Selasa, 23 Desember 2008

Where Have You Been?

Dengan penuh rasa percaya diri, saya menganggap bahwa banyak yang menanyakan keberadaan saya yang akhir-akhir ini secara jarang banget ada apdet dari diri saya... Iya yah, saya kemana aja ya?
Well, sebenernya justru karena saya ga kemana-mana itulah jadi saya jarang berdunia maya ria... Iya sih, warnet cuma sekedar tiga kali kop roll dari rumah. Tapi maleeeees banget keluar rumah. Jadilah kegiatan saya di rumah ga jauh-jauh dari makan, tidur, gangguin ponakan saya sampai dia berurai air mata (dan biasanya diakhiri omelan ibu saya..), nonton TV. Dan saya jadi sukaaaaa sekali nonton Idola Cilik. Iye..iye...tontonan mureeee memang. Tapi kan suka ada Duta yang jadi komentatornya. Ihik...
Lagian, di Banjar lagi musim hujan, dan kadang-kadang tak hanya hujan sekedar hujan, tapi pake acara banjir segala... Dan Kayutangi, daerah tempat saya tinggal, termasuk daerah yang mengenaskan nasibnya kalau menyangkut soal banjir membanjir ini. Rumah saya sih untungnya ga kebanjiran. Ga banget-banget maksudnya. Halaman depan sih iya, plus dapur belakang tempat nyuci, itu airnya sampai lebih tinggi sedikit dari mata kaki. Tapi untunglah airnya ga sampai masuk rumah segala.
Kalau keluar rumah, paling cuma ke kampus di Banjarbaru. Dan sepanjang jalan saya suka mikir, kok bisa ya saya tahan tiap hari bolak-balik Banjarmasin-Banjarbaru pp? Biasanya ke kampus 2 kali seminggu, Senin-Kamis doang. Soalnya kalo Senin - Kamis kan Abah puasa tuh di rumah, jadi Mama ga masak. Nah, daripada saya disuruh mempraktekkan jurus-jurus memasak yang suka saya bangga-banggakan itu, mending saya ngabur dah...
Pertama kali ke kampus setelah sekian lama (nyaris setahun lhoo...), dengan noraknya saya pake acara deg-degan segala. Hehehehe... Mahasiswa tuh yang pada kaget ngeliat saya, dan kedatangan saya pun disambut dengan gegap gempita (hiperbolis yaa??). Tapi, sambutan dengan nuansa rasa senang dari mahasiswa itu tidak berlangsung lama. Minggu depannya, mereka langsung berwajah menderita penuh kepedihan begitu saya dengan teganya ikut jadi penguji tambahan waktu mereka seminar KP. Duh, senangnya bisa berada dalam posisi pemegang kekuasaan...gyahahahahaha (ketawa setan).... Ada sensasi tersendiri deh rasanya...
Terus ngapain lagi ya saya? Oh iyaaa... lagi suka main Cake Mania 3. Sebenernya CD gamenya punya Dian sih, tapi sebagaimana layaknya seorang tante, dengan sewenang-wenangnya saya yang main, bukan dirinya. Udah masuk level-level terakhir nih...
Ah, udah ah, ni aja ngempi pake laptop punya Program Studi. Alasannya sih ngecek imel, padahal sambil fesbukan segala...
Sekali lagi, mohon maaph ya saya belum sempet blogwalking...
Dadadddddaaaahhh....

Rabu, 10 Desember 2008

Anggap Aja Ngiri...

hmmm.... setengah kesel, setengah geli... jadi geleng-geleng kepala sambil tersenyum pait... kenapa ya, ada aja orang-orang yang merasa terlalu nyaman di comfort zone mereka sehingga 'males' untuk keluar? kenapa kalo ada orang yang beda dikit dan ingin membawa perubahan, langsung dipandang sinis...

i took the chance, and i know the consequences...any problem with thaaatttt????? well, anggap aja mereka berkata seperti itu, hanya karena mereka tidak mengambil kesempatan itu...or should i say, because they don't even care about that chance?? anggap aja ngiri...

*sambil berpikir, is it THAT hard to bring something new?*

Rabu, 03 Desember 2008

The (Short) Trip to Tasmania - Day II

Hari kedua di Hobart. Hari kedua ini, sayangnya kami bertujuh terpisah kembali. Saya, M’Gita, Dini dan Hafiz di satu rombongan tur, dan karena tur tersebut udah keburu full, Dina, Dedy dan Ponco ikut rombongan tur yang lain. Day tournya sih lumayan. We spent most of the day at Port Arthur. Oh ya, sedikit background. Tasmania ini, waktu pertama kali ditemukan oleh para orang Inggris (di tahun berapa sih? Akhir 1800 an gitu kayaknya deh), para orang Inggris tersebut langsung merasa cocok untuk menjadikan Tasmania sebagai lokasi pembuangan para narapidana. Jadilah Tasmania ini semacam pulau penjara gitu.

Tidak hanya dipenjara, para narapidana disini sungguh diberdayagunakan untuk menjadi tukang, mulai dari untuk membangun jalan, membangun gedung, that kind of things. Port Arthur adalah kompleks penjara yang diperuntukkan bagi para narapidana dengan tingkat kesalahan yang tinggi (or should I say, kesalahan tingkat tinggi? Well..never mind, you do know what I mean, don’t you?). Wah, kalau menurut saya sih, Port Arthur ini mah terlalu bagus untuk dijadikan komplek penjara. Lanskapnya yang perbukitan di satu sisi dan laut di sisi lain membuat pemandangan dari sini terlihat cantik sekali. Kalau tidak salah, Port Arthur sempet terbakar, dan terbengkalai selama beberapa lama. Tapi sekarang, Port Arthur dengan sisa-sisa reruntuhan gedung penjara dan beberapa gedung yang direstorasi ulang sudah menjadi salah satu obyek wisata andalan Tasmania. Isu dan legenda mengenai keberadaan hantu dan penampakan yang terjadi di daerah sekitar sini malah oleh pengelola dijadikan sebagai salah satu obyek wisata tambahan, semacam Ghost Tour gitu. Wuih... coba kalo di Indonesia ada yang kayak gini yaa... kalo di Indonesia mah, saya yakin kita ga bakal kehabisan tempat untuk ngadain semacam ghost tour beginian.

Day Tour ini memah bener-bener day tour, dalam artian seharian banget. Kalo Dedy dengan sewenang-wenang saya tuduh punya kecenderungan untuk mabuk sepanjang perjalanan jauh, maka saya dengan besar hati mengakui kalo saya punya tendensi untuk tidur sepanjang perjalanan. Capek juga euy… Kami berangkat jam 8 pagi (dijemput sama guidenya di hotel tempat kami menginap), dan baru nyampe di hotel lagi menjelang sekitar jam 7an gitu. Rombongan Dina-Dedy-Ponco udah duluan nyampe. Tidak rela hari berlalu begitu saja (haduh, jayus lagi), kami bertujuh pun jalan-jalan lagi menelusuri Hobart. Sampailah kami di tugu pahlawannya Tasmania. Sama seperti tugu-tugu pahlawan di kota-kota Australia lainnya, tugu pahlawan ini juga sebagai penghormatan untuk ANZAC atau Australian and New Zealand Army Corps. Di kejauhan, terlihat Tasmanian Bridge yang nampak megah. Hmm..such a lovely place to have another photo session :D.

*saya minta foto ini diulang, karena saya berdiri di sebelah Dedy! oh, betapa jegleknya saya yang imut ini disebelah dia yang menjulang*

*foto dengan pengaturan posisi yang sudah diperbaiki :D*

Karena sudah keburu capek, plus kedinginan bangeeeeet (angin Tasmania sedang menunjukkan tiupan dengan tingkat dingin menjurus ke arah maksimal), hari kedua kami akhiri sampai disini…

Hari ketiga, we only have a few hours before our plane take off and bring us back to Melbourne. Beres-beres barang, check out, dan masih sambil menenteng barang-barang bawaan, kami sempet singgah di Salamanca Market. Ini tuh semacam weekly marketnya Tasmania, buka cuma tiap hari Sabtu.

Yang dijual? Macem-macem banget. Sampe fosil pun ada. Serius. Saya sih cuma beli sedikit souvenir, sabun Lavender untuk nenek saya tersayang di Bandung. Setelah puas keliling-keliling di Salamanca, kami pun bertolak kembali ke bandara Hobart. Disana, tentunya bersua kembali dengan rombongan satunya yang menginap di service apartment.

*para 'backpackers' melaporkan diri kepada Ibu Suri alias M'Erni*

Daaann… the short trip to Tasmania pun resmi ditutup dengan bertolak kembalinya pesawat kami ke Melbourne. Uhm.. Masih ada satu agenda tambahan sih, pas nyampe Melbourne, kami menyerah pada rasa lapar dan makan siang bersama di Es Teler 77.

*Melbeeeenn...wir beeeekkkkk....*

Such a nice trip, lots of memories, lots of pictures, lots of fun and laughter..

The (Short) Trip to Tasmania -Day I

Adakah yang dengan baik hatinya masih ingat rencana saya begitu selesai ujian? Bukan, bukan pulang ke Indonesia, yang satunya. Jalan-jalan ke Tasmaniaaa!! Yeiy… It was really fun. Well, okay, apart from the fact bahwa di Tasmania pun entah kenapa saya masih menjadi obyek yang menyenangkan untuk dijatuhkan nama baik dan kredibilitasnya, it was really a nice trip.

Asal muasalnya saya ikutan adalah waktu ditawarin housemate saya, M’Erni, yang dapat tawaran dari teman dia (yang adalah teman saya juga..what a waste of words) untuk bareng-bareng ke Tasmania. Mumpung ada tiket murah! Sempet ragu, karena tripnya direncanakan tanggal 13-15 Nopember, sementara jadwal ujian saya waktu itu belum ketahuan apa kabarnya. Makaa…terima kasih tak terhingga untuk Anna yang sudah ber amal baik dengan mencaritahukan jadwal ujian tersebut (yang ternyata jatuh pada tanggal 12 Nopember). Oh, betapa menyenangkannya kebetulan-kebetulan semacam iniiiii…. Well, what goes beyond my expectation adalah, ternyata banyak banget yang bergabung.. ada 15 orang! Yeiyyyy… Betapa serunyaaa… Anyway, 15 orang tersebut ternyata pada akhirnya tersplit menjadi 2. Faktor pembaginya? Ehm.. Jadi gini, pesen tiket kan mesti pake credit card toh? Jadilah ada dua kartu kredit yang dipake, 8 orang ikut punya Ancilla, 7 orang lagi nunut kartunya Dinni. Saya termasuk golongan orang-orang dalam kategori terakhir. Perkembangan selanjutnya adalah, ternyata bukan hanya kartu kredit yang tersplit, penginapan pun terbelah dua. Jadi yang 8 orang memutuskan untuk ber akomodasi (ya..ya.. ya.. saya nyadar kok betapa anehnya kaidah pembentukan kata yang saya gunakan) di sebuah service apartment, sementara kami bertujuh dengan berbagai alasan pertimbangan (dan bagi salah seorang dari kami, kepasrahan), kami bertujuh nginep di hotel Backpackers. Duh, berasa jadi turis beneran ga sih? Lokasi hotelnya pun lumayan enak kok, pas di tengah kota. Hotelnya juga bersih dan ekonomis (kok jadi berasa kayak iklan sabun colek sih?). Dan ketujuh orang backpackers nanggung itu adalah…toet..toeeeeet… (kasih applaus dong…!!!): saya sendiri, Dina, Dedy, Dinni, Gita, Ponco, dan Hafiz…

teman-teman saya berbackpackers ria

Ada satu alasan yang membuat saya cukup berbahagia dengan rombongan mahluk-mahluk aneh ini, kenapa oh mengapa? Karena oh sebab, Dina dan Dedy bawa kamera profesional! Iyaaa..itu lhoo…kamera bagus yang keren banget ituuu… Lengkap bawa tripod pula mereka. Saya dengan gairah narsisme yang sudah terbukti dan teruji pun langsung membayangkan, beuh..betapa kerennya foto-foto kami nantinya…

Perjalanan dimulai dengan proses keberangkatan yang bikin deg-degan, karena kami berkejaran dengan waktu check in. Proses ini melibatkan ketinggalan bus, ketinggalan kereta, dan terpisah saat naik shuttle bus ke airport. Sampai di counter check in pun masih ada drama yang diprakarsai oleh petugas counter yang ngotot bahwa tripod Dina tidak bisa dimasukkan ke bagasi kabin karena termasuk barang berbahaya, dengan alasan: “It can hurt you when it fell and hit your head”. Oh, oke mbak..tapi kayaknya novel Harry Potter pun bisa dikategorikan berbahaya kalo alasannya adalah kalo jatuh ke kepala bisa menyakitkan. Well, anyway…

Naik pesawat, saya sempat panik karena dua hal. Satu, pesawatnya kayaknya lagi masuk angin atau flu atau apapun lah, pokoknya ga enak banget ditumpangi. Kedua, Dedy, yang duduk di sebelah saya terpisah gang kelihatan begitu ketakutan, membuat saya ketularan deg-deg an juga. Alasan dia sih, dia ga pernah naik pesawat dari Wonogiri ke Jakarta. Yeah, rite...

Setelah perjalanan selama sekitar satu jam, sampailah kami di Hobart. Turun dari pesawat, mau masuk ke gedung bandaranya..kami bengong melihat plang peringatan karantina, yang menyatakan bahwa tidak boleh ada buah-buahan yang boleh masuk ke Tasmania dari luar. Masalahnya adalah... Dinni bawa pisang. Ponco bawa apel (atau aprikot? Atau jeruk? Apapun lah, pokoknya buah yang bulet). Dina bawa telur dadar. Iya, yang terakhir ini memang bukan buah sih, tapi siapa tau kaaaannn... Tidak rela perbekalan kami berakhir dengan nelangsa di tempat sampah, jadilah kami berdiri di luar gedung bandara, sambil makan apel (confirmed, saya udah inget, it was apple), makan pisang, dan telur dadar. Pemandangan yang tidak lazim sepertinya memang ya..makan buah-buahan (dan telur) di luar gedung bandara. Sampai di penginapan, beberes dan benah2 dikit, kami langsung meluncuuurrr... Yah, bagusnya hotel ini sih ya posisinya yang di tengah kota. Selain itu resepsionisnya juga dengan baik hatinya menyarankan tempat-tempat yang bisa kami datangi dengan berjalan kaki. Wahai para resepsionis hotel di Indonesia, yang kayak gini nih mesti dicontoh!

Jadi di hari pertama, kami pun mengelilingi pusat kota Hobart. Ih, ternyata kota ini kecil juga ya... kop roll empat setengah kali juga udah bisa kok. Kami mulai dari Franklin Square, dan di bawah ini adalah salah satu foto kami disana, yang kami nobatkan sebagai salah satu best shot of the trip (mohon maaph dengan masalah resolusi foto, saya donlod dari fesbuknya Dedy, file aslinya belum sempet ngopi).

Dari Franklin Square, kami mencari obyek wisata yang gretongan, sehingga diputuskanlah bahwa the next destination is Tasmanian Museum. Sampailah kami disana sekitar satu jam sebelum museumnya tutup. Mungkin pengelola museum, setelah melihat kelakuan kami disana, menyesali kenapa hari itu mereka tidak tutup lebih awal dibanding biasanya. Secara kami disana kerjaannya foto-foto melulu, dan 50% dari gaya berfoto kami sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia.

Hafiz itu lho..entah apa maksud gayanya itu...

Next! Jalan lagi… dan ternyata angin kencang menyambut kami. Tentu saja saya yang imut mungil dan menggemaskan ini yang paling merasakan efeknya, dimana saya harus dengan susah payah mempertahankan diri agar tidak terculik oleh angin kencang tersebut entah kemana. Teman-teman saya dengan penuh rasa iba mentertawakan betapa angin itu membuat kelangsungan perjalanan wisata saya terancam berakhir sampai disitu. Dan disini Dina dengan teganya menunjukkan satu fakta: “ Ya ampun Amiiiii… kamu itu sedadanya Dedy aja ga nyampe yaaa…!!!”. Dedy ngakak, Ponco tertawa puas, Dini terkikik geli, M’Gita dengan tanpa sopan santun tertawa, dan saya langsung mengambil keputusan bulat: “AKU GA MAU DIFOTO DALAM POSISI DI SEBELAH DEDY!”. Muter-muter demi memenuhi ambisi saya mencari plang bertuliskan University of Tasmania (entah karena mereka ga tega sama saya atau cuma supaya saya ga merepet sepanjang perjalanan), akhirnya kami berhasil menemukan gedung yang memajang tulisan yang saya maksud dalam ukuran yang cukup representatif.

*bersama si tulisan yang saya cari-cari itu *

Karena si gedung University of Tasmania ini (salah satu gedungnya saja, kompleks utamanya ternyata masih jauh) letaknya berdekatan dengan deretan pelabuhan, jadilah kami berfoto-foto kembali dengan latar belakang kapal-kapal.

Menjelang hari gelap (sori bahasanya jayus), kami udah nyampe ke sudut lain dari Hobart (have I told you before that it’s such a small city?). Demi melihat gedung-gedung kuno, Dini memunculkan ide berfoto dengan gaya djaman doeloe. Dedy yang tadinya sempat mengeluh lelah berfoto dan memfoto kami, tiba-tiba saja semangat lagi mengganti lensa kameranya. Jadilah salah satu foto ini, yang menurut kami adalah foto gaya Harry Potter

gaya para siswa terbaik Syltherin

Keren ya? Saya terlihat seperti siswa Sytherin yang mengalami malnutrisi, Hafiz nampak akan berubah menjadi werewolf dalam waktu 2 2/3 menit lagi, Dina seakan memiliki tatapan mata pembunuh sejati, dan Dini jadi mirip debt collector berdarah dingin. Weisss.. mantep dah pokoknya…

Anyway, itu adalah sesi foto-foto terakhir kami di hari pertama. Hari kedua? Teteup... But it would be another posting. Ami, over and out!

Sabtu, 29 November 2008

Pulang... Pulang... Pulang....

Yeiiyy.... Daku sedang ada sekitar 300 meter dari rumah tercinta di Banjarmasin, lagi di warnet niihhh... Hehehe.. iya, salah satu pembeda yang sangat signifikan antara disini dengan di sana adalah frekuensi online. Okeh..okeh..bek tu topik utama. Saya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia selama Summer Holiday yang lamanya sekitar 3 bulan lebih itu. Kenapa oh mengapa? karena saya merindukan keluarga (sangat bisa diterima), kuliner Indonesia (alasan yang tepat), dan mahasiswa saya (ya..ya..ya... Jamie pun langsung melotot dan dengan bingungnya nanya: "You miss your students?? WHY?"). Oh mahasiswa ku tercinta, anda-anda layak bangga dirindukan oleh dosen kalian yang imut ini... Kalau menurut temen-temen sih, motivasi saya untuk pulang sebenernya adalah... post power syndrome. Halah. Karena selama di sini memang, saya selalu berada dalam posisi terpojok, selalu dicela, disalahkan, dihina dina dini (betapa hiperbolisnya sayah...), diomelin, disalah-salahkan, dan disuruh JANGAN MENYANYI... Oh..betapa meristanya hidup saya di negeri orang (nangis Bombay sambil memeluk tiang jemuran). saya merindukan mahasiswa saya untuk diomeli kalo saya sedang mood cerewet, mahasiswa saya yang tidak berdaya menghadapi fenomena betapa seorang yang imut kecil mungil bisa sangat sangar kalo sudah pengen cerewet..

Hmm... anyway, saya masih sempat bergabung dengan teman-teman saya untuk ber short trip ria ke Tasmania kemaren. Seruuuuuu... hehehe.. yah, walopun tetep aja status sebagai objek celaan entah mengapa tetap tidak mau luntur dari saya. Lots of stories about this trip, tapi kapan-kapan ajah saya postingnya yah... Yang pasti, foto kami keren-kereeeeen.... Terima kasih untuk Pak Dedy dan Bu Dina untuk kamera bagus nya. Bu Dini dan Bu Gita (saya kenapa jadi formal gini yak?), saya pasrahkan urusan untuk mengkompilasi foto-foto itu pada kalian. Pak Ponco, kapankah videonya diaplot? Pak Hafiz, selamat jalan kembali ke Malaysia..

Udah ah, pegel. Besok lagi ah ke warnet lagi, kalo ga males...

Rabu, 12 November 2008

Setelah Lima Tahun...

Yeiiiyyy... *sambil joget-joget*, akhirnya oh akhirnya, saya bener-bener bebaaaasss... Assessment terakhir di semester kedua saya disini akhirnya beeeerlaaaaaluuuuu... Gyahahahaha... seneng banget, lega dah rasanya. Well, mengingat terakhir kali saya ujian adalah UAS di Semester 8 saya kuliah S1 dulu, yang adalah di tahun 2003, artinya exam tadi adalah ujian saya setelah 5 tahun! Yah, kecuali Ujian Masuk CPNS diitung sebagai ujian juga.

Semester kedua ini memang ada satu mata kuliah yang pake exam, well, sebenernya sih ada dua, tapi yang Resource Evaluation cuma take home examination. Lha, si Corporate Environmental Responsibility ini 2-hours exam, dan bobotnya 50%! Udah gitu, ditaruhnya lagi di ujung masa ujian. Jadi kan saya submit jawaban untuk take home exam Resource itu tanggal 23 Oktober, sementara ujian CER ini tanggal 12 Nopember (alias tadi siang). Gilaaa... 3 minggu lho selisih waktunyaaa! Iya.. iya... pasti bakal banyak yang komentar bahwa dengan semakin banyak waktu lowong itu seharusnya saya bisa semakin siap untuk menghadapi ujian.. Tapi kenyataannya agak menyimpang dari hipotesis awal tersebiut. Semakin lama saya belajar, semakin eneg lah saya dengan materi ujian. Beberapa terakhir ini bahkan saya udah nyaris kejang-kejang tidak jelas saking bosennya membaca berbagai macam Acts dan Regulations yang seharusnya saya fahami demi kelancaran saya pas ujian nanti. Boleh percaya atau tidak, saya dan teman-teman saya sampai belajar kelompok segala demi persiapan ujian ini! Beuh, gimana saya ga berasa kembali ke masa SMP..eh, atau SMA ya? atau kuliah? well, tiba-tiba saja saya sadar, kayaknya dulu saya tuh ga pernah bela-belain belajar kelompok ya? Well, anyway... salah satu kesimpulan dari study group kami adalah, dari sekian Act and Regulations itu, yang penting (dalam artian bakal keluar dalam ujian) adalah Environmental Protection Act 1970 (VIc), EPBC Act (Cth), dan Environmental & Planning Act 1987 (Vic).

Saya sendiri juga dengan rendah hati menyadari, bahwa saya tidak cukup alim untuk menggunakan waktu yang hampir tiga minggu itu untuk terus-terusan belajar. Lha wong saya masih sempet jalan-jalan kok, mulai dari ke Royal Botanical Garden, ke Victoria State Rose Garden, naik Puffing Billy, ke Rialto, sampai yang terakhir barusan ke Fitzroy Garden. Hmm... polanya kan, dua hari belajar, sehari jalan-jalan, 2-3 hari tobat dan belajar lagi, sehari kemudian maen lagi.. Dan hoho... di PG Room pun nongkrongnya saya masih dipertanyakan untuk belajar atau tidak. Soalnya saya biasanya malah nonton TV kok..hehehe... (thank's buat Farah yang udah ngasih link indoweb!)

Anyway, malam dan pagi sebelum ujian saya udah menyerah, dan tidak lagi memaksakan diri untuk memelototi berbagai contoh kasus itu. Walaupun alam bawah sadar saya seperti berulang-ulang membisikkan "s.39 of EPA will be very likely to be interpreted as an absolute liability... negligence is a stronger action than nuisance but harder to prove... In Bata case, due diligence was used as a defence... merit review can only be applied for Planning Act, not EPA..." Aaaararrrrrrrrggghhh...!!

Oke, menuju deskripsi ujian saya. Ujiannya di Level 1 Caulfield Race Course. Iyaaa... bukan di gedung kampusnya. Mungkin dengan alasan daya tampung kali ya, exam venue Monash tuh seringnya di Gedung Race Course ini. Jadi saya ujian di ruangan yang gedeeee banget. Dan dalam satu ruangan itu, mungkin ada 3 mata kuliah yang melangsungkan ujian secara serempak.Dan oh, satu lagi yang menarik bagi saya. Kalo di kampus di Indonesia kan biasanya yang jaga ujian kalo ga staf administrasi ya dosennya langsung. Kalo disini, yang jaga ujian tuh para sukarelawan, dan para sukarelawan itu semuanya (at least yang jaga ujian saya kali ini lho ya) adalah para opa dan oma. Serius. Yang jaga ujian tuh udah yang pada tua-tuaaa semua. Hmm.. Bagus juga sih, mungkin maksudnya biar para pensiunan disini tetap merasa berguna dan dibutuhkan kali ya...

Sepuluh menit pertama dari ujian adalah reading time, jadi kita cuma boleh baca soalnya aja, belum boleh mulai nulis. Habis sepuluh menit itu, baru deh 2 jam perjuangan mengisi lembar jawaban. Hmm.. Soal pertama, dengan deskripsi kasus sepanjang 3 paragraf, saya mulai deg-degan. Kayaknya sih untuk part a, masih bisa, part b yang saya agak2 kabur.. Aduh, proses permit application itu yang mana ya? Part c, saya masih manggut-manggut, part d juga sepertinya lumayan bisa deh. Dan mulailah saya menulis..dan menulis...dan menulis... Selesai menjawab semua pertanyaan di soal pertama, saya nengok jam. Halah, udah 55 MENIT! Waduh, pantesan aja tangan saya udah setengah kejang. Whups.. Move on to number two. Saya berasa mau nangis pas liat Part d dari soal ini. Hiyyyaaaahhh... National Greenhouse Gas and Energy Emission Reporting Scheme Act! Plus Australian Carbon Reducing Scheme Strategy! Addduuhhh... Saya ga ngeprint hand out untuk materi yang iniii.. (oh iya, ujiannya open book). Yang saya inet cuma samar-samar, sebagain dari tugas kelompok kemaren waktu kita simulasi mengenai lelang karbon ini. Anyway, saya melanjutkan perjuangan saya untuk menulis..menulis... dan menulis... Saya selesai paaas satu jam kemudian, yang artinya masih ada sisa waktu 5 menit lagi. Tapi saya udah pasrah, yang penting semua soal sudah saya jawab. Fiuuhhh... Whatever the result, at least i've tried my best to answer the questions.

Daaaannn... dengan selesainya ujian tersebut, maka resmilah sudah semester kedua ini berakhir buat sayaaaa!!! Selanjutnyaaa... LIBURAAAN!!! Tasmaniaaaa... I'm coming!

Kamis, 06 November 2008

Victoria State Rose Garden

Sebelumnya, saya ingin mohon maaph dengan sangadh dulu kepada teman terkasih tercinta saya, Indira Sari Paputungan, karena dengan teganya saya dan Meike memutuskan untuk pergi ke Victoria State Rose Garden ini sehari setelah dia terbang pulang untuk berholiday ria ke Indonesia. Hehehehe...

Victoria State Rose Garden ini letaknya di Werribee Park, masih searea lah dengan Werribee Mansion. Sebenernya, beberapa bulan yang lalu saya sudah sempat ke sini pas winter holiday. Cuma wkatu itu saya hanya puas mengelilingi Werribee Mansion (foto-foto Werribee Mansion waktu itu bisa dilihat lagi disini). Kalau naik kendaraan umum, perjalanannya sekitar satu jam dari Melbourne. Jadi dari Flinders Street naik train ke Werribee. Sampai di Werribee Station, naik bus jalur 439 jurusan Werribee South. Saran saya, ceklah jadwal bus ini, karena jadwal ngider mereka agak sombong. Perjalanan naik bus cuma sekitar 10 menit, turun aja di Werribee Mansion. Kalau mau aman sih, nitip pesen aja sama Pak Sopir Bus, bilang kalo mau ke Werribee Park.

Victoria State Rose Garden ini dibuka tahun 1986, dan di taman ini ada lebih dari 5,000 pohon mawar. Desain taman dibuat menyerupai mawar lima kelopak, dengan sebuah gazebo di tengah taman tersebut. Luasnya sekita 4.75 hektar, dan jenis mawar yang ada disini juga macem-maceeem banget. Mulai dari warna dan betuknya, sampai aromanya pun kata Meike beda-beda. Masa sih? Saya sih cuma merasa bahwa semuanya wangiiii sekali.

The roses come in various colour. Merah (itu mah standar), putih, kuning, pink, ungu, jingga, sampai ungu! Tapi favorit saya adalah yang bercorak merah-putih, cantik sekali... Bagi yang suka kembang, ditanggung bakal betah berlama-lama disini. Anyway, the best time to visit this garden is between November - March. Saat itu mawarnya sudah merekah semua.

Taman ini buka sepanjang tahun, dari jam 9 pagi sampai jam 5.30 sore. Tapi kalau musim panas, karena siangnya panjang, buka sampai jam 6.30. Free admission! Tapi kalau saya bilang sih, kalo udah nyampe sini, sekalian aja maen ke Werribee Mansion.


Oh iya, foto-foto lain saya pajang disini. SIlakan ditengok, dan silakan jadi kepengen kesini juga. Ada yang mau nyari lokasi foto prewed? Monggo, it's one of the best location I can think of!

Rabu, 05 November 2008

Puffing Billy - Kereta Jaman Dulu di Masa Kini


Naik kereta api..tuut..tuut tuut… Siiiiiapa hendak turuuuut…
Oke..oke… demi kedamaian dunia, saya akan berhenti bernyanyi…
Dua bait lagu di atas cocok untuk menggambarkan edisi perjalan kami di wiken kali ini. Kami naik Puffing Billy sodara-sodara! Tapi bait selanjutnya , “ke BandungSurabaya…., bolehlah naik dengan percuma…” sudah tidak cocok. Karena kami naik dari Belgrave ke Lakeside. Dan bayar pula…
Apa sih yang beda dari Puffing Billy ini? Bukankah hampir setiap minggu saya naik kereta kalo ke City? Ohh…bukan.. bukaaaan… Ini bukan kereta Connex Train yang setia menghubungkan stasiun di suburb di sekitar Melbourne. Suka nonton film anak-anak yang Thomas itu ga? Yang kereta api uap itu? Naaahh… itulah kereta yang kami naiki kemaren!
Saya dan Iin sekali ini tidak hanya berduo maut seperti biasa, kami membentuk kuartet dengan Meike dan M’Devi sebagai pasukan jalan-jalan yang berani narsis.
Oke, kembali ke topik si Puffing Billy ini.
Puffing Billy adalah atraksi berupa kereta uap yang dioperasikan menyusuri rel di daerah Dandenong Ranges. Berangkat dari Belgrave, kita bisa memilih untuk turun di Menzies Creek, Emeral, Lakeside, atau di Gembrook. Tapi tarifnya ya beda-beda laaah…
Kalau mau naik Puffing Billy ini, mula-mula mesti naik Connex Train (kereta yang biasa itu lhooo…) sampai ke Belgrave. Asalkan ga salah naik kereta, ga bakalan nyasar dah, secara Belgrave itu adalah stasiun terakhir.
Dari stasiun Belgrave, ikutilah garis biru. Serius. Jadi gini, di lantai stasiun bakal ada garis biru yang menunjukkan arah yang harus kita ikuti sampai ke stasiun pemberangkatan Puffing Billy nya. Deket kok, istilah kata mah, pas di belakang stasiun kereta itu.
Karena inti dari atraksi ini adalah “orisinalitas” dari kereta uap Australia di zaman dulu, jadilah stasiun Puffing Billy ini disetting bergaya baheula, termasuk para petugasnya.
Keretanya kereta terbuka, kecuali gerbong khusus (tentunya dengan harga khusus pula).
Pas kami naik ke kereta dan memilih tempat duduk, si Mas-mas petugas dengan baik hatinya ngasih tahu posisi dengan pemandangan yang terbaik.
Perjalanan dari Belgrave ke Lakeside makan waktu sekitar satu jam, melewati Dandenong Ranges, daerah perbukitan yang terlihat begitu hijau. Satu hal yang menarik dari perjalanan ini adalah, setiap kali kereta kami melintas, orang-orang yang ada di pinggir jalan akan selalu melambai ke arah kami. Entah itu para pengemudi mobil, para pekerja di ladang anggur, ataupun orang-orang yang kebetulan berdiri di pinggir jalan yang kami lintasi. Hmm… Mungkin karena mereka ikut merasa ‘memiliki’ si Puffing Billy ini ya…

Dalam perjalanan menuju Lakeside, kereta kami singgah di beberapa stasiun, yang saya ingat, di Menzies Creek dan Emerald kereta ini sempat berhenti agak lama, sekitar 5 menit. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kami pun sampai di Lakeside. Lakeside ini mungkin disetting sebagai suatu daerah piknik, dan sesuai dengan namanya, letaknya di pinggiran danau. Danaunya sih biasa saja, yang membuatnya berbeda dengan danau di Indonesia (yang aslinya mungkin lebih bagus lagi) adalah kondisinya yang sangat bersih, rapi dan terawat. Tidak heran banyak yang betah untuk duduk-duduk disini. Bahkan di beberapa tempat, disediakan juga meja-meja kayu untuk keluarga yang mau berpiknik.

Selain itu, ada fasilitas..ehmm.. sepeda air. Jujur saja, semenjak kejadian sepeda-air-berbentu-angsa-psycho di Bandung dulu, saya agak trauma untuk mencobanya lagi. Tapi melihata Meike dan M’Devi, tergodalah diri saya untuk ikut mencoba juga, dengan siapa lagi saya berpartner kalau tidak dengan pasangan duo maut saya, Iin. Yah, walaupun saya dengan noraknya memakai jaket pelampung. Hey, siapa tau saya kecebur ke dalam danau itu? Ternyata, asyik juga... walaupun saya sempat panik dan berusaha sekuat tenaga menghindari sepeda air yang ikendarai dua anak berwajah “Dennis The Menace”.
Setelah naik sepeda air, kami sempet juga berjalan-jalan sebentar melewati jembatan kayu di deket danau itu. Setelah kurang lebih 2 jam berpiknik ria di danau itu,si Puffing Billy yang akan mengangkut kami kembali ke Belgrave pun tiba, dan kembali kami ber tuut-tuut ria melewati Dandenong Ranges, menuju Belgrave kembali, kembali ke kenyataan bahwa saya akan ujian dalam waktu kurang dari dua minggu lagi dan belum mempersiapkan apapun!
*merenungi nasibku di ujian nanti*
By the way, foto-fotonya sudah saya upload dan saya taruh disini

Selasa, 04 November 2008

Rialto Tower - Seeing Every Bit of Melbourne

Libur semester kemaren saya sudah sempet melihat Melbourne dari ketinggian Eureka Skydeck, termasuk menjajal The Edge. Untuk libur semester ini, duo anak hilang manis, alias saya dan Indira memutuskan mencoba ke Rialto Tower. Dengan tag line “See every bit of Melbourne”, sepertinya menarik juga.Jadi hari Senin kemaren, setelah saya mengurus perpanjangan paspor di KJRI, kami berdua dengan manisnya menuju si menara ini. Hmm... Nama menaranya mirip dengan nama salah satu grup musik favorit saya waktu SMA dulu euy... Rialto Tower ini alamatnya di 525 Collins Street. Kalau dideskripsikan dari segi posisi, ada di sudut Collins Street dan King Street. Kalau jalan kaki dari Flinders Street Station sih, ga jauh-jauh banget, paling cuma 10 menit jalan kaki, sekitar 4 blok gitu deh. Kalo naik trem juga bisa kok, trem No. 48, 70 atau 75 yang ke arah Dockland, turun di stop No. 2
Sampai di persudutan jalan itu, kita sempet agak ragu, yang manakah gedungnyaaa??? Apalagi sebenernya Rialto Tower ini juga adalah gedung perkantoran gitu. Untunglah Iin dengan jelinya melihat plang ini.
*untung ga salah jalan*

Masuk ke bagian entrance, bayar-bayar dulu lah hai… Tarifnya adalah sebagai berikut (kok saya berasa nulis proposal atau laporan penelitian gitu ya?) :
Adult $14.50
Child $8.00
Concession (tunjukin Student ID supaya daept tarif concession) $9.90
Pensioner $9.00
Family (2 Adults and up to 4 Children between the ages of 5 and 15) $39.50
Single Parent Family (1 Adult and 2 Children between the ages of 5 and 15) $27.50

Masuk ke bagian dalam, kita bisa menonton film di Rialto Vision. Ya jelaslah bukan film Harry Potter, apalagi Suster Ngesot. Disini film yang diputar judulnya adalah “Melbourne The Living City”. It’s about 20 minutes. Filmya sendiri menggambarkan Melbourne sebagai sebuah kota dengan berbagai atraksi dan tempat-tempat yang menakjubkan. Tidak ada dialog atau narasi apapun dalam film ini, cuma gambaran tentang Melbourne diiringi musik (tapi musiknya keren banget, asli). It’s quite good, semakin menginspirasi untuk jalan-jalan di Melbourne..
Observation Deck ada di lantai 55. Kalau naik lift, perlu waktu sekitar 40 detik untuk sampai di lantai 55 tersebut. Telinga kita sempat berasa aneh, kayak naik pesawat gitu lho, mungkin karena kecepatan liftnya kali yaaa… Sampai di lantai 55, dan kita melangkahkan kaki menuju jendela, inilah pemandangan yang bisa kita lihat

*gedung paling tinggi di sebelah kanan itu Eureka Skydeck*
Woooowww…. The view was gorgeous! Melbourne, kota yang terasa begitu hidup baik di siang maupun malam hari terlihat begitu cantik dan megah dilihat dari ketinggian 253 meter.
Observation Deck bentuknya melingkar, jadi kita bisa berkeliling dan melihat Melbourne dari semua sudut. Disediakan juga beberapa teropong yang bisa kita gunakan untuk melihat sudut-sudut kota dengan lebih jelas.


Tapi tetap saja saya tidak bisa menemukan Menzies Building, gedung tempat saya kuliah di kampus tercinta. Di kejauhan terlihat laut biru, bahkan di Port Melbourne juga terlihat beberapa kapal yang berlabuh disana.





* keliatan kan kapalnya?*
Mobil-mobil dan trem jadi kelihatan seperti mainan, kereta juga terlihat seperti ulat bulu *perbandingan yang aneh*.

Anyway, kalau sempet jalan-jalan ke Melbourne, tempat ini juga bisa jadi pilihan. Oh iya, tiket masuk kesini bisa buat re-entry kok. Tanya saja di bagian informasinya. Jadi kalau siang kita masuk kesini, tiketnya jangan langsung dicemplungin ke tempat sampah, karena bisa dipake buat masuk lagi pas malam harinya *selama masih di hari yang sama*. And believe me, the view of Melbourne at night from here would be different, but will be as gorgeous as it looks at day time.

Selasa, 28 Oktober 2008

What A Day


Saya hari ini sebel sama:

mesin validate di bus 900 yang tidak berfungsi pada saat saya mau memvalidasi MetCard, tapi secara ajaib berfungsi waktu yang make petugas pemeriksa

petugas pemeriksa yang tidak mau percaya bahwa there's something wrong with the machine when I tried to validate it

sopir bus yang tidak berusaha menjelaskan duduk perkara sebenarnya

orang-orang ga ada kerjaan di Diknas yang memutuskan bahwa just to make my life easier, tidak hanya tunjangan fungsional yang dicabut, tapi juga 50% dari gaji pokok yang sudah sangat tidak seberapa itu

si norak yang selera berpakaiannya aneh dan secara langsung maupun tidak sudah under-estimate kemampuan saya

kembang kol yang bau langunya ga mau hilang

mahasiswa yang minta di-add di FS tapi nulis nama di profilnya pake karakter ajaib yang tambah bikin saya sakit kepala (??_L's_?¤ , atau ©Hå¥yü», atau ??Ca2+=4+5Y4??').

Demikian, sekian dan terima kasih....

Kamis, 23 Oktober 2008

Field Trip : Wonthaggi

Semester kemaren, saya field trip ekologi ke Mt. Donna Buang *dimana terjadi beberapa percakapan ajaib antara saya dan dosen saya* dan ke Cranbourne Botanical Garden *dimana saya sukses jadi stalker*. Semester ini, untuk mata kuliah Corporate Environmental Responsibility, field trip lagiii... ke Wonthaggi.

Wonthaggi ini sebetulnya adalah salah satu tujuan wisata juga di Victoria, letaknya di South Gippsland, menuju ke Phillips Island. Sering disebut-sebut sebagai tempat dengan pemandangan pantai yang menakjubkan, dan memang benar...sepanjang jalan saya bengoooong aja.. Subhanallah... baguuus banget deh. Well, sayangnya field trip kami bukanlah ke pantai itu.

Tujuan utama dari field trip ini adalah meninjau lokasi yang direncanakan sebagai tempat untuk deslainatipn plant nya Victoria. Desalination plant? Apa itu? Intinya sih, desal plant itu adalah unit penyulingan air laut hingga layak untuk dikonsumsi. Kenapa kami meninjau tempat ini, adalah karena rencana pendirian desal plant ini sendiri sebenernya banyak menimbulkan kontroversi. Dari pihak penduduk lokal, mereka sendiri menolak pendirian desal plant ini. Mungkin bukan menolak sih ya, mereka merasa proses pendirian desal plant ini tidak transparan. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja pemerintah sudah mengumumkan bahwa desal plant itu akan didirikan disana. Sementara pemerintah sendiri berkeras bahwa pendirian desalplant ini memang krusial, mengingat ketersediaan air di Australia yang diperhitungkan akan semakin kritis dan tidak bisa mengimbangi kebutuhan. Yang menarik adalah, salah satu materi dalam field trip itu adalah sesi presentasi. Untuk sesi pertama, yang presentasi wakil dari komunitas lokal. Jadi dalam rangka menolak pendirian desal plant itu, mereka mendirikan semacam organisasi lokal, "Your Water Your Say". Jadi mereka menjelaskan kepada kami alasan mengapa mereka menolak pendirian desal plant itu, dan kronologis kejadian mulai dari mereka pertama kali mendengar berita tentang pendirian desal plant itu, dan perjuangan mereka untuk meminta kejelasan tentang hal tersebut. Sesi kedua, yang presentasi adalah orang dari Departement of Sustainability and Environment Victoria, yaitu instansi pemerintah yang bertanggung jawab atas pendirian desalplant tersebut. Mereka menjelaskan pentingnya pendirian desal plant bagi Australia dan mengapa Wonthaggi yang dijadikan lokasi. Bagus juga, jadi kita bisa tahu dua sisi yang berbeda dari satu masalah *dan bukankah seharusnya memang begitu? :p*


Selain presentasi itu, kami juga melihat lokasi yang disebut sebagai Wonthaggi Windfarm. Jadi kan ceritanya salah satu yang dipermasalahkan, desal plant itu tentunya akan intens dalam hal penggunaan energi, yang ujung-ujungnya adalah emisi gas rumah kaca. Nah, katanya solusinya adalah menggunakan energi alternatif. Karena di daerah tersebut sangaaat berangin, jadilah wind energy disebut-sebut sebagai sumber energi yang akan digunakan. Walaupun jujur saja, kami sangaaat meragukan hal itu. It's called a windfarm, but there are only 6 windmill there! Bahkan salah satunya sepertinya rusak, karena tidak berputar sama sekali. Well, anyway, si desalination plant sendiri sampai sekarang belum dibangun, masih dalam tahap persiapan dan perencanaan. Kabarnya, desalination plant yang direncanakan ini akan menjadi the biggest desalplant in the Southern hemisphere. Oh really?? We'll just wait and see then...

Rencana DSE Victoria mengenai Wonthaggi desalination plant bisa dilihat disini, sementara informasi mengenai Wonthaggi wind farm bisa dilihat disini.

Royal Botanical Gardens Melbourne + Shrine of Remembrance

It was Sunday, and the based on the forecast, it supposed to be a "mostly-sunny" day. Jadilah para Northroader Girls alias saya dan Iin dengan seniat-niatnya mau piknik. Niat banget, sampai bangun pagi sebelum alarm bunyi untuk memasak bekal. Tujuannya adalah Royal Botanical Gardens Melbourne, yang menurut info di situs resmi mereka sedang mengadakan Spring Open Day.

Rute perjalanan, dari Flinders Street Station, carilah trem no. 3, 5, 8, 16, 64 atau 67. Jangan naik Kopaja 66, itu ke Blok M. Turun di stop No. 20, jalan lurus ke arah keramaian, maka anda akan sampai di Royal Botanical Gardens nya Melbourne.


Dilihat dari namanya, jelas saja atraksi utama *kalau memang bisa disebut atraksi* adalah taman. Taman-taman, mungkin lebih tepatnya. Royal Botanical Gardens Melbourne ini (atau RBG aja deh, pegel ngetik nama lengkapnya) adalah salah satu taman tertua di kota Melbourne. Sebenernya salah satu tujuan utama taman ini didirikan waktu itu adalah untuk "menyamakan" Melbourne dengan kota-kota di Inggris. Ya maklumlah, waktu awal mulai berdiri kan para pendatang banyak yang dari Inggris, dan mereka merindukan taman-taman di tanah air mereka sendiri. Jadilah taman ini dibangun... Well, anyway, kembali ke kenapa saya menyebut bahwa ini adalah kumpulan taman-taman. Karena di area yang luas banget itu (yang pasti saya dan Iin berasa jalan kami udah nyaris menyaingi suster ngesot gara-gara mengelilingi sebagian kecil taman ini) ada beberapa taman dengan tema sendiri-sendiri. Camelia Gardens, Australian forest, Rose Collection, African Garden, dan banyak lagi... Buat yang mau bikin foto pre-wedding, monggo...banyak banget spot yang bagus disini untuk beradegan mesra ala film India. Yang lagi pengen arisan keluarga dengan suasana alami, taman ini juga bisa jadi pilihan. Dan oh, bagi para mahasiswa yang jatah bulanan mulai menipis, tetap bisa berpiknik ria disini, karena free entrance!

Di sebelah RBG Melbourne, ada spot yang juga menarik untuk didatangi: Shrine of Remembrance. Ini adalah bangunan untuk menghormati jasa para prajurit Australia dan New Zealand yang tergabung dalam ANZAC, alias Australian-New Zealand Army Corps. Jadi mungkin semacam Taman Makam Pahlawan gitu kali ya, tapi tanpa makam. Hmm..atau mungkin Tugu Pahlawan? Well, anyway... Bentuk gedung ini yang paling menarik bagi saya, seperti kuil. Saya sepertinya nyaris ga bakalan kaget kalo tiba-tiba ada Hercules tiba-tiba nongol keluar dari gedung ini. Free entrance juga, dan salah satu hal yang akan kita lihat begitu masuk adalah deretan medali penghargaan. Banyaaaaak banget. Masuk ke dalam, ada The Crypt, ruangan dengan bendera-bendera kehormatan dan patung perunggu yang menampilkan sosok pejuang mereka.



Naik ke bagian atas, kita bisa keluar menuju balkon, dan melihat Melbourne dari ketinggian. Such a beautiful view. Sayangnya waktu kita kesana, langit sedang berhiaskan awan tebaaal.... However, it's worth it...walaupun perjuangan naik ke balkon itu cukup membuat kaki saya minta ditempeli salonpas *dan inget, kami baru saja berkeliling ria di RBG*.

Liputan versi Iin bisa dibaca disini dan disini, dan foto-foto lainnya sudah saya pajang disini





Minggu, 19 Oktober 2008

Sinetron Episode 3 - Lanjutan Kejadian Bodoh

Sebelumnya mohon maaph bagi yang tidak berkenan, tapi postingan berikut ini agak-agak berbau jorokisme... At least itulah yang diserukan Iin waktu saya melakukan laporan reportase mengenai kejadian ini...
Ehm, adegan awalnya adalah makan siang di Meeting Point, alias kantinnya Clayton Campus. Kebetulan, menu saya hari itu adalah chicken garlic (apa garlic chicken? lupa...). Alias potongan-potongan sayap ayam yang digoreng kering dengan bumbu bawang putih. Nah, tahukah anda, bahwa makan ayam itu kadang-kadang agak menyulitkan bagi susunan gigi? Dengan kata lain, nyeliplah sedikit potongan ayam itu di deretan atas gigi saya di bagian belakang sebelah kanan, sekitar geraham dan gigi bungsu.
Selesai makan, niatnya pengen sholat Dzuhur dulu sebelum balik ke perpus. Taaaapiii...tolong liat paragraf di atas. Ada potongan ayam yang menyelip di lokasi yang sudah saya jabarkan di atas tadi. Nah, jadi sambil berjalan ke arah Religious Centre, mula-mula saya berusaha melepaskan si ayam yang nyungsep itu pake lidah. Tidak berhasil. Eh, berhasil deng, dikiiiit. Untuk mempertinggi tingkat keberhasilan, secara REFLEKS dan TIDAK SENGAJA, saya teruskan usaha tersebut dengan telunjuk kanan saya (jangan protes...!!! Ga ada tusuk gigi dalam radius jarak ambil, oke??). Tepaaaat pada saat si telunjuk kanan ini baru mau beraksi....ehm...
"Hi..."... si cowok-agak-manis-teman-saya-yang-sempat-saya-gebet-tapi-sekarang-udah-ga-lagi itu tiba-tiba saja lewat persiiis di depan saya, tersenyum sambil menyapa diri sayaaaa...
Uhuk...
"Eh...hi...", kata saya, masih dengan posisi telunjuk kanan agak nyungsep di dalam mulut.... Sambil nyengir pula....
Ehmm..kira-kira, adakah sedikiiit kemungkinan bagi saya untuk terlihat manis dan imut dengan posisi telunjuk kanan lagi nangkring di dalam mulut? Toh waktu itu saya sambil berusaha untuk tersenyum kok... (yah, walaupun jadinya lebih mirip nyengir ga jelas)...


Sabtu, 18 Oktober 2008

Ada Di Mana Ya?

Lagi kangen sama mahasiswa, jadi iseng baca-baca komen di FS dari para mahasiswaku. Hemmm... mahasiswa..mahasiswa... Pas sampai di komen dari Alfi, bahwa namaku juga muncul di halaman persembahan skripsinya, jadi inget sesuatu...
Skripsiku sendiri sekarang ada dimana ya???
Jadi gini, skripsiku dulu disusun berdasarkan hasil penelitian dimana aku terjebak selama 2 semester alias setahun di dalam lab gara-gara prosedur yang selalu berubah sesuai mood pembimbingku. Penelitianku dulu soal kitosan dan asam humat, masih yang simpel sih, soal adsorpsi. Kata dosenku dulu, karena modifikasi yang kami lakukan waktu itu masih relatif sangaaat baru, jadi aplikasinya untuk adsorpsi logam dulu.
Nah, begitu aku mulai ngedosen di Unlam (yang adalah singkatan dari Universitas Lambung Mangkurat, bukan Universitas Lampung!), masih belum ada yang spesifik mengembangkan kitosan, padahal menurutku prospeknya bagus banget untuk dikembangkan di Kalsel. Mulailah aku merintis pengembangan penelitian di bidang kitosan, mulai dari PKM, Penelitian DM. Dan Alhamdulillah, ada beberapa dosen yang juga tertarik dan ikut mengembangkannya.
Lalu apa hubungannya dengan skripsiku? Hmm...para mahasiswa yang terlibat penelitian yang terkait dengan kitosan lalu pada ngantri pinjem skripsinya aku. Dengan alasan supaya punya dasar ilmu tentang kitosan dan modifikasinya. Selain itu, mereka juga biasanya nyari contoh aplikasi Persamaan Isoterm Adsorpsi Langmuir (tsaaaahhh...berasa karen dah gua nulisnya) dari skripsiku itu.
Dan sekarang, aku sudah tidak bisa melacak lagi...dimanakah skripsiku itu sekarang beradaaa??? Aku nanya sama si X, dia bilang si Y yang sekarang megang, kata si Y, udah dia kesihkan sama Z dari kapan, Z lalu bilang, kalo kayaknya terkahir yang pinjem si A... Pokoknya mah riweh! Duhai mahasiswaku..balikin..oh.oh..balikiiiiin....!!!

Kamis, 16 Oktober 2008

Penting: Ingatlah yang Dilakukan di Pagi Hari...

Apa yang kita lakukan di pagi hari, saat memulai hari, bisa sangaaaat berpengaruh pada kejadian-kejadian sesudahnya. That's what happen with me today.
[PAGI HARI]
Bangun, cuci muka + gosok gigi, masukin cucian ke mesin cuci, terus sarapan sambil minum kopi. Karena harus menyelesaikan tugas, saya memutuskan HARUS ke perpustakaan, kalo di rumah aja ngerjainnya, yang ada saya ngelingker di tempat tidur. Jadi, setelah adegan menjemur-jemur dilewati dengan sukses, langsung mandi, dan siap berangkat. Nah, tiba-tiba saya lagi pengen mempraktekkan precautionary principle, jadi laptop saya tinggal di kamar, tapi saya sembunyikan. Biasanya sih masuk lemari, tapi karena udah rada telat, saya ambil langkah praktis aja, laptopnya saya sembunyikan di bawah quilt alias selimut tebal yang terlipat rapi dengan manisnya di ujung tempat tidur saya. Beres. Nobody will know that it's there (but if you happen to know anyone who wants to setal my lovely lappy, please don't tell them!)
[SORE HARI]
Pulang dari kampus, langsung berleyeh-leyeh di tempat tidur. Karena jendela kamar saya menghadap ke barat dan hari sudah menjelang sore, terjadilah efek local warming di kamar saya. Apalagi tempat tidur saya paaas banget di sebelah jendela. Jadi, dengan pikiran yang mulai bermeditasi untuk merenungkan mimpi (?), tangan yang meraih I-Pod untuk disetel, kaki saya menendang selimut tebal yang terlipat dengan manisnya di ujung tempat tidur saya.
GEDUBRAK!!!
Saya berpikir, sungguh suara yang tidak biasa untuk selimut tebal yang jatuh ke lantai karpet. Setengah menit kemudian, baru otak saya merewind kembali adegan pagi tadi, waktu saya menyelipkan laptop saya di bawah selimut tebal saya. Oh, oke... Pantesan aja bunyinya gedubrak ya...wong isinya laptop. Hmm...sebentar...ada yang salah...WHAT?? HUAAAA!!! Laptop guaaa.....Saya langsung melompat dari tempat tidur, langsung menuju laptop saya yang tergeletak setelah ditendang jatuh dari peraduannya...
Moral of the story: ingatlah selalu apa saja yang kau lakukan di pagi hari...

And Another One Goes By (Catatan di Ujung Semester)

Kemaren, Rabu, hari terakhir saya kuliah di semester kedua saya disini. Whew… How time flies! Jadi inget, semester kemaren, pas di ujung semester, saya udah berasa kayak zombie saking abnormalnya hidup saya rasanya waktu itu. Semester ini, I don’t know.. Mungkin karena beban mata kuliah tersebar lebih merata sepanjang semester kali ya… Waktu semester kemaren, 4 mata kuliah bersaing satu sama lain dalam hal due-date final assignmentnya di ujung semester. Semester ini, assignment saya tinggal report 3,000 kata, plus take home exam. Well, masih ada examination sih, tapi itu juga masih nanti, tanggal 12 November. Tambahan pula, kuliah Frontiers kan sistemnya block mode, jadi berasa cuma ngambil 3 mata kuliah…
Hari Senin, Kuliah Sustainability Measurement untuk terakhir kalinya, only around one third of the students showed up for the class. Kayaknya pada struggling dengan group assignment yang 5,000 kata itu deh. Seperti biasa, ada applaus khusus for students doing their final semester, kali ini ada 3 orang.
Besoknya, kuliah Corporate Environmental Responsibility. Cuma sedikit presentasi dari masing-masing kelompok tentang simulasi Carbon Trading Scheme. To be honest, saya sebetulnya setuju dengan anak engineering yang bilang, kalo seharusnya ditambah satu minggu lagi untuk simulasi ini, jadi bisa satu kali lelang lagi. By the way, ini adalah salah satu tugas yang menurut saya paling menarik (selain instruksinya yang menurut kami misterius…). Jadi di kelas, kita melakukan simulasi tentang emission trading scheme, jadi jual beli jatah emisi karbon gitu. Kapan-kapan saya posting soal tugas ini aaahh… Terus kan ngebahas soal ujian tahun lalu. Wayne, dosennya, bilang kalo dia pengen ngadain kelas tambahan satu kalilagi, untuk memantapkan pemahaman kami tentang materi kuliah. Saya dan Xue langsung manggut-manggut penuh semangat. Tapi sedikit protes langsung muncul dari anak-anak Engineering waktu Wayne mengumumkan tanggalnya, maunya Wayne kan kelas tambahannya tanggal 3 November, jam 4 sore.
Enginerring students: we can't, all of the engineering students are having other exam on that date
Saya (ngomong pelan-pelan) : poor you
Xue (pelan-pelan juga) : yeah, too bad…
Wayne : what do you suggest then?
Engineering students : the following week, maybe? On 10 of November?
Wayne : I’m sorry, I can’t. I will be out of Melbourne by that date
Xue (pelan-pelan) : bad luck guys..
Saya (pelan-pelan) : we’re sorry for the engineering students…
Saya dan Xue langsung pada cekikikan…
Kemaren, Rabu. Kuliah terakhir Resource Evaluation and Management. Christian sudah ngomong di awal kuliah: “It’s gonna be a short lecture, we’re only summing up!”. It was a short one, only around 40 minutes, with a “take-home message”: “Resource evaluation and management is very complex and dynamic. Be fascinated by it, learn from it, and most of all, engage with it!”. Begitu Christian ngomong: “Well, that’s it! The lecture for today, and the whole semester!”, seluruh kelas langsung bertepuk tangan, ngasih applaus ke dia. Saya sempet denger beberapa anak undergraduate di belakang ngomong: “He is really good, he really teaches us things!”. Dan bagi saya sendiri, it’s one of the best subject I ever had. I really really really learned a lot of things from this subject. It’s not only the things that we learned, the way Christian delivers this subject is also fascinating.
Hmm…well, so, tanpa terasa, sudah satu semester lagi terlewati. Sekarang tinggal meneyelesaikan satu assignment, mengerjakan satu take-home examination, plus persiapan buat satu examination tanggal 12 November nanti… Semangaaattt...

Selasa, 07 Oktober 2008

Sinetron Episode Kedua

Ternyata sodara-sodara…saya memang tinggal menunggu ditemukan oleh seorang produser saja untuk menampilkan bakat dramatisasi saya di layar kaca… Heuuu.. Jadi, setelah kejadian kemarin dimana saya jadi artis sinetron untuk satu episode dalam kehidupan sehari-hari saya si ratu drama, hari ini entah kenapa…ternyata ada sekuelnya.
Ehm… mari mulai… tapi sebentar, saya mikir dulu, soundtracknya apa ya cocoknya?
Humm… Sebenernya, saya pengen pake lagu What A Wonderful World nya Louis Armstrong sebagi soundtrack episode kali ini, tapi apa daya…pagi ini Melbourne kembali mengukuhkan reputasinya sebagai kota dengan cuaca paling ga jelas. Well, intinya adalah, pagi ini is just soooooo gloomy. Saya si ratu drama berangkat ke kampus agak molor satu jam dari jadwal yang saya harapkan (which is normal for me…). Berusaha membangun mood di sepanjang jalan, jadilah saya mencari lagu-lagu riang untuk disetel di I-Pod selama perjalanan saya ke kampus. Yah, lumayan berhasil lah… Sampai di kampus, mendekati Menzies Building, saya mulai bersemangat untuk mengerjakan research untuk final report tugas Corporate Environmental Responsibility.
Daaann… saya terpikir, seandainyaaaaa aja ada pemandangan yang menyegarkan mata saya, mungkin saya bisa lebih ceria lagi. And just like yesterday, right after I thought about it, hoping that something (well, okay…someone!) good will come cross my way…
ADA KALE LAGI!!! Si pak dosen ganteng ituuuu!! Keluar dari pintu utama Menzies Building!!! Sekali ini sendirian!! Dengan switer abu-abunyaaaa… Uhuuuuuy… Dia sih ga liat saya, dia dengan langkah santai (tapi teteup ganteng..ihik…) menuju Science Buildings sambil membenahi buku-buku di tangannya…
Ow, he looked so smart, dengan kacamata dan setumpuk buku-buku tebal itu. Dan sementara dia melangkah menjauhi Menzies Building, saya terus berjalan sambil menatapnya…
Terus menatapnya…
Terus menatapnya…
…dan menabrak kaca pintu utama Menzies Building….
Seriuously. I literally bump into the glass door, because I was walking and amazedly watching him instead of paying attention to where I was walking.
Dan oh…just to make my life more dramatic, ada yang melihat saya menabrakkan diri ke pintu kaca itu, dan menyempatkan diri bertanya: “Are you okay?”.
Jadi begitulah sodara-sodara…sekuel dari sinetron saya di minggu ini….

Selasa, 23 Desember 2008

Where Have You Been?

Dengan penuh rasa percaya diri, saya menganggap bahwa banyak yang menanyakan keberadaan saya yang akhir-akhir ini secara jarang banget ada apdet dari diri saya... Iya yah, saya kemana aja ya?
Well, sebenernya justru karena saya ga kemana-mana itulah jadi saya jarang berdunia maya ria... Iya sih, warnet cuma sekedar tiga kali kop roll dari rumah. Tapi maleeeees banget keluar rumah. Jadilah kegiatan saya di rumah ga jauh-jauh dari makan, tidur, gangguin ponakan saya sampai dia berurai air mata (dan biasanya diakhiri omelan ibu saya..), nonton TV. Dan saya jadi sukaaaaa sekali nonton Idola Cilik. Iye..iye...tontonan mureeee memang. Tapi kan suka ada Duta yang jadi komentatornya. Ihik...
Lagian, di Banjar lagi musim hujan, dan kadang-kadang tak hanya hujan sekedar hujan, tapi pake acara banjir segala... Dan Kayutangi, daerah tempat saya tinggal, termasuk daerah yang mengenaskan nasibnya kalau menyangkut soal banjir membanjir ini. Rumah saya sih untungnya ga kebanjiran. Ga banget-banget maksudnya. Halaman depan sih iya, plus dapur belakang tempat nyuci, itu airnya sampai lebih tinggi sedikit dari mata kaki. Tapi untunglah airnya ga sampai masuk rumah segala.
Kalau keluar rumah, paling cuma ke kampus di Banjarbaru. Dan sepanjang jalan saya suka mikir, kok bisa ya saya tahan tiap hari bolak-balik Banjarmasin-Banjarbaru pp? Biasanya ke kampus 2 kali seminggu, Senin-Kamis doang. Soalnya kalo Senin - Kamis kan Abah puasa tuh di rumah, jadi Mama ga masak. Nah, daripada saya disuruh mempraktekkan jurus-jurus memasak yang suka saya bangga-banggakan itu, mending saya ngabur dah...
Pertama kali ke kampus setelah sekian lama (nyaris setahun lhoo...), dengan noraknya saya pake acara deg-degan segala. Hehehehe... Mahasiswa tuh yang pada kaget ngeliat saya, dan kedatangan saya pun disambut dengan gegap gempita (hiperbolis yaa??). Tapi, sambutan dengan nuansa rasa senang dari mahasiswa itu tidak berlangsung lama. Minggu depannya, mereka langsung berwajah menderita penuh kepedihan begitu saya dengan teganya ikut jadi penguji tambahan waktu mereka seminar KP. Duh, senangnya bisa berada dalam posisi pemegang kekuasaan...gyahahahahaha (ketawa setan).... Ada sensasi tersendiri deh rasanya...
Terus ngapain lagi ya saya? Oh iyaaa... lagi suka main Cake Mania 3. Sebenernya CD gamenya punya Dian sih, tapi sebagaimana layaknya seorang tante, dengan sewenang-wenangnya saya yang main, bukan dirinya. Udah masuk level-level terakhir nih...
Ah, udah ah, ni aja ngempi pake laptop punya Program Studi. Alasannya sih ngecek imel, padahal sambil fesbukan segala...
Sekali lagi, mohon maaph ya saya belum sempet blogwalking...
Dadadddddaaaahhh....

Rabu, 10 Desember 2008

Anggap Aja Ngiri...

hmmm.... setengah kesel, setengah geli... jadi geleng-geleng kepala sambil tersenyum pait... kenapa ya, ada aja orang-orang yang merasa terlalu nyaman di comfort zone mereka sehingga 'males' untuk keluar? kenapa kalo ada orang yang beda dikit dan ingin membawa perubahan, langsung dipandang sinis...

i took the chance, and i know the consequences...any problem with thaaatttt????? well, anggap aja mereka berkata seperti itu, hanya karena mereka tidak mengambil kesempatan itu...or should i say, because they don't even care about that chance?? anggap aja ngiri...

*sambil berpikir, is it THAT hard to bring something new?*

Rabu, 03 Desember 2008

The (Short) Trip to Tasmania - Day II

Hari kedua di Hobart. Hari kedua ini, sayangnya kami bertujuh terpisah kembali. Saya, M’Gita, Dini dan Hafiz di satu rombongan tur, dan karena tur tersebut udah keburu full, Dina, Dedy dan Ponco ikut rombongan tur yang lain. Day tournya sih lumayan. We spent most of the day at Port Arthur. Oh ya, sedikit background. Tasmania ini, waktu pertama kali ditemukan oleh para orang Inggris (di tahun berapa sih? Akhir 1800 an gitu kayaknya deh), para orang Inggris tersebut langsung merasa cocok untuk menjadikan Tasmania sebagai lokasi pembuangan para narapidana. Jadilah Tasmania ini semacam pulau penjara gitu.

Tidak hanya dipenjara, para narapidana disini sungguh diberdayagunakan untuk menjadi tukang, mulai dari untuk membangun jalan, membangun gedung, that kind of things. Port Arthur adalah kompleks penjara yang diperuntukkan bagi para narapidana dengan tingkat kesalahan yang tinggi (or should I say, kesalahan tingkat tinggi? Well..never mind, you do know what I mean, don’t you?). Wah, kalau menurut saya sih, Port Arthur ini mah terlalu bagus untuk dijadikan komplek penjara. Lanskapnya yang perbukitan di satu sisi dan laut di sisi lain membuat pemandangan dari sini terlihat cantik sekali. Kalau tidak salah, Port Arthur sempet terbakar, dan terbengkalai selama beberapa lama. Tapi sekarang, Port Arthur dengan sisa-sisa reruntuhan gedung penjara dan beberapa gedung yang direstorasi ulang sudah menjadi salah satu obyek wisata andalan Tasmania. Isu dan legenda mengenai keberadaan hantu dan penampakan yang terjadi di daerah sekitar sini malah oleh pengelola dijadikan sebagai salah satu obyek wisata tambahan, semacam Ghost Tour gitu. Wuih... coba kalo di Indonesia ada yang kayak gini yaa... kalo di Indonesia mah, saya yakin kita ga bakal kehabisan tempat untuk ngadain semacam ghost tour beginian.

Day Tour ini memah bener-bener day tour, dalam artian seharian banget. Kalo Dedy dengan sewenang-wenang saya tuduh punya kecenderungan untuk mabuk sepanjang perjalanan jauh, maka saya dengan besar hati mengakui kalo saya punya tendensi untuk tidur sepanjang perjalanan. Capek juga euy… Kami berangkat jam 8 pagi (dijemput sama guidenya di hotel tempat kami menginap), dan baru nyampe di hotel lagi menjelang sekitar jam 7an gitu. Rombongan Dina-Dedy-Ponco udah duluan nyampe. Tidak rela hari berlalu begitu saja (haduh, jayus lagi), kami bertujuh pun jalan-jalan lagi menelusuri Hobart. Sampailah kami di tugu pahlawannya Tasmania. Sama seperti tugu-tugu pahlawan di kota-kota Australia lainnya, tugu pahlawan ini juga sebagai penghormatan untuk ANZAC atau Australian and New Zealand Army Corps. Di kejauhan, terlihat Tasmanian Bridge yang nampak megah. Hmm..such a lovely place to have another photo session :D.

*saya minta foto ini diulang, karena saya berdiri di sebelah Dedy! oh, betapa jegleknya saya yang imut ini disebelah dia yang menjulang*

*foto dengan pengaturan posisi yang sudah diperbaiki :D*

Karena sudah keburu capek, plus kedinginan bangeeeeet (angin Tasmania sedang menunjukkan tiupan dengan tingkat dingin menjurus ke arah maksimal), hari kedua kami akhiri sampai disini…

Hari ketiga, we only have a few hours before our plane take off and bring us back to Melbourne. Beres-beres barang, check out, dan masih sambil menenteng barang-barang bawaan, kami sempet singgah di Salamanca Market. Ini tuh semacam weekly marketnya Tasmania, buka cuma tiap hari Sabtu.

Yang dijual? Macem-macem banget. Sampe fosil pun ada. Serius. Saya sih cuma beli sedikit souvenir, sabun Lavender untuk nenek saya tersayang di Bandung. Setelah puas keliling-keliling di Salamanca, kami pun bertolak kembali ke bandara Hobart. Disana, tentunya bersua kembali dengan rombongan satunya yang menginap di service apartment.

*para 'backpackers' melaporkan diri kepada Ibu Suri alias M'Erni*

Daaann… the short trip to Tasmania pun resmi ditutup dengan bertolak kembalinya pesawat kami ke Melbourne. Uhm.. Masih ada satu agenda tambahan sih, pas nyampe Melbourne, kami menyerah pada rasa lapar dan makan siang bersama di Es Teler 77.

*Melbeeeenn...wir beeeekkkkk....*

Such a nice trip, lots of memories, lots of pictures, lots of fun and laughter..

The (Short) Trip to Tasmania -Day I

Adakah yang dengan baik hatinya masih ingat rencana saya begitu selesai ujian? Bukan, bukan pulang ke Indonesia, yang satunya. Jalan-jalan ke Tasmaniaaa!! Yeiy… It was really fun. Well, okay, apart from the fact bahwa di Tasmania pun entah kenapa saya masih menjadi obyek yang menyenangkan untuk dijatuhkan nama baik dan kredibilitasnya, it was really a nice trip.

Asal muasalnya saya ikutan adalah waktu ditawarin housemate saya, M’Erni, yang dapat tawaran dari teman dia (yang adalah teman saya juga..what a waste of words) untuk bareng-bareng ke Tasmania. Mumpung ada tiket murah! Sempet ragu, karena tripnya direncanakan tanggal 13-15 Nopember, sementara jadwal ujian saya waktu itu belum ketahuan apa kabarnya. Makaa…terima kasih tak terhingga untuk Anna yang sudah ber amal baik dengan mencaritahukan jadwal ujian tersebut (yang ternyata jatuh pada tanggal 12 Nopember). Oh, betapa menyenangkannya kebetulan-kebetulan semacam iniiiii…. Well, what goes beyond my expectation adalah, ternyata banyak banget yang bergabung.. ada 15 orang! Yeiyyyy… Betapa serunyaaa… Anyway, 15 orang tersebut ternyata pada akhirnya tersplit menjadi 2. Faktor pembaginya? Ehm.. Jadi gini, pesen tiket kan mesti pake credit card toh? Jadilah ada dua kartu kredit yang dipake, 8 orang ikut punya Ancilla, 7 orang lagi nunut kartunya Dinni. Saya termasuk golongan orang-orang dalam kategori terakhir. Perkembangan selanjutnya adalah, ternyata bukan hanya kartu kredit yang tersplit, penginapan pun terbelah dua. Jadi yang 8 orang memutuskan untuk ber akomodasi (ya..ya.. ya.. saya nyadar kok betapa anehnya kaidah pembentukan kata yang saya gunakan) di sebuah service apartment, sementara kami bertujuh dengan berbagai alasan pertimbangan (dan bagi salah seorang dari kami, kepasrahan), kami bertujuh nginep di hotel Backpackers. Duh, berasa jadi turis beneran ga sih? Lokasi hotelnya pun lumayan enak kok, pas di tengah kota. Hotelnya juga bersih dan ekonomis (kok jadi berasa kayak iklan sabun colek sih?). Dan ketujuh orang backpackers nanggung itu adalah…toet..toeeeeet… (kasih applaus dong…!!!): saya sendiri, Dina, Dedy, Dinni, Gita, Ponco, dan Hafiz…

teman-teman saya berbackpackers ria

Ada satu alasan yang membuat saya cukup berbahagia dengan rombongan mahluk-mahluk aneh ini, kenapa oh mengapa? Karena oh sebab, Dina dan Dedy bawa kamera profesional! Iyaaa..itu lhoo…kamera bagus yang keren banget ituuu… Lengkap bawa tripod pula mereka. Saya dengan gairah narsisme yang sudah terbukti dan teruji pun langsung membayangkan, beuh..betapa kerennya foto-foto kami nantinya…

Perjalanan dimulai dengan proses keberangkatan yang bikin deg-degan, karena kami berkejaran dengan waktu check in. Proses ini melibatkan ketinggalan bus, ketinggalan kereta, dan terpisah saat naik shuttle bus ke airport. Sampai di counter check in pun masih ada drama yang diprakarsai oleh petugas counter yang ngotot bahwa tripod Dina tidak bisa dimasukkan ke bagasi kabin karena termasuk barang berbahaya, dengan alasan: “It can hurt you when it fell and hit your head”. Oh, oke mbak..tapi kayaknya novel Harry Potter pun bisa dikategorikan berbahaya kalo alasannya adalah kalo jatuh ke kepala bisa menyakitkan. Well, anyway…

Naik pesawat, saya sempat panik karena dua hal. Satu, pesawatnya kayaknya lagi masuk angin atau flu atau apapun lah, pokoknya ga enak banget ditumpangi. Kedua, Dedy, yang duduk di sebelah saya terpisah gang kelihatan begitu ketakutan, membuat saya ketularan deg-deg an juga. Alasan dia sih, dia ga pernah naik pesawat dari Wonogiri ke Jakarta. Yeah, rite...

Setelah perjalanan selama sekitar satu jam, sampailah kami di Hobart. Turun dari pesawat, mau masuk ke gedung bandaranya..kami bengong melihat plang peringatan karantina, yang menyatakan bahwa tidak boleh ada buah-buahan yang boleh masuk ke Tasmania dari luar. Masalahnya adalah... Dinni bawa pisang. Ponco bawa apel (atau aprikot? Atau jeruk? Apapun lah, pokoknya buah yang bulet). Dina bawa telur dadar. Iya, yang terakhir ini memang bukan buah sih, tapi siapa tau kaaaannn... Tidak rela perbekalan kami berakhir dengan nelangsa di tempat sampah, jadilah kami berdiri di luar gedung bandara, sambil makan apel (confirmed, saya udah inget, it was apple), makan pisang, dan telur dadar. Pemandangan yang tidak lazim sepertinya memang ya..makan buah-buahan (dan telur) di luar gedung bandara. Sampai di penginapan, beberes dan benah2 dikit, kami langsung meluncuuurrr... Yah, bagusnya hotel ini sih ya posisinya yang di tengah kota. Selain itu resepsionisnya juga dengan baik hatinya menyarankan tempat-tempat yang bisa kami datangi dengan berjalan kaki. Wahai para resepsionis hotel di Indonesia, yang kayak gini nih mesti dicontoh!

Jadi di hari pertama, kami pun mengelilingi pusat kota Hobart. Ih, ternyata kota ini kecil juga ya... kop roll empat setengah kali juga udah bisa kok. Kami mulai dari Franklin Square, dan di bawah ini adalah salah satu foto kami disana, yang kami nobatkan sebagai salah satu best shot of the trip (mohon maaph dengan masalah resolusi foto, saya donlod dari fesbuknya Dedy, file aslinya belum sempet ngopi).

Dari Franklin Square, kami mencari obyek wisata yang gretongan, sehingga diputuskanlah bahwa the next destination is Tasmanian Museum. Sampailah kami disana sekitar satu jam sebelum museumnya tutup. Mungkin pengelola museum, setelah melihat kelakuan kami disana, menyesali kenapa hari itu mereka tidak tutup lebih awal dibanding biasanya. Secara kami disana kerjaannya foto-foto melulu, dan 50% dari gaya berfoto kami sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehat manusia.

Hafiz itu lho..entah apa maksud gayanya itu...

Next! Jalan lagi… dan ternyata angin kencang menyambut kami. Tentu saja saya yang imut mungil dan menggemaskan ini yang paling merasakan efeknya, dimana saya harus dengan susah payah mempertahankan diri agar tidak terculik oleh angin kencang tersebut entah kemana. Teman-teman saya dengan penuh rasa iba mentertawakan betapa angin itu membuat kelangsungan perjalanan wisata saya terancam berakhir sampai disitu. Dan disini Dina dengan teganya menunjukkan satu fakta: “ Ya ampun Amiiiii… kamu itu sedadanya Dedy aja ga nyampe yaaa…!!!”. Dedy ngakak, Ponco tertawa puas, Dini terkikik geli, M’Gita dengan tanpa sopan santun tertawa, dan saya langsung mengambil keputusan bulat: “AKU GA MAU DIFOTO DALAM POSISI DI SEBELAH DEDY!”. Muter-muter demi memenuhi ambisi saya mencari plang bertuliskan University of Tasmania (entah karena mereka ga tega sama saya atau cuma supaya saya ga merepet sepanjang perjalanan), akhirnya kami berhasil menemukan gedung yang memajang tulisan yang saya maksud dalam ukuran yang cukup representatif.

*bersama si tulisan yang saya cari-cari itu *

Karena si gedung University of Tasmania ini (salah satu gedungnya saja, kompleks utamanya ternyata masih jauh) letaknya berdekatan dengan deretan pelabuhan, jadilah kami berfoto-foto kembali dengan latar belakang kapal-kapal.

Menjelang hari gelap (sori bahasanya jayus), kami udah nyampe ke sudut lain dari Hobart (have I told you before that it’s such a small city?). Demi melihat gedung-gedung kuno, Dini memunculkan ide berfoto dengan gaya djaman doeloe. Dedy yang tadinya sempat mengeluh lelah berfoto dan memfoto kami, tiba-tiba saja semangat lagi mengganti lensa kameranya. Jadilah salah satu foto ini, yang menurut kami adalah foto gaya Harry Potter

gaya para siswa terbaik Syltherin

Keren ya? Saya terlihat seperti siswa Sytherin yang mengalami malnutrisi, Hafiz nampak akan berubah menjadi werewolf dalam waktu 2 2/3 menit lagi, Dina seakan memiliki tatapan mata pembunuh sejati, dan Dini jadi mirip debt collector berdarah dingin. Weisss.. mantep dah pokoknya…

Anyway, itu adalah sesi foto-foto terakhir kami di hari pertama. Hari kedua? Teteup... But it would be another posting. Ami, over and out!

Sabtu, 29 November 2008

Pulang... Pulang... Pulang....

Yeiiyy.... Daku sedang ada sekitar 300 meter dari rumah tercinta di Banjarmasin, lagi di warnet niihhh... Hehehe.. iya, salah satu pembeda yang sangat signifikan antara disini dengan di sana adalah frekuensi online. Okeh..okeh..bek tu topik utama. Saya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Indonesia selama Summer Holiday yang lamanya sekitar 3 bulan lebih itu. Kenapa oh mengapa? karena saya merindukan keluarga (sangat bisa diterima), kuliner Indonesia (alasan yang tepat), dan mahasiswa saya (ya..ya..ya... Jamie pun langsung melotot dan dengan bingungnya nanya: "You miss your students?? WHY?"). Oh mahasiswa ku tercinta, anda-anda layak bangga dirindukan oleh dosen kalian yang imut ini... Kalau menurut temen-temen sih, motivasi saya untuk pulang sebenernya adalah... post power syndrome. Halah. Karena selama di sini memang, saya selalu berada dalam posisi terpojok, selalu dicela, disalahkan, dihina dina dini (betapa hiperbolisnya sayah...), diomelin, disalah-salahkan, dan disuruh JANGAN MENYANYI... Oh..betapa meristanya hidup saya di negeri orang (nangis Bombay sambil memeluk tiang jemuran). saya merindukan mahasiswa saya untuk diomeli kalo saya sedang mood cerewet, mahasiswa saya yang tidak berdaya menghadapi fenomena betapa seorang yang imut kecil mungil bisa sangat sangar kalo sudah pengen cerewet..

Hmm... anyway, saya masih sempat bergabung dengan teman-teman saya untuk ber short trip ria ke Tasmania kemaren. Seruuuuuu... hehehe.. yah, walopun tetep aja status sebagai objek celaan entah mengapa tetap tidak mau luntur dari saya. Lots of stories about this trip, tapi kapan-kapan ajah saya postingnya yah... Yang pasti, foto kami keren-kereeeeen.... Terima kasih untuk Pak Dedy dan Bu Dina untuk kamera bagus nya. Bu Dini dan Bu Gita (saya kenapa jadi formal gini yak?), saya pasrahkan urusan untuk mengkompilasi foto-foto itu pada kalian. Pak Ponco, kapankah videonya diaplot? Pak Hafiz, selamat jalan kembali ke Malaysia..

Udah ah, pegel. Besok lagi ah ke warnet lagi, kalo ga males...

Rabu, 12 November 2008

Setelah Lima Tahun...

Yeiiiyyy... *sambil joget-joget*, akhirnya oh akhirnya, saya bener-bener bebaaaasss... Assessment terakhir di semester kedua saya disini akhirnya beeeerlaaaaaluuuuu... Gyahahahaha... seneng banget, lega dah rasanya. Well, mengingat terakhir kali saya ujian adalah UAS di Semester 8 saya kuliah S1 dulu, yang adalah di tahun 2003, artinya exam tadi adalah ujian saya setelah 5 tahun! Yah, kecuali Ujian Masuk CPNS diitung sebagai ujian juga.

Semester kedua ini memang ada satu mata kuliah yang pake exam, well, sebenernya sih ada dua, tapi yang Resource Evaluation cuma take home examination. Lha, si Corporate Environmental Responsibility ini 2-hours exam, dan bobotnya 50%! Udah gitu, ditaruhnya lagi di ujung masa ujian. Jadi kan saya submit jawaban untuk take home exam Resource itu tanggal 23 Oktober, sementara ujian CER ini tanggal 12 Nopember (alias tadi siang). Gilaaa... 3 minggu lho selisih waktunyaaa! Iya.. iya... pasti bakal banyak yang komentar bahwa dengan semakin banyak waktu lowong itu seharusnya saya bisa semakin siap untuk menghadapi ujian.. Tapi kenyataannya agak menyimpang dari hipotesis awal tersebiut. Semakin lama saya belajar, semakin eneg lah saya dengan materi ujian. Beberapa terakhir ini bahkan saya udah nyaris kejang-kejang tidak jelas saking bosennya membaca berbagai macam Acts dan Regulations yang seharusnya saya fahami demi kelancaran saya pas ujian nanti. Boleh percaya atau tidak, saya dan teman-teman saya sampai belajar kelompok segala demi persiapan ujian ini! Beuh, gimana saya ga berasa kembali ke masa SMP..eh, atau SMA ya? atau kuliah? well, tiba-tiba saja saya sadar, kayaknya dulu saya tuh ga pernah bela-belain belajar kelompok ya? Well, anyway... salah satu kesimpulan dari study group kami adalah, dari sekian Act and Regulations itu, yang penting (dalam artian bakal keluar dalam ujian) adalah Environmental Protection Act 1970 (VIc), EPBC Act (Cth), dan Environmental & Planning Act 1987 (Vic).

Saya sendiri juga dengan rendah hati menyadari, bahwa saya tidak cukup alim untuk menggunakan waktu yang hampir tiga minggu itu untuk terus-terusan belajar. Lha wong saya masih sempet jalan-jalan kok, mulai dari ke Royal Botanical Garden, ke Victoria State Rose Garden, naik Puffing Billy, ke Rialto, sampai yang terakhir barusan ke Fitzroy Garden. Hmm... polanya kan, dua hari belajar, sehari jalan-jalan, 2-3 hari tobat dan belajar lagi, sehari kemudian maen lagi.. Dan hoho... di PG Room pun nongkrongnya saya masih dipertanyakan untuk belajar atau tidak. Soalnya saya biasanya malah nonton TV kok..hehehe... (thank's buat Farah yang udah ngasih link indoweb!)

Anyway, malam dan pagi sebelum ujian saya udah menyerah, dan tidak lagi memaksakan diri untuk memelototi berbagai contoh kasus itu. Walaupun alam bawah sadar saya seperti berulang-ulang membisikkan "s.39 of EPA will be very likely to be interpreted as an absolute liability... negligence is a stronger action than nuisance but harder to prove... In Bata case, due diligence was used as a defence... merit review can only be applied for Planning Act, not EPA..." Aaaararrrrrrrrggghhh...!!

Oke, menuju deskripsi ujian saya. Ujiannya di Level 1 Caulfield Race Course. Iyaaa... bukan di gedung kampusnya. Mungkin dengan alasan daya tampung kali ya, exam venue Monash tuh seringnya di Gedung Race Course ini. Jadi saya ujian di ruangan yang gedeeee banget. Dan dalam satu ruangan itu, mungkin ada 3 mata kuliah yang melangsungkan ujian secara serempak.Dan oh, satu lagi yang menarik bagi saya. Kalo di kampus di Indonesia kan biasanya yang jaga ujian kalo ga staf administrasi ya dosennya langsung. Kalo disini, yang jaga ujian tuh para sukarelawan, dan para sukarelawan itu semuanya (at least yang jaga ujian saya kali ini lho ya) adalah para opa dan oma. Serius. Yang jaga ujian tuh udah yang pada tua-tuaaa semua. Hmm.. Bagus juga sih, mungkin maksudnya biar para pensiunan disini tetap merasa berguna dan dibutuhkan kali ya...

Sepuluh menit pertama dari ujian adalah reading time, jadi kita cuma boleh baca soalnya aja, belum boleh mulai nulis. Habis sepuluh menit itu, baru deh 2 jam perjuangan mengisi lembar jawaban. Hmm.. Soal pertama, dengan deskripsi kasus sepanjang 3 paragraf, saya mulai deg-degan. Kayaknya sih untuk part a, masih bisa, part b yang saya agak2 kabur.. Aduh, proses permit application itu yang mana ya? Part c, saya masih manggut-manggut, part d juga sepertinya lumayan bisa deh. Dan mulailah saya menulis..dan menulis...dan menulis... Selesai menjawab semua pertanyaan di soal pertama, saya nengok jam. Halah, udah 55 MENIT! Waduh, pantesan aja tangan saya udah setengah kejang. Whups.. Move on to number two. Saya berasa mau nangis pas liat Part d dari soal ini. Hiyyyaaaahhh... National Greenhouse Gas and Energy Emission Reporting Scheme Act! Plus Australian Carbon Reducing Scheme Strategy! Addduuhhh... Saya ga ngeprint hand out untuk materi yang iniii.. (oh iya, ujiannya open book). Yang saya inet cuma samar-samar, sebagain dari tugas kelompok kemaren waktu kita simulasi mengenai lelang karbon ini. Anyway, saya melanjutkan perjuangan saya untuk menulis..menulis... dan menulis... Saya selesai paaas satu jam kemudian, yang artinya masih ada sisa waktu 5 menit lagi. Tapi saya udah pasrah, yang penting semua soal sudah saya jawab. Fiuuhhh... Whatever the result, at least i've tried my best to answer the questions.

Daaaannn... dengan selesainya ujian tersebut, maka resmilah sudah semester kedua ini berakhir buat sayaaaa!!! Selanjutnyaaa... LIBURAAAN!!! Tasmaniaaaa... I'm coming!

Kamis, 06 November 2008

Victoria State Rose Garden

Sebelumnya, saya ingin mohon maaph dengan sangadh dulu kepada teman terkasih tercinta saya, Indira Sari Paputungan, karena dengan teganya saya dan Meike memutuskan untuk pergi ke Victoria State Rose Garden ini sehari setelah dia terbang pulang untuk berholiday ria ke Indonesia. Hehehehe...

Victoria State Rose Garden ini letaknya di Werribee Park, masih searea lah dengan Werribee Mansion. Sebenernya, beberapa bulan yang lalu saya sudah sempat ke sini pas winter holiday. Cuma wkatu itu saya hanya puas mengelilingi Werribee Mansion (foto-foto Werribee Mansion waktu itu bisa dilihat lagi disini). Kalau naik kendaraan umum, perjalanannya sekitar satu jam dari Melbourne. Jadi dari Flinders Street naik train ke Werribee. Sampai di Werribee Station, naik bus jalur 439 jurusan Werribee South. Saran saya, ceklah jadwal bus ini, karena jadwal ngider mereka agak sombong. Perjalanan naik bus cuma sekitar 10 menit, turun aja di Werribee Mansion. Kalau mau aman sih, nitip pesen aja sama Pak Sopir Bus, bilang kalo mau ke Werribee Park.

Victoria State Rose Garden ini dibuka tahun 1986, dan di taman ini ada lebih dari 5,000 pohon mawar. Desain taman dibuat menyerupai mawar lima kelopak, dengan sebuah gazebo di tengah taman tersebut. Luasnya sekita 4.75 hektar, dan jenis mawar yang ada disini juga macem-maceeem banget. Mulai dari warna dan betuknya, sampai aromanya pun kata Meike beda-beda. Masa sih? Saya sih cuma merasa bahwa semuanya wangiiii sekali.

The roses come in various colour. Merah (itu mah standar), putih, kuning, pink, ungu, jingga, sampai ungu! Tapi favorit saya adalah yang bercorak merah-putih, cantik sekali... Bagi yang suka kembang, ditanggung bakal betah berlama-lama disini. Anyway, the best time to visit this garden is between November - March. Saat itu mawarnya sudah merekah semua.

Taman ini buka sepanjang tahun, dari jam 9 pagi sampai jam 5.30 sore. Tapi kalau musim panas, karena siangnya panjang, buka sampai jam 6.30. Free admission! Tapi kalau saya bilang sih, kalo udah nyampe sini, sekalian aja maen ke Werribee Mansion.


Oh iya, foto-foto lain saya pajang disini. SIlakan ditengok, dan silakan jadi kepengen kesini juga. Ada yang mau nyari lokasi foto prewed? Monggo, it's one of the best location I can think of!

Rabu, 05 November 2008

Puffing Billy - Kereta Jaman Dulu di Masa Kini


Naik kereta api..tuut..tuut tuut… Siiiiiapa hendak turuuuut…
Oke..oke… demi kedamaian dunia, saya akan berhenti bernyanyi…
Dua bait lagu di atas cocok untuk menggambarkan edisi perjalan kami di wiken kali ini. Kami naik Puffing Billy sodara-sodara! Tapi bait selanjutnya , “ke BandungSurabaya…., bolehlah naik dengan percuma…” sudah tidak cocok. Karena kami naik dari Belgrave ke Lakeside. Dan bayar pula…
Apa sih yang beda dari Puffing Billy ini? Bukankah hampir setiap minggu saya naik kereta kalo ke City? Ohh…bukan.. bukaaaan… Ini bukan kereta Connex Train yang setia menghubungkan stasiun di suburb di sekitar Melbourne. Suka nonton film anak-anak yang Thomas itu ga? Yang kereta api uap itu? Naaahh… itulah kereta yang kami naiki kemaren!
Saya dan Iin sekali ini tidak hanya berduo maut seperti biasa, kami membentuk kuartet dengan Meike dan M’Devi sebagai pasukan jalan-jalan yang berani narsis.
Oke, kembali ke topik si Puffing Billy ini.
Puffing Billy adalah atraksi berupa kereta uap yang dioperasikan menyusuri rel di daerah Dandenong Ranges. Berangkat dari Belgrave, kita bisa memilih untuk turun di Menzies Creek, Emeral, Lakeside, atau di Gembrook. Tapi tarifnya ya beda-beda laaah…
Kalau mau naik Puffing Billy ini, mula-mula mesti naik Connex Train (kereta yang biasa itu lhooo…) sampai ke Belgrave. Asalkan ga salah naik kereta, ga bakalan nyasar dah, secara Belgrave itu adalah stasiun terakhir.
Dari stasiun Belgrave, ikutilah garis biru. Serius. Jadi gini, di lantai stasiun bakal ada garis biru yang menunjukkan arah yang harus kita ikuti sampai ke stasiun pemberangkatan Puffing Billy nya. Deket kok, istilah kata mah, pas di belakang stasiun kereta itu.
Karena inti dari atraksi ini adalah “orisinalitas” dari kereta uap Australia di zaman dulu, jadilah stasiun Puffing Billy ini disetting bergaya baheula, termasuk para petugasnya.
Keretanya kereta terbuka, kecuali gerbong khusus (tentunya dengan harga khusus pula).
Pas kami naik ke kereta dan memilih tempat duduk, si Mas-mas petugas dengan baik hatinya ngasih tahu posisi dengan pemandangan yang terbaik.
Perjalanan dari Belgrave ke Lakeside makan waktu sekitar satu jam, melewati Dandenong Ranges, daerah perbukitan yang terlihat begitu hijau. Satu hal yang menarik dari perjalanan ini adalah, setiap kali kereta kami melintas, orang-orang yang ada di pinggir jalan akan selalu melambai ke arah kami. Entah itu para pengemudi mobil, para pekerja di ladang anggur, ataupun orang-orang yang kebetulan berdiri di pinggir jalan yang kami lintasi. Hmm… Mungkin karena mereka ikut merasa ‘memiliki’ si Puffing Billy ini ya…

Dalam perjalanan menuju Lakeside, kereta kami singgah di beberapa stasiun, yang saya ingat, di Menzies Creek dan Emerald kereta ini sempat berhenti agak lama, sekitar 5 menit. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kami pun sampai di Lakeside. Lakeside ini mungkin disetting sebagai suatu daerah piknik, dan sesuai dengan namanya, letaknya di pinggiran danau. Danaunya sih biasa saja, yang membuatnya berbeda dengan danau di Indonesia (yang aslinya mungkin lebih bagus lagi) adalah kondisinya yang sangat bersih, rapi dan terawat. Tidak heran banyak yang betah untuk duduk-duduk disini. Bahkan di beberapa tempat, disediakan juga meja-meja kayu untuk keluarga yang mau berpiknik.

Selain itu, ada fasilitas..ehmm.. sepeda air. Jujur saja, semenjak kejadian sepeda-air-berbentu-angsa-psycho di Bandung dulu, saya agak trauma untuk mencobanya lagi. Tapi melihata Meike dan M’Devi, tergodalah diri saya untuk ikut mencoba juga, dengan siapa lagi saya berpartner kalau tidak dengan pasangan duo maut saya, Iin. Yah, walaupun saya dengan noraknya memakai jaket pelampung. Hey, siapa tau saya kecebur ke dalam danau itu? Ternyata, asyik juga... walaupun saya sempat panik dan berusaha sekuat tenaga menghindari sepeda air yang ikendarai dua anak berwajah “Dennis The Menace”.
Setelah naik sepeda air, kami sempet juga berjalan-jalan sebentar melewati jembatan kayu di deket danau itu. Setelah kurang lebih 2 jam berpiknik ria di danau itu,si Puffing Billy yang akan mengangkut kami kembali ke Belgrave pun tiba, dan kembali kami ber tuut-tuut ria melewati Dandenong Ranges, menuju Belgrave kembali, kembali ke kenyataan bahwa saya akan ujian dalam waktu kurang dari dua minggu lagi dan belum mempersiapkan apapun!
*merenungi nasibku di ujian nanti*
By the way, foto-fotonya sudah saya upload dan saya taruh disini

Selasa, 04 November 2008

Rialto Tower - Seeing Every Bit of Melbourne

Libur semester kemaren saya sudah sempet melihat Melbourne dari ketinggian Eureka Skydeck, termasuk menjajal The Edge. Untuk libur semester ini, duo anak hilang manis, alias saya dan Indira memutuskan mencoba ke Rialto Tower. Dengan tag line “See every bit of Melbourne”, sepertinya menarik juga.Jadi hari Senin kemaren, setelah saya mengurus perpanjangan paspor di KJRI, kami berdua dengan manisnya menuju si menara ini. Hmm... Nama menaranya mirip dengan nama salah satu grup musik favorit saya waktu SMA dulu euy... Rialto Tower ini alamatnya di 525 Collins Street. Kalau dideskripsikan dari segi posisi, ada di sudut Collins Street dan King Street. Kalau jalan kaki dari Flinders Street Station sih, ga jauh-jauh banget, paling cuma 10 menit jalan kaki, sekitar 4 blok gitu deh. Kalo naik trem juga bisa kok, trem No. 48, 70 atau 75 yang ke arah Dockland, turun di stop No. 2
Sampai di persudutan jalan itu, kita sempet agak ragu, yang manakah gedungnyaaa??? Apalagi sebenernya Rialto Tower ini juga adalah gedung perkantoran gitu. Untunglah Iin dengan jelinya melihat plang ini.
*untung ga salah jalan*

Masuk ke bagian entrance, bayar-bayar dulu lah hai… Tarifnya adalah sebagai berikut (kok saya berasa nulis proposal atau laporan penelitian gitu ya?) :
Adult $14.50
Child $8.00
Concession (tunjukin Student ID supaya daept tarif concession) $9.90
Pensioner $9.00
Family (2 Adults and up to 4 Children between the ages of 5 and 15) $39.50
Single Parent Family (1 Adult and 2 Children between the ages of 5 and 15) $27.50

Masuk ke bagian dalam, kita bisa menonton film di Rialto Vision. Ya jelaslah bukan film Harry Potter, apalagi Suster Ngesot. Disini film yang diputar judulnya adalah “Melbourne The Living City”. It’s about 20 minutes. Filmya sendiri menggambarkan Melbourne sebagai sebuah kota dengan berbagai atraksi dan tempat-tempat yang menakjubkan. Tidak ada dialog atau narasi apapun dalam film ini, cuma gambaran tentang Melbourne diiringi musik (tapi musiknya keren banget, asli). It’s quite good, semakin menginspirasi untuk jalan-jalan di Melbourne..
Observation Deck ada di lantai 55. Kalau naik lift, perlu waktu sekitar 40 detik untuk sampai di lantai 55 tersebut. Telinga kita sempat berasa aneh, kayak naik pesawat gitu lho, mungkin karena kecepatan liftnya kali yaaa… Sampai di lantai 55, dan kita melangkahkan kaki menuju jendela, inilah pemandangan yang bisa kita lihat

*gedung paling tinggi di sebelah kanan itu Eureka Skydeck*
Woooowww…. The view was gorgeous! Melbourne, kota yang terasa begitu hidup baik di siang maupun malam hari terlihat begitu cantik dan megah dilihat dari ketinggian 253 meter.
Observation Deck bentuknya melingkar, jadi kita bisa berkeliling dan melihat Melbourne dari semua sudut. Disediakan juga beberapa teropong yang bisa kita gunakan untuk melihat sudut-sudut kota dengan lebih jelas.


Tapi tetap saja saya tidak bisa menemukan Menzies Building, gedung tempat saya kuliah di kampus tercinta. Di kejauhan terlihat laut biru, bahkan di Port Melbourne juga terlihat beberapa kapal yang berlabuh disana.





* keliatan kan kapalnya?*
Mobil-mobil dan trem jadi kelihatan seperti mainan, kereta juga terlihat seperti ulat bulu *perbandingan yang aneh*.

Anyway, kalau sempet jalan-jalan ke Melbourne, tempat ini juga bisa jadi pilihan. Oh iya, tiket masuk kesini bisa buat re-entry kok. Tanya saja di bagian informasinya. Jadi kalau siang kita masuk kesini, tiketnya jangan langsung dicemplungin ke tempat sampah, karena bisa dipake buat masuk lagi pas malam harinya *selama masih di hari yang sama*. And believe me, the view of Melbourne at night from here would be different, but will be as gorgeous as it looks at day time.

Selasa, 28 Oktober 2008

What A Day


Saya hari ini sebel sama:

mesin validate di bus 900 yang tidak berfungsi pada saat saya mau memvalidasi MetCard, tapi secara ajaib berfungsi waktu yang make petugas pemeriksa

petugas pemeriksa yang tidak mau percaya bahwa there's something wrong with the machine when I tried to validate it

sopir bus yang tidak berusaha menjelaskan duduk perkara sebenarnya

orang-orang ga ada kerjaan di Diknas yang memutuskan bahwa just to make my life easier, tidak hanya tunjangan fungsional yang dicabut, tapi juga 50% dari gaji pokok yang sudah sangat tidak seberapa itu

si norak yang selera berpakaiannya aneh dan secara langsung maupun tidak sudah under-estimate kemampuan saya

kembang kol yang bau langunya ga mau hilang

mahasiswa yang minta di-add di FS tapi nulis nama di profilnya pake karakter ajaib yang tambah bikin saya sakit kepala (??_L's_?¤ , atau ©Hå¥yü», atau ??Ca2+=4+5Y4??').

Demikian, sekian dan terima kasih....

Kamis, 23 Oktober 2008

Field Trip : Wonthaggi

Semester kemaren, saya field trip ekologi ke Mt. Donna Buang *dimana terjadi beberapa percakapan ajaib antara saya dan dosen saya* dan ke Cranbourne Botanical Garden *dimana saya sukses jadi stalker*. Semester ini, untuk mata kuliah Corporate Environmental Responsibility, field trip lagiii... ke Wonthaggi.

Wonthaggi ini sebetulnya adalah salah satu tujuan wisata juga di Victoria, letaknya di South Gippsland, menuju ke Phillips Island. Sering disebut-sebut sebagai tempat dengan pemandangan pantai yang menakjubkan, dan memang benar...sepanjang jalan saya bengoooong aja.. Subhanallah... baguuus banget deh. Well, sayangnya field trip kami bukanlah ke pantai itu.

Tujuan utama dari field trip ini adalah meninjau lokasi yang direncanakan sebagai tempat untuk deslainatipn plant nya Victoria. Desalination plant? Apa itu? Intinya sih, desal plant itu adalah unit penyulingan air laut hingga layak untuk dikonsumsi. Kenapa kami meninjau tempat ini, adalah karena rencana pendirian desal plant ini sendiri sebenernya banyak menimbulkan kontroversi. Dari pihak penduduk lokal, mereka sendiri menolak pendirian desal plant ini. Mungkin bukan menolak sih ya, mereka merasa proses pendirian desal plant ini tidak transparan. Tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba saja pemerintah sudah mengumumkan bahwa desal plant itu akan didirikan disana. Sementara pemerintah sendiri berkeras bahwa pendirian desalplant ini memang krusial, mengingat ketersediaan air di Australia yang diperhitungkan akan semakin kritis dan tidak bisa mengimbangi kebutuhan. Yang menarik adalah, salah satu materi dalam field trip itu adalah sesi presentasi. Untuk sesi pertama, yang presentasi wakil dari komunitas lokal. Jadi dalam rangka menolak pendirian desal plant itu, mereka mendirikan semacam organisasi lokal, "Your Water Your Say". Jadi mereka menjelaskan kepada kami alasan mengapa mereka menolak pendirian desal plant itu, dan kronologis kejadian mulai dari mereka pertama kali mendengar berita tentang pendirian desal plant itu, dan perjuangan mereka untuk meminta kejelasan tentang hal tersebut. Sesi kedua, yang presentasi adalah orang dari Departement of Sustainability and Environment Victoria, yaitu instansi pemerintah yang bertanggung jawab atas pendirian desalplant tersebut. Mereka menjelaskan pentingnya pendirian desal plant bagi Australia dan mengapa Wonthaggi yang dijadikan lokasi. Bagus juga, jadi kita bisa tahu dua sisi yang berbeda dari satu masalah *dan bukankah seharusnya memang begitu? :p*


Selain presentasi itu, kami juga melihat lokasi yang disebut sebagai Wonthaggi Windfarm. Jadi kan ceritanya salah satu yang dipermasalahkan, desal plant itu tentunya akan intens dalam hal penggunaan energi, yang ujung-ujungnya adalah emisi gas rumah kaca. Nah, katanya solusinya adalah menggunakan energi alternatif. Karena di daerah tersebut sangaaat berangin, jadilah wind energy disebut-sebut sebagai sumber energi yang akan digunakan. Walaupun jujur saja, kami sangaaat meragukan hal itu. It's called a windfarm, but there are only 6 windmill there! Bahkan salah satunya sepertinya rusak, karena tidak berputar sama sekali. Well, anyway, si desalination plant sendiri sampai sekarang belum dibangun, masih dalam tahap persiapan dan perencanaan. Kabarnya, desalination plant yang direncanakan ini akan menjadi the biggest desalplant in the Southern hemisphere. Oh really?? We'll just wait and see then...

Rencana DSE Victoria mengenai Wonthaggi desalination plant bisa dilihat disini, sementara informasi mengenai Wonthaggi wind farm bisa dilihat disini.

Royal Botanical Gardens Melbourne + Shrine of Remembrance

It was Sunday, and the based on the forecast, it supposed to be a "mostly-sunny" day. Jadilah para Northroader Girls alias saya dan Iin dengan seniat-niatnya mau piknik. Niat banget, sampai bangun pagi sebelum alarm bunyi untuk memasak bekal. Tujuannya adalah Royal Botanical Gardens Melbourne, yang menurut info di situs resmi mereka sedang mengadakan Spring Open Day.

Rute perjalanan, dari Flinders Street Station, carilah trem no. 3, 5, 8, 16, 64 atau 67. Jangan naik Kopaja 66, itu ke Blok M. Turun di stop No. 20, jalan lurus ke arah keramaian, maka anda akan sampai di Royal Botanical Gardens nya Melbourne.


Dilihat dari namanya, jelas saja atraksi utama *kalau memang bisa disebut atraksi* adalah taman. Taman-taman, mungkin lebih tepatnya. Royal Botanical Gardens Melbourne ini (atau RBG aja deh, pegel ngetik nama lengkapnya) adalah salah satu taman tertua di kota Melbourne. Sebenernya salah satu tujuan utama taman ini didirikan waktu itu adalah untuk "menyamakan" Melbourne dengan kota-kota di Inggris. Ya maklumlah, waktu awal mulai berdiri kan para pendatang banyak yang dari Inggris, dan mereka merindukan taman-taman di tanah air mereka sendiri. Jadilah taman ini dibangun... Well, anyway, kembali ke kenapa saya menyebut bahwa ini adalah kumpulan taman-taman. Karena di area yang luas banget itu (yang pasti saya dan Iin berasa jalan kami udah nyaris menyaingi suster ngesot gara-gara mengelilingi sebagian kecil taman ini) ada beberapa taman dengan tema sendiri-sendiri. Camelia Gardens, Australian forest, Rose Collection, African Garden, dan banyak lagi... Buat yang mau bikin foto pre-wedding, monggo...banyak banget spot yang bagus disini untuk beradegan mesra ala film India. Yang lagi pengen arisan keluarga dengan suasana alami, taman ini juga bisa jadi pilihan. Dan oh, bagi para mahasiswa yang jatah bulanan mulai menipis, tetap bisa berpiknik ria disini, karena free entrance!

Di sebelah RBG Melbourne, ada spot yang juga menarik untuk didatangi: Shrine of Remembrance. Ini adalah bangunan untuk menghormati jasa para prajurit Australia dan New Zealand yang tergabung dalam ANZAC, alias Australian-New Zealand Army Corps. Jadi mungkin semacam Taman Makam Pahlawan gitu kali ya, tapi tanpa makam. Hmm..atau mungkin Tugu Pahlawan? Well, anyway... Bentuk gedung ini yang paling menarik bagi saya, seperti kuil. Saya sepertinya nyaris ga bakalan kaget kalo tiba-tiba ada Hercules tiba-tiba nongol keluar dari gedung ini. Free entrance juga, dan salah satu hal yang akan kita lihat begitu masuk adalah deretan medali penghargaan. Banyaaaaak banget. Masuk ke dalam, ada The Crypt, ruangan dengan bendera-bendera kehormatan dan patung perunggu yang menampilkan sosok pejuang mereka.



Naik ke bagian atas, kita bisa keluar menuju balkon, dan melihat Melbourne dari ketinggian. Such a beautiful view. Sayangnya waktu kita kesana, langit sedang berhiaskan awan tebaaal.... However, it's worth it...walaupun perjuangan naik ke balkon itu cukup membuat kaki saya minta ditempeli salonpas *dan inget, kami baru saja berkeliling ria di RBG*.

Liputan versi Iin bisa dibaca disini dan disini, dan foto-foto lainnya sudah saya pajang disini





Minggu, 19 Oktober 2008

Sinetron Episode 3 - Lanjutan Kejadian Bodoh

Sebelumnya mohon maaph bagi yang tidak berkenan, tapi postingan berikut ini agak-agak berbau jorokisme... At least itulah yang diserukan Iin waktu saya melakukan laporan reportase mengenai kejadian ini...
Ehm, adegan awalnya adalah makan siang di Meeting Point, alias kantinnya Clayton Campus. Kebetulan, menu saya hari itu adalah chicken garlic (apa garlic chicken? lupa...). Alias potongan-potongan sayap ayam yang digoreng kering dengan bumbu bawang putih. Nah, tahukah anda, bahwa makan ayam itu kadang-kadang agak menyulitkan bagi susunan gigi? Dengan kata lain, nyeliplah sedikit potongan ayam itu di deretan atas gigi saya di bagian belakang sebelah kanan, sekitar geraham dan gigi bungsu.
Selesai makan, niatnya pengen sholat Dzuhur dulu sebelum balik ke perpus. Taaaapiii...tolong liat paragraf di atas. Ada potongan ayam yang menyelip di lokasi yang sudah saya jabarkan di atas tadi. Nah, jadi sambil berjalan ke arah Religious Centre, mula-mula saya berusaha melepaskan si ayam yang nyungsep itu pake lidah. Tidak berhasil. Eh, berhasil deng, dikiiiit. Untuk mempertinggi tingkat keberhasilan, secara REFLEKS dan TIDAK SENGAJA, saya teruskan usaha tersebut dengan telunjuk kanan saya (jangan protes...!!! Ga ada tusuk gigi dalam radius jarak ambil, oke??). Tepaaaat pada saat si telunjuk kanan ini baru mau beraksi....ehm...
"Hi..."... si cowok-agak-manis-teman-saya-yang-sempat-saya-gebet-tapi-sekarang-udah-ga-lagi itu tiba-tiba saja lewat persiiis di depan saya, tersenyum sambil menyapa diri sayaaaa...
Uhuk...
"Eh...hi...", kata saya, masih dengan posisi telunjuk kanan agak nyungsep di dalam mulut.... Sambil nyengir pula....
Ehmm..kira-kira, adakah sedikiiit kemungkinan bagi saya untuk terlihat manis dan imut dengan posisi telunjuk kanan lagi nangkring di dalam mulut? Toh waktu itu saya sambil berusaha untuk tersenyum kok... (yah, walaupun jadinya lebih mirip nyengir ga jelas)...


Sabtu, 18 Oktober 2008

Ada Di Mana Ya?

Lagi kangen sama mahasiswa, jadi iseng baca-baca komen di FS dari para mahasiswaku. Hemmm... mahasiswa..mahasiswa... Pas sampai di komen dari Alfi, bahwa namaku juga muncul di halaman persembahan skripsinya, jadi inget sesuatu...
Skripsiku sendiri sekarang ada dimana ya???
Jadi gini, skripsiku dulu disusun berdasarkan hasil penelitian dimana aku terjebak selama 2 semester alias setahun di dalam lab gara-gara prosedur yang selalu berubah sesuai mood pembimbingku. Penelitianku dulu soal kitosan dan asam humat, masih yang simpel sih, soal adsorpsi. Kata dosenku dulu, karena modifikasi yang kami lakukan waktu itu masih relatif sangaaat baru, jadi aplikasinya untuk adsorpsi logam dulu.
Nah, begitu aku mulai ngedosen di Unlam (yang adalah singkatan dari Universitas Lambung Mangkurat, bukan Universitas Lampung!), masih belum ada yang spesifik mengembangkan kitosan, padahal menurutku prospeknya bagus banget untuk dikembangkan di Kalsel. Mulailah aku merintis pengembangan penelitian di bidang kitosan, mulai dari PKM, Penelitian DM. Dan Alhamdulillah, ada beberapa dosen yang juga tertarik dan ikut mengembangkannya.
Lalu apa hubungannya dengan skripsiku? Hmm...para mahasiswa yang terlibat penelitian yang terkait dengan kitosan lalu pada ngantri pinjem skripsinya aku. Dengan alasan supaya punya dasar ilmu tentang kitosan dan modifikasinya. Selain itu, mereka juga biasanya nyari contoh aplikasi Persamaan Isoterm Adsorpsi Langmuir (tsaaaahhh...berasa karen dah gua nulisnya) dari skripsiku itu.
Dan sekarang, aku sudah tidak bisa melacak lagi...dimanakah skripsiku itu sekarang beradaaa??? Aku nanya sama si X, dia bilang si Y yang sekarang megang, kata si Y, udah dia kesihkan sama Z dari kapan, Z lalu bilang, kalo kayaknya terkahir yang pinjem si A... Pokoknya mah riweh! Duhai mahasiswaku..balikin..oh.oh..balikiiiiin....!!!

Kamis, 16 Oktober 2008

Penting: Ingatlah yang Dilakukan di Pagi Hari...

Apa yang kita lakukan di pagi hari, saat memulai hari, bisa sangaaaat berpengaruh pada kejadian-kejadian sesudahnya. That's what happen with me today.
[PAGI HARI]
Bangun, cuci muka + gosok gigi, masukin cucian ke mesin cuci, terus sarapan sambil minum kopi. Karena harus menyelesaikan tugas, saya memutuskan HARUS ke perpustakaan, kalo di rumah aja ngerjainnya, yang ada saya ngelingker di tempat tidur. Jadi, setelah adegan menjemur-jemur dilewati dengan sukses, langsung mandi, dan siap berangkat. Nah, tiba-tiba saya lagi pengen mempraktekkan precautionary principle, jadi laptop saya tinggal di kamar, tapi saya sembunyikan. Biasanya sih masuk lemari, tapi karena udah rada telat, saya ambil langkah praktis aja, laptopnya saya sembunyikan di bawah quilt alias selimut tebal yang terlipat rapi dengan manisnya di ujung tempat tidur saya. Beres. Nobody will know that it's there (but if you happen to know anyone who wants to setal my lovely lappy, please don't tell them!)
[SORE HARI]
Pulang dari kampus, langsung berleyeh-leyeh di tempat tidur. Karena jendela kamar saya menghadap ke barat dan hari sudah menjelang sore, terjadilah efek local warming di kamar saya. Apalagi tempat tidur saya paaas banget di sebelah jendela. Jadi, dengan pikiran yang mulai bermeditasi untuk merenungkan mimpi (?), tangan yang meraih I-Pod untuk disetel, kaki saya menendang selimut tebal yang terlipat dengan manisnya di ujung tempat tidur saya.
GEDUBRAK!!!
Saya berpikir, sungguh suara yang tidak biasa untuk selimut tebal yang jatuh ke lantai karpet. Setengah menit kemudian, baru otak saya merewind kembali adegan pagi tadi, waktu saya menyelipkan laptop saya di bawah selimut tebal saya. Oh, oke... Pantesan aja bunyinya gedubrak ya...wong isinya laptop. Hmm...sebentar...ada yang salah...WHAT?? HUAAAA!!! Laptop guaaa.....Saya langsung melompat dari tempat tidur, langsung menuju laptop saya yang tergeletak setelah ditendang jatuh dari peraduannya...
Moral of the story: ingatlah selalu apa saja yang kau lakukan di pagi hari...

And Another One Goes By (Catatan di Ujung Semester)

Kemaren, Rabu, hari terakhir saya kuliah di semester kedua saya disini. Whew… How time flies! Jadi inget, semester kemaren, pas di ujung semester, saya udah berasa kayak zombie saking abnormalnya hidup saya rasanya waktu itu. Semester ini, I don’t know.. Mungkin karena beban mata kuliah tersebar lebih merata sepanjang semester kali ya… Waktu semester kemaren, 4 mata kuliah bersaing satu sama lain dalam hal due-date final assignmentnya di ujung semester. Semester ini, assignment saya tinggal report 3,000 kata, plus take home exam. Well, masih ada examination sih, tapi itu juga masih nanti, tanggal 12 November. Tambahan pula, kuliah Frontiers kan sistemnya block mode, jadi berasa cuma ngambil 3 mata kuliah…
Hari Senin, Kuliah Sustainability Measurement untuk terakhir kalinya, only around one third of the students showed up for the class. Kayaknya pada struggling dengan group assignment yang 5,000 kata itu deh. Seperti biasa, ada applaus khusus for students doing their final semester, kali ini ada 3 orang.
Besoknya, kuliah Corporate Environmental Responsibility. Cuma sedikit presentasi dari masing-masing kelompok tentang simulasi Carbon Trading Scheme. To be honest, saya sebetulnya setuju dengan anak engineering yang bilang, kalo seharusnya ditambah satu minggu lagi untuk simulasi ini, jadi bisa satu kali lelang lagi. By the way, ini adalah salah satu tugas yang menurut saya paling menarik (selain instruksinya yang menurut kami misterius…). Jadi di kelas, kita melakukan simulasi tentang emission trading scheme, jadi jual beli jatah emisi karbon gitu. Kapan-kapan saya posting soal tugas ini aaahh… Terus kan ngebahas soal ujian tahun lalu. Wayne, dosennya, bilang kalo dia pengen ngadain kelas tambahan satu kalilagi, untuk memantapkan pemahaman kami tentang materi kuliah. Saya dan Xue langsung manggut-manggut penuh semangat. Tapi sedikit protes langsung muncul dari anak-anak Engineering waktu Wayne mengumumkan tanggalnya, maunya Wayne kan kelas tambahannya tanggal 3 November, jam 4 sore.
Enginerring students: we can't, all of the engineering students are having other exam on that date
Saya (ngomong pelan-pelan) : poor you
Xue (pelan-pelan juga) : yeah, too bad…
Wayne : what do you suggest then?
Engineering students : the following week, maybe? On 10 of November?
Wayne : I’m sorry, I can’t. I will be out of Melbourne by that date
Xue (pelan-pelan) : bad luck guys..
Saya (pelan-pelan) : we’re sorry for the engineering students…
Saya dan Xue langsung pada cekikikan…
Kemaren, Rabu. Kuliah terakhir Resource Evaluation and Management. Christian sudah ngomong di awal kuliah: “It’s gonna be a short lecture, we’re only summing up!”. It was a short one, only around 40 minutes, with a “take-home message”: “Resource evaluation and management is very complex and dynamic. Be fascinated by it, learn from it, and most of all, engage with it!”. Begitu Christian ngomong: “Well, that’s it! The lecture for today, and the whole semester!”, seluruh kelas langsung bertepuk tangan, ngasih applaus ke dia. Saya sempet denger beberapa anak undergraduate di belakang ngomong: “He is really good, he really teaches us things!”. Dan bagi saya sendiri, it’s one of the best subject I ever had. I really really really learned a lot of things from this subject. It’s not only the things that we learned, the way Christian delivers this subject is also fascinating.
Hmm…well, so, tanpa terasa, sudah satu semester lagi terlewati. Sekarang tinggal meneyelesaikan satu assignment, mengerjakan satu take-home examination, plus persiapan buat satu examination tanggal 12 November nanti… Semangaaattt...

Selasa, 07 Oktober 2008

Sinetron Episode Kedua

Ternyata sodara-sodara…saya memang tinggal menunggu ditemukan oleh seorang produser saja untuk menampilkan bakat dramatisasi saya di layar kaca… Heuuu.. Jadi, setelah kejadian kemarin dimana saya jadi artis sinetron untuk satu episode dalam kehidupan sehari-hari saya si ratu drama, hari ini entah kenapa…ternyata ada sekuelnya.
Ehm… mari mulai… tapi sebentar, saya mikir dulu, soundtracknya apa ya cocoknya?
Humm… Sebenernya, saya pengen pake lagu What A Wonderful World nya Louis Armstrong sebagi soundtrack episode kali ini, tapi apa daya…pagi ini Melbourne kembali mengukuhkan reputasinya sebagai kota dengan cuaca paling ga jelas. Well, intinya adalah, pagi ini is just soooooo gloomy. Saya si ratu drama berangkat ke kampus agak molor satu jam dari jadwal yang saya harapkan (which is normal for me…). Berusaha membangun mood di sepanjang jalan, jadilah saya mencari lagu-lagu riang untuk disetel di I-Pod selama perjalanan saya ke kampus. Yah, lumayan berhasil lah… Sampai di kampus, mendekati Menzies Building, saya mulai bersemangat untuk mengerjakan research untuk final report tugas Corporate Environmental Responsibility.
Daaann… saya terpikir, seandainyaaaaa aja ada pemandangan yang menyegarkan mata saya, mungkin saya bisa lebih ceria lagi. And just like yesterday, right after I thought about it, hoping that something (well, okay…someone!) good will come cross my way…
ADA KALE LAGI!!! Si pak dosen ganteng ituuuu!! Keluar dari pintu utama Menzies Building!!! Sekali ini sendirian!! Dengan switer abu-abunyaaaa… Uhuuuuuy… Dia sih ga liat saya, dia dengan langkah santai (tapi teteup ganteng..ihik…) menuju Science Buildings sambil membenahi buku-buku di tangannya…
Ow, he looked so smart, dengan kacamata dan setumpuk buku-buku tebal itu. Dan sementara dia melangkah menjauhi Menzies Building, saya terus berjalan sambil menatapnya…
Terus menatapnya…
Terus menatapnya…
…dan menabrak kaca pintu utama Menzies Building….
Seriuously. I literally bump into the glass door, because I was walking and amazedly watching him instead of paying attention to where I was walking.
Dan oh…just to make my life more dramatic, ada yang melihat saya menabrakkan diri ke pintu kaca itu, dan menyempatkan diri bertanya: “Are you okay?”.
Jadi begitulah sodara-sodara…sekuel dari sinetron saya di minggu ini….