan karena rasa respek saya itulah lalu saya dengan penuh semangat datang ke acara ini. I mean, kapan lagi punya kesempatan dateng ke talkshow seorang penulis best-seller?

And yes. I learned from him. A lot. Thanks for that, Dika =).


However, walaupun judul acaranya adalah seminar menulis kreatif, sepertinya sebagian besar peserta datang bukan karena temanya, tapi karena Raditya Dika-nya. I mean. They’re HUGE fans of him. I mean, mungkin karena bagi mereka Dika bukan (hanya sekedar) penulis, tapi lebih ke seorang public figure. Bahkan waktu sesi tanya jawab, banyak pertanyaan yang bukan soal tulis-menulis, tapi m
alah ke arah pribadi gitu. Masa ada yang nanya gimana rasanya waktu Dika putus dari mantannya? Saya sampe mau ngecek, si penanya punya kartu pengenal sebagai wartawan infotainment kali ya… Bahkan sampai ada yang konsultasi soal masalah dia sama pacarnya. Kalo saya bilang sih, sayang banget. Padahal Dika sendiri kayaknya excited kalo dia ditanyain soal menulis. Norak mungkin, tapi saya seneeeeeng banget waktu pas sesi tanya jawab, Dika nunjuk saya sebagai salah satu penanya. Eh, saya gemeteran lhoooo… *ya saya tahu betapa noraknya saya ini*.

*Saya kayak lagi nanya mahasiswa pas sidang skirpsi ya ;p? Dika kayak ketakutan gitu*

Trus, pas saya bertanya soal permasalahan saya dalam menulis tadi, Dika malah nanya ke saya gini:
“Emang kamu maujadi penulis ya?”
Saya diem, bengong selama sedetik, lalu MENGANGGUK.
“Insya Alloh, kalo ada jalannya…”
Astaga. What the hell was on my mind sampai saya dengan percaya dirinya menjawab seperti ituuuu??? *getok kepala sendiri*

Si Dika lagi, jawabnya gini: “Jangan. Nanti saya banyak saingan…” (Yes, I know that he was kidding).


Sampai sekarang saya masih heran aja kenapa saya bisa jawab seperti itu. But one thing that I know for sure, I do enjoy writing =).


Pas selesai sesi tanya jawab, Dika ngajak yang nanya tadi maju ke depan untuk foto bareng. Wuuhuuu… Secara saya duduk di barisan paling depan, saya yang paling cepet maju lagi, saya jadinya pas di sebelah Dikaaa!

*itu saya lagi ketawa ngeliat pose Dika yang sok jadi anak alay -_-*

Well, it’s definitely some of the things that I would never forget. Makasih banyak buat Ka Alfi yang udah ngedaftarin dan nemenin nonton, juga buat Rina dan Adi yang jadi temen nonton jugaaa :D. And here it is..Me and Raditya Dika :D!