Rabu, 12 September 2007

Tanah Masa Depan



(Written : 7 September)




Investasi aku saat ini : tabungan yang sangat ga seberapa, deposito ala kadarnya banget (pas banget dengan minimal setoran), dan…sebidang tanah kavlingan! Iyaaa.... aku punya tanah sodara-sodara! Ukurannya 10x15 m, dan betul-betul buat masa depan banget, karena sekelilingnya masih ga jelas mau dibikin apa. Hehehe... Kemaren aku nekat ngambil, walopun waktu itu ga tau pasti lokasinya dimana dan masih belum ada SHMnya. Kenapa aku berani? Karena dari 16 kavling yang ada, yang ngambil tuh orang lab semuaaa.... Ada K’Hasnah, P’Mudatsir, K’Riza dan K’Rina (yang membuatku trgeser dari kavlingku semula supaya tetap berdampingan...dasar anak kembar...), Marjuni (si Jun-jun penyelamatku di Lab Analitik dulu), Kamil, Prima, B’ Arnida, K’ Rudi. Jadi kalo rugi, rugi bareng... Hehehe.... Kemaren, hari Minggu, aku sama Kamil ngeliat proses perataan tanahnya. Dasar manusia-manusia narsis, waktu kami nunggu jemputan di depan SMA berlokasi terpencil itu, aku dan Kamil ya masih sempat berfoto ria... Terus hari Kamisnya, bareng-bareng sama para pemilik tanah lain, kami ngeliat kembali tanah yang udah rata. Pas hari Minggu kan aku udah liat bahwa ada salah satu kavling yang sama sekali tidak bakalan rata, karena ada lobang segede kolam renang ukuran internasional. Karena di hari itu aku (yang observasi ruangnya lebih parah daripada payah) udah yakin banget bahwa lobang itu tepat di posisi kavling K’Riza, maka dengan penuh rasa suka cita (???) aku mempersilakan K’Riza untuk memanfaatkan lubang itu sebaik-baiknya. Tapiiii..... setelah menunjukkan orientasi arah yang tepat, benar dan bisa dipercaya, K’Riza dengan penuh kemenangan menyadarkan diriku bahwa....kavlingku lah yang berlubaaang!!! Huaaa.... aku cuma bisa menatap hampa ke lubang itu...sementara K’Riza dan Marjuni dengan sekuat tenaga mentertawakan diriku... Hmm... tapi usulan Marjuni untuk bikin kolam renang umum bisa dipertimbangkan juga kok...
It was such a fun day... walopun puanas setengah mati, dan aku salah kostum (hari itu aku memang pake celana panjang, tapi atasannya model kebaya putih yang cantik...ga cocok banget buat ke lapangan). Senengnya karena aku bisa di tengah ruang terbuka, ngeliat langit yang biruuuu banget. Yang cewek-cewek, kayak si Kiki, Yati dan K’Rina lebih memilih berteduh di bawah naungan ala kadarnya, K’Hasnah dengan mata elangnya mengawasi pematokan tanah. Aku? Perasaan kemaren kerjaannya aku cuma ngerecokin P’Mudatsir, K’Riza, dan Marjuni deh. Kan yang ngukur tanah mereka sama P’Alai. Dan aku berseliweran di antara mereka sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Wah, ternyata ngukur tanah tuh gitu ya caranya... Tapi aku, walopun narsis abis, tetep aja dengan bodohnya ga bisa menemukan tanda ’0’ di meteran yang dipakai, sementara Marjuni, sekali lirik, langsung ketemu...
Oh iya.... K’Riza dan Marjuni berubah jadi Gaban!!! Hahaha... Kan mereka demi menghindari terik matahari, menolak untuk melepas helm standarnya. Ih, aku berasa ngeliat Gaban aja kalo ngeliat mereka, walopun dengan skeptisnya K’Riza ngomong : ”Gaban? Siapa tuh Gaban? Ga kenal tuh!”. Masa siiihhh...??? Perasaan kan Gaban, Megaloman, Google, Voltus dan sejenisnya seangkatan, dan ngetop di jaman aku masih di bawah umur dulu, yang yakin banget bahwa dunia masih ada karena kehebatan mereka. Hmm... ato mungkin K’Riza besar di era yang berbeda dengan diriku ya?
Hmmm....kalo boleh jujur ya... tujuan utamaku kesana kemaren bukan untuk meninjau tanahnya sih..lebih ke arah pengen refreshing. Dengan segala seuatu yang tengah berlangsung saat ini, rasanya tenang banget kalo bisa liat langit biru yang luaaaaasss banget (Haven’t I told you about how I love the blue sky so much?).
Dan langit yang biru di hari itu.. it reminds me of the time that I spent with him... Halah. Susah deh. Ujung-ujungnya balik kesana lagi.
Eh, tapi serius nih, aku mulai deg-degan soal lobang sialan itu… dan aku baru sadar, bahwa sampai saat ini, aku masih belum terlalu jelas bentuk pembagian tanahnya akhirnya gimana… walopun sok sibuk lari-lari bawain pasak buat dipasang, untuk melihat jalan raya dan jalan antar kavling ada di sebelah mana, aku juga mesti tanya Marjuni dulu. Hmm… kayaknya Marjuni semakin takjub, kok bisa ya aku yang lemot ini bisa keterima jadi dosen…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Rabu, 12 September 2007

Tanah Masa Depan



(Written : 7 September)




Investasi aku saat ini : tabungan yang sangat ga seberapa, deposito ala kadarnya banget (pas banget dengan minimal setoran), dan…sebidang tanah kavlingan! Iyaaa.... aku punya tanah sodara-sodara! Ukurannya 10x15 m, dan betul-betul buat masa depan banget, karena sekelilingnya masih ga jelas mau dibikin apa. Hehehe... Kemaren aku nekat ngambil, walopun waktu itu ga tau pasti lokasinya dimana dan masih belum ada SHMnya. Kenapa aku berani? Karena dari 16 kavling yang ada, yang ngambil tuh orang lab semuaaa.... Ada K’Hasnah, P’Mudatsir, K’Riza dan K’Rina (yang membuatku trgeser dari kavlingku semula supaya tetap berdampingan...dasar anak kembar...), Marjuni (si Jun-jun penyelamatku di Lab Analitik dulu), Kamil, Prima, B’ Arnida, K’ Rudi. Jadi kalo rugi, rugi bareng... Hehehe.... Kemaren, hari Minggu, aku sama Kamil ngeliat proses perataan tanahnya. Dasar manusia-manusia narsis, waktu kami nunggu jemputan di depan SMA berlokasi terpencil itu, aku dan Kamil ya masih sempat berfoto ria... Terus hari Kamisnya, bareng-bareng sama para pemilik tanah lain, kami ngeliat kembali tanah yang udah rata. Pas hari Minggu kan aku udah liat bahwa ada salah satu kavling yang sama sekali tidak bakalan rata, karena ada lobang segede kolam renang ukuran internasional. Karena di hari itu aku (yang observasi ruangnya lebih parah daripada payah) udah yakin banget bahwa lobang itu tepat di posisi kavling K’Riza, maka dengan penuh rasa suka cita (???) aku mempersilakan K’Riza untuk memanfaatkan lubang itu sebaik-baiknya. Tapiiii..... setelah menunjukkan orientasi arah yang tepat, benar dan bisa dipercaya, K’Riza dengan penuh kemenangan menyadarkan diriku bahwa....kavlingku lah yang berlubaaang!!! Huaaa.... aku cuma bisa menatap hampa ke lubang itu...sementara K’Riza dan Marjuni dengan sekuat tenaga mentertawakan diriku... Hmm... tapi usulan Marjuni untuk bikin kolam renang umum bisa dipertimbangkan juga kok...
It was such a fun day... walopun puanas setengah mati, dan aku salah kostum (hari itu aku memang pake celana panjang, tapi atasannya model kebaya putih yang cantik...ga cocok banget buat ke lapangan). Senengnya karena aku bisa di tengah ruang terbuka, ngeliat langit yang biruuuu banget. Yang cewek-cewek, kayak si Kiki, Yati dan K’Rina lebih memilih berteduh di bawah naungan ala kadarnya, K’Hasnah dengan mata elangnya mengawasi pematokan tanah. Aku? Perasaan kemaren kerjaannya aku cuma ngerecokin P’Mudatsir, K’Riza, dan Marjuni deh. Kan yang ngukur tanah mereka sama P’Alai. Dan aku berseliweran di antara mereka sambil mengajukan pertanyaan-pertanyaan bodoh. Wah, ternyata ngukur tanah tuh gitu ya caranya... Tapi aku, walopun narsis abis, tetep aja dengan bodohnya ga bisa menemukan tanda ’0’ di meteran yang dipakai, sementara Marjuni, sekali lirik, langsung ketemu...
Oh iya.... K’Riza dan Marjuni berubah jadi Gaban!!! Hahaha... Kan mereka demi menghindari terik matahari, menolak untuk melepas helm standarnya. Ih, aku berasa ngeliat Gaban aja kalo ngeliat mereka, walopun dengan skeptisnya K’Riza ngomong : ”Gaban? Siapa tuh Gaban? Ga kenal tuh!”. Masa siiihhh...??? Perasaan kan Gaban, Megaloman, Google, Voltus dan sejenisnya seangkatan, dan ngetop di jaman aku masih di bawah umur dulu, yang yakin banget bahwa dunia masih ada karena kehebatan mereka. Hmm... ato mungkin K’Riza besar di era yang berbeda dengan diriku ya?
Hmmm....kalo boleh jujur ya... tujuan utamaku kesana kemaren bukan untuk meninjau tanahnya sih..lebih ke arah pengen refreshing. Dengan segala seuatu yang tengah berlangsung saat ini, rasanya tenang banget kalo bisa liat langit biru yang luaaaaasss banget (Haven’t I told you about how I love the blue sky so much?).
Dan langit yang biru di hari itu.. it reminds me of the time that I spent with him... Halah. Susah deh. Ujung-ujungnya balik kesana lagi.
Eh, tapi serius nih, aku mulai deg-degan soal lobang sialan itu… dan aku baru sadar, bahwa sampai saat ini, aku masih belum terlalu jelas bentuk pembagian tanahnya akhirnya gimana… walopun sok sibuk lari-lari bawain pasak buat dipasang, untuk melihat jalan raya dan jalan antar kavling ada di sebelah mana, aku juga mesti tanya Marjuni dulu. Hmm… kayaknya Marjuni semakin takjub, kok bisa ya aku yang lemot ini bisa keterima jadi dosen…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar