Sabtu, 29 Desember 2012

2012, What A Year :)


Yuhuuuu! Jadi, setahun sudah datang dan pergi lagi. How was your year? Well, for me, 2012 has been quite a year. A roller coaster of life.
Where should I start?

Let me start with me being a scholarship hunter. Tahun ini, karena udah diniatin banget dari tahun kemaren, saya berburu beasiswa. Apalagi tahun ini dua lagi staf dosen Kimia yang sukses pulang membawa gelar S3. Dan dua orang teman saya, Ka Alfi dan Adi, berhasil meraih cita-cita mereka: doing a Ph.D degree in The Netherlands. So I started by contacting Christian, my thesis supervisor when I did my master degree to ask for a recommendation letter. I’ve browsed websites of universities, looked for potential supervisors, wrote a research proposal for my Ph.D, downloaded application forms and filled them in, took another TOEFL Test. Stuffs. And I ended up sending 5 scholarship applications. Nyaris 6 sih, tapi yang ke NZ salah baca tanggal deadline. Bego banget deh rasanya saya ini *getok kepala sendiri*. Yang ADS, I did not even make it to be a short-listed candidate. So apparently, God has a much better plan for me :). Once again, saya bersyukur banget punya orang tua dan saudara yang tidak henti-hentinya mendukung dan mendoakan saya. Punya teman-teman yang dengan tangan terbuka selalu siap menolong saya. I’ve already written some postings about this scholarship hunting, here and here and here.
Jadi sepertinya paruh pertama tahun 2012 ini, kerjaan saya adalah berburu beasiswa. Nyahahaha..

Selain jatuh-bangun jadi pemburu beasiswa, there are still other unforgettable moments of 2012.
Tahun ini, bareng-bareng sama (banyak) temen di kantor, pada jadiiii....pengawas UAN. Mhuahahahaha... Kita dapet di Kabupaten Balangan. Jadi aja rombongan beberapa mobil gitu. It was fun, really. Apalagi sempet maen ke Tanjung, dimana bapak saya pernah ditugaskan untuk dinas disana dari tahun 94-97. Yeah, it was so long ago. 

Masih dalam rangka urusan kantor, saya ikut mendampingi mahasiswa untuk mengikuti PIMNAS di UMY, Yogyakarta. Wuuuhuuuu! Jogja! Iya, tahun lalu juga dapat kesempatan kesana, tahun ini Alhamdulillah dapet rezeki lagi untuk bisa kesana. Thanks buat Pak Sunardi yang lagi baik hati memperjuangkan saya supaya bisa ikut nyelip di antara rombongan ya Pak :D. Dan bukan cuma di Jogja nya sih, tapi acara PIMNAS nya. Tahun 2004 dulu, saya mewakili UGM untuk jadi peserta PIMNAS, waktu itu di STT Telkom. Dan tahun ini kembali ke ajang PIMNAS, bener-bener suatu pengalaman tak terlupakan. Apalagi, beneran deh, rasanya seneng banget liat begitu banyak mahasiswa Indonesia yang kreatif. Ngeliat para peserta dari berbagai universitas yang jadi peserta, bikin saya jadi makin sadar betapa beragamnya Indonesia. 

Another thing that I did in 2012: my holiday trip to Thailand! Yeah! Akhirnya setelah bosen cuma-ngomongnya-doang-dilakuinnya-kapan, saya dan adek saya akhirnya went on a trip to Thailand! 
It was really nice. We visited so many interesting places. Thailand itu wisata budayanya keren, dan buat belanja juga okeeeee... *walopun saya jatuh bangkrut...yang penting puaaaasss :D*. Would love to visit this country again someday. Secara pengen ke Phuket juga kayak Ka Alfi dan Adi =D. 


Thanks to Lely, temen saya yang lagi S2 di Bangkok, the holiday went smoothly. Lely inilah yang mengajak kami yang polos ini kemana-mana, secara cuma dia yang bisa bahasa Thai. *ya iya lah, udah tinggal setahun disana diaaa...*

My sister, Ita, and Lely (kerudung biru)
Di kantor, masih menjadi sekretaris sampai 31 Oktober kemaren, sesuai dengan SK pengangkatan tahun lalu. Dengan penuh semangat mengajukan usulan resign dengan alasan mau ngelanjutin sekolah. Tapi tetep aja, pas pemungutan suara untuk pemilihan Sekretaris nama saya tetep aja muncul sebagai satu di antara dua calon. Dari 13 suara yang masuk, Rosy akhirnya terpilih jadi Sekretaris dengan 7 suara, di atas saya yang entah kenapa dapet 6 suara *entah siapa yang milih saya...*. Anyway, PS Kimia sekarang berada di bawah komando Pak Rodiansono (who just successfully finished his doctoral degree from Chiba university in Japan :D) sebagai Ketua Prodi. Yeah! Dari dulu memang sudah respek banget sama Bapak yang satu ini. Cerdas, tegas, dan punya integritas tinggi. I’m sure that with his leadership, PS Kimia akan jadi semakin maju :D.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, yang mana saya sampai mental break-down segala, saya semakin belajar untuk let it flow. Mengingat-ingat kata-kata adek saya: “Kerjaan itu sih, gimana caranya deh biar dibikin enak aja. Yang bikin kerjaan jadi susah seringkali kita sendiri kok...”. Iya. Bener. Apalagi, tahun ini Tuhan menunjukkan kepada saya, bahwa whining about your job irritates other people. There’s no point in complaining. So I try my best not to complain :). Selalu ada silver lining dalam segala sesuatu, and I’ll try to find it. Toh, saya selalu merasa bersyukur dengan pekerjaan yang saya punya saat ini. Karena pekerjaan saya saat ini selalu memberi saya kesempatan untuk terus belajar, untuk tetap mencari pengalaman baru.

Tahun 2012 ini, saya punyaaaaa.... idola baru! Nyahahahaha...

Febri Yoga SR, 
Jeng jeeeenggg... si Pria Tegal penuh pesona :). Thanks to Indonesian Idol 2012 *yang entah udah season keberapa, I kinda lost track*, saya jadi bisa menikmati bahwa ada orang semacam ini yang kalo udahnyanyi suaranya berasa kayak arus Bengawan Solo. Dan waktu dia tereliminasi di lima besar, sayapun nangis senorak-noraknya :”).


David Silva, celebrated his first goal at the final of EURO 2012


Tahun 2012 ini, terpuaskan dengan berbagai event olahraga. Apalagi para jagoan saya menang :D. Anyway, tentu saja paling puas dengan EURO 2012, where those Spaniards, a bunch of gorgeous men, won the trophy! 

Gak sia-sia deh rasanya mengalami penurunan jam tidur secara signifikan selama hampir satu bulan. I literally screamed out when David Silva scored the first goal in the final. And then Jordi Alba made another one. And when the final whistle was blown, I danced around the room. A 4-0 victory over Italy was surely something to celebrate. 

Tentu saja, salah satu momen paling berkesan adalah waktu para keluarga pemain Spanyol pada turun ke lapangan. Ya ampuuunnn... itu para anak pemain itu begitu lucu dan imut dan adorable bangeeeettt! Oh, more cuteness and sweetness and adorable moments can be found here.
How adorable :")

A little note about this, saya seperti biasa dengan keratu-dramaan saya menjadi salah-satu bulan-bulanan soal jalannya kompetisi. Pak Totok sampe komentar: “Pokoknya yang saya dukung itu tim mananpun yang TIDAK didukung Bu Utami deh” *lempar cobek*. Dan tentu saja, Pak Sunardi udah dengan penuh keyakinan bilang bahwa Italy will win the trophy. Ha!
15 minutes after the final whistle, I text him a message: “4-0. Dududududu...~~” *ketawa puas sambil kacak pinggang*.

Secara di awal tahun 2012 sudah bertebaran gosip bahwa Iker Casillas will tie the knot with Sara Carbonero, jadilah saya memutuskan diri untuk mendoakan yang terbaik saja bagi mereka :”). Dan memilih untuk pindah fokus ke si unyu yang satu ini:
Alert! Over-loaded of cuteness *_*
Tahun 2011, I managed to read more than 100 books. Tahun ini, saya cuma berhasil membaca 72 buku. Ouch. And as usual, at the end of the year, saya masih punya belasan buku yang masih bersegel plastik tanpa sempat dibaca. As usual, I will write another posting about the reading thing.

Di awal 2012, saya menargetkan diri untuk menulis at least 2 cerpen. Sampai dengan Oktober, niat itu terkubur di bawah timbunan debu. Saya sampe heran sendiri. Entah kemana filing saya untuk menulis. Sometimes I browsed through the stories that i have written, dan bertanya-tanya. “Ya ampun, ini beneran gua yang nulis ya?”

Dan tiba-tiba saja, di bulan November, I found the reason. To write again. In a very different way than what I used to do. Memang sih, masih ada kemiripan dengan yang dulu saya tulis. But somehow, me myself found it tobe...different... Dan tiba-tiba saja, in just about 6 weeks, I managed to write 2 stories and 6 one-shots. Ahahahaha... Okay, kalo emang sempet dan niat, I’ll have another posting about this.

And yeah, so it’s near the end. As I have told you, 2012 has been quite a year. One thing for sure, say amerasa banyak sekali berkah yang saya peroleh dari Alloh SWT di tahun ini. Banyak hal yang terjadi yang menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Tuhan pada saya. Tahun ini saya betul-betul merasakan, betapa doa orang tua dan keluarga, dukungan keluaga dan teman-teman merupakan anugerah yang sangat berharga.

I experienced a  lot of things., And most importantly, I learned a lot.

So, farewell, 2012. And thank you so much, for everything :).

Minggu, 23 Desember 2012

Me Being A Scholarship Hunter (3) - Another Interview


Yeah! The next one in this series *beuh, berasa kayak sinetron atau apa gitu ya...*. Anyway, really, ini masih lanjutan dari cerita-cerita soal saya yang mencari jalan untuk jalan-jalan gratis ke luar negri dengan kedok tugas belajar jadi pemburu beasiswa.

Sekitar satu minggu setelah saya mendapatkan hasil beasiswa Fulbright Presidential, saya udah dapet imel aja soal jadwal GRE. Dan tentu saja, langsung setres dot kom. GRE itu kan Tes Potensi Akademik versi Amerika. Lah, yang TPA Indonesia aja saya gak pernah tes, ini udah harus tes begituan. Udah pengen loncat ke kompor meledak aja rasanya.

Aaanyway... Seminggu sebelum tes, tiba-tiba saja Mbak Tia dari AMINEF nelfon saya.
Mbak, GRE dan iBT-nya Mbak kamimundurkan jadwalnya ya, soalnya tanggal 17-18 itu Mbak dijadwalkan untuk wawancara DIKTI-Fulbright.”
Saya langsung iya..iya aja, karena pas nerima telfon cuma mikir, Alhamdulillah, dapet tambahan waktu untuk mempersiapkan GRE.

Pas nutup telfon, 15 menit kemudian, baru saya nyadar. Eh, apa? Wawancara? Saya langsung tepok jidat. Iya ya, saya kan daftar AMINEF untuk dua scheme, Satu yang Presidential, satulagi yang kerjasama AMINEF sama pihak DIKTI. Yang tadinya lega malah jadi panik lagi. Tingkat kepanikan saya naik jadi setengah oktaf lagi begitu liat pengumuman di website DIKTI. Lah, kok ada lagi syarat administrasi yang harus saya penuhi yaaa? Mesti nyiapin surat izin Rektor lah, mesti ada LoA dari universitas lah. Ini aaaappppppaaaa? Mana jadwal wawancaranya juga gak jelas. Cuma disebutkan bahwa wawancaranya tanggal 18-19, tapi gak ada penjelasan saya dapet yang hari pertama apa hari kedua. 

Untunglah, 2 hari kemudian, datang imel dari pihak AMINEF, dengan jadwal wawancara yang lebih rinci. Tapi isi imel itu agak kontradiktif sama pengumuman yang ada di website DIKTI sih, karena kalo imel dari pihak AMINEF menyebutkan bahwa saya tidak perlu membawa berkas apa-apa lagi. Oh well, sepertinya karena memang di DIKTI ada banyak program beasiswa dan yang mengurusi cuma 8 orang, jadilah pengumuman DIKTI yang ditaruh di website cuma copy-paste dari pengumuman yang lain. Itu dugaan saya siiihhh...

Anyway, dengan tiket yang dikirimkan oleh pihak AMINEF, berangkatlah saya. Kali ini wawancaranya di kantor DIKTI, yang di sebelah Ratu Plaza ituuu. Dijadwalkan wawancara jam 09.30, saya utuk-utuk udah nongol di sana jam 08.00 lewat dikit. Udah ada Mas-mas yang lagi nungguin. Berkenalan lah kami. Si Mas *tadinya sih saya manggilnya Bapak, tapi lama kelamaan dia protes karena dia bilang dia masih muda -_-*. Ternyata Mas MAde itu dosen Udayana. Ih, orangnya...gokil XD. Kita ngobrolnya yang hereuy gitu. Dan ternyata nasib kami sama. Dia juga sebenernya alternate candidate untuk Fulbright Presidential. Lama kelamaan, mulai muncullah kandidat lain yang juga akan diwawancara. Selain itu, juga, ada bule-bule yang datang yang langsung kami tuduh sebagai pewawancara kami. Nah, kebetulan wawancara hari itu sekalian untuk program Master dan Ph.D. Jadi duduknya juga dibagi 2. Yang program Master di pojok kanan, kami dipojok kiri. Kami terharu melihat rombongan para kandidat Master itu dari tempat kami menunggu, Mereka terlihat begitu smart dan serius dan begitu kalem. Sementara kami malah ribut sendiri entah ngomongin apa. Ahahahaha... Apalagi kebetulan ada Mbak Nurhay, temen saya waktu di Monash dulu *yang ternyata adalah instrukturnya Mas Made waktu dia training IELTS di Malang* ikut muncul, karena pas dia lagi ada urusan di DIKTI. Jadilah para kandidat yang mau wawancara untuk program PhD. malah pada ngobrol dengan riuh rendah.

Jam 09.00, pintu terbuka, dan Mas Made dipanggil masuk. Mulailah kami deg-deg jeder.

Sekitar setengah jam kemudian, Mas Made keluar, sambil geleng-geleng kepala. Okay, not a good sign. “Gila, lebih susah daripada yang pres...” katanya. Tentu saja, bikin saya tambah pengen nelen pedang. Belum sempat saya minta contekan lebih lanjut, pintu udah dibuka lagi, dan saya dipanggil masuk.

Begitu masuk, saya pengen muntah. Waktu wawancara yang Presidential dulu, wawancaranya di ruangan kecil gitu. Tapi ini, saya masuk ke semacam aula, dengan sebuah meja panjang di tengah ruangan. Ada 4 orang pewawancara yang sudah menunggu saya disitu dan Pak Piet yang mewakili AMINEF di pojok kanan. Untung langsung disuruh duduk. Secara saya rasanya udah lemes banget.
Short introductions with the interviewer, ada dua orang bule, dan dua orang dari DIKTI.
Pertanyaan pertama datang dari Prof. Tarkus yang mewakili DIKTI.

Pertanyaannya... “So, do you know a thing or two about philosophy? Tell us what you know about it...”

Saya bengong. Apa? Filosofi? Geez, I can’t even manage to finish reading Sophie’s World!!! Sambil sedikit mengerutkan kening *dan berharap I look smart* saya jawab. “Well, I know some of the philosophers... But I prefer the philosophy in some sort of a lighter way. My favourite one would be the philosophy coming from my favorite book: The Alchemist by Paulo Coelho”. Iya, saya waktu ngomong berusaha biasa aja. Padahal dalam hati saya panik sendiri. Sang Alkemis itu bisa dikategorikan buku filosofi gak siiiiihhh???

That was the first question. The next questions...jauh lebih membunuh.

“I can’t really have a grip of your research proposal. What is your hypothesis, actually?”

“No, you’re doing it a wrong way. It should be like this...”

“What is the real thing that you would do? Coming home with a Ph.D title is a thing, but to actually do something with it is more important. So, what are your plans?”

“You’re planning to do environmental sciences, right? What is the most important aspect of the environment that interest you?”

“According to you, what is the biggest environmental threat that Indonesia is facing now?”

“I have to disagree with you. Scientist should think like this....”

“Do you think that scientist can be a leader in the community?”

“You said that there is a misconception of how the environment is being managed. What is it, exactly?”

“Your research proposal is too broad. Explain to us how you would narrow it down...”

“No. You will not be able to use that kind of way to carry out this kind of research. Otherwise, your data will be impossible to be interpreted.”

All those questions yang membuat saya megap-megap, memutar otak dalam waktu sepersekian detik untuk just to helplessly search for some answer. Forget brilliant answer. I struggled so hard just to answer it. 

Tapi tentu saja, pertanyaan yang paling pengen membuat saya loncat dari Statue of Liberty adalah...

“What I am most concerned about your research proposal is, it’s not a Ph.D level. It’s barely even a Master level kind of research.”

Hening sesaat. Pengen nangis. Pengen teriak. But for God’s sake, I am in the middle of an interview!!!

So I just shrugged my shoulders, forced a smile, and said. “That’s exactly why I need advisor and supervisor in doing it”

Oh well, toh ada satu jawaban saya yang gak tau kenapa, I felt pretty proud of.

They asked me, “It’s a tough one, doing a Ph.D. You’re going to go through some hard times. Are you ready?”

I took a long breathe before I answer. “Well, I am a dreamer. It has always been one of my dreams, studying abroad. And more than just being a dreamer, I am also a fighter. I am a fighter, who is fighting for my dreams, and eventually, I will be a winner. I know I will.

Finally, FINALLY, saya diminta untuk keluar. Begitu nyampe keluar, saya langsung pengen nyari jendela terdekat, so I could just jump out of it. That’s  how stressed I was about the interview. Haha.

And so, that was my interview. I did not expect much, really, considering that I found the questions was quite hard for me.

Anyway, I’ll write more about my path of being a scholarship hunter in my next posting. For now, Ami, over and out!

Sabtu, 29 Desember 2012

2012, What A Year :)


Yuhuuuu! Jadi, setahun sudah datang dan pergi lagi. How was your year? Well, for me, 2012 has been quite a year. A roller coaster of life.
Where should I start?

Let me start with me being a scholarship hunter. Tahun ini, karena udah diniatin banget dari tahun kemaren, saya berburu beasiswa. Apalagi tahun ini dua lagi staf dosen Kimia yang sukses pulang membawa gelar S3. Dan dua orang teman saya, Ka Alfi dan Adi, berhasil meraih cita-cita mereka: doing a Ph.D degree in The Netherlands. So I started by contacting Christian, my thesis supervisor when I did my master degree to ask for a recommendation letter. I’ve browsed websites of universities, looked for potential supervisors, wrote a research proposal for my Ph.D, downloaded application forms and filled them in, took another TOEFL Test. Stuffs. And I ended up sending 5 scholarship applications. Nyaris 6 sih, tapi yang ke NZ salah baca tanggal deadline. Bego banget deh rasanya saya ini *getok kepala sendiri*. Yang ADS, I did not even make it to be a short-listed candidate. So apparently, God has a much better plan for me :). Once again, saya bersyukur banget punya orang tua dan saudara yang tidak henti-hentinya mendukung dan mendoakan saya. Punya teman-teman yang dengan tangan terbuka selalu siap menolong saya. I’ve already written some postings about this scholarship hunting, here and here and here.
Jadi sepertinya paruh pertama tahun 2012 ini, kerjaan saya adalah berburu beasiswa. Nyahahaha..

Selain jatuh-bangun jadi pemburu beasiswa, there are still other unforgettable moments of 2012.
Tahun ini, bareng-bareng sama (banyak) temen di kantor, pada jadiiii....pengawas UAN. Mhuahahahaha... Kita dapet di Kabupaten Balangan. Jadi aja rombongan beberapa mobil gitu. It was fun, really. Apalagi sempet maen ke Tanjung, dimana bapak saya pernah ditugaskan untuk dinas disana dari tahun 94-97. Yeah, it was so long ago. 

Masih dalam rangka urusan kantor, saya ikut mendampingi mahasiswa untuk mengikuti PIMNAS di UMY, Yogyakarta. Wuuuhuuuu! Jogja! Iya, tahun lalu juga dapat kesempatan kesana, tahun ini Alhamdulillah dapet rezeki lagi untuk bisa kesana. Thanks buat Pak Sunardi yang lagi baik hati memperjuangkan saya supaya bisa ikut nyelip di antara rombongan ya Pak :D. Dan bukan cuma di Jogja nya sih, tapi acara PIMNAS nya. Tahun 2004 dulu, saya mewakili UGM untuk jadi peserta PIMNAS, waktu itu di STT Telkom. Dan tahun ini kembali ke ajang PIMNAS, bener-bener suatu pengalaman tak terlupakan. Apalagi, beneran deh, rasanya seneng banget liat begitu banyak mahasiswa Indonesia yang kreatif. Ngeliat para peserta dari berbagai universitas yang jadi peserta, bikin saya jadi makin sadar betapa beragamnya Indonesia. 

Another thing that I did in 2012: my holiday trip to Thailand! Yeah! Akhirnya setelah bosen cuma-ngomongnya-doang-dilakuinnya-kapan, saya dan adek saya akhirnya went on a trip to Thailand! 
It was really nice. We visited so many interesting places. Thailand itu wisata budayanya keren, dan buat belanja juga okeeeee... *walopun saya jatuh bangkrut...yang penting puaaaasss :D*. Would love to visit this country again someday. Secara pengen ke Phuket juga kayak Ka Alfi dan Adi =D. 


Thanks to Lely, temen saya yang lagi S2 di Bangkok, the holiday went smoothly. Lely inilah yang mengajak kami yang polos ini kemana-mana, secara cuma dia yang bisa bahasa Thai. *ya iya lah, udah tinggal setahun disana diaaa...*

My sister, Ita, and Lely (kerudung biru)
Di kantor, masih menjadi sekretaris sampai 31 Oktober kemaren, sesuai dengan SK pengangkatan tahun lalu. Dengan penuh semangat mengajukan usulan resign dengan alasan mau ngelanjutin sekolah. Tapi tetep aja, pas pemungutan suara untuk pemilihan Sekretaris nama saya tetep aja muncul sebagai satu di antara dua calon. Dari 13 suara yang masuk, Rosy akhirnya terpilih jadi Sekretaris dengan 7 suara, di atas saya yang entah kenapa dapet 6 suara *entah siapa yang milih saya...*. Anyway, PS Kimia sekarang berada di bawah komando Pak Rodiansono (who just successfully finished his doctoral degree from Chiba university in Japan :D) sebagai Ketua Prodi. Yeah! Dari dulu memang sudah respek banget sama Bapak yang satu ini. Cerdas, tegas, dan punya integritas tinggi. I’m sure that with his leadership, PS Kimia akan jadi semakin maju :D.

Belajar dari pengalaman tahun lalu, yang mana saya sampai mental break-down segala, saya semakin belajar untuk let it flow. Mengingat-ingat kata-kata adek saya: “Kerjaan itu sih, gimana caranya deh biar dibikin enak aja. Yang bikin kerjaan jadi susah seringkali kita sendiri kok...”. Iya. Bener. Apalagi, tahun ini Tuhan menunjukkan kepada saya, bahwa whining about your job irritates other people. There’s no point in complaining. So I try my best not to complain :). Selalu ada silver lining dalam segala sesuatu, and I’ll try to find it. Toh, saya selalu merasa bersyukur dengan pekerjaan yang saya punya saat ini. Karena pekerjaan saya saat ini selalu memberi saya kesempatan untuk terus belajar, untuk tetap mencari pengalaman baru.

Tahun 2012 ini, saya punyaaaaa.... idola baru! Nyahahahaha...

Febri Yoga SR, 
Jeng jeeeenggg... si Pria Tegal penuh pesona :). Thanks to Indonesian Idol 2012 *yang entah udah season keberapa, I kinda lost track*, saya jadi bisa menikmati bahwa ada orang semacam ini yang kalo udahnyanyi suaranya berasa kayak arus Bengawan Solo. Dan waktu dia tereliminasi di lima besar, sayapun nangis senorak-noraknya :”).


David Silva, celebrated his first goal at the final of EURO 2012


Tahun 2012 ini, terpuaskan dengan berbagai event olahraga. Apalagi para jagoan saya menang :D. Anyway, tentu saja paling puas dengan EURO 2012, where those Spaniards, a bunch of gorgeous men, won the trophy! 

Gak sia-sia deh rasanya mengalami penurunan jam tidur secara signifikan selama hampir satu bulan. I literally screamed out when David Silva scored the first goal in the final. And then Jordi Alba made another one. And when the final whistle was blown, I danced around the room. A 4-0 victory over Italy was surely something to celebrate. 

Tentu saja, salah satu momen paling berkesan adalah waktu para keluarga pemain Spanyol pada turun ke lapangan. Ya ampuuunnn... itu para anak pemain itu begitu lucu dan imut dan adorable bangeeeettt! Oh, more cuteness and sweetness and adorable moments can be found here.
How adorable :")

A little note about this, saya seperti biasa dengan keratu-dramaan saya menjadi salah-satu bulan-bulanan soal jalannya kompetisi. Pak Totok sampe komentar: “Pokoknya yang saya dukung itu tim mananpun yang TIDAK didukung Bu Utami deh” *lempar cobek*. Dan tentu saja, Pak Sunardi udah dengan penuh keyakinan bilang bahwa Italy will win the trophy. Ha!
15 minutes after the final whistle, I text him a message: “4-0. Dududududu...~~” *ketawa puas sambil kacak pinggang*.

Secara di awal tahun 2012 sudah bertebaran gosip bahwa Iker Casillas will tie the knot with Sara Carbonero, jadilah saya memutuskan diri untuk mendoakan yang terbaik saja bagi mereka :”). Dan memilih untuk pindah fokus ke si unyu yang satu ini:
Alert! Over-loaded of cuteness *_*
Tahun 2011, I managed to read more than 100 books. Tahun ini, saya cuma berhasil membaca 72 buku. Ouch. And as usual, at the end of the year, saya masih punya belasan buku yang masih bersegel plastik tanpa sempat dibaca. As usual, I will write another posting about the reading thing.

Di awal 2012, saya menargetkan diri untuk menulis at least 2 cerpen. Sampai dengan Oktober, niat itu terkubur di bawah timbunan debu. Saya sampe heran sendiri. Entah kemana filing saya untuk menulis. Sometimes I browsed through the stories that i have written, dan bertanya-tanya. “Ya ampun, ini beneran gua yang nulis ya?”

Dan tiba-tiba saja, di bulan November, I found the reason. To write again. In a very different way than what I used to do. Memang sih, masih ada kemiripan dengan yang dulu saya tulis. But somehow, me myself found it tobe...different... Dan tiba-tiba saja, in just about 6 weeks, I managed to write 2 stories and 6 one-shots. Ahahahaha... Okay, kalo emang sempet dan niat, I’ll have another posting about this.

And yeah, so it’s near the end. As I have told you, 2012 has been quite a year. One thing for sure, say amerasa banyak sekali berkah yang saya peroleh dari Alloh SWT di tahun ini. Banyak hal yang terjadi yang menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Tuhan pada saya. Tahun ini saya betul-betul merasakan, betapa doa orang tua dan keluarga, dukungan keluaga dan teman-teman merupakan anugerah yang sangat berharga.

I experienced a  lot of things., And most importantly, I learned a lot.

So, farewell, 2012. And thank you so much, for everything :).

Minggu, 23 Desember 2012

Me Being A Scholarship Hunter (3) - Another Interview


Yeah! The next one in this series *beuh, berasa kayak sinetron atau apa gitu ya...*. Anyway, really, ini masih lanjutan dari cerita-cerita soal saya yang mencari jalan untuk jalan-jalan gratis ke luar negri dengan kedok tugas belajar jadi pemburu beasiswa.

Sekitar satu minggu setelah saya mendapatkan hasil beasiswa Fulbright Presidential, saya udah dapet imel aja soal jadwal GRE. Dan tentu saja, langsung setres dot kom. GRE itu kan Tes Potensi Akademik versi Amerika. Lah, yang TPA Indonesia aja saya gak pernah tes, ini udah harus tes begituan. Udah pengen loncat ke kompor meledak aja rasanya.

Aaanyway... Seminggu sebelum tes, tiba-tiba saja Mbak Tia dari AMINEF nelfon saya.
Mbak, GRE dan iBT-nya Mbak kamimundurkan jadwalnya ya, soalnya tanggal 17-18 itu Mbak dijadwalkan untuk wawancara DIKTI-Fulbright.”
Saya langsung iya..iya aja, karena pas nerima telfon cuma mikir, Alhamdulillah, dapet tambahan waktu untuk mempersiapkan GRE.

Pas nutup telfon, 15 menit kemudian, baru saya nyadar. Eh, apa? Wawancara? Saya langsung tepok jidat. Iya ya, saya kan daftar AMINEF untuk dua scheme, Satu yang Presidential, satulagi yang kerjasama AMINEF sama pihak DIKTI. Yang tadinya lega malah jadi panik lagi. Tingkat kepanikan saya naik jadi setengah oktaf lagi begitu liat pengumuman di website DIKTI. Lah, kok ada lagi syarat administrasi yang harus saya penuhi yaaa? Mesti nyiapin surat izin Rektor lah, mesti ada LoA dari universitas lah. Ini aaaappppppaaaa? Mana jadwal wawancaranya juga gak jelas. Cuma disebutkan bahwa wawancaranya tanggal 18-19, tapi gak ada penjelasan saya dapet yang hari pertama apa hari kedua. 

Untunglah, 2 hari kemudian, datang imel dari pihak AMINEF, dengan jadwal wawancara yang lebih rinci. Tapi isi imel itu agak kontradiktif sama pengumuman yang ada di website DIKTI sih, karena kalo imel dari pihak AMINEF menyebutkan bahwa saya tidak perlu membawa berkas apa-apa lagi. Oh well, sepertinya karena memang di DIKTI ada banyak program beasiswa dan yang mengurusi cuma 8 orang, jadilah pengumuman DIKTI yang ditaruh di website cuma copy-paste dari pengumuman yang lain. Itu dugaan saya siiihhh...

Anyway, dengan tiket yang dikirimkan oleh pihak AMINEF, berangkatlah saya. Kali ini wawancaranya di kantor DIKTI, yang di sebelah Ratu Plaza ituuu. Dijadwalkan wawancara jam 09.30, saya utuk-utuk udah nongol di sana jam 08.00 lewat dikit. Udah ada Mas-mas yang lagi nungguin. Berkenalan lah kami. Si Mas *tadinya sih saya manggilnya Bapak, tapi lama kelamaan dia protes karena dia bilang dia masih muda -_-*. Ternyata Mas MAde itu dosen Udayana. Ih, orangnya...gokil XD. Kita ngobrolnya yang hereuy gitu. Dan ternyata nasib kami sama. Dia juga sebenernya alternate candidate untuk Fulbright Presidential. Lama kelamaan, mulai muncullah kandidat lain yang juga akan diwawancara. Selain itu, juga, ada bule-bule yang datang yang langsung kami tuduh sebagai pewawancara kami. Nah, kebetulan wawancara hari itu sekalian untuk program Master dan Ph.D. Jadi duduknya juga dibagi 2. Yang program Master di pojok kanan, kami dipojok kiri. Kami terharu melihat rombongan para kandidat Master itu dari tempat kami menunggu, Mereka terlihat begitu smart dan serius dan begitu kalem. Sementara kami malah ribut sendiri entah ngomongin apa. Ahahahaha... Apalagi kebetulan ada Mbak Nurhay, temen saya waktu di Monash dulu *yang ternyata adalah instrukturnya Mas Made waktu dia training IELTS di Malang* ikut muncul, karena pas dia lagi ada urusan di DIKTI. Jadilah para kandidat yang mau wawancara untuk program PhD. malah pada ngobrol dengan riuh rendah.

Jam 09.00, pintu terbuka, dan Mas Made dipanggil masuk. Mulailah kami deg-deg jeder.

Sekitar setengah jam kemudian, Mas Made keluar, sambil geleng-geleng kepala. Okay, not a good sign. “Gila, lebih susah daripada yang pres...” katanya. Tentu saja, bikin saya tambah pengen nelen pedang. Belum sempat saya minta contekan lebih lanjut, pintu udah dibuka lagi, dan saya dipanggil masuk.

Begitu masuk, saya pengen muntah. Waktu wawancara yang Presidential dulu, wawancaranya di ruangan kecil gitu. Tapi ini, saya masuk ke semacam aula, dengan sebuah meja panjang di tengah ruangan. Ada 4 orang pewawancara yang sudah menunggu saya disitu dan Pak Piet yang mewakili AMINEF di pojok kanan. Untung langsung disuruh duduk. Secara saya rasanya udah lemes banget.
Short introductions with the interviewer, ada dua orang bule, dan dua orang dari DIKTI.
Pertanyaan pertama datang dari Prof. Tarkus yang mewakili DIKTI.

Pertanyaannya... “So, do you know a thing or two about philosophy? Tell us what you know about it...”

Saya bengong. Apa? Filosofi? Geez, I can’t even manage to finish reading Sophie’s World!!! Sambil sedikit mengerutkan kening *dan berharap I look smart* saya jawab. “Well, I know some of the philosophers... But I prefer the philosophy in some sort of a lighter way. My favourite one would be the philosophy coming from my favorite book: The Alchemist by Paulo Coelho”. Iya, saya waktu ngomong berusaha biasa aja. Padahal dalam hati saya panik sendiri. Sang Alkemis itu bisa dikategorikan buku filosofi gak siiiiihhh???

That was the first question. The next questions...jauh lebih membunuh.

“I can’t really have a grip of your research proposal. What is your hypothesis, actually?”

“No, you’re doing it a wrong way. It should be like this...”

“What is the real thing that you would do? Coming home with a Ph.D title is a thing, but to actually do something with it is more important. So, what are your plans?”

“You’re planning to do environmental sciences, right? What is the most important aspect of the environment that interest you?”

“According to you, what is the biggest environmental threat that Indonesia is facing now?”

“I have to disagree with you. Scientist should think like this....”

“Do you think that scientist can be a leader in the community?”

“You said that there is a misconception of how the environment is being managed. What is it, exactly?”

“Your research proposal is too broad. Explain to us how you would narrow it down...”

“No. You will not be able to use that kind of way to carry out this kind of research. Otherwise, your data will be impossible to be interpreted.”

All those questions yang membuat saya megap-megap, memutar otak dalam waktu sepersekian detik untuk just to helplessly search for some answer. Forget brilliant answer. I struggled so hard just to answer it. 

Tapi tentu saja, pertanyaan yang paling pengen membuat saya loncat dari Statue of Liberty adalah...

“What I am most concerned about your research proposal is, it’s not a Ph.D level. It’s barely even a Master level kind of research.”

Hening sesaat. Pengen nangis. Pengen teriak. But for God’s sake, I am in the middle of an interview!!!

So I just shrugged my shoulders, forced a smile, and said. “That’s exactly why I need advisor and supervisor in doing it”

Oh well, toh ada satu jawaban saya yang gak tau kenapa, I felt pretty proud of.

They asked me, “It’s a tough one, doing a Ph.D. You’re going to go through some hard times. Are you ready?”

I took a long breathe before I answer. “Well, I am a dreamer. It has always been one of my dreams, studying abroad. And more than just being a dreamer, I am also a fighter. I am a fighter, who is fighting for my dreams, and eventually, I will be a winner. I know I will.

Finally, FINALLY, saya diminta untuk keluar. Begitu nyampe keluar, saya langsung pengen nyari jendela terdekat, so I could just jump out of it. That’s  how stressed I was about the interview. Haha.

And so, that was my interview. I did not expect much, really, considering that I found the questions was quite hard for me.

Anyway, I’ll write more about my path of being a scholarship hunter in my next posting. For now, Ami, over and out!