Senin, 17 Maret 2008

Malam

Malam ini berbicara dalam sunyi

Berbalik, adakah kau disitu?

Hanya setitik debu, melayang...jatuh...

Pekat gelap yang menghimpit membuatku nyaman...dan kurasakan lembut tanganmu menghapus basah yang mengalir, menganak sungai di sisi wajahku...Hanya bisikan bintang kah?

Aku menunggu, terlalu lelah dalam harapan.. Layak kah?

Ada sekilat cahaya di ujung sana..semu..dan menggoda.

Dalam penantianku, kugapai semburat sinar itu...hanya sesaat...sesaat saja..tidak lebih dari sekedar waktu yang diminta angin untuk mengusap perlahan dedaunan di senja hari...

Dan kau tunjukkan ujung jalan itu. Atau aku kah yang mencari ujung itu? Mengapa tak sama?

Sinar itu telah lama memudar, hanya kerling peri yang kemudian lari...tertawa geli melihat diriku..

Kau ulurkan lilin itu padaku, dan meniup cahayanya hingga api itu menari, meliuk namun tak pernah mampu untuk menghangatkan badai ini... Untukku kah pelita itu?

Menari, berliku menghitung setiap kerikil yang kita lempar bersama

Lirih, menelusuri kata yang dihapus ombak dari ukiran di atas pasir dengan sepotong ranting kering...

Jingga,katamu...adalah senja kita

Tapi senja adalah ujung hari...dan jingga selalu ragu di batas kuning dan merah...

Mengapa bukan fajar? Saat awal, dimana hitam berbatas jelas dengan putih...

Haruskah aku berbalik kembali?

1 komentar:

  1. Sedih amir...hiks ikut nangis nih...hiks...hiks

    BalasHapus

Senin, 17 Maret 2008

Malam

Malam ini berbicara dalam sunyi

Berbalik, adakah kau disitu?

Hanya setitik debu, melayang...jatuh...

Pekat gelap yang menghimpit membuatku nyaman...dan kurasakan lembut tanganmu menghapus basah yang mengalir, menganak sungai di sisi wajahku...Hanya bisikan bintang kah?

Aku menunggu, terlalu lelah dalam harapan.. Layak kah?

Ada sekilat cahaya di ujung sana..semu..dan menggoda.

Dalam penantianku, kugapai semburat sinar itu...hanya sesaat...sesaat saja..tidak lebih dari sekedar waktu yang diminta angin untuk mengusap perlahan dedaunan di senja hari...

Dan kau tunjukkan ujung jalan itu. Atau aku kah yang mencari ujung itu? Mengapa tak sama?

Sinar itu telah lama memudar, hanya kerling peri yang kemudian lari...tertawa geli melihat diriku..

Kau ulurkan lilin itu padaku, dan meniup cahayanya hingga api itu menari, meliuk namun tak pernah mampu untuk menghangatkan badai ini... Untukku kah pelita itu?

Menari, berliku menghitung setiap kerikil yang kita lempar bersama

Lirih, menelusuri kata yang dihapus ombak dari ukiran di atas pasir dengan sepotong ranting kering...

Jingga,katamu...adalah senja kita

Tapi senja adalah ujung hari...dan jingga selalu ragu di batas kuning dan merah...

Mengapa bukan fajar? Saat awal, dimana hitam berbatas jelas dengan putih...

Haruskah aku berbalik kembali?

1 komentar:

  1. Sedih amir...hiks ikut nangis nih...hiks...hiks

    BalasHapus