Selasa, 27 September 2011

Balikpapan dan Tragedi Koper

Minggu lalu, saya dan beberapa orang temen ikut training di Balikpapan. Keren kan ya? Trainingnya pula, judulnya Training for Proposal Grant Writing. Wetsaaahhh… Acaranya diadain HKI, dan sponsornya CRDF, sebuah NGO dari USA. Secara nih ya, sponsornya dari luar, acara dan akomodasi di Hotel Grand Senyiur. Hotel berbintang banyak, dan satu kamar sendiri. Jadi aja saya dengan noraknya menikmati fasilitas hotel dengan wajah berbinar-binar =D.

Trainingnya sendiri cukup menarik, ada tiga pembicara, Charles, Joyce, dan Colin. Materi yang mereka sampaikan tentang bagaimana menulis proposal untuk mendapatkan grant penelitian dari luar negeri. Gak kayak kalo ikut pelatihan lain yang biasanya selalu ada adegan saya ketiduran, untuk training kali ini, dengan ajaibnya saya bisa mendengarkan, even do the note taking. Sebenernya sempet berasa ga enak, pas bagian sesi tanya jawab, saya cenderung menjadi salah satu orang yang sering bertanya. I mean, I don’t want to show off or something. But I really was curious. Lagipula, maksud saya, while I have the chance, I want to make the most of it. Maka meskipun dengan bahasa Inggris yang seadanya, saya nanya. Eh, tapi pas akhir sesi, Drew, panitia dari CRDF malah bilang terima kasih lhooo… She said that she appreciated people who asked questions, as it shows that people are really interested in the training.

Another nice thing about joining this kind of training is the chance to meet new people. Yang pasti sih, jadi ketemu sama Mbak Indah, dosen TL yang gantiin Rosy. Lalu juga ketemu dengan dosen dari Papua. Oh, dan ada Bapak dosen dari UnHalu yang baiiiik banget. Dia lulusan S3 dari Jerman *-*. Belajar beberapa hal menarik dari si Bapak Ahmad ini =D, terutama tentang menghargai hasil karya orang lain.


Oh, dan karena lokasi trainingnya di Balikpapan, akhirnya aku ketemu dengan temen lama yang sudah gak ketemu selama 6 tahun! Yeay! Finally ketemuan sama Emil – Septa (yang sudah punya dua anak kecil, Ata dan Bisma), sama Lina dan Widia. It was very nice to see them again =D.


Back to the title. Tragedinya di sebelah mana?


Jadi gini. Bulan Juni lalu, saya ikut seminar di Jogja. Dan waktu itu, saya ketemu dengan Pak Ali, dosen di Maluku. Nah, pas acara ini ya ketemu lagi. Gak sempet ngobrol banyak sih. Pas hari kita check out, sempet ketemu dia sebentar, dan dia minta nomer hape saya.


Kronologisnya sepertinya dimulai ketika saya turun dan keluar dari lift sambil membawa koper saya. Begitu pintu lift membuka, salah seorang staf hotel langsung mengambil alih koper saya. Saya mah ho’oh aja, secara saya mau ngurus check out, plus Emil dan Septa udah nungguin saya di lobby. Selesai check out, saya memperkenalkan Mb’Indah dan Sunardi sama Emil-Septa. Waktu itu Sunardi sama Mb’Indah udah di teras hotel, lengkap dengan tumpukan kper di samping mereka. Naiklah kita ke mobil. Pesawat saya dan Mb’Indah memang baru berangkat malemnya, tapi rencananya kita mau nganterin Sunardi dulu ke bandara, karena dia mau ke Berau dan pesawatnya dijadwalkan berangkat jam 12 siang. Kita sempet singgah dulu untuk beli oleh-oleh, dan sampe di bandara sekitar jam 11an. Ngedrop Pak Sunardi, dan menurunkan kper dia. Nah, pas Sunardi ngambil kopernya dari bagasi mobil, saya jadi curiga. Kok… ada satu koper lagi ya? Karena say ayakin, Mbak Indah gak bawa koper. Dia cuma bawa traveling bag. Pas saya nanya Sunardi, dia sama kagetnya dengan saya. Secara dia pikir koper item itu punya saya. Kita liat-liatan. Bengong. Lalu panik.


KOPER ITEM INI PUNYA SIAPA COBA YA?


Mbak Indah udah ketawa aja saking takjubnya.

Dalam keadaan panik, saya nelfon ke hotel untuk nanyain, ada gak tamu hotel yang lagi bingung karena kopernya hilang. Sementara itu, Sunardi dan Mbak Indah udah ngebongkar koper itu untuk nyari ID. Ketemu. Ternyata memang deh ya, si koper itu punya Pak Ali. Kayaknya karena kebetulan saya, Sunardi, Mbak Indah dan si Pak Ali ini turun untuk cehck out pada saat yang nyaris bersamaa, jadilah staf hotel yang di depan pintu lift itu dengan penuh percaya diri mengasumsikan bahwa kami satu rombongan. Jadi aja semua koper kami ditumpuk jadi satu. Lha, saya yang liat koper itu dimasukkan ke mobil kan mikirnya itu punya Sunardi. Dan Sunardi sama Mbak Indah, tentu saja berasumsi bahwa itu koper punya saya.

Nelfon hotel lagi, ternyata Pak Ali sudah check out. Parahnya lagi, kan hotel biasanya minta nomer hape tamunya ya. Lha kok pas si Pak Ali ini pihak hotel pas gak nanyain. Dengan asumsi bahwa Pak Ali pulang ke Maluku lewat Makassar, jadilah kita berkeliling counter agen penerbangan, untuk nanya, ada gak nama Pak Ali dalam daftar nama penumpang ke Makassar. Negatif. Semuanya bilang gak ada penumpang mereka atas nama itu.


Akhirnya, kami memutuskan untuk balik ke hotel. Berdoa semoga ada panitia pelatihan yang masih tersisa, dan punya nomer hapenya Pak Ali.


Alhamdulilah yah, sekitar 10 menit kami meninggalkan bandara, Pak Ali nelfon saya.


“Bu Utami dimana? Koper saya ada di Bu Utami ya?”


Iya Pak. Dan koper bapak sukses banget bikin kami panik.


Tadinya sih sempet janjian mau ninggalin koper dia di hotel aja. Tapi beberapa menit kemudian dia udah nelfon lagi, secara ternyata dia udah di jalan. Jadilah suatu pembicaraan aneh


Pak Ali: Lha, Bu Utami ini sudah sampe mana?

Saya: Saya udah hampir nyampe Plaza Balikpapan. Bapak dimana?
Pak Ali: Saya sudah sampai di..depan Bank Danamon

*saya pas lagi melongok ke jendela dan melihat gedung Bank Danamon menjulang di kanan saya*


Saya: Pak, BERHENTI Pak! Berhenti sekarang juga. STOP! *saya nyaris teriak lho ini*

Pak Ali: Ha? Jadi saya brenti disini?
Saya: IYA PAK! UDAH! Brenti disitu aja! Jangan kemana-mana lagi, biar kita samperin Bapak.

Akhirnya Septa berhasil nemu puteran jalan, dan happy ending dong. Si koper kembali ke pemilik aslinya. Dan akibat insiden itu, saya jadi laper.

Well, kalo ar-si-ti-ai terkenal dengan sinetron Putri Yang Ditukar, kami punya cerita tentang Koper yang Terbawa.


Rabu, 06 Juli 2011

Books I Grew up With

Beberapa hari yang lalu baru saja bikin akun di Goodreads. (iya, saya tau betapa telatnya sayaaaa….). Dan jadi keasyikan meng-add buku-buku di dhelf-nya saya, membaca review dan komentar orang tentang beberapa buku, menahan rasa ingin beli buku lagi melihat begitu banyak buku yang sepertinya seru banget…

Tapi yang pasti, saya jadi keinget beberapa buku yang dulu saya baca waktu saya masih kecil dan imut serta menggemaskan (yah, sampe sekarang juga masih sih ;p)

I am lucky enough that I have parents that love reading. Pertama kali bisa baca umur 3 tahun, dan mulai umur 5 tahun sudah baca buku sendiri. Jadi jujur saja, sampai sekarang saya masih suka agak heran kalau tahu ada orangyang tidak suka membaca.

Dulu, zaman Banjarmasin masih kota kecil, jumlah toko buku masih sangat sedikit. Yang saya ingat, dulu ada Sampaga. Dan saya masih ingat judul buku pertama yang saya pilih sendiri untuk dibelikan Abah disana: Sama’a sang penjaga Mata Air. I even still remember the cover. Terus ada juga Toko Buku Hasanu di deket Bundaran Air Mancur. Sayang sekali, semenjak ada Gramedia, toko-toko buku itu tidak bisa bertahan.
Terus, setiap kali Abah tugas ke Jakarta, saya pasti akan bikin daftar buku yang saya inginkan untuk dititipkan pada Abah.

Anyway, I grew up reading these kind of books

Lima Sekawan


Siapa sih yang gak pernah baca buku ini? Julian, Dick, George, Ann, dan tentu saja, Timmy! Yakin deh, yang baca buku ini waktu jaman kecil dulu pasti pernah berjhayal untuk berpetualang seperti mereka.

Seri Rumah Kecil di Padang Rumput


Baca ini pas kelas 1 SD gitu.Tapi yang Tahun-tahun Bahagia baca pas sudah kelas 4 SD gitu kali yaaa… Terhanyut banget dengan kehidupan sehari-hari Laura. Dan saya baru sadar belasan tahun kemudian, bahwa mungkin saya menyukai Laura di buku itu karena dia terasa begitu nyata, just like my reflection on the mirror. Sedikit nakal, selalu ingin tahu, diam-diam iri pada orang lain karen aberbagai alasan yang sebetulnya konyol. I even gave the name Charlotte to one of my dolls, just like Laura named her doll.

Taman Rahasia, Putri Mungil, Pangeran yang Hilang, Little Lord Fauntleroy



Semuanya karya Frances H. Burnett. Dan menurut saya, these books are evergreen classics.

Serial Malory Towers dan St. Clare




Aaaa…. Dulu ngoleksi buku ini tapi dipinjem kakak kelas dan gak balik :(. Jadi kemaren beli box setnya, dan maraton menghabiskan masing-masing 6 buku dalam serial ini. Saking sukanya sama serial ini, saya sama adek saya waktu kecil dulu suka berpura-pura menjadi tokoh dalam buku ini.

Serial Girl Talk, The Baby Sitter Club, Dear Diary


Yang ini waktu udah mulai ABG nih, pas kelas 5-6 SD, sama SMP gitu. Di Girl Talk,paling suka sama tokoh Allison. Pengen aja jadi kayak dia :D.

Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak)


Buku science-fiction pertama yang saya baca , bacanya waktu saya kelas 3 SD. Dan buku pertama dari serial ini saya baca sambil duduk di pojokan toko Gramedia di Bandung. Selesai dalam waktu dua jam. Ahahaha… waktu itu soalnya saya gak mau ikut belanja di toko lain sama Mama, jadi aja saya ditinggal sendirian di Gramedia selama hampir 4 jam. Yang masih tersisa di rak buku saya sekrang tinggal yang jilid 2 dan 3. Sebenernya agak kesel sama buku ini, karena nanggung. Di buku ketiga sih tulisannya bersambung ke buku keempat yang berjudul Lembah Api. Tapi sepertinya buku itu gak pernah terbit =(

Komik Mahabharata, Bratayudha, Ramayana
Aaaa…kangen sama komik wayang iniii! Saya dulu sampe hafal lho silsilah keluarga Pandawa dan Kurawa! Sayang ya model kayak ginian gak diterbitkan lagiii…


Sebenernya sih masih banyak lagi. Serial Pilih Sendiri Petualanganmu, Kelompok 2&1, Tro Detektif, whuaaa…kangen buku-buku jaman dulu ituuuu!

Komik terbitan Elex dulu jugaaa… Saya suka banget ngumpulin Serial Misteri. Apalagi kalo Yoko Matsumoto, pasti langsung beli. Sama yang Yu Asagiri. Bagus-baguuuus! Gambarnya bagus, ceritanya juga, mulai dari konyol (favorit saya Time Limit, Empat Sekawan, sama SOS), so sweet (Ring Memory, School, dll). Kalau komik jaman sekarang? Jujur, saya ngerasanya terlalu vulgar. Beda dengan cerita romantis di komik jaman dulu, yang plos tapi malah simply sweet and romantic.

Kalau dipikir-pikir, cerita jaman dulu itu karakternya sedikit beda dengan novel remaja zaman sekarang ya? Ceritanya lebih sederhana, bahasanya lebih lugas.
Makanya, seneng banget liat Taman Rahasia, A Little Princess dan beberapa buku klasik semacam itu dicetak ulang lagi :’).

Aaahh… Jadi kepengen membaca ulang kembali beberapa buku yang dulu menjadi penghias masa kecil saya :p

Selasa, 27 September 2011

Balikpapan dan Tragedi Koper

Minggu lalu, saya dan beberapa orang temen ikut training di Balikpapan. Keren kan ya? Trainingnya pula, judulnya Training for Proposal Grant Writing. Wetsaaahhh… Acaranya diadain HKI, dan sponsornya CRDF, sebuah NGO dari USA. Secara nih ya, sponsornya dari luar, acara dan akomodasi di Hotel Grand Senyiur. Hotel berbintang banyak, dan satu kamar sendiri. Jadi aja saya dengan noraknya menikmati fasilitas hotel dengan wajah berbinar-binar =D.

Trainingnya sendiri cukup menarik, ada tiga pembicara, Charles, Joyce, dan Colin. Materi yang mereka sampaikan tentang bagaimana menulis proposal untuk mendapatkan grant penelitian dari luar negeri. Gak kayak kalo ikut pelatihan lain yang biasanya selalu ada adegan saya ketiduran, untuk training kali ini, dengan ajaibnya saya bisa mendengarkan, even do the note taking. Sebenernya sempet berasa ga enak, pas bagian sesi tanya jawab, saya cenderung menjadi salah satu orang yang sering bertanya. I mean, I don’t want to show off or something. But I really was curious. Lagipula, maksud saya, while I have the chance, I want to make the most of it. Maka meskipun dengan bahasa Inggris yang seadanya, saya nanya. Eh, tapi pas akhir sesi, Drew, panitia dari CRDF malah bilang terima kasih lhooo… She said that she appreciated people who asked questions, as it shows that people are really interested in the training.

Another nice thing about joining this kind of training is the chance to meet new people. Yang pasti sih, jadi ketemu sama Mbak Indah, dosen TL yang gantiin Rosy. Lalu juga ketemu dengan dosen dari Papua. Oh, dan ada Bapak dosen dari UnHalu yang baiiiik banget. Dia lulusan S3 dari Jerman *-*. Belajar beberapa hal menarik dari si Bapak Ahmad ini =D, terutama tentang menghargai hasil karya orang lain.


Oh, dan karena lokasi trainingnya di Balikpapan, akhirnya aku ketemu dengan temen lama yang sudah gak ketemu selama 6 tahun! Yeay! Finally ketemuan sama Emil – Septa (yang sudah punya dua anak kecil, Ata dan Bisma), sama Lina dan Widia. It was very nice to see them again =D.


Back to the title. Tragedinya di sebelah mana?


Jadi gini. Bulan Juni lalu, saya ikut seminar di Jogja. Dan waktu itu, saya ketemu dengan Pak Ali, dosen di Maluku. Nah, pas acara ini ya ketemu lagi. Gak sempet ngobrol banyak sih. Pas hari kita check out, sempet ketemu dia sebentar, dan dia minta nomer hape saya.


Kronologisnya sepertinya dimulai ketika saya turun dan keluar dari lift sambil membawa koper saya. Begitu pintu lift membuka, salah seorang staf hotel langsung mengambil alih koper saya. Saya mah ho’oh aja, secara saya mau ngurus check out, plus Emil dan Septa udah nungguin saya di lobby. Selesai check out, saya memperkenalkan Mb’Indah dan Sunardi sama Emil-Septa. Waktu itu Sunardi sama Mb’Indah udah di teras hotel, lengkap dengan tumpukan kper di samping mereka. Naiklah kita ke mobil. Pesawat saya dan Mb’Indah memang baru berangkat malemnya, tapi rencananya kita mau nganterin Sunardi dulu ke bandara, karena dia mau ke Berau dan pesawatnya dijadwalkan berangkat jam 12 siang. Kita sempet singgah dulu untuk beli oleh-oleh, dan sampe di bandara sekitar jam 11an. Ngedrop Pak Sunardi, dan menurunkan kper dia. Nah, pas Sunardi ngambil kopernya dari bagasi mobil, saya jadi curiga. Kok… ada satu koper lagi ya? Karena say ayakin, Mbak Indah gak bawa koper. Dia cuma bawa traveling bag. Pas saya nanya Sunardi, dia sama kagetnya dengan saya. Secara dia pikir koper item itu punya saya. Kita liat-liatan. Bengong. Lalu panik.


KOPER ITEM INI PUNYA SIAPA COBA YA?


Mbak Indah udah ketawa aja saking takjubnya.

Dalam keadaan panik, saya nelfon ke hotel untuk nanyain, ada gak tamu hotel yang lagi bingung karena kopernya hilang. Sementara itu, Sunardi dan Mbak Indah udah ngebongkar koper itu untuk nyari ID. Ketemu. Ternyata memang deh ya, si koper itu punya Pak Ali. Kayaknya karena kebetulan saya, Sunardi, Mbak Indah dan si Pak Ali ini turun untuk cehck out pada saat yang nyaris bersamaa, jadilah staf hotel yang di depan pintu lift itu dengan penuh percaya diri mengasumsikan bahwa kami satu rombongan. Jadi aja semua koper kami ditumpuk jadi satu. Lha, saya yang liat koper itu dimasukkan ke mobil kan mikirnya itu punya Sunardi. Dan Sunardi sama Mbak Indah, tentu saja berasumsi bahwa itu koper punya saya.

Nelfon hotel lagi, ternyata Pak Ali sudah check out. Parahnya lagi, kan hotel biasanya minta nomer hape tamunya ya. Lha kok pas si Pak Ali ini pihak hotel pas gak nanyain. Dengan asumsi bahwa Pak Ali pulang ke Maluku lewat Makassar, jadilah kita berkeliling counter agen penerbangan, untuk nanya, ada gak nama Pak Ali dalam daftar nama penumpang ke Makassar. Negatif. Semuanya bilang gak ada penumpang mereka atas nama itu.


Akhirnya, kami memutuskan untuk balik ke hotel. Berdoa semoga ada panitia pelatihan yang masih tersisa, dan punya nomer hapenya Pak Ali.


Alhamdulilah yah, sekitar 10 menit kami meninggalkan bandara, Pak Ali nelfon saya.


“Bu Utami dimana? Koper saya ada di Bu Utami ya?”


Iya Pak. Dan koper bapak sukses banget bikin kami panik.


Tadinya sih sempet janjian mau ninggalin koper dia di hotel aja. Tapi beberapa menit kemudian dia udah nelfon lagi, secara ternyata dia udah di jalan. Jadilah suatu pembicaraan aneh


Pak Ali: Lha, Bu Utami ini sudah sampe mana?

Saya: Saya udah hampir nyampe Plaza Balikpapan. Bapak dimana?
Pak Ali: Saya sudah sampai di..depan Bank Danamon

*saya pas lagi melongok ke jendela dan melihat gedung Bank Danamon menjulang di kanan saya*


Saya: Pak, BERHENTI Pak! Berhenti sekarang juga. STOP! *saya nyaris teriak lho ini*

Pak Ali: Ha? Jadi saya brenti disini?
Saya: IYA PAK! UDAH! Brenti disitu aja! Jangan kemana-mana lagi, biar kita samperin Bapak.

Akhirnya Septa berhasil nemu puteran jalan, dan happy ending dong. Si koper kembali ke pemilik aslinya. Dan akibat insiden itu, saya jadi laper.

Well, kalo ar-si-ti-ai terkenal dengan sinetron Putri Yang Ditukar, kami punya cerita tentang Koper yang Terbawa.


Rabu, 06 Juli 2011

Books I Grew up With

Beberapa hari yang lalu baru saja bikin akun di Goodreads. (iya, saya tau betapa telatnya sayaaaa….). Dan jadi keasyikan meng-add buku-buku di dhelf-nya saya, membaca review dan komentar orang tentang beberapa buku, menahan rasa ingin beli buku lagi melihat begitu banyak buku yang sepertinya seru banget…

Tapi yang pasti, saya jadi keinget beberapa buku yang dulu saya baca waktu saya masih kecil dan imut serta menggemaskan (yah, sampe sekarang juga masih sih ;p)

I am lucky enough that I have parents that love reading. Pertama kali bisa baca umur 3 tahun, dan mulai umur 5 tahun sudah baca buku sendiri. Jadi jujur saja, sampai sekarang saya masih suka agak heran kalau tahu ada orangyang tidak suka membaca.

Dulu, zaman Banjarmasin masih kota kecil, jumlah toko buku masih sangat sedikit. Yang saya ingat, dulu ada Sampaga. Dan saya masih ingat judul buku pertama yang saya pilih sendiri untuk dibelikan Abah disana: Sama’a sang penjaga Mata Air. I even still remember the cover. Terus ada juga Toko Buku Hasanu di deket Bundaran Air Mancur. Sayang sekali, semenjak ada Gramedia, toko-toko buku itu tidak bisa bertahan.
Terus, setiap kali Abah tugas ke Jakarta, saya pasti akan bikin daftar buku yang saya inginkan untuk dititipkan pada Abah.

Anyway, I grew up reading these kind of books

Lima Sekawan


Siapa sih yang gak pernah baca buku ini? Julian, Dick, George, Ann, dan tentu saja, Timmy! Yakin deh, yang baca buku ini waktu jaman kecil dulu pasti pernah berjhayal untuk berpetualang seperti mereka.

Seri Rumah Kecil di Padang Rumput


Baca ini pas kelas 1 SD gitu.Tapi yang Tahun-tahun Bahagia baca pas sudah kelas 4 SD gitu kali yaaa… Terhanyut banget dengan kehidupan sehari-hari Laura. Dan saya baru sadar belasan tahun kemudian, bahwa mungkin saya menyukai Laura di buku itu karena dia terasa begitu nyata, just like my reflection on the mirror. Sedikit nakal, selalu ingin tahu, diam-diam iri pada orang lain karen aberbagai alasan yang sebetulnya konyol. I even gave the name Charlotte to one of my dolls, just like Laura named her doll.

Taman Rahasia, Putri Mungil, Pangeran yang Hilang, Little Lord Fauntleroy



Semuanya karya Frances H. Burnett. Dan menurut saya, these books are evergreen classics.

Serial Malory Towers dan St. Clare




Aaaa…. Dulu ngoleksi buku ini tapi dipinjem kakak kelas dan gak balik :(. Jadi kemaren beli box setnya, dan maraton menghabiskan masing-masing 6 buku dalam serial ini. Saking sukanya sama serial ini, saya sama adek saya waktu kecil dulu suka berpura-pura menjadi tokoh dalam buku ini.

Serial Girl Talk, The Baby Sitter Club, Dear Diary


Yang ini waktu udah mulai ABG nih, pas kelas 5-6 SD, sama SMP gitu. Di Girl Talk,paling suka sama tokoh Allison. Pengen aja jadi kayak dia :D.

Penjelajah Antariksa (Bencana di Planet Poa, Sekoci Penyelamat, Kunin Bergolak)


Buku science-fiction pertama yang saya baca , bacanya waktu saya kelas 3 SD. Dan buku pertama dari serial ini saya baca sambil duduk di pojokan toko Gramedia di Bandung. Selesai dalam waktu dua jam. Ahahaha… waktu itu soalnya saya gak mau ikut belanja di toko lain sama Mama, jadi aja saya ditinggal sendirian di Gramedia selama hampir 4 jam. Yang masih tersisa di rak buku saya sekrang tinggal yang jilid 2 dan 3. Sebenernya agak kesel sama buku ini, karena nanggung. Di buku ketiga sih tulisannya bersambung ke buku keempat yang berjudul Lembah Api. Tapi sepertinya buku itu gak pernah terbit =(

Komik Mahabharata, Bratayudha, Ramayana
Aaaa…kangen sama komik wayang iniii! Saya dulu sampe hafal lho silsilah keluarga Pandawa dan Kurawa! Sayang ya model kayak ginian gak diterbitkan lagiii…


Sebenernya sih masih banyak lagi. Serial Pilih Sendiri Petualanganmu, Kelompok 2&1, Tro Detektif, whuaaa…kangen buku-buku jaman dulu ituuuu!

Komik terbitan Elex dulu jugaaa… Saya suka banget ngumpulin Serial Misteri. Apalagi kalo Yoko Matsumoto, pasti langsung beli. Sama yang Yu Asagiri. Bagus-baguuuus! Gambarnya bagus, ceritanya juga, mulai dari konyol (favorit saya Time Limit, Empat Sekawan, sama SOS), so sweet (Ring Memory, School, dll). Kalau komik jaman sekarang? Jujur, saya ngerasanya terlalu vulgar. Beda dengan cerita romantis di komik jaman dulu, yang plos tapi malah simply sweet and romantic.

Kalau dipikir-pikir, cerita jaman dulu itu karakternya sedikit beda dengan novel remaja zaman sekarang ya? Ceritanya lebih sederhana, bahasanya lebih lugas.
Makanya, seneng banget liat Taman Rahasia, A Little Princess dan beberapa buku klasik semacam itu dicetak ulang lagi :’).

Aaahh… Jadi kepengen membaca ulang kembali beberapa buku yang dulu menjadi penghias masa kecil saya :p