Rabu, 09 Januari 2013

Me Being A Scholarship Hunter (4) - The iBT and GRE Day


Okay, so it’s been a while since I did dome posting about scholarship. Where was I?
Seperti yang sudah saya bilang, euphoria bersuka-ria dapet beasiswa itu sejatinya hanya bertahan antara 12-24 jam saja. Karena setelah lulus seleksi beasiswa, masih banyak tahapan yang harus saya lewati. Salah satunya adalah tes iBT dan GRE. Jadi kan waktu seleksi kemaren itu, salah stau persyaratan kemampuan bahasa Inggris itu lewat sertifikat ITP, yaitu Institutional TOEFL, tapi yang paper-based. Nah, untuk keperluan pendaftaran ke universitas, yang diperlukan sertifikat TOEFL iBT, alias Internet-Based. Oh, dan tentu saja, GRE alias Graduate Record Examination.

Perasaan saya saat tahu harus ikut tes itu? Panik.

Eh, saya dengan absurditas saya, saya suka lho ikut tes TOEFL. Yang ITP ada kali ya saya ikut tesnya itu sampe 5 kali. Lah iBT ini pegimaneee bentuknya?
Dan tentu saja, masih ada GRE sodara-sodaaaarrraaaa!
Yang udah pernah ikut TOEFL-ITP, pasti udah tau dong, kalo tesnya ada 3 section, Listening, Written Expression (yang isinya Grammar dan Structure) sama Reading Comprehension. Ngerjainnya kayak SNMPTN, alias di LJK yang kita bulet-buletin itu.

Kalo iBT, ada 4 section. Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Jeng jeeeenggg… Tiap section skor maksimalnya 30, jadi nilai paling fantastis alias sempurna untuk iBT adalah 120. Terus, karena internet-based, kita ngerjainnya langsung di komputer gitu.

Itu baru iBT. Nah, masih ada GRE nih. Pernah denger TPA alias Tes Potensi Akademik kan? GRE itu ya versi Amerika dari TPA. Ada 2 macam, yaitu GRE General dan GRE Subject. Yang GRE General ada 3 bagian, ada Verbal Reasoning, lalu ada Quantitative Reasoning, sama Analytical Writing. Sejak tahun 2011, format GRE General sedikit dirubah, skala nilainya jadi antara 130 – 170. Untuk analytical writing , scalenya dari 1-6.

Sumpah saya stress abis. Most people prepared for their GRE Test for at least 3 months. Me? Almost 3 weeks. Tapi ya sudahlah. I browsed the net for some practice material. Terus pas liat di milis beasiswa ada yang nawarin buku Kaplan untuk latihan, ya udah saya beli. cuma copy-annya sih, but it really comes in handy. Kalo di Kaplan soalnya bukan cuma latihan soalnya, tapi ada strategi mengerjakannya juga.

Untuk tes GRE dan iBT ini, semuanya ditanggung AMINEF, termasuk untuk transportasi dan akomodasi. Jadi pas menjelang hari H, terkumpullah kami para Fulbright candidate di hotel dalam keadaan ya-udah-deh-ya-pasrah-aja-untuk-GRE. Nyahahahahaha XD.

And so, akhirnya hari itu datang juga. Pas iBT, yang berangkat bareng itu saya, Una, Arjuna, Mas Aji. Sambil menunggu, Mas Aji baca buku iBT yang tebalnya segabruk-gabruk, saya dan Una twitteran, dan Arjuna maen Temple Run. Saya terharu dengan betapa bervariasinya diri kami ini :”).

Pas tesnya, oke. Yang Reading saya masih merasa…oke… I can do this. I can do this. Waktu Listening, mulai agak riweh sendiri. Formatnya tidak jauh beda sih dengan Listening yang ITP, tapi kalo menurut saya, lebih banyak memerlukan kemampuan analisis sih, karena banyak jawaban yang tersirat dan bukan tersurat. Halah. Pas Speaking… Tentu saja kacau balau. Ada 4 pertanyaan. Yang pertama sih kita dikasih satu topic tertentu, dikasih waktu 15 detik untuk mempersiapkan diri, dan 30 detik untuk menjawab. The thing is, kita melakukan semua itu di depan komputer. Berasa kayak orang bego gak sih ngomong sama komputer gitu? Dan karena dalam ruangan ada 20 orang, jadi kebayang dong betapa absurdnya satu ruangan yang isinya orang-orang yang dengan ekspresi panik ngomong ke layar komputer? Pas Writing, ada dua macam task. Yang pertama, selain kita dikasih teks, dan disuruh mendengarkan short passage gitu. Jadi tugasnya menulis semacam simpulan antara written passage yang kita baca sama yang dari kita dengar tadi. Yang kedua, ya analytical writing biasa, jadi argumentative gitu. Kelar iBT, saya langsung laper.

Anyway, akhirnya kami sampai di besok harinya, dimana kami…tes GRE.

TEs GREnya di Menara Imperium. Dan tentu saja, sebagai orang-orang yang paranoid dengan kemacetan, kami sampe di gedung itu waktu orang yang ada baru cleaning servicenya aja. Pas udah mau mulai, kami dikumpulin di koridor menuju ruangan tes. Tapi ternyata jadwal tes kami terpaksa mundur hamper 2 jam, karena kan tesnya online, tapi pas banget server mereka jebol (or something like that).

Waktu akhirnya boleh masuk, sebelum masuk ke ruangan tes, kami diperiksa dulu pake alat detektor logam. Iya. Serius. Gak boleh bawa tas sih biasa ya. Ini lho pake diperiksa detektor logam segala. Gak boleh bawa apapun masuk ke ruangan tes. Pensil dan kertas coretan udah disediain. Dan di tiap sudut ruangan ada kamera CCTV yang memantau pergerakan kami. Saya langsung merasa sedang latihan untuk ikut uji nyali di televisi swasta.

Siap gak siap, tetep harus tes. Jadi sambil baca bismillah berkali-kali, say duduk di depan komputer, mengisi form yang muncul, dan…okay, this is it.

Kalau gak salah, saya mulai dengan writing dulu. Gak tau udah pasrah, gak tau udah sempet bete karena kelamaan nunggu, saya udah whatever aja ngerjainnya. Pas Verbal reasoning….MHUAHAHAHAHAHAHAHA ITU SOAL APA-APAAN SIH YA??? Ngajak becanda banget. Saya pernah bilang gak sih kalo kata-kata yang digunakan dalam GRE ini level dewa? Dewa banget. Dewa-dewa Yunani dan Romawi dan Mesir digabung sekalian *efek kebanyakan baca bukunya Riordan*.

Kalo untuk Verbal Reasoning, tipe soalnya ada yang biasa deh ya, kita disuruh mengisi dengan kata yang sesuai, tapi dari beberapa pilihan yang ada, disuruh 2 kata yang paling tepat. Lalu ada juga satu kalimat, tapi blank-nya ada 2 atau 3 gitu yang harus diisi. Terus juga ada reading comprehension. Reading comprehensionnya beda banget dengan yang TOEFL. Ini seriously betul-betul semacam telaah terhadap teks gitu.

Baru beres dengan Verbal Reasoning, masuklah ke Quantitative Reasoning. Nah, kalo yang ini kan matematika dasar ya. Alhamdulillah karena saya memang suka yang itung-itungan, gak begitu susah ngerjainnya. Paling cuma pas geometri aja yang agak sedikit bingung. Karena ya kemampuan analisis ruang saya emang jelek sih. Tapi yang aljabar sama aritmetikanya lumayan gampang kok. Trus lalu ada lagi section writing. Udah stress juga, saya juga yang penting ada yang ditulis. Kalo gak salah dapet topiknya soal apakah mahasiswa boleh mengambil mata kuliah pilihan di luar jurusan yang dia tempuh. Terus, balik lagi ke Verbal Reasoning. Ajaibnya, di section kedua dari Verbal Reasoning ini, soalnya lebih…ringan. Serius. Saya aja ngerasa agak heran sendiri kok. Masih susah sih, tapi paling gak gak bikin pengen gantung diri kayak section pertama. Trus tentu saja, section kedua dari Quantitative Reasoning. Nah, ini malah kebalikannya. Section kedua ini lebih susah. Saya jadi panik sendiri. Gak tau kenapa, soal statistikanya jadi lebih rumit dari section pertama sebelumnya, dan aritmetikanya lebih sulit. INI APA MAKSUDNYAAAA???
Saya selesai TIGA DETIK sebelum waktunya habis. Kurang canggih gimana lagi coba ya.

Dan nilainya langsung keluar saat itu juga. Iya, di antara sekian banyak tes standar yang saya pernah ikut, kayaknya cuma GRE General ini saja yang hasil tesnya keluar langsung *kecuali untuk yang Analytical Writing sih*.

Dalam keadaan masih migren dan disoriented habis ngerjain soal-soal itu, saya bengong aja liat nilai saya

Verbal Reasoning: 155
Quantitative Reasoning: 156

Sumpah, waktu itu saya gak tau nilai segitu itu bagus apa enggak. Jadi ya udah masih pasrah aja.
Keluar dengan langkah gontai, saya lalu duduk aja di deretan bangku di ruang tunggu.Temen-temen seperjuangan saya masih belum pada selesai. Daripada terus-terusan bengong, udah aja saya iseng ngecek imel.

Dan salah satu imel bikin saya langsung nangis.

Imel dari AMINEF. Isinya, saya lulus sebagai principle candidate untuk DIKTI-Fulbright.

Alhamdulillah… Alhamdulillah.. Alhamdulillah…


And so, yeah, hardwork and prayers are paid off :) .

6 komentar:

  1. I could feel the euphoria miss :)

    BalasHapus
  2. Eh, ini siapa ya? Nyahahahahaha.... Yeah, that was quite an experience, really :).

    BalasHapus
  3. Selamat kakakkkkk..... :) Ntar sebelum ke luar, ketemu dulu dong kakakkk :)

    BalasHapus
  4. sekali lagi selamat yaaa kakkk~
    ceritanya menginspirasi loh kak :) semoga saya bisa kayak kakak deh, amin~

    BalasHapus
  5. Great articles, first of all Thanks for writing such lovely Post! Earlier I thought that posts are the only most important thing on any blog. But here at Shoutmeloud I found how important other elements are for your blog.Keep update more posts..
    GRE Coaching in Chennai

    BalasHapus
  6. These provided information was really so nice,thanks for giving that post and the more skills to develop after refer that post. Your articles really impressed for me,because of all information so nice.

    Digital Marketing Company in India
    Web Development Company in India
    Web Design Company in Chennai

    BalasHapus

Rabu, 09 Januari 2013

Me Being A Scholarship Hunter (4) - The iBT and GRE Day


Okay, so it’s been a while since I did dome posting about scholarship. Where was I?
Seperti yang sudah saya bilang, euphoria bersuka-ria dapet beasiswa itu sejatinya hanya bertahan antara 12-24 jam saja. Karena setelah lulus seleksi beasiswa, masih banyak tahapan yang harus saya lewati. Salah satunya adalah tes iBT dan GRE. Jadi kan waktu seleksi kemaren itu, salah stau persyaratan kemampuan bahasa Inggris itu lewat sertifikat ITP, yaitu Institutional TOEFL, tapi yang paper-based. Nah, untuk keperluan pendaftaran ke universitas, yang diperlukan sertifikat TOEFL iBT, alias Internet-Based. Oh, dan tentu saja, GRE alias Graduate Record Examination.

Perasaan saya saat tahu harus ikut tes itu? Panik.

Eh, saya dengan absurditas saya, saya suka lho ikut tes TOEFL. Yang ITP ada kali ya saya ikut tesnya itu sampe 5 kali. Lah iBT ini pegimaneee bentuknya?
Dan tentu saja, masih ada GRE sodara-sodaaaarrraaaa!
Yang udah pernah ikut TOEFL-ITP, pasti udah tau dong, kalo tesnya ada 3 section, Listening, Written Expression (yang isinya Grammar dan Structure) sama Reading Comprehension. Ngerjainnya kayak SNMPTN, alias di LJK yang kita bulet-buletin itu.

Kalo iBT, ada 4 section. Listening, Reading, Writing, dan Speaking. Jeng jeeeenggg… Tiap section skor maksimalnya 30, jadi nilai paling fantastis alias sempurna untuk iBT adalah 120. Terus, karena internet-based, kita ngerjainnya langsung di komputer gitu.

Itu baru iBT. Nah, masih ada GRE nih. Pernah denger TPA alias Tes Potensi Akademik kan? GRE itu ya versi Amerika dari TPA. Ada 2 macam, yaitu GRE General dan GRE Subject. Yang GRE General ada 3 bagian, ada Verbal Reasoning, lalu ada Quantitative Reasoning, sama Analytical Writing. Sejak tahun 2011, format GRE General sedikit dirubah, skala nilainya jadi antara 130 – 170. Untuk analytical writing , scalenya dari 1-6.

Sumpah saya stress abis. Most people prepared for their GRE Test for at least 3 months. Me? Almost 3 weeks. Tapi ya sudahlah. I browsed the net for some practice material. Terus pas liat di milis beasiswa ada yang nawarin buku Kaplan untuk latihan, ya udah saya beli. cuma copy-annya sih, but it really comes in handy. Kalo di Kaplan soalnya bukan cuma latihan soalnya, tapi ada strategi mengerjakannya juga.

Untuk tes GRE dan iBT ini, semuanya ditanggung AMINEF, termasuk untuk transportasi dan akomodasi. Jadi pas menjelang hari H, terkumpullah kami para Fulbright candidate di hotel dalam keadaan ya-udah-deh-ya-pasrah-aja-untuk-GRE. Nyahahahahaha XD.

And so, akhirnya hari itu datang juga. Pas iBT, yang berangkat bareng itu saya, Una, Arjuna, Mas Aji. Sambil menunggu, Mas Aji baca buku iBT yang tebalnya segabruk-gabruk, saya dan Una twitteran, dan Arjuna maen Temple Run. Saya terharu dengan betapa bervariasinya diri kami ini :”).

Pas tesnya, oke. Yang Reading saya masih merasa…oke… I can do this. I can do this. Waktu Listening, mulai agak riweh sendiri. Formatnya tidak jauh beda sih dengan Listening yang ITP, tapi kalo menurut saya, lebih banyak memerlukan kemampuan analisis sih, karena banyak jawaban yang tersirat dan bukan tersurat. Halah. Pas Speaking… Tentu saja kacau balau. Ada 4 pertanyaan. Yang pertama sih kita dikasih satu topic tertentu, dikasih waktu 15 detik untuk mempersiapkan diri, dan 30 detik untuk menjawab. The thing is, kita melakukan semua itu di depan komputer. Berasa kayak orang bego gak sih ngomong sama komputer gitu? Dan karena dalam ruangan ada 20 orang, jadi kebayang dong betapa absurdnya satu ruangan yang isinya orang-orang yang dengan ekspresi panik ngomong ke layar komputer? Pas Writing, ada dua macam task. Yang pertama, selain kita dikasih teks, dan disuruh mendengarkan short passage gitu. Jadi tugasnya menulis semacam simpulan antara written passage yang kita baca sama yang dari kita dengar tadi. Yang kedua, ya analytical writing biasa, jadi argumentative gitu. Kelar iBT, saya langsung laper.

Anyway, akhirnya kami sampai di besok harinya, dimana kami…tes GRE.

TEs GREnya di Menara Imperium. Dan tentu saja, sebagai orang-orang yang paranoid dengan kemacetan, kami sampe di gedung itu waktu orang yang ada baru cleaning servicenya aja. Pas udah mau mulai, kami dikumpulin di koridor menuju ruangan tes. Tapi ternyata jadwal tes kami terpaksa mundur hamper 2 jam, karena kan tesnya online, tapi pas banget server mereka jebol (or something like that).

Waktu akhirnya boleh masuk, sebelum masuk ke ruangan tes, kami diperiksa dulu pake alat detektor logam. Iya. Serius. Gak boleh bawa tas sih biasa ya. Ini lho pake diperiksa detektor logam segala. Gak boleh bawa apapun masuk ke ruangan tes. Pensil dan kertas coretan udah disediain. Dan di tiap sudut ruangan ada kamera CCTV yang memantau pergerakan kami. Saya langsung merasa sedang latihan untuk ikut uji nyali di televisi swasta.

Siap gak siap, tetep harus tes. Jadi sambil baca bismillah berkali-kali, say duduk di depan komputer, mengisi form yang muncul, dan…okay, this is it.

Kalau gak salah, saya mulai dengan writing dulu. Gak tau udah pasrah, gak tau udah sempet bete karena kelamaan nunggu, saya udah whatever aja ngerjainnya. Pas Verbal reasoning….MHUAHAHAHAHAHAHAHA ITU SOAL APA-APAAN SIH YA??? Ngajak becanda banget. Saya pernah bilang gak sih kalo kata-kata yang digunakan dalam GRE ini level dewa? Dewa banget. Dewa-dewa Yunani dan Romawi dan Mesir digabung sekalian *efek kebanyakan baca bukunya Riordan*.

Kalo untuk Verbal Reasoning, tipe soalnya ada yang biasa deh ya, kita disuruh mengisi dengan kata yang sesuai, tapi dari beberapa pilihan yang ada, disuruh 2 kata yang paling tepat. Lalu ada juga satu kalimat, tapi blank-nya ada 2 atau 3 gitu yang harus diisi. Terus juga ada reading comprehension. Reading comprehensionnya beda banget dengan yang TOEFL. Ini seriously betul-betul semacam telaah terhadap teks gitu.

Baru beres dengan Verbal Reasoning, masuklah ke Quantitative Reasoning. Nah, kalo yang ini kan matematika dasar ya. Alhamdulillah karena saya memang suka yang itung-itungan, gak begitu susah ngerjainnya. Paling cuma pas geometri aja yang agak sedikit bingung. Karena ya kemampuan analisis ruang saya emang jelek sih. Tapi yang aljabar sama aritmetikanya lumayan gampang kok. Trus lalu ada lagi section writing. Udah stress juga, saya juga yang penting ada yang ditulis. Kalo gak salah dapet topiknya soal apakah mahasiswa boleh mengambil mata kuliah pilihan di luar jurusan yang dia tempuh. Terus, balik lagi ke Verbal Reasoning. Ajaibnya, di section kedua dari Verbal Reasoning ini, soalnya lebih…ringan. Serius. Saya aja ngerasa agak heran sendiri kok. Masih susah sih, tapi paling gak gak bikin pengen gantung diri kayak section pertama. Trus tentu saja, section kedua dari Quantitative Reasoning. Nah, ini malah kebalikannya. Section kedua ini lebih susah. Saya jadi panik sendiri. Gak tau kenapa, soal statistikanya jadi lebih rumit dari section pertama sebelumnya, dan aritmetikanya lebih sulit. INI APA MAKSUDNYAAAA???
Saya selesai TIGA DETIK sebelum waktunya habis. Kurang canggih gimana lagi coba ya.

Dan nilainya langsung keluar saat itu juga. Iya, di antara sekian banyak tes standar yang saya pernah ikut, kayaknya cuma GRE General ini saja yang hasil tesnya keluar langsung *kecuali untuk yang Analytical Writing sih*.

Dalam keadaan masih migren dan disoriented habis ngerjain soal-soal itu, saya bengong aja liat nilai saya

Verbal Reasoning: 155
Quantitative Reasoning: 156

Sumpah, waktu itu saya gak tau nilai segitu itu bagus apa enggak. Jadi ya udah masih pasrah aja.
Keluar dengan langkah gontai, saya lalu duduk aja di deretan bangku di ruang tunggu.Temen-temen seperjuangan saya masih belum pada selesai. Daripada terus-terusan bengong, udah aja saya iseng ngecek imel.

Dan salah satu imel bikin saya langsung nangis.

Imel dari AMINEF. Isinya, saya lulus sebagai principle candidate untuk DIKTI-Fulbright.

Alhamdulillah… Alhamdulillah.. Alhamdulillah…


And so, yeah, hardwork and prayers are paid off :) .

6 komentar:

  1. I could feel the euphoria miss :)

    BalasHapus
  2. Eh, ini siapa ya? Nyahahahahaha.... Yeah, that was quite an experience, really :).

    BalasHapus
  3. Selamat kakakkkkk..... :) Ntar sebelum ke luar, ketemu dulu dong kakakkk :)

    BalasHapus
  4. sekali lagi selamat yaaa kakkk~
    ceritanya menginspirasi loh kak :) semoga saya bisa kayak kakak deh, amin~

    BalasHapus
  5. Great articles, first of all Thanks for writing such lovely Post! Earlier I thought that posts are the only most important thing on any blog. But here at Shoutmeloud I found how important other elements are for your blog.Keep update more posts..
    GRE Coaching in Chennai

    BalasHapus
  6. These provided information was really so nice,thanks for giving that post and the more skills to develop after refer that post. Your articles really impressed for me,because of all information so nice.

    Digital Marketing Company in India
    Web Development Company in India
    Web Design Company in Chennai

    BalasHapus