Senin, 03 Maret 2008

Perjuangan Sehari-hari

Sabtu kemaren waktu mau belanja sembako ke Clayton, ketemu Mbak Ola di bis. Dengan hiperbolisnya aku menceritakan betapa seringnya aku pengen menjedot-jedotkan kepalaku di dinding saking pusingnya ngeliat deretan reading list dan tumpukan assignment.... Ucapan bijak Mbak Ola bikin aku manggut-manggut: "Emang Mi, saat yang paling menyenangkan dari menerima beasiswa adalah saat kita dapet surat pemberitahuan bahwa kita apet beasiswa. Selebihnya adalah perjuangan, darah dan air mata". Iya Mbak...bener. apalagi kalo ngejedot-jedotin kepalanya ke dinding beton dengan kecepatan 20 km/jam. Penuh darah banget tuh...

Intinya adalah: perjuangan. PERJUANGAN!!! *tangan mengepal ke atas, rambut berkibar-kibar ditiup angin*

Dan salah satu perjuangan aku disini adalah... mandi.

Iya, bener, ga salah baca kok. Mandi. MANDI. Mandi disini tuh bener-bener perjuangan lagiiii....!!! Gini deh, aku aslinya dari Banjarmasin, dan kuliah di Yogya, kerja di Banjarbaru. Berapa coba rata-rata suhu di kedua kota tersebut? 29 derajat? 30-33? Pokoknya masih di atas 25 lah. Dan berapa coba suhu di sini? Summer yang sedang aku lewati ini aja kadang-kadang bisa drop ke angka 13 derajat celcius. gimana aku ga mau nangis??? Itu baru summer!!! Pas winter malah bakal lebih susah nyari suhu belas-belasan gituu....

Ka Dauli sudah pernah menghibur:

Ka Dauli : "Ga sedingin di Eropa kok, ga sampe turun salju segala..."

Aku : " O yaaa ??? Alhamdulillah..." * harapan yang mulai membuncah*

Ka Dauli: "Paling-paling cuma sampai airnya membeku aja kok"

Aku: "O yaaa??? Astaghfirullah..." *harapan yang terpuruk*

Dari dulu aku dan cuaca dingin tidak pernah berteman dekat, apalagi bersahabat akrab. Aku ga tahan lama-lama berada di ruangan berAC. Dan itu sama sekali bukan pertanda bahwa aku ga bakat jadi orang kaya yang rumahnya pake AC di setiap ruangan. Ketidakkuatan aku terhadap AC justru menunjukkan bakatku sebagai orang kaya yang sangat peduli lingkungan sehingga beritikad sangat keras untuk mengurangi kadar CFC yang dapat merusak lapisan ozon kita yang semakin tipis ini. Jadi ya, jangan heran kalo aku betul-betul harus mengais-ngais semua semangat yang ada untuk masuk ke kamar mandi, menyalakan keran dan menyiramkan air sedingin kekejaman dunia itu ke tubuhku yang menderita dan menggigil kedinginan... Yaaa...ada keran air panas, tapi it really takes some times sampai bisa dapet level suhu air yang acceptable. You don't want to freeze under the shower, you want a warm and nice shower, but not THAT HOT anyway. Perlu seni, teknik, skill dan keterampilan tersendiri untuk mengatur posisi keran hingga menghasilkan air dengan suhu yang sesuai.

Nah, perjuangan untuk mulai mandi itu baru satu babak, tapi mohon dicatat, bahwa meninggalkan mandi itu juga perlu perjuangan tersendiri. Keharusan untuk harus meninggalkan nyamannya kehangatan air yang sedang menyelimuti tubuh betul-betul...uuummm...menyebalkan....

Dan udah dua bulan disini...aku masih belum bisa mengubah mindset Indonesia nya aku, bahwa yang namanya mandi itu DUA kali sehari. Jadi, hampir setiap hari, aku harus menghadapi perjuangan semacam ini dua kali sehari. Fhhhh.... I really miss the tropical climate of Indonesia... Kalo di Indonesia, mandi tuh bukan perjuangan, tapi salah satu kenikmatan... Hiks.

*Gambar diambil dari sini*

1 komentar:

  1. Duuhhhh kalo besok aku sekolah gimana yaahhhhh

    BalasHapus

Senin, 03 Maret 2008

Perjuangan Sehari-hari

Sabtu kemaren waktu mau belanja sembako ke Clayton, ketemu Mbak Ola di bis. Dengan hiperbolisnya aku menceritakan betapa seringnya aku pengen menjedot-jedotkan kepalaku di dinding saking pusingnya ngeliat deretan reading list dan tumpukan assignment.... Ucapan bijak Mbak Ola bikin aku manggut-manggut: "Emang Mi, saat yang paling menyenangkan dari menerima beasiswa adalah saat kita dapet surat pemberitahuan bahwa kita apet beasiswa. Selebihnya adalah perjuangan, darah dan air mata". Iya Mbak...bener. apalagi kalo ngejedot-jedotin kepalanya ke dinding beton dengan kecepatan 20 km/jam. Penuh darah banget tuh...

Intinya adalah: perjuangan. PERJUANGAN!!! *tangan mengepal ke atas, rambut berkibar-kibar ditiup angin*

Dan salah satu perjuangan aku disini adalah... mandi.

Iya, bener, ga salah baca kok. Mandi. MANDI. Mandi disini tuh bener-bener perjuangan lagiiii....!!! Gini deh, aku aslinya dari Banjarmasin, dan kuliah di Yogya, kerja di Banjarbaru. Berapa coba rata-rata suhu di kedua kota tersebut? 29 derajat? 30-33? Pokoknya masih di atas 25 lah. Dan berapa coba suhu di sini? Summer yang sedang aku lewati ini aja kadang-kadang bisa drop ke angka 13 derajat celcius. gimana aku ga mau nangis??? Itu baru summer!!! Pas winter malah bakal lebih susah nyari suhu belas-belasan gituu....

Ka Dauli sudah pernah menghibur:

Ka Dauli : "Ga sedingin di Eropa kok, ga sampe turun salju segala..."

Aku : " O yaaa ??? Alhamdulillah..." * harapan yang mulai membuncah*

Ka Dauli: "Paling-paling cuma sampai airnya membeku aja kok"

Aku: "O yaaa??? Astaghfirullah..." *harapan yang terpuruk*

Dari dulu aku dan cuaca dingin tidak pernah berteman dekat, apalagi bersahabat akrab. Aku ga tahan lama-lama berada di ruangan berAC. Dan itu sama sekali bukan pertanda bahwa aku ga bakat jadi orang kaya yang rumahnya pake AC di setiap ruangan. Ketidakkuatan aku terhadap AC justru menunjukkan bakatku sebagai orang kaya yang sangat peduli lingkungan sehingga beritikad sangat keras untuk mengurangi kadar CFC yang dapat merusak lapisan ozon kita yang semakin tipis ini. Jadi ya, jangan heran kalo aku betul-betul harus mengais-ngais semua semangat yang ada untuk masuk ke kamar mandi, menyalakan keran dan menyiramkan air sedingin kekejaman dunia itu ke tubuhku yang menderita dan menggigil kedinginan... Yaaa...ada keran air panas, tapi it really takes some times sampai bisa dapet level suhu air yang acceptable. You don't want to freeze under the shower, you want a warm and nice shower, but not THAT HOT anyway. Perlu seni, teknik, skill dan keterampilan tersendiri untuk mengatur posisi keran hingga menghasilkan air dengan suhu yang sesuai.

Nah, perjuangan untuk mulai mandi itu baru satu babak, tapi mohon dicatat, bahwa meninggalkan mandi itu juga perlu perjuangan tersendiri. Keharusan untuk harus meninggalkan nyamannya kehangatan air yang sedang menyelimuti tubuh betul-betul...uuummm...menyebalkan....

Dan udah dua bulan disini...aku masih belum bisa mengubah mindset Indonesia nya aku, bahwa yang namanya mandi itu DUA kali sehari. Jadi, hampir setiap hari, aku harus menghadapi perjuangan semacam ini dua kali sehari. Fhhhh.... I really miss the tropical climate of Indonesia... Kalo di Indonesia, mandi tuh bukan perjuangan, tapi salah satu kenikmatan... Hiks.

*Gambar diambil dari sini*

1 komentar:

  1. Duuhhhh kalo besok aku sekolah gimana yaahhhhh

    BalasHapus