Sabtu, 10 April 2010

Sorry, but It’s NOT About You

Heuu… Saya gatel banget buat nulis soal ini, walopun sifatnya curhat colongan.

Seperti biasa, Sabtu siang saya diisi dengan menonton Idola Cilik 3 yang sudah masuk 3 Besar. Walopun gairah saya (eleuh…) jadi jauuuuh berkurangbuat nonton IC semenjak Ozy yang memiliki senyuman bagai malaikat itu tinggal kelas di 5 besar, toh masih ada Rio, jagoan saya yang satunya. Dan tentu saja, masih ada Om DUTA. Orang yang semenjak saya kelas 3 SMA saya nobatkan sebagai manusia paling ganteng se Nusantara jaya raya.

Salah satu bintang tamu yang muncul itu keren banget. Dia maen musik pake sisir. Entah gimana caranya. Keren deh. Lalu, si Duta disuruh nyanyi, dengan si bintang tamu itu mengiringinya dengan sisir ajaibnya itu. Dan tahukah Anda, lagu apa yang dinyanyikan Duta? Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Telak banget. Karena lembaran kenangan yang ada di benak saya langsung membuka tanpa diminta. Tentang saat-saat itu. Saat dimana seseorang pernah menjadi Anugerah Terindah dalam hidup saya.

Kalau mau jujur, alasan saya menyukai Sheila On 7 sebenernya jauh lebih dalem daripada sekedar alasan standar. Jadi, kenapa saya suka Sheila On 7? Lagu mereka cocok dengan selera saya. Personilnya asyik-asyik. Vokalisnya ganteng abis. Tapi, SO7 juga membawa kenangan. Tentang seseorang yang pada tahun 1999, dateng siang-siang ke rumah saya, dan dengan wajah cuek, menyodorkan album pertama SO7 untuk saya. My Incognito.

Itulah. SO7 selalu membawa kenangan bagi saya, tentang seseorang yang tidak pernah mampu saya gapai. Tapi dialah orang yang juga selalu mengingatkan saya untuk membalik kurva saya when I’m feeling like sliding down to the bottom of my curve. And mind you, seseorang itu sekarang adalah kepala keluarga yang bahagia dengan satu orang istri dan satu orang anak laki-laki yang lucu (his son really has his eyes, I must say). Seseorang yang tidak pernah tahu, betapa saya menyimpan rasa selama belasan tahun.

Maka jangan salahkan saya ketika tiba-tiba saja sudah ada air mata di sudut mata saya. Geez, and I thought I have already let the feeling go.


Dan saya pun dengan lebay-nya menuliskannya di status saya:
dengerin Duta nyanyi Anugerah Yang Terindah, membuka kembali kenangan 11-12 tahun yang lalu...*dan tiba-tiba setitik air mata muncul di sudut mata ini...*

Beberapa komen masuk. Mulai dari yang menyarankan saya untuk menjadikannya sebagai inspirasi cerbung yang baru, sampai yang dengan teganya menuduh saya lebay. Well, iya sih, rada lebay jaya memang :D.

Tapi dong, beberapa menit kemudian, waktu saya mengklik “Home” di papan kontrol itu, pada baris pertama NewsFeed-nya saya, muncullah status baru dari The Pathetic One, aka mantan saya. Saya membacanya, ternganga, lalu tertawa geli.
Karena dia menulis seperti ini:

kenapa harus kukomentari,, bukankah kerudungmu itu telah menjadi bukti, kalaulah engkau memilih imanmu sebagai jalan hidupmu, bukan memilih aku sebagai kekasihmu,,, aku hanya bisa mendoakan, kamu bahagia dalam jalan yang indah jalan Allah, jalan idaman yang teriring oleh berjuta malaikat,,, *sementara aku disini berjalan diiringi sorak sorai klakson metromini dan kopaja*

Anyone who knows the past story about us would definintely get it, that it’s me that he’s talking about.

Dan yang ada di pikiran saya adalah: What? Apa dia pikir status saya tadi untuknya? Untuk DIA? Dia yang sudah sebegitu menghancurkan harapan saya? Yang pernah menyatakan keberatannya atas keinginan saya untuk memakai kerudung, karena dia pikir saya masih perlu banyak belajar agama? You’re SO kidding me! Man, I’m SO over with you. Reality bites, does it?

Excuse me, but it’s not you that crossed my mind when I heard that song. Not even the foggiest image of YOU. Not at all!

Saya jadi tambah yakin, kalau kalimat-kalimat terakhir di posting saya yang pas sebelum ini, bener-bener pas:

He’s not man enough for me. But I know for sure, for him, I am irreplaceable.

Dan oh, satu lagi, di status saya itu saya tulis bahwa kenangan yang saya maksud adalah kenangan 11-12 tahun yang lalu. Yang adalah tahun 98-99, di saat saya dan mantan saya itu ketemu aja belum pernah. Geez, he can not even do a simple math like that…

Perasaan saya sekarang? I’m okay… I’m all okay ^_^ …

2 komentar:

  1. mba habis baca posting ini mengantar saya pada postingan mba yg terdahulu itu.....ckckckck

    benar sekali mba, he’s not man enough for you............

    You go mba! :)

    BalasHapus
  2. oiya, btw, cant wait to read your phenomenal JADOJC.....

    melihat dari komen2 para fans yg berseliweran kayanya keren banget, mba :)

    but i have to make sure something done until i get time to have fun :P

    Wish me luck ya, mba :)

    BalasHapus

Sabtu, 10 April 2010

Sorry, but It’s NOT About You

Heuu… Saya gatel banget buat nulis soal ini, walopun sifatnya curhat colongan.

Seperti biasa, Sabtu siang saya diisi dengan menonton Idola Cilik 3 yang sudah masuk 3 Besar. Walopun gairah saya (eleuh…) jadi jauuuuh berkurangbuat nonton IC semenjak Ozy yang memiliki senyuman bagai malaikat itu tinggal kelas di 5 besar, toh masih ada Rio, jagoan saya yang satunya. Dan tentu saja, masih ada Om DUTA. Orang yang semenjak saya kelas 3 SMA saya nobatkan sebagai manusia paling ganteng se Nusantara jaya raya.

Salah satu bintang tamu yang muncul itu keren banget. Dia maen musik pake sisir. Entah gimana caranya. Keren deh. Lalu, si Duta disuruh nyanyi, dengan si bintang tamu itu mengiringinya dengan sisir ajaibnya itu. Dan tahukah Anda, lagu apa yang dinyanyikan Duta? Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki. Telak banget. Karena lembaran kenangan yang ada di benak saya langsung membuka tanpa diminta. Tentang saat-saat itu. Saat dimana seseorang pernah menjadi Anugerah Terindah dalam hidup saya.

Kalau mau jujur, alasan saya menyukai Sheila On 7 sebenernya jauh lebih dalem daripada sekedar alasan standar. Jadi, kenapa saya suka Sheila On 7? Lagu mereka cocok dengan selera saya. Personilnya asyik-asyik. Vokalisnya ganteng abis. Tapi, SO7 juga membawa kenangan. Tentang seseorang yang pada tahun 1999, dateng siang-siang ke rumah saya, dan dengan wajah cuek, menyodorkan album pertama SO7 untuk saya. My Incognito.

Itulah. SO7 selalu membawa kenangan bagi saya, tentang seseorang yang tidak pernah mampu saya gapai. Tapi dialah orang yang juga selalu mengingatkan saya untuk membalik kurva saya when I’m feeling like sliding down to the bottom of my curve. And mind you, seseorang itu sekarang adalah kepala keluarga yang bahagia dengan satu orang istri dan satu orang anak laki-laki yang lucu (his son really has his eyes, I must say). Seseorang yang tidak pernah tahu, betapa saya menyimpan rasa selama belasan tahun.

Maka jangan salahkan saya ketika tiba-tiba saja sudah ada air mata di sudut mata saya. Geez, and I thought I have already let the feeling go.


Dan saya pun dengan lebay-nya menuliskannya di status saya:
dengerin Duta nyanyi Anugerah Yang Terindah, membuka kembali kenangan 11-12 tahun yang lalu...*dan tiba-tiba setitik air mata muncul di sudut mata ini...*

Beberapa komen masuk. Mulai dari yang menyarankan saya untuk menjadikannya sebagai inspirasi cerbung yang baru, sampai yang dengan teganya menuduh saya lebay. Well, iya sih, rada lebay jaya memang :D.

Tapi dong, beberapa menit kemudian, waktu saya mengklik “Home” di papan kontrol itu, pada baris pertama NewsFeed-nya saya, muncullah status baru dari The Pathetic One, aka mantan saya. Saya membacanya, ternganga, lalu tertawa geli.
Karena dia menulis seperti ini:

kenapa harus kukomentari,, bukankah kerudungmu itu telah menjadi bukti, kalaulah engkau memilih imanmu sebagai jalan hidupmu, bukan memilih aku sebagai kekasihmu,,, aku hanya bisa mendoakan, kamu bahagia dalam jalan yang indah jalan Allah, jalan idaman yang teriring oleh berjuta malaikat,,, *sementara aku disini berjalan diiringi sorak sorai klakson metromini dan kopaja*

Anyone who knows the past story about us would definintely get it, that it’s me that he’s talking about.

Dan yang ada di pikiran saya adalah: What? Apa dia pikir status saya tadi untuknya? Untuk DIA? Dia yang sudah sebegitu menghancurkan harapan saya? Yang pernah menyatakan keberatannya atas keinginan saya untuk memakai kerudung, karena dia pikir saya masih perlu banyak belajar agama? You’re SO kidding me! Man, I’m SO over with you. Reality bites, does it?

Excuse me, but it’s not you that crossed my mind when I heard that song. Not even the foggiest image of YOU. Not at all!

Saya jadi tambah yakin, kalau kalimat-kalimat terakhir di posting saya yang pas sebelum ini, bener-bener pas:

He’s not man enough for me. But I know for sure, for him, I am irreplaceable.

Dan oh, satu lagi, di status saya itu saya tulis bahwa kenangan yang saya maksud adalah kenangan 11-12 tahun yang lalu. Yang adalah tahun 98-99, di saat saya dan mantan saya itu ketemu aja belum pernah. Geez, he can not even do a simple math like that…

Perasaan saya sekarang? I’m okay… I’m all okay ^_^ …

2 komentar:

  1. mba habis baca posting ini mengantar saya pada postingan mba yg terdahulu itu.....ckckckck

    benar sekali mba, he’s not man enough for you............

    You go mba! :)

    BalasHapus
  2. oiya, btw, cant wait to read your phenomenal JADOJC.....

    melihat dari komen2 para fans yg berseliweran kayanya keren banget, mba :)

    but i have to make sure something done until i get time to have fun :P

    Wish me luck ya, mba :)

    BalasHapus